
Sore hari yang dingin...
Rintik hujan turun sejak siang tadi, beberapa menit setelah Arumi dan Denna tiba. Nampak kedua wanita itu tak keluar dari selimut mereka yang tebal.
"Fiiiuuuhhh... dinginnya." Arum menggosok kedua telapak tangannya yang membeku.
"Ku bilang juga apa, di sini dingin."
"Nenekmu bisa, ya? Hanya menggunakan jaket yang tipis itu. Sementara kita, sudah pakai jaket tebal dan kaos kaki bahka hingga sarung tangan. Masih saja menggigil."
"Hehehe, Uti sudah biasa. Kan, memang tinggal di sini sejak di lahirkan. Berbeda dengan kita yang biasa tinggal di cuaca panas kota Jakarta."
"Kau benar..." Kruuuukkk... Arum menyentuh perutnya, nyengir kemudian. "Hawa dingin membuatku cepat lapar."
"Aku juga. Bagaimana kalau kita buat mie instan?"
"Boleh-boleh..." Arum menyibak selimutnya. "Brrrrrrr... dingin Denna. Aku jadi mager." Kembali menutup selimut ke tubuhnya. Pun Denna juga sama. Ia bahkan menggulung tubuhnya hingga ke leher dengan selimut lain.
"Nduukk!" Suara renta Uti Mirah memanggil.
"Iya, Uti?" Saut Denna kemudian.
Inginnya ia menghampiri namun wanita tua yang sudah sedikit bungkuk itu telah menyibak gorden pintu kamar tersebut lebih dulu.
"Atis, nduk?" Tanyanya sembari terkekeh. Berjalan tertatih seraya membawa wadah berukuran sedang. Terlihat pula asap panas mengepung di atasnya.
"Hehehe... nggih, Ut," jawab Denna kemudian.
Arum menyenggol temannya. "Apa katanya?"
"Uti tanya, Dingin Nak?" jawabnya.
"Ooo... tak ku sangka. Kau pandai memakai bahasa Jawa ngapak?"
"Tidak juga, hanya beberapa kata saja." Terkekeh tanpa suara.
"Nih, Uti bawakan yang hangat-hangat."
"Waaaaaaah..." Arum dan Denna berbinar, saat Nenek meletakan baskom berisi tumpukan ubi manis di atas selimut yang menutupi separuh tubuh mereka.
"Uti merebus ini kapan?" Denna langsung mengambil potongan ubi tersebut. "Aaaw, panas!"
"Tadi, saat kalian baru datang, Uti langsung rebus ubinya." Nenek menoleh kearah Arum. "di makan, Nduk."
"Iya, Uti." Arum mengambil salah satunya dengan sopan. Ubi yang masih ada kulitnya itu memang baru matang, bersentuhan dengan kulit yang sedang merasa kedinginan.
"Bagaimana, apa manis rasanya?"
__ADS_1
"Iya, Ut. Ini manis sekali..." jawab Denna dengan mulut mengunyah bagian Ubi yang masih terasa panas di mulutnya.
"Makan ubi kukus di sini, nikmatnya seakan berkali-kali lipat, ya?" Arum nampak menikmati sekali.
"Iya, karena hawa dingin Rum. Jadi makan apa saja terasa enak."
"benar..." Tertawa bersama. Uti Mirah mengusap lengan cucuk-nya sembari turut terkekeh.
"Sedari tadi, saya tidak melihat Mbah laki-laki di rumah ini."
"Beliau sudah meninggal puluhan tahun yang lalu, Rum."
"Hah, iya kah?"
"Iya..." Denna memasukkan semua potongan ubi yang tinggal sedikit di tangannya.
"Lalu, selama ini? Uti tinggal dengan siapa?"
"Kalau di rumah ini, sendirian. Tapi rumah pamanku dan istrinya kan bersebelahan."
"Oh..." Arum memandangi wanita kurus di hadapannya.
Walaupun demikian, kenapa aku tetap sedih, ya. Membayangkan masa tua hanya tinggal sendirian dalam rumah sebesar ini. Jadi terbayang masa depanku. Bagaimana nasibku nanti, jika aku benar-benar bercerai dengan Tuan Arga.
Arum mengusap perutnya pelan. Tak lama ia pun menggeleng, apapun yang terjadi. Serindu apapun dia kepada laki-laki yang dengan terang-terangan tak mengakui benihnya sendiri. Ia tidak akan mungkin bisa memunculkan wajahnya dihadapan pria itu lagi. Pun, perjalanan jauh ini ia lakukan, tak ayal demi menghindari laki-laki itu.
Karena ia juga tidak mungkin kembali kerumahnya yang dulu. Walaupun dalam hatinya sangat ingin.
Ya, itu ide bagus yang akan ia bicarakan dengan Denna setelah ini. Arum kembali mengulas senyum getirnya kepada Uti Mirah yang nampak asik bercerita kesana kemari, tentang masa-masa mudanya dulu. Sembari menghabiskan waktu petang ini.
–––
Di sisi lain, Arga melirik kearah jam tangannya. Ia sudah tidak sabar untuk tiba di tempat tujuan setelah mendarat dari pesawat pribadinya di landasan kecil yang berada di Purbalingga.
