Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
perintah dadakan


__ADS_3

Baru beberapa langkah Arum keluar dari pintu darurat itu. Sang bodyguard sudah muncul di ujung, berjalan setengah berlari menghampiri Arum.


Wanita itu pun buru-buru menghapus air matanya. Berusaha untuk menormalkan emosinya.


"Nona, Anda tidak apa-apa?" Tanya Pak Rizal terlihat khawatir.


"Saya tidak apa-apa," jawab Arum. Sementara kepala laki-laki itu terangkat sedikit, mencari sosok yang membawa Arumi tadi. "Bapak cari apa?"


"Di mana Dia sekarang, Nona?"


"Sudah pergi, Pak. Bapak jangan berpikir yang tidak-tidak dengannya. Kami hanya mengobrol, kok. Tidak perlu khawatir!"


"Mengobrol tentang apa? Saya harus tahu, Nona."


"Hanya obrolan basa-basi." Arum berusaha mengabaikan Pak Rizal, namun pria tinggi dan kekar itu sepertinya tidaklah puas.


"Obrolan basa-basi yang seperti apa? Tolong jelaskan."


Arum menghentikan langkahnya, ia menghela nafas. Bisa di bilang, bodyguardnya itu jauh lebih posesif dari pada Arga sendiri. Ya, Dia paham sih. Karena nasibnya setiap hari, bergantung pada kondisi Arumi.


"Kami hanya membahas tentang reuni sekolah yang akan di adakan pekan depan," jawab Arum asal.


"Benarkah? Soalnya pelatih musik Anda bilang, Nona di tarik paksa keluar. Pasti ada hal lain kan? Dia apakan, Nona?"


"Tidak...tidak...! Tidak seperti itu, Pak. Ini salah paham. Aku sama sekali tidak di apa-apakan olehnya."


"Kalau begitu, boleh saya cek kondisi Nona?"


Langsung saja Arum mengangkat kedua telapak tangannya sebatas dada.


"Tidak ada yang hilang dari kesepuluh jari-jari ku. Sudahlah jangan berlebihan."


"Tapi?"


Arum mendelik, pria itu pun terdiam. Tak lama suara ponselnya berbunyi. Pak Rizal mengeluarkannya dari saku.


"Siapa?" Tanya Arumi, menahan tangan Pak Rizal.


"Sekretaris Tomi," jawabnya.


"Katakan padanya, kalau hari ini, semua baik-baik saja. Sembunyikan apapun itu yang bapak dengar, karena aku tidak mau hal sepele ini menjadi rumit nantinya!"

__ADS_1


"Tapi, Nona. Saya tidak mungkin berbohong."


"Anda tidak berbohong. Hanya tidak perlu mengatakan apapun. Jawab saja seadanya..." pinta Arumi.


"Emmm..." ia melirik kearah layarnya yang sudah kembali ke tampilan normal. Ketika dering panggilan itu sudah berhenti.


"Tolonglah bantu aku. Jangan katakan apapun."


"Saya?" Ponselnya kembali berdering. Arum pun semakin menggenggam erat ujung atas ponsel Pak Rizal. Menggeleng pelan.


"Bapak tahu, sudah berapa kali saya menyelamatkan bapak dari pemecatan sekretaris Tomi?"


Pria itu terdiam sejenak. Karena, jika bukan karena bujukan Arumi pada Arga, mungkin nasibnya akan sama seperti penjaga Arum yang sebelumnya.


"Bantu saya, maka semua tidak akan menjadi rumit. Demi Tuhan, tolong jangan laporkan apapun. Aku hanya berbicara basa-basi, tanpa melakukan hal yang tidak-tidak..." Arum menelungkupkan kedua tangannya di depan dada. Walau buru-buru ia pegang lagi ponselnya.


Pria kekar itu menghela nafas. "Baiklah, Nona. Kali ini saya akan tutup mulut. Dan pria itu pun akan saya lepaskan."


"Fuuuiiiihhh..." Arum merasa lega.


