Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
sebuah kesalahan di kantor


__ADS_3

Dalam perjalanan ke kantor, tak henti-hentinya Arga tersenyum. Jika di ibaratkan sebagai karakter dalam game. Pagi ini, nyawanya seolah sedang penuh.


Auranya pula di hiasi warna pink dan putih. Menujukkan kesan positif untuknya yang sejak tadi tengah menyentuh dada sebelah kirinya menggunakan tangan kanan.


Deg... deg...


Arga menghela nafas panjang, dan menghembuskannya pelan-pelan dengan mata terpejam.


Aku bisa merasakan. Hidupku kembali berwarna... Begitulah yang terlintas di benaknya. Kembali membuka mata, Arga mengeluarkan ponsel dari saku jas.


Ketik ... ketik ... ketik. Kini ponsel tersebut sudah menempel di telinganya.


Beberapa detik kemudian. "Hallo, Dokter Aska!"


Mendengar nama Dokter Aska di sebutkan, Sekretaris Tomi melirikan matanya ke arah spion tengah.


๐Ÿ“ž"Hallo, selamat pagi, Tuan. Saya senang, saat Anda menelepon saya pagi ini."


Arga mengulas senyum, tangan kanan yang masih terbalut perban mengusap pelan sisi samping kepalanya.


"Apa dalam pekan ini Anda sibuk?" tanya Arga kemudian.


๐Ÿ“ž"Emmmm... tidak, Tuan. Memang ada apa? Ku pikir, Anda bilang tidak akan menemui saya lagi. Apakah Anda berubah pikiran?"


"Hei... hei... jangan kege'eran. Aku ini bukan pasienmu lagi sekarang..."


๐Ÿ“ž"Ya... ya... lantas ada apa, Anda tanya tentang jadwal saya?"


"Begini, saya hanya ingin mengundangmu makan malam di Luxurious Restaurant. Reservasi atas namaku. Kau bawa sekalian istrimu, dan kita akan bertemu berempat bersama istriku juga disana."


Aska terdiam, ia menurunkan ponsel guna membaca nama di layar. Setelah itu kembali menempelkannya lagi.


๐Ÿ“ž"Anda yakin, mengundang saya dalam acara makan malam pribadi ini? dan ... berempat?"


"Hemmm, ya. Memang kenapa?"


๐Ÿ“ž"Tidak apa. Hanya saya pikir, kita tidak sedekat itu... saya hanya Dokter biasa. Lalu Anda mengundang saya, bahkan tanpa perantara. Mengajak Saya langsung. Jujur saja, saya sangat terkesan."


"Hahaha... Anda berlebihan." Aska yang mendengar tawa Arga tersenyum simpul. "Datanglah sebagai teman. Malam akhir pekan ini... mari kita menyambung tali persaudaraan."

__ADS_1


Dia memintaku datang sebagai teman? Apa pria ini adalah orang yang sama dengan pria arogan yang selama ini ku temui?


Aska tertegun di tempatnya. Ia tidak menduga akan mendengar permintaan ini langsung dari Sang pewaris Andara Group.


Setelah semuanya yang terjadi pada kehidupan Dia, yang bahkan baru satu setengah tahun ini mendapatkan kembali lisensinya, setelah di terpa fitnah jahat dari sang durjana.


Bersamaan dengan pengakuan anak dari satu-satunya pewaris UK health, di tambah jabatannya yang kini menjadi pemimpin Yayasan cipta kasih. Seolah bola keberuntungan terus saja menggelinding kearahnya tanpa henti.


"Hallo, Kau masih di sana?" Tanya Arga yang tak mendengar suara Dokter Aska.


๐Ÿ“ž"Ah... ya... ya, Tuan." Terdengar suaranya yang mendadak serak di sana. "Baiklah, Tuan. Akan saya usahakan."


"Hemmm... ku harap kalian benar-benar datang." Arga menutup panggilan teleponnya.


Sementara itu, Tomi yang memang punya dua telinga sudah pasti mendengar isi percakapan mereka. Namun yang membuat pria itu bengong adalah, tentang Bosnya yang mendadak berubah.


Pria yang bisanya tidak peduli, dan tidak ingin bergaul dengan siapapun. Tiba-tiba mengundang seseorang makan, bahkan memintanya menjadi teman. Ada angin apa ini?


Tomi menoleh kearah langit di depannya. Di luar sangat cerah. Tidak akan ada tanda-tanda hujan badai. Tapi kenapa, mendadak ada petir?


"Tomiโ€“"


"Aku ingin, Kau mengirim beberapa hadiah untuk Dokter Aska. Tulis di kartu ucapannya. Bahwa gift itu adalah tanda pertemanan dari ku."


"Baik, Tuan..."


