
Seminggu berlalu, sejak acara makan malam yang membuat suasana terasa ambigu bagi keduanya. Kini Tomi berdiri menunggu perintah pulang dari bos-nya. Karena, pekerjaannya telah selesai dengan cepat.
"Pulanglah..." Suara serasa angin surga yang di tunggu-tunggu dari pria yang sejak tadi sibuk membaca resep masakan western. Pun, langsung menerbitkan lengkungan samar di bibir pria yang menjabat sebagai Sekretaris pribadi.
Tangan kanannya mengepal pelan, dalam hati ia bergumam, Yeeees! Yang bermakna semangat karena akan ada janji dengan seseorang malam ini di apartemennya.
Tentu kepulangan cepat ini cukup membantunya menyiapkan banyak hal. Sebelum tiba waktu makan malam.
"Bagaimana dengan Anda, Tuan. Bukankah, saya harus mengantar, Tuan. Untuk pulang lebih dulu?"
Kata-kata mengandung basa basi, sejatinya ia mengharapkan Arga mengusirnya cepat. Karena Tomi pun sudah tidak sabar, ingin secepatnya mendatangi swalayan dan membeli beberapa bahan makanan yang akan ia olah sendiri. Bukankah itu lebih spesial dari pada membeli makanan jadi di luar.
Membayangkan gadis itu makan masakannya, dan memujinya saja sudah membuat pria yang usianya hampir menginjak kepala empat senyum-senyum sendiri. Sayangnya Tomi tak mendapatkan jackpot itu.
"Emmm, ya," jawabnya datar dengan tatapan mata fokus pada layar tabnya.
Ku pikir saat Tuan memerintahkan ku pulang berarti ya, pulang. Menyesal aku menawarkan jasa menyetir. Haaaaah, apa yang kau pikirkan, Tomi? itu memang pekerjaanmu juga, bukan?
"Baik Tuan. Saya akan menunggu di luar."
"Aku harus beli daging kualitas terbaik. Lalu saus dan beberapa yang lainnya..." Bergumam sendiri tanpa mendengarkan Tomi.
Ya, semenjak hidup Arga kembali berwarna, hidupnya pun kini sudah tak begitu sulit. Belum lagi sejak Nona Arumi mengandung. Tuan yang sempat mendapat julukan Arogan itu lebih sering menghabiskan malam akhir pekan dengan cara yang unik-unik.
Seperti malam ini contohnya, Arga ingin menunjukkan sesuatu pada sang istri. Sebuah skill memasak yang telah ia pelajari.
–––
Di perjalanan...
"Belokan mobilnya, aku ingin membeli bahan-bahan segar untuk ku masak."
Untuk apa membeli lagi, di rumah Anda sudah banyak bahan makanan segar. –Tomi membatin.
"Emmm, baik Tuan. Tapi, maaf. Untuk apa repot-repot Anda membelinya, Tuan? bukankah di rumah sudah ada?"
Arga meletakan tabnya di atas pangkuan.
"Sesuatu yang ku buat ini, akan lebih spesial jika aku beli sendiri bahan-bahannya. Kau yang hanya bisa mengagumi dalam diam mana tahu. Membuatkan sesuatu untuk pasangan adalah hal yang menyenangkan."
Jujur sekali Anda ini kalau bicara. Tomi bersungut, di belakang terdengar suara tawa mengejek.
–––
Di dalam swalayan...
Tomi terus saja melirik kearah jam tangan. Waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit. Sementara janji dengan Denna sekitar pukul delapan. Sementara pria di hadapannya masih mondar-mandir entah mencari apa.
Haruskah aku belanja sekalian? Tapi setelah ini aku pasti akan di hujani banyak sekali pertanyaan menjebak. –Runtuknya dalam hati, sembari terus melangkah di belakang Arga yang sedang berdiri di dekat tepukan lemon segar.
"Mana yang harus ku pilih?" Mengambil dua lemon dengan ukuran berbeda di kedua tangannya.
"Yang ini lebih besar. Ku rasa airnya akan banyak." Menunjuk yang di kiri.
__ADS_1
"Lebih besar bukan berati kandungan airnya lebih banyak. Kwalitas memilihmu benar-benar buruk, Tomi. Pantas saja kau jomblo, hahaha..."
Tuan, please! Tomi menghela nafas, ingin rasanya dia mengelus dada.
Kedua pria itu kembali berjalan. Tomi sendiri akhirnya turut memilih bahan-bahan. Ia sudah mengambil beberapa dan kini sedang menimbang wortel dan kentang.
"Kau juga belanja banyak?"
"Saya juga harus mengisi lemari pendingin saya, Tuan. Karena stoknya mulai menipis." Jawab saja seperti ini.
"Apa kau selama ini masak sendiri?"
"Begitulah, Tuan..." Tomi tersenyum tipis.
"Ckckck! Tom, hidupmu pasti monokrom." Menepuk-nepuk pundak sambil geleng-geleng kepala. Mimik wajah Arga menujukkan ekspresi prihatin.
"Monokrom?"
"Ya, karena pelangi mu ada di rumah Bu Ratih. Hahaha..."
Doeeeeng!
Sungguh, Anda random sekali. Tomi yang mendadak bengong seketika mengundang gelak tawa bosnya semakin kencang.
"Hahaha... lihat wajahmu itu." Menunjuk ke arah Tomi.
"Hehehe..." Tomi tersenyum garing. Terserah Anda saja lah...
Tomi tidak bisa menjawab apa-apa. Dan mulai terbiasa, ketika Arga yang sudah beristri memang lebih sering mengejeknya jomblo malang. Padahal tidak begitu juga. Tomi memang sedang berjuang untuk meraih tambatan hatinya, namun dengan cara yang pelan-pelan.
