
Arumi tertegun membaca pesan chat terakhir dari suaminya. Bahkan ia sendiri sampai membaca berulangkali.
📲 Arga: "Aku ingin Kau ke salon sekarang. Dan Ubah penampilan mu seperti sebelumnya. Saat pertama kali aku menemukanmu."
Begitulah kira-kira isinya. Arum sendiri ragu, apakah yang diinginkannya itu sungguhan? Benar-benar isi kepala yang tidak bisa di tebak.
Arga termasuk orang yang mudah berubah pikiran. Selalu saja, apapun yang di kerjakan Arumi atas perintahnya menyebabkan masalah baru yang sebenarnya tidak layak menjadi perkara besar. Hingga ia harus merasakan hukuman konyol yang ujung-ujungnya menguntungkan Tuan Muda itu sendiri.
Cukup lama Arum tertegun, hingga sebuah ketukan membuatnya terperanjat.
"Siapa?" Serunya. Pintu memang sengaja dibuka sedikit, jadi Arumi bisa mendengar suara di luar begitu juga sebaliknya.
"Ini Mama Nessie, Nak..."
"Oh..." Buru-buru Arum turun dari ranjangnya. "Masuk saja, Ma–" Seru Arumi kemudian.
Mama Nessie dengan semangat, masuk bersama dua orang pelayan wanita yang bertugas membawakan banyaknya paper bag besar di kedua tangan mereka.
"Haiii... menantuku– apa kabar?" sapa Mama Nessie penuh semangat. Rambutnya yang di sanggul tinggi itu sedikit bergerak-gerak saat langkah cepatnya mendekat, dan memeluknya.
"Mama pulang dari jam berapa? Arum sampai tidak tahu."
"Baru saja. Duduk di sana, yuk, Nak." Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu mengajaknya duduk di sofa. Arum mengikuti, karena tangan kirinya tengah di gandeng akrab oleh sang ibu mertua.
Walau beberapa wanita mengeluhkan ibu mertua mereka yang banyak mengatur dan suka nyinyir. Sepertinya aku tidak menemukan itu di diri ibu mertuaku...
Arum terlihat senang dan nyaman duduk di sisi Mama Nessie.
"Tolong letakan di atas meja semuanya..." pintanya kemudian pada dua pelayan tersebut. Sebelum menoleh kearah Arumi lagi. "Kau lihat semua yang ku bawa ini?"
Arum mengangguk pelan. Memandangi semua tas belanjaan dengan nama brand elite terkenal.
"Ini semua oleh-oleh dari Mama untukmu."
"Ya ampun! Un-untuku, sebanyak ini? Mungkinkah untuk suamiku juga?"
"No! no....! just for you!" Mama Nessie menunjuk dada Arumi. Arum terhenyak tidak percaya. Ia pikir semua tas belanjaan itu bukan untuk dia.
__ADS_1
"Tapi ini banyak sekali..."
"Apanya yang banyak, ini sedikit sekali tahu. Padahal Mama bisa memborong lebih dari pada ini. Namun, khawatir kau tidak begitu suka pilihan Mama."
"Arum pasti suka dan akan terima pemberian Mama."
"Sungguh?" Iris mata kecoklatan bercampur abu-abu yang hangat tampak berbinar semangat saat mendengar kata-kata Arumi barusan.
"Iya, Ma–" Senyum cantik terulas di bibir Arumi.
"Oh, Mama jadi tersanjung. Sebab dari dulu, aku sangat menginginkan anak perempuan. Mama pengen sekali, kalau perjalanan bisnis keluar Negeri itu, pulangnya bawa sesuatu untuk putriku. Tapi apalah daya... Mama hanya punya Arga. Dan anak ku yang seperti balok es itu, tidak pernah menghargai oleh-oleh yang Mama bawa semenjak usianya remaja."
"Ya ampun..." Arumi menggenggam tangan ibu mertuanya.
Sungguh keterlaluan! punya ibu baik hati seperti ini malah dinistakan. Tuan Muda itu memang benar-benar! –Arum mencaci dalam hati.
"Omong-omong, kau tidak penasaran dengan isinya?"
"Tentu aku penasaran, Ma. Arum boleh membukanya sekarang?"
