
Di susul dengan dua orang lainnya, yang langsung menangkap Boni sebelum di bawa keluar.
Tatapan Arga tertuju pada Arum yang terkulai lemas di atas ranjang. Buru-buru ia melepaskan jasnya demi menutupi tubuh sang istri.
"Seperti inikah penjagaan Anda terhadap istri Anda sendiri, Tuan?" Rayyan menahan geram, tangannya mengepal kuat. Melihat pria yang memiliki kekuasaan dalam hal bisnis, namun bisa kecolongan seperti ini. "Sangat di sayangkan, kejadian seperti ini sampai terjadi pada istri seorang konglomerat tersohor seperti Anda." Hunusnya kemudian.
Tatapannya bergeser tajam pada pria di dekatnya. Beranjak dan melangkah lebih mendekat lagi kearah pria yang tak sama sekali gentar di hadapannya.
"Siapa Kau?" tanya Arga bernada dingin.
"Maaf, Tuan. Sepertinya Pria ini yang menolong Nona Muda sebelum kita datang," jawab sang manager hotel menyela. Arga kembali mengarahkan pandangannya pada Rayyan saat sepersekian detik sebelumnya menoleh kearah manager di belakangnya.
Rayyan sendiri tak menjawab, bibirnya yang lecet akibat pukulan Boni tadi mengatup rapat.
"Ku ucapkan terima kasih, padamu. Sekarang keluarlah, dan terima hadiahmu. Dan aku akan melupakan ucapanmu tadi."
"Saya tidak butuh hadiah, saya pun tidak ingin Anda melupakan ucapan saya ini. Karena Saya hanya ingin memastikan. Jika Arumi dalam keadaan baik-baik saja."
Arga menarik separuh bibirnya tersenyum sinis. "Kau mengenal istriku?"
"Tentu saya mengenalnya jauh sebelum Anda..." tegasnya.
"Cecunguk sialan!" Arga mengepalkan tangannya kuat. Matanya menghunus tajam kearah Rayyan yang sama sekali tak terlihat gentar di depannya. "Keluarlah, selagi aku masih berbaik hati padamu."
"Pastikan dulu bahwa dia akan baik-baik saja."
"Apa pedulimu?!"
"Tentu saya peduli, karena dia berarti untukku," jawabnya tegas. Sontak Arga langsung mencengkeram kuat pakaiannya.
"Keparat, apa kau sudah bosan hidup!"
"Tuan, Anda harus paham. Jika benda berharga yang kau pegang mungkin bisa menjadi incaran orang lain. Maka saat ini, saya sedang memperingatkan Anda untuk berhati-hati dalam menjaga permata itu..."
"Cih...! apa termasuk dirimu?" hunusnya, Rayyan pun bungkam. Keduanya masih saling melempar tatapan dingin nan menusuk antar satu sama lain.
"Eeeeeng..." tubuh Arumi bergerak, keduanya langsung menoleh kearah tempat tidur. Buru-buru Arga mendorongnya untuk segera keluar.
__ADS_1
"Enyah, kau!" ucapnya saat tubuh pria itu sedikit terlempar.
Sekretaris Tomi memintanya untuk buru-buru keluar sebelum Arga semakin murka di buatnya. Bersamaan dengan Sekretaris Tomi dan Rayyan, sang manajer hotel pun turut keluar meninggalkan pasangan suami-istri itu di dalam.
Beberapa detik kemudian, suasana kamar menjadi sunyi. Hanya rengekan kecil dari bibir Arum lah yang masih saja keluar walaupun tidak sering. Arga merenggangkan dasinya, lalu duduk disisi Arumi.
"Dasar bodoh! Bisa-bisanya kau terjebak seperti ini...!" Arga memasangkan jasnya dengan benar di tubuh Arum. Hendaknya ia menggendong Arumi, namun tertahan saat wanita itu mulai berbicara.
"Kau siapa?" gumam gadis itu amat lirih. Pria itu menggeserkan pandangannya, tertuju pada mata Arumi. "Kenapa membawaku kesini? Kau harus tahu, kalau aku sudah bersuami."
Arga menarik separuh bibirnya. "Kau sadar sudah bersuami?"
"Hemmmm... memang dari kemarin-kemarin aku tidak menyadarinya, apa?" Wanita itu masih merancau dengan sesekali tertawa. "Dengar, ya? jangan macam-macam padaku. Di rumah, aku punya singa liar yang bisa mencabik-cabik dirimu."
"Singa liar?"
"Iya, Suamiku."
"Pffftt..." Arga menahan tawa.
"Kau jangan tertawa, aku tidak sedang bercanda!"
"Cih, kau masih saja tertawa. Aku tahu itu," pungkasnya yang masih dalam pengaruh obat. "Ku beri tahu, ya? Dia itu singa yang mengerikan, angkuh dan sok kegantengan! Aku benci pada gayanya itu..." salaknya tanpa sadar. Arga yang mendengar itu tak merespon dengan kemarahan, justru sebaliknya ia mengulas senyum. Merasa gemas melihat wanita itu mengoceh tidak jelas.