Di rumah utama...
Arga mulai mengolah semua bahan makanan yang sudah di beli. Karena ia tengah ingin bermain Nyonya dan asisten. Pria itu mengusir para koki untuk keluar sementara dia sendiri tengah bersiap.
"Duduklah, Nyonya..." Arga mengeluarkan kursi untuk sang istri. Tentunya perbuatan manis Arga di sambut baik Istrinya.
"Ya ampun, suamiku. Kau tak perlu melakukan hal ini." Arumi yang merasa tersanjung sekaligus geli hanya bisa menurut.
"Apanya yang berlebihan? Aku hanya ingin menebus kesalahan ku." Arga mencondongkan tubuhnya, sementara kedua tangan bertumpu pada meja dan sandaran kursi di sisi kanan istrinya.
Arum mengangkat satu alisnya. "Menebus kesalahan yang mana? Ku rasa tidak ada kesalahan yang perlu di tebus." Kecuali hal-hal sepele yang kadang membuatku sedikit kesal.
"Sosis bakar yang seperti kotoran kucing. Saat di rumah temanmu."
Arum sempat terdiam sejenak, mengingat-ingat. Sebelum akhirnya tertawa hingga membuat wajahnya yang polos itu terlihat semakin manis bagi Arga.
"Ya ampun, sayang... kau masih ingat saja?" Arumi mengusap pipi sang suami yang turut tersenyum. Pria itu pun mencium kening Arum gemas.
"Kenapa saat kau hamil seperti ini terlihat semakin cantik, sih?"
"Jangan membual! Kau lihat wajahku seperti membengkak? Pasti kau sedang mengejekku, 'kan, sayang?"
"Siapa yang mengejek? Aku mengatakan dengan jujur. Aku suka memandangi wajahmu akhir-akhir ini. Sebab pipimu yang semakin cuby. Sungguh membuatku gemas.
__ADS_1
"Oh, bilang saja wajahku seperti induk beruang. Iya 'kan? Pasti aku terlihat lebih tua dari usia ku."
"Tidak, kau lebih cantik. Aura keibuanmu sangat terpancar. Itu yang membuatmu semakin menarik."
Bersamaan dengan itu, seorang wanita paruh baya sudah berdiri di dekat mereka. Yang dengan gerakan pelan tanpa menimbulkan suara wanita itu diam-diam menyelinap.
Ya, setelah mendengar kabar bahwa Arga sedang memasak untuk istrinya. Wanita itu jadi penasaran dan ingin melihat langsung adegan romantis anak tunggalnya itu.
Dasar, dia lebih parah dari mendiang ayahnya saat menggombal. Hihihi... (Mama Nessie)
Wanita dihadapan Arga tersipu. "Benarkah?"
"Iya, sayang. Makanya, Kau jangan diet ketat seperti Mama Nessie, ya. Aku tidak suka pipi kurus seperti itu."
Apa katanya? –Mama Nessie meredupkan senyumnya.
Arumi terkekeh sambil menutup mulutnya. "Kau jangan seperti itu. Bagiku Mama Nessie punya postur tubuh yang sangat bagus. Aku saja iri padanya."
Menantu ku memang yang terbaik. –Tersenyum bangga setelahnya.
"Untuk apa iri? Dia hanya memaksakan diri demi melawan waktu. Karena tidak mau menerima takdir kalau dia sudah tua." Ejekan tanpa sadar ada seseorang yang kini sudah berdiri di belakangnya, memukul kepala Arga dengan tangan kosong.
Pletaaakkkk!!
"Aaaaarrrghhh..." kontan menoleh kebelakang dengan gusar. Namun secepatnya wajah kesal itu berubah pasi.
"Ma–Mamah?" Arumi yang turut terkejut tidak tahu kalau ada ibu mertuanya.
"Halo, menantu kesayangan." Melambaikan tangan kanannya sambil tersenyum. Lalu menggeser pandangannya pada anak laki-laki Beliau dengan tatapan sinis.
"Mama kapan, kembali?" Tanya Arum, kontan berdiri.
"Baru saja... ku dengar anak Mama sedang masak. Jadi, Mama juga ingin makan." Menarik lengan Arga untuk menjauh lalu beralih mengambil kursi.
"Apa yang Mama lakukan?" Protes Arga.
"Apa lagi, makan malam, lah! Dan kau ku tugaskan untuk memasak hidangan untuk ibu hamil dan satu wanita yang sudah Tua ini." Tandasnya dengan penekanan di akhir.
"Mintalah koki untuk membuatkan hidangan Mama sendiri."
"Memang kenapa? Apakah ada larangannya?" Menoleh ke arah Arum. Gadis itu pun menggeleng.
"Tentu tidak ada, Ma." Menjawab dengan gugup.
"Kalau begitu..." Proook! Proook! Mama Nessie menepuk kedua telapak tangannya dua kali di dekat telinga. "Asisten dapur Arga Sanjaya! Tolong buatkan kami hidangan makan malam yang lezat, ya."
"Haaaah... ya!"
"Eeeiiitss... Tunggu sebentar." Mama Nessie mengambil apron hitam, setelah itu memasangkannya untuk sang anak. "Hehehe, ini lebih baik."
"Ck!" Pria itu bersungut-sungut. Namun tetap melakukan pekerjaannya dengan baik.
Semua aksi memasaknya berujung pada perdebatan kecil ketika sang ibu yang gemas mulai turun tangan memberikannya arahan memasak. Arum pun tersenyum, melihat dengan haru. Aksi masak ibu dan anak yang benar-benar terlihat unik namun terkesan hangat itu. Tangan kanannya mengusap perutnya sendiri.
__ADS_1
Kita nanti jangan seperti itu, ya, Nak. Batinnya masih menonton debat panjang di depannya.