"Ya, tentu saja sayang. Mama terlalu banyak bicara hehehe... cepat buka, Nak!" Antusias Mama Nessie, tidak sabaran ketika melihat Arumi menyentuh salah satu tas belanjaan tersebut, dan membawanya ke atas pangkuan.
"Bagaimana? Kau suka, kan?" Tanyanya dengan senyum tersungging lebar.
"Ah..." Arum menggeser pandangannya. "Ya... Hehehe, iya, Ma." Arum tersenyum aneh sebelum kembali menoleh ke baju yang ia angkat tinggi-tinggi.
Baju apa ini? Warnanya ngejreng dan berkilau sekali. Tapi kalau melihat penampilan Mama Nessie yang nyentrik memang tidak heran sih.
"Yeaaayy! Coba sana pakai. Baju ini langsung ku beli saat pameran busana di Paris fashion week. Padahal baju ini belum di produksi masal. Tapi Mama langsung beli ini ke disigner-nya saat itu juga. Mama juga membayar hak patennya. Agar hanya ada satu di dunia, baju jenis ini."
"Be-begitu, ya?" Aku bingung, mau terharu atau sedih. Masa iya, aku harus pakai baju yang seperti ikan mas ini. Ada sisik-sisik emasnya juga lagi. Ah... Atau bisa jadi, aku yang tidak tahu fashion.
"Ayo pakai...!"
"I–iya, Ma. Aku pakai nanti, sekarang kita coba liat yang lain."
"Hahaha– pasti tidak sabar unboxing langsung semuanya, ya?" Menunjuk Arumi dengan kedua jari telunjuknya.
__ADS_1
"Iya, Ma. Arumi suka kalau di kasih oleh-oleh begini."
"Ya ampun, gemasnya. Bukalah... silahkan buka."
"Terima kasih, Ma." Ku harap yang lain agak mendingan. Arum meletakkan baju itu lalu meraih salah satu yang lain.
"Waaaah..." Arumi kembali memandang aneh pura-pura bahagia sekali melihat benda yang ia pegang saat ini. Apa lagi ini?
Sebuah jaket kulit berwarna hitam, dengan taring-taring besi warna silver penuh di bagian bahu. Arum mengangkat tinggi-tinggi.
"Itu jaket yang di pakai Lady Gaga saat konser di California. Satu set dengan celananya juga, loh. Keren, kan? Mama langsung beli itu karena ingat kamu. Walau sejatinya, maunya ku pakai sendiri. Mama hanya sadar umur, kok. Hehehe."
"Oh... hahaha. Mama memang luar biasa..." Aku pakai ini? Kalau aku artis metal pasti mau, Ma. Arum meruntuk.
"Coba yang lain lagi, ya, Ma."
"Ya sayang..." Semakin tidak sabaran saat Arum membuka satu persatu tas belanjaan tersebut.
Hingga di tas kelima. Arum nampak frustasi. Semuanya memang mahal. Tapi lebih cocok di pakai Artis-artis Hollywood yang akan menghadiri acara penghargaan. Atau mungkin mereka yang akan melakukan konser.
Di sini Arum mendapatkan sepasang heels yang unik, setinggi lima belas senti.
"Sepatu itu cocok dengan long dress sebelumnya..." pungkas Mama terlihat bahagia sekali. Arum pun ikut tertawa aneh.
Haduh, aku paham dan mungkin akan setuju kalau Tuan Arga selalu menolak oleh-oleh dari Mamanya. Selera Mama Nessie benar-benar tidak bisa di terima. Aku pakai sepatu setinggi ini? Yang benar saja...
Ingin rasanya dia tepuk jidat. Namun tidak berani.
"Bagaimana sayang?"
"Arum suka, Ma–" jawab Arumi terpaksa.
"Kyaaaaaaa, akhirnya! Akhirnya ada yang mau menerima oleh-oleh dari ku." Mengusap kedua matanya yang berair. "Oh, ayo buka lagi yang lainnya. Sayang."
"Emmmm, nanti saja ya, Ma. Nanti Arum pasti akan membukanya. Hari ini Arum harus ke salon. Mengembalikan warna rambut Arumi."
"Begitu, ya. Padahal, Mama ingin kamu terkesan dan lebih semangat lagi saat membuka tiga tas yang itu." Mama Nessie menujuk tiga tas dengan gambar karakter animasi.
__ADS_1
"Itu?" Arum meraih salah satunya, ia membuka itu dan tertegun seketika.