Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
masalah besar kemudian


__ADS_3

Beberapa saat kemudian...


Keduanya pun di hukum berdiri di ujung ruangan dengan tangan menjewer telinga masing-masing.


"Ck!" Sekretaris Tomi merasa ini sangatlah memalukan. Namun ia bisa apa? Setelah ketangkap basah tengah memeluk Denna pasti sudah cukup untuk membuatnya mengira, mereka telah melakukan hal yang tidak-tidak.


Pria tua ini seperti tidak asing. (Denna yang tertunduk)


"Bagus!! Aku memintamu untuk menikah tapi kau malah membawa wanita yang belum menjadi istrimu ke apartemen ini...!!!" Pekiknya kemudian


"Ini hanya salah paham, Ayah."


"Salah paham, katamu? Jika aku hanya mendengar kata orang, mungkin aku tidak akan percaya. Namun, nyatanya aku melihat dengan mata kepala ku sendiri. Kalian telah melakukan hal yang memalukan! Bahkan rumah sampai kacau balau seperti ini."


"Tapi apa yang Tuan sekretaris ini bilang, benar kok. Kami hanya berebut sapu," jawab Denna, tidak bermaksud membela sekretaris Tomi. Hanya saja dia tidak ingin di anggap wanita rendahan yang sedang mesum di apartemen pria.


"Tunggu dulu..." Laki-laki tersebut berjalan mendekati keduanya dan berhenti di hadapan Denna. "Aku seperti tidak asing dengan mu."


"Eh." Kening Denna berkerut.


"Aku yakin, kita pernah bertemu. Biar ku ingat-ingat." Terdiam cukup lama.


aku juga seperti tidak asing denganmu, Pak. (Denna)


"Aaaahaaaaaaa.....! Gadis mini market. Kalau tidak salah ingat, ya... kau yang meminjamkan aku ponselmu, 'kan?"


Denna pun mulai ingat walau masih samar. Tapi sepertinya dia tahu jawabnya sekarang. Kenapa muka kakek itu seperti tidak asing.


"Oh! Benar! Aku ingat... Bapak yang waktu itu tidak tahu alamat anak bapak? Jadi tuan sekretaris ini anak bapak?" Melepaskan jewerannya tanpa sadar.


"Heh! Kau melepaskan tanganmu?" Protes Tomi pada Denna. "Cepat jewer lagi telingamu!" Pintanya kemudian.


"Diam, kau! Tidak perlu melakukan perintah apapun. Di sini aku bosnya."


Haduh, Ayah.... (Tomi) Pria itu menghela nafas. Mau bagaimana lagi.


"siapa namamu?"


"Denna, Pak."


"Ah, ya... Denna!"


"I–iya, Pak?"

__ADS_1


"Apa cecunguk ini yang memaksamu datang kemari?"


"Iya–" jawabnya yang membuat Tomi menoleh lalu mendelik.


"Itu tidak benar, Ayah. Jangan dengarkan dia!"


"Hei– Memang benar, kan aku datang atas paksaanmu!"


"Bukankah ini perjanjian bersama kenapa kau malah menikam ku?!"


"Bagaimana, ya? Habis kau menyebalkan, hanya karena sapu saja kau sampai melakukan hal seperti tadi..."


"Aku tidak percaya padamu! Karena setiap barang yang kau sentuh akan hancur."


"Lihat, sudah memaksaku ke mari dan sekarang memarahiku. Pak? Aku hanya gadis lugu loh–" Denna berusaha menjilat.


"Hei, Kau!" Tomi melepaskan jeweran di telinganya sendiri. Menujuk wajah Denna kemudian. Hingga sebuah pukulan ringan mendarat di bokongnya. "Aaaaaaarrggggg!"


"Sudah ku bilang kau itu bedebah yang hanya bisa bikin masalah!"


"Di sini dia yang salah lebih dulu!" Tomi berusaha terus membela diri. Sementara tangannya mengusap bokongnya sendiri.