"Tapi dengan catatan. Ini yang terakhir, setelah ini Nona harus lebih menurut lagi." Pintanya sungguh-sungguh. Arum langsung mengangkat satu tangannya sebatas telinga. Tanda ia tengah berjanji. "Baiklah, lepaskan ponsel saya."


"Okay...!" Arum mengangkat kedua tangannya langsung. Pak Rizal pun geleng-geleng kepala.


Dari pembicaraannya, Arumi bisa menangkap jika laki-laki itu sedang kena semprot. Akibat dua kali mengabaikan panggilan telepon dari Sekretaris Tomi.


Maafkan Saya, Pak Rizal... Lagi-lagi Arumi merasa bersalah. Karena pria di hadapannya itu jadi sering kena tegur sebab kesalahan Arumi sendiri.


🍂🍂🍂


Perjalanan menuju kerumahnya terkesan tenang. Tidak ada satupun yang berbicara, tidak ada pula suara musik di sana. Arum menyandarkan kepalanya ke kaca. Memandangi jalanan.


Saat ini ia terus kepikiran Rayyan. Pria yang tadi terlihat marah besar di depannya membuat Arum tidak tenang.


Memang, semua mungkin kesalahan Arum yang sudah mengabaikannya. Namun, menolak laki-laki bukankah tidak salah?


Arum hanya berpikir, sebelumnya. Jika ia sudah mengucapkan kata penolakan, berati semua akan berlalu begitu saja. Tanpa pernah menduga pria itu justru terus mengharapkannya hingga saat ini.


Bukankah banyak gadis luar biasa yang bisa kau dekati Rayyan? Kenapa kau menyiksa diri, bahkan menyeretku untuk ikut merasa bersalah.


Arum tidak ingin semua ini terjadi. Pada awalnya Dia hanya ingin kesulitan ini tidak terbagi oleh siapapun. Cukuplah dia yang merasakan. Cukuplah Arumi sendiri yang menyelesaikannya. Orang luar hanya perlu menonton saja.

__ADS_1


Namun yang lebih membuatnya penasaran, tentang lembaran kertas-kertas itu. Dari mana Dia dapatkan?


Pertanyaan demi pertanyaan yang berputar-putar saat itu, terus membuatnya berpikir bahwa pasti ada dalang di balik semua ini.


Kembali Arumi menghela nafas. Ia tahu Rayyan bukan tipe pria yang mudah terhasut. Tapi kenapa hari ini dia kembali seperti itu, bahkan pas di rumah Denna juga.


Dering ponsel membuatnya terkesiap. Buru-buru Arum menerimanya saat tahu itu dari Suaminya.


"Hallo, Sayang?" sapa Arum.


📞 "Kau sedang dimana?"


"Dalam perjalanan pulang, Sayang."


📞 "Bisakah kau bersiap sekarang?"


"Bersiap, kemana?"


📞 "Susul aku ke Labuan Bajo!"


"Eh, kenapa tiba-tiba?"


📞 "Sepanjang waktu tadi aku terus memikirkan sesuatu. Kalau Aku pasti akan bosan, jika malam nanti tidur sendirian."


Ampun deh... Arum menepuk jidatnya tanpa suara.


"Katanya, Anda akan pulang lusa? Tidak lama Kok. Jadi sabar saja, ya Sayang."


📞 "Kau tidak dengar tadi aku bilang apa? Aku tidak akan bisa tidur sendirian sekarang."


Berlebihan sekali, sebelumnya Anda juga sering kok keluar Negeri tanpa aku.


"Akan ku temani lewat video call saja, ya..."


📞 "Aku tidak bisa memelukmu lewat Video Call. Jadi kemari lah. Aku ingin pulang meeting nanti ada kau di kamarku."


Aaiiiih... Orang ini...!


"Tapi sayang?"


📞 "Sekretaris Tomi sudah mengabarkan sopir mu, untuk membawa ke landasan. Sekarang juga kau akan terbang."

__ADS_1


"Sayang?" Tut... Tut... Tut... "Di matikan? Ya ampun, kadang-kadang aku tidak habis pikir dengan kemauannya akhir-akhir ini." Arum menurunkan ponselnya, pasrah.


__ADS_2