Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
Masih di Labuan Bajo, dong...


__ADS_3

Di dalam dapur, wanita itu mengolah makanannya. Ia bahkan merebus bahan-bahan segar, menggoreng tahu dan tempenya, juga menghaluskan saus kacangnya sendiri.


Terlihat kekhawatiran di wajah mereka semua saat melihat banyaknya cabai yang di gunakan wanita cantik itu.


"Fiuuuuh..." Arum mengusap keringat di keningnya.


"Nona, Anda pasti lelah. Sini biar kami yang lanjutkan." Pinta sang Kepala pengawal yang sejak tadi sudah ketar-ketir.


"Tidak perlu. Aku bisa."


"Tapi, Nona? Ini tugas kami. Sebaiknya Nona tunggu di luar. Biar kami yang menyelesaikannya," bujuk sang manager resort.


Karena, jujur saja sang manajer di sana juga sudah sangat khawatir sekali jika suami dari wanita yang tengah semangat mengulek bumbu kacang itu mengetahuinya. Bisa jadi dia akan di pecat dari pekerjaannya saat ini juga.


"Sudah ku bilang, aku ingin melakukan ini sendiri...!" Sarkasnya memaksa. Mereka pun tak punya pilihan selain membiarkan saja.


Makanan yang di buat Arum telah selesai. Kini tahap akhir yaitu menyiramkan saus kacang ke atas permukaan komponen yang sudah tertata di atas piring.


"Nona hebat sekali." Puji sang kepala Koki. Walaupun dengan mimik wajah khawatir, namun ia tetap memaksakan tersenyum.


"Ya, aku memang belum pernah mencoba membuatnya."


"Jadi ini kali pertama ... Anda membuatnya?"


"Tentu saja," jawabnya antusias.


"Ooo..." Kepala koki itu menoleh ke yang lain. Pelan-pelan bertepuk tangan. "Woaaahahaha..." Yang lain pun lantas mengikuti.


"Silahkan makan ini." Arum meminta sang kepala Koki itu untuk memakannya.


"Sa–saya?" Menunjuk diri sendiri.

__ADS_1


"Iya, Tolong Tuan koki cicipi ini."


"Bu–bukankah Nona membuat ini untuk Nona sendiri?"


"Hahaha, tentu saja tidak. Aku hanya ingin membuat saja. Dan setelah hidangan ini siap, malah membuatku langsung kenyang seketika. Jadi, makanlah..."


"A–apa?"


"Makan, Tuan Koki. Dan kalian semua."


Mereka saling lirik. Namun akhirnya menuruti. Di mulai dari kepala koki itu, mengambil sedikit.


"Yang banyak. Jangan hanya sedikit, Tuan koki.


"Hahaha, sunggu kehormatan sekali saya bisa mencicipi makanan hasil olahan tangan dari istri Presdir Arga Sanjaya. Sayangnya saya sudah kenyang, Nona."


"Makanlah, walau hanya satu sendok..."


"Hehehe, baiklah. Sesuap saja, ya..." Koki tersebut mengambil satu sendok penuh lalu memasukkannya kedalam mulut. "Hemmmp..."


"Bagaimana? Enak?" Arum menunggu dengan penuh semangat.


Pria yang tadi melebarkan bola matanya kontan tersenyum. Ia mengangguk, namun bibirnya sama sekali tidak mengunyah itu. Hanya berusaha menarik keluar sendok tersebut.


"Enak...?" Tanya Arum lagi mengulangi.


"Enyaaak..." jawabnya dengan mulut penuh. Ia bahkan masih berusaha tertawa saat ini.


Jangkrik! Rasa neraka tahap apa ini? Pedasnya benar-benar membuat isi kepalaku ingin meledak.


"Kyaaaaaa... benarkah? Ayo makan lagi kalau begitu."

__ADS_1


"Emmmm, inyi masyih manyaaak... Imuyutku..." gumamnya tak jelas.


"Hahaha... Anda terlihat menikmati sekali Tuan Koki."


"Hehehe..." tolong siapapun suruh Nona ini keluar! –Jeritnya dalam hati.


Arum menoleh ke arah yang lain. "Kalian juga. Ayo makan. Ini apresiasi untuk pekerjaan kalian selama ini."


Yang di sana pun cengengesan. Belum ada satupun yang mau menyentuhnya.


"Kenapa diam saja? Ayo makan!"


"Anu– melihat Koki kami sangat menikmatinya. Mungkin kami akan menghabiskan ini di belakang nanti saja, Nona. Hehehe..." manager resort itu menjawab sembari garuk-garuk kepala.


"Jangan begitu. Ayo makanlah. Termasuk kalian para pengawal. Ayo makan semuanya."


Mereka terlihat frustasi, ingin menolak ketika melihat kepala koki itu terlihat amat tersiksa. Namun lebih pedih lagi apabila mereka menerima konsekuensinya akibat menolak permintaan Nona Mudanya itu. Hingga tak ada pilihan, mereka semua pun mengambil sendok masing-masing lalu memakannya.


Tentu, semuanya menunjukkan respon yang berbeda-beda. Ada yang ingin menangis karena rasa pedas membakar di bibir mereka. Ada yang terlihat cool saja walaupun kepalanya hendak mendidih. Ada juga yang tidak tahan langsung berlari kedalam untuk mengeluarkannya kembali.


"Aku senang kalian menyukainya. Pak Koki. Aku mau roti yang lapis seperti tadi. Tolong buatkan ya..." Puk... puk... Arumi menepuk-nepuk lengan kepala koki itu sebelum keluar.


"Hoooeeekk..." Dia langsung mencari tissue untuk mengeluarkan makanan yang ia kemut sedari tadi.


"Air! Berikan aku air!!!" Semuanya kelabakan mencari air mineral dan menengguknya langsung.


Sementara itu di luar...


Arum melangkahkan kakinya, menghela nafas. Menghirup udara segar khas pantai yang sejuk dan nyaman.


"Senangnya bisa memasak kembali." Wanita itu menyematkan sisi kiri rambutnya yang tergerai ke belakang telinga.

__ADS_1


"Ya ampun, ku pikir aku sudah kenyang. Tapi entah mengapa aku malah pengen jajan seblak yang pedas dan makan tahu gejrot. Sepertinya enak... cari di mana, ya?"


Arum tersenyum tipis, kembali melangkah pelan yang di ikuti tiga pengawalnya. Terlihat tampang pucat mereka saat mendengar keinginan selanjutnya nona Muda itu. Sementara mereka sendiri masih menahan pedas di lidah akibat makanan tadi.


__ADS_2