"Tuan, sebaiknya kita mencari penginapan dulu."
"Aku mau langsung jalan. Sudah bisa kan, naik helikopter dari sini?"
Tomi menggaruk keningnya. "Sebaiknya kita istirahat saja, Tuan."
Arga berkacak pinggang, maju satu langkah kearahnya.
"Siapkan, helikopter sekarang!" Tandasnya penuh penekanan. Tidak peduli seberapa kuat sekretaris itu menahannya. Ia hanya ingin cepat sampai ke tempatnya Arumi.
"Maaf, Tuan. Pilot helikopter bilang, di sana cuacanya sedang tidak baik. Akan sangat berbahaya jika melakukan penerbangan saat ini juga."
"Cih! Kalau begitu kita naik mobil saja."
__ADS_1
"Alamat yang tertulis disini. Terletak pada sebuah dataran tinggi, Tuan. Belum lagi mencari dusun dan RT-nya, juga lokasi rumahnya. Itu membutuhkan waktu yang tak sebentar. Sementara saat ini sudah pukul enam sore. Kita bisa?"
"Berikan kunci itu. Biar ku bawa sendiri mobilnya."
"Tuan–" Sekretaris Tomi mendesis. Ia benar-benar tak habis pikir. Pria itu memang sulit untuk ditahan jika sudah menginginkan sesuatu. "Saya mohon, mari kita istirahat dulu. Besok pagi kita langsung jalan, Tuan.."
"Berikan kunci mobilnya!" Arga masih menengadahkan tangannya. Tomi pun menghela nafas pasrah.
"Baiklah, kita jalan sekarang, Tuan. Tapi saya izin untuk menggunakan supir lain. Yang sudah hafal kondisi jalannya."
"Lakukan saja apapun yang kau mau, asal sekarang juga kita ke tempat Arumi." Arga melenggang pergi lebih dulu di mana sekretaris Tomi hanya bisa geleng-geleng kepala.
***
Pukul tujuh malam...
Mobil sudah mulai memasuki kawasan pegunungan. Terlihat pemandangan gelap nan berkabut di luar. Entah mengapa saat ini ada perasaan yang mengganjal di hatinya. Khawatir ada sesuatu muncul secara tiba-tiba di depan.
Sementara udara yang semakin terasa dingin menimbulkan asap yang keluar dari hidung dan mulutnya saat bernafas ataupun berbicara.
"Pak, di mobil ini. Apakah ada penghangatnya?" Sekretaris Tomi bertanya. Karena ia khawatir juga dengan hawa yang semakin dingin ini, akan membuat Tuannya mengalami hipotermia.
"Maaf, Tuan. Sayangnya di mobil yang ini tidak ada penghangatnya. Apa sebaiknya kita cari penginapan? Karena kita tak bisa sampai ke lokasi. Kabut di luar semakin tebal," ujar sang sopir.
Sekretaris Tomi menoleh kebelakang. Terlihat Tuannya sudah menutupi tubuhnya dengan selimut yang tebal. Beliau nampak menggigil sekali.
"Tuan, kita cari penginapan, ya..." usulnya sembari menggosok ke-dua telapak tangannya. Beliau sendiri tidak menyangka, udara disini bisa mencapai enam derajat Celcius saat ini.
Arga bergeming memandangi pepohonan yang tertutup kabut tebal.
Istriku bagaimana? Apa dia kedinginan? medan jalannya juga tidak halus. Apa kandungannya baik-baik, saja?
"Tuan?" tegurnya lagi hati-hati sebab yang di belakang tak merespon.
"Aku ingin cepat sampai. Berapa lama lagi..." desisnya merespon. Suaranya nampak serak akibat menahan dingin yang teramat.
"Sekitar satu setengah jam lagi, Tuan, karena kita jalan dengan kecepatan rendah. Jarak pandang saya tidak bisa jauh soalnya," jawab Sang sopir. "Dan, yang saya khawatirkan ketika udara semakin turun. Saya sarankan lebih baik kita mencari penginapan. Kurang dari Lima ratus meter ada penginapan yang cukup baik dan cocok untuk Tuan."
Arga kembali terdiam yang ada di kepalanya hanya Arum dan Arum. Tidak peduli apapun yang terjadi pada dirinya. Ia hanya ingin meminta maaf saat ini.
"Jalankan saja mobilnya." Titahnya kemudian. Secepatnya Tomi menoleh kebelakang.
"Tuan, saya mohon. Kita menginap saja, setidaknya kita ganti busana. Anda bisa mengalami hipotermia. Tolonglah, Tuan... besok pagi-pagi sekali. Kita langsung ke lokasi Nona Arumi."
Arga berpikir, di sini dia tidak hanya sendiri. Ia tidak bisa memakai egonya saat ini.
"Baiklah... belokan mobilnya jika sudah tiba di penginapan." Arga menyetujui bujukan keras Tomi tanpa menoleh sedikitpun.
__ADS_1
Sebuah kepulan asap keluar dari bibir dan hidung sekertaris Tomi yang sedang menghela nafas lega. Ia pun memberikan isyarat tangannya untuk berhenti di penginapan terdekat.