Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
kondisi Arumi


__ADS_3

Arumi yang tiba-tiba tidak sadarkan diri di teras rumah, tentu membuat mereka yang ada di sana terutama Pak Ragil panik.


Pria paruh baya itu memerintahkan Pak Rizal untuk segera mengangkat tubuh Arum dan membawanya ke dalam. Sementara Beliau sendiri mengikuti di belakang, buru-buru menghubungi Dokter pribadi melalui ponsel di tangannya.


––


Sekitar hampir satu jam...


Terlihat keresahan di balik wajah tenangnya Pak Ragil. Beliau bahkan belum mengabarkan hal ini pada Sekretaris Tomi.


Hingga lirih suara rintihan terdengar. Membuat pria paruh baya yang sedari tadi menunggu dengan tingkat kekhawatiran yang kental itu merasakan kelegaan.


Mata yang masih tertutup rapat milik Arum mulai bergerak sedikit-sedikit. Suasana terang menerpa netra hazel Arumi yang perlahan-lahan sedang mengangkat kelopak mata itu.


Beberapa detik pertama ia merasa asing dengan tempatnya terbaring sekarang, otak yang masih terasa kosong belum mampu membuatnya menyadari hal apa yang baru saja terjadi.


Hanya merasakan adanya jarum yang tertancap di punggung jarinya, tersambung dengan selang lunak berukuran kecil menjuntai dari atas.


"Anda sudah sadar, Nona?" Tegur halus seorang wanita berjas putih. Memastikan jika Arum sudah sadar dari pingsannya.


Wajah Arum berpaling lemah kearah sumber suara. Sepertinya Dia seorang Dokter. Itu yang Arum tangkap pertama kali saat melihatnya. Juga, pria paruh baya yang terlihat resah berdiri tak jauh dari posisi dokter wanita tersebut.


"Apa yang terjadi?" tanya Arum terdengar lemah.


"Anda tadi mendadak pingsan, Nona," jawab Pak Ragil.


ia benar-benar lega padahal sebelum ini sudah meminta supir untuk menyiapkan mobil demi membawa Nona Mudanya itu kerumah sakit, tanpa mengikuti saran Dokter yang menginginkan observasi selama tiga jam.


"Dok, haruskah Nona Muda di rawat di rumah sakit, guna pemeriksaan lebih lanjut?" tanya Beliau setelahnya.


"Saya akan lihat dulu kondisinya, Pak."

__ADS_1


"Emmm, baiklah." Pak Ragil masih memantau kondisi di sana. Ia sendiri memutuskan untuk menghubungi Sekretaris Tomi setelah mendapati kondisi fisik Arumi telah membaik.


Arum menyentuh keningnya yang pening, bersama munculnya beberapa rentetan ingatan dari sejak kepergian mobil yang di kendarai Sekretaris Tomi juga pandangan yang mendadak berubah menjadi gelap gulita.


Aku terlalu memikirkan masalah kehamilan yang belum di ketahui oleh suamiku sendiri. Belum lagi Dokter Kasih telah tiada... –Arum bergumam dalam hati.


"Nona, bisa sebutkan keluhan apa yang sedang Anda rasakan?" tanya Dokter tersebut membuat Arum langsung menoleh.


"Aku hanya pusing, dan lemas."


"Ada mual kah?"


Arum terdiam walaupun sejatinya rasa mual itu ada setiap pagi atau mungkin di jam-jam tertentu namun ia memilih untuk menggeleng.


"Apa sebelum ini, Nona sering pingsan?"


"Tidak, baru pagi ini. Akhir-akhir ini, aku hanya kurang nafsu makan. Sementara kegiatanku agak padat."


"Dokter?"


"Ya?" Menoleh.


"Apakah Dokter mengetahui sesuatu setelah memeriksaku?" Tanya Arum terlihat cemas. Wanita di sisinya pun tersenyum.


"Saya hanya memeriksa sedikit. Jadi saya bisa menyimpulkan jika Anda hanya mengalami anemia."


"Ooo..." sedikit ada perasaan lega di hatinya. Berarti Dokter itu belum tahu, kalau aku tengah mengandung.


"Apa Nona mau di periksa lebih lanjut? Mungkin ada keluhan lain?" tanyanya, buru-buru Arum menggeleng.


"Tidak perlu. Saya sudah baik-baik saja, kok."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu." Dokter kembali mencatat resep obatnya lalu menyerahkan itu pada Pak Ragil. Dan setelah mengobrol sedikit Dokter wanita itu pun berpamitan.


"Istirahatlah dulu, Nona. Dan panggil saya jika ada yang di butuhkan," ucapnya masih dalam posisi berdiri di sisi ranjang. Sementara dua pelayan membenahi selimut Arumi dari dua sisi.


"Anu– Pak Ragil, apa bapak sudah memberi tahu Suamiku tentang kondisiku?"


"Saya baru saja mengabarkan kondisi Nona pada Sekretaris Tomi."


"Emmm, seharusnya tidak usah, Pak. Toh aku sudah baik-baik saja."


"Maaf, Nona. Apapun yang terjadi di rumah ini, saya harus melaporkan pada Sekretaris Tomi. Lebih-lebih perihal kondisi, Nona."


"Walaupun saya sudah tidak apa-apa?"


"Iya, Nona."


Mungkinkah Dia akan ada waktu untuk memperhatikan ku? (Arum)


"Adakah lagi yang ingin di bicarakan?"


"Tidak ada, Pak."


"Baiklah kalau begitu. Saya izin keluar dulu, nona. Permisi dan selamat beristirahat."


Arum hanya tersenyum tipis membalas kata-kata Pak Ragil sebelum keluar dari kamar itu.


Pintu kembali tertutup, suasana kamar pula menjadi hening hanya tertinggal Dia sendiri di dalam kamar yang nyaman ini. Pelan-pelan Arumi menyentuh perutnya sendiri. Memikirkan lagi semua yang telah terjadi.


"Aku tidak mungkin diam saja, aku harus bicara pada Suamiku tentang ini. Apa yang perlu ku takutkan? Ini 'kan anaknya. Mau bagaimana lagi, walaupun harus menerima kemarahan darinya, tapi aku yakin Dia pasti akan menerima kehamilanku." Arum mengusap lembut perut yang masih rata itu mencoba untuk menenangkan dirinya.


Ya, hamil bukanlah suatu kesalahan yang besar, 'kan? Lebih-lebih benih yang tengah tumbuh di rahimnya ini adalah milik Arga, suaminya sendiri. Tidak perlu ada yang di khawatirkan Arum masih mengusap perutnya itu dengan hati yang sedikit lebih tenang.

__ADS_1


Karena menurut artikel, wanita hamil tidak boleh stress. Maka ia mencoba untuk tidak banyak memikirkan sesuatu yang ujung-ujungnya akan menjadi masalah untuk kandungannya ini.


__ADS_2