Tanda pertemanan? Kan, benar... telingaku tidak salah menangkapnya. Apa selama ini Dokter Aska mencuci otak Tuan Muda juga?


Tomi geleng-geleng kepala, namun sejurus kemudian tidak peduli. Ia harus sudah sampai kantor pusat segera.


***


Di kantor...


Seorang security berlari pontang-panting, dan berhenti di depan pintu lobby gedung. Nafasnya terlihat naik turun. Mencoba mengatur sejenak, sebelum berbicara.


"Tuan Arga dan Sekretarisnya, sudah memasuki gerbang...!!" Serunya kemudian.


Sontak, semua staf mendadak panik seketika. Dua resepsionis yang tadi sedang berdandan buru-buru membenahi alat make-up mereka.

__ADS_1


Sang general manager yang sebelumnya sedang mengajak ngobrol salah satu pegawai wanita pula langsung buru-buru merapikan dasi, dan juga memeriksa ulang bagian pinggangnya. Berharap tidak ada sedikitpun kain kemejanya yang keluar dari celana. Lalu membenahi jas juga rambutnya.


Salah satu yang lain menelfon beberapa bagian, untuk mengabarkan, bahwa pemimpin Andara Group sudah tiba. Sehingga kegaduhan tercipta, mereka yang tadinya santai mengopi, buru-buru membenahinya, dan duduk manis di meja menunggu sepuluh menit lagi waktu kerja di mulai.


Ada pula yang saling bertanya, apakah penampilannya sudah rapi? Yang lain lagi bahkan sampai membantu memeriksa meja resepsionis dan dinding kaca. Berharap tidak ada debu sedikitpun di sana.


Ketika semua sudah dipastikan rapi, mereka pun berdiri di dekat pintu utama. Menyambut kedatangan Presiden Direktur Andara Group dan Sekretarisnya.


Mobil telah berhenti di depan, Sekertaris Tomi keluar dari cabinnya. Seorang Security sedang membukakan pintu mobil untuk Arga Sanjaya.


Tegang... mereka yang ada di bagian itu bergeming di tempatnya. Menunggu langkah panjang dua pria paling di hormati itu melangkah masuk.


"Selamat pagi, Tuan Arga..." sapa mereka sembari membungkuk sedikit, untuknya.


"Pagi juga semua..." Arga menyapa balik. Padahal biasanya pria itu hanya diam saja melewati mereka. Sementara sekretaris Tomilah yang akan memeriksa kerapian itu sembari mengikuti langkah Arga di belakang. "Bagaimana pagi kalian...?"


Mereka saling lirik dengan posisi menunduk. Rasanya tidak percaya, jika pria arogan itu menanyakan kabar mereka.


"Tidak ada yang mau menjawab?" Sarkas Tomi kemudian. Saat semuanya hanya diam saja.


"Kโ€“kami baik, Tuan." Jadilah sang General Manager yang menjawabnya dengan hati-hati. Bersamaan dengan senyum sopan karyawan yang lain mengiyakan. Arga pun tersenyum tipis.


Hingga seorang office boy keluar dari lift sembari memanggul galon.


Ya ampun...!


Langkah pria yang tubuhnya terbilang kecil itu sedikit gemetar. Saat melihat Arga dan Sekretarisnya ada di sana. Belum lagi dia hanya menggunakan sandal jepit, sudah pasti akan kena semprot Sekretaris Tomi. Karena memang, Tomi sedang menatapnya tajam, setelah menjuruskan pandangan ke kaki.


"Sโ€“selamat pagi, Tuan." Sapanya singkat, menahan beban di pundaknya. Buru-buru mengambil arah berlawanan. Namun sialnya. Salah satu kakinya menginjak bagian belakang sandal jepit yang ia pakai hingga membuatnya terjatuh. Namun, naasnya galon yang di panggulnya justru jatuh lebih dulu.


Pyaaaaaakkkk... cipratan Airnya menyembur kemana-mana. Hingga sedikit mengenai pakaian Arga yang seketika menutup mata akibat air tersebut mengenai wajahnya juga.


Tidak berhenti di situ, galon itu masih terus menggelinding ke arah para karyawan yang sedang berdiri menyambut Arga tadi.


Sraaaaaaag... Tomi sigap menahan galon tersebut dengan kakinya agar tidak terus menggelinding hingga mengenai kaki Arga.


"PAK JONO!!!" Pekik Tomi kemudian, menimbulkan suara yang melengking dan menggema di lobby tersebut.


Tamatlah sudah nasibku di sini...

__ADS_1


Office boy yang masih tersungkur di lantai tidak bisa berkutik. Jangankan untuk berdiri, bergerak dari posisinya saja tidak berani. Sebab ia sudah membaca situasinya. Sudah pasti, pemecatan akan ia terima detik ini juga.


__ADS_2