"Ssssssssstttt....! Dia itu punya mata-mata. Dia bisa melakukan apapun demi agar bonekanya ini tidak rusak. Hahaha..." Tiba-tiba saja Arum tertawa.
"Boneka..." Arga bergumam. Kedua mata Arum sedikit terbuka. Melihat sosok laki-laki yang tak begitu jelas ada di atasnya. Bibirnya tersenyum, tangannya yang tadi sempat melingkar di lehernya merenggang, salah satunya menyentuh pipi Arga.
"Kau mirip Tuan muda itu. Sedikit, hanya sedikit. Karena Selebihnya Tuan muda itu menyebalkan. Serius!" Arum kembali tertawa sembari menepuk-nepuk pipi Arga keras. "Jangan menatapku seperti itu. Kenapa? Kau pasti penasaran, kan? boneka mana yang ku maksud."
Arum menarik nafas panjang lalu menghembuskannya sama panjang. Ia nyengir lalu menepuk dadanya sendiri.
"Dia adalah aku. Iya, aku bonekanya." Kembali Arumi tertawa. Walaupun sejurus kemudian dia menangis. "Aku boneka. Benar, hanya sebatas boneka yang di rancang khusus agar mirip dengan mendiang kekasihnya... huhuhu maaf aku menangis. Karena memang semenyedihkan itu nasibku."
Arga tertegun, memandangi wajah yang mulai berderai air mata.
"Kau tahun seberapa sakit hatiku kala dia memanggil nama eliiii, eliii... ah, menyebalkan. Dia menggauliku tapi bibirnya mengucap nama wanita lain." Arum memberikan gerakan menyayat di dadanya. "Sangat sakit di sini...!"
__ADS_1
Si pemilik mata emerald itu tak sama sekalipun bersuara. Ia mendengarkan setiap keluhan Arumi. Hingga membuat hatinya tercubit.
"Aku bingung dengan semua ini. Sangat membuatku kesal, bukankah lebih baik dia menceraikanku saja?"
Deg...
"Apa katamu, cerai?"
"Iya, aku ingin bercerai darinya, lantas memulai hidup yang lebih baik. Aku bahkan sudah mulai menyusun surat permohonan berhentiku sebagai seorang istri."
"Apa katamu?" Arga tidak menyangka, Arum bisa memiliki pikiran untuk membuat surat seperti itu. Sejak kapan?
"Aku tidak butuh uangnya. Aku hanya butuh, kehidupan pernikahan yang baik. Atau, sebuah kebebasan. Kau pasti paham ucapanku kan, Tuan...? Aku mau di cintai sebagai Arumi, bukan Eliee... tapi aku tahu diri, setidaknya berikanlah aku kebebasan jika dia tidak bisa memberikan cintanya yang begitu mahal..." Arum menghentikan ucapannya yang semakin melemah. Hingga terdengar dari hembusan nafasnya, wanita itu tertidur pulas setelah bicara panjang lebar pada sang suami.
Tangan Arga gemetar, hendak mengusap wajah cantik sang istri.
"Aru–" Bibirnya hendak menyebutkan nama itu. Namun, seperti ada yang menahannya. Seolah sepasang tangan tengah melingkar di lehernya dari belakang.
Argaaaaa...
Suara ghoib persis Alicia pula berbisik memanggil namanya seperti biasa. Membuatnya tidak mampu mengakui hal lain yang bersarang di hatinya saat ini untuk Arumi.
Buru-buru Arga melepaskan tangannya. Menarik lengannya sendiri hingga kepala Arumi sedikit bergeser.
"Ughh..." wanita itu bergerak lagi. Arga langsung beranjak dari tempatnya, memundurkan langkah menjauh.
Arga mencengkeram kuat kepalanya, terus berjalan mundur hingga punggungnya membentur dinding.
Ngiiiiiinggg..
"Aaaaarrhhh..." mendadak telinganya berdenging.
Kau bilang hanya bisa mencintaiku... hanya aku yang boleh ada di hatimu, sayang. Apa kau berbohong tentang itu? Kau jahat, Arga... kau benar-benar mau melupakanku?
Pria itu menggeleng. "Tidak Sayang, aku tidak melupakanmu. Aku hanya mencintaimu. Hanya kau Eliee..."
Nafas Arga terdengar naik-turun. Keringat dingin pula bercucuran. perlahan membuka matanya mencari sosok Alicia yang seperti ada di dekatnya.
__ADS_1
Itu hanya ilusi, Tuan. Sosok itu tidaklah nyata. Cobalah untuk melawannya. (Ucapan Dokter Aska tempo hari.)
Tak lama ia mencoba mengingat hal lain, sebuah sugesti yang di berikan Dokter Aska. Untuk melawan bisikan ilusi yang di ciptakan oleh pikirannya sendiri.