"Terus saja menyalahkan seorang gadis! Benar-benar memalukan!"


Gadis itu benar-benar menantangku, ya!


"Pak. Aku memang di undang makan malam dengannya karena satu alasan. Kemudian untuk yang tadi, kami memang sedang berebut sapu karena aku telah menghancurkan apa-apa yang ada di sini." Denna menjelaskan dengan baik.


Berterima kasih lah padaku, Tuan Sekretaris.


"Jadi begitu?"


"Ya..."


"Kau di undang untuk makan malam karena kau kekasih anakku, hohoho...." Bapak itu tertawa.


"Iya... Eh!!! Tidak! Tidak! Kami sama sekali tidak?"


"Tidak apa-apa. Aku akan memaafkan, karena bapak ada di sini. Besok kita ke rumah gadis ini saja, biar Bapak lamar untukmu."


"A–apa?" Denna terkejut bukan kepalang Sementara yang di sebelah hanya tertawa tanpa suara.


"Kalian lanjutkan saja, bapak mau istirahat sebentar."

__ADS_1


La–lanjutkan? apanya yang di lanjutkan? Denna mengangguk sopan setelahnya menoleh ke Sekretaris Tomi, menoel dengan sikutnya, kemudian.


"Apa maksudnya ini. Hei, tolong jelaskan, Tuan. Dan, Sa– saya mau pulang. Karena urusanku sudah selesai..."


Gadis itu mau lari begitu saja? Baiklah, aku akan memutuskannya sekarang.


"Tunggu!" Tomi menahan gadis itu yang sudah memeluk tasnya hendak pergi. Kontan kaki kecilnya pun berhenti. "Ayah!" Panggilannya kemudian, Sang Ayah pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam.


"Ayah sering bilang, aku harus segera menikah. Jadi keputusanku adalah menerima rencana untuk melamarnya, besok..."


Denna membeku. Matanya melebar seketika.


Tomi yang merasa menang mulai menyunggingkan separuh bibirnya. Lalu mendekati Denna. Pria itu menyentuh pucuk kepalanya dengan satu tangan. Lalu memutar tubuh Denna hingga menghadap ke arah ayahnya lagi.


"Nikahkan kami, kalau bisa dalam waktu dekat ini, Ayah–" imbuhnya. Kontan Tas dalam dekapannya pun terjatuh.


"He–hei!! A–apa Anda sudah gila?" Bisiknya, "apa maksudnya, nikahkan?" Denna mendadak shock.


"Iya, nikah. Kita sudah tertangkap basah berduaan di atas sofa. Apalagi?" Tomi menghadap Ayahnya.


"Ta–tapi itu hanya sebuah kesalahan."


"kau bilang kau gadis lugu. Aku hanya ingin bertanggung jawab."


"apa katamu?"


Tomi tersenyum jail, ia kembali menggeserkan pandangannya pada sang Ayah.


"Nikahkan saja kami, ayah. Aku sudah siap, mau malam ini pun aku siap."


"Uhuuuuk! Sekretaris Tomi...!"


Terdengar tawa dari ayah Tomi. "Wah wah... Kabar gembira ini."


"Pak, tidak... jangan dulu gegabah. Kami tidak?"


"Tidak apa? Apa kau menjadi gugup? Hohoho, ku rasa Semua orang yang hendak menikah pasti akan gugup."


"Tapi?" Hendaknya mengejar namun di tahan Sekretaris Tomi.


"Mau kemana calon istriku? Bajumu kotor kena noda makanan, tadi. Apa kau mau ganti dulu. Aku punya banyak baju yang bisa kau pinjam."


"Iiissshhh..." Denna mendorong pria itu. "Ja–jangan bermimpi...! Kita tidak akan menikah! Dengar itu!!!" Wanita itu langsung melenggang pergi. Tomi pun tertawa.

__ADS_1


Tomi menyilakan kedua tangannya di depan dada. "Menikah, dengan gadis penulis itu?" Tersenyum kemudian.


__ADS_2