Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
menyelidiki


__ADS_3

Sekertaris Tomi menghentikan laju mobilnya di salah satu fly over. Tepat di depan mobil yang terparkir lebih dulu.


Seorang pria berjas hitam pun keluar dari mobil yang ada di belakangnya. Menghampiri Sekretaris Tomi.


Pria itu langsung menunjukkan sesuatu, beberapa lembar kertas HVS hasil print foto-foto bagian mobil yang ringsek.


"Pada awalnya saya tidak tertarik untuk menyelidiki kasus kecelakaan Dokter SpOG itu. Namun, saat saya mengecek ulang? sepertinya kita perlu memulainya dari sana..."


"Ada sesuatukah?"


"CCTV rumah sakit, saya menemukan ini." Menujuk lembar foto yang lain. "Wanita ini sepertinya dari keluarga, Narendra."


Tomi memicingkan matanya, melihat dengan seksama potret seorang wanita yang menggunakan cape blazer warna hitam, dan topi yang menutupi hampir seluruh bagian wajahnya. Tengah berbicara dengan seorang wanita yang menggunakan seragam petugas kebersihan di taman rumah sakit.


Kalau di lihat dari fisik dan penampilannya, ia memang mirip Veronica. –Batin Tomi mengira-ngira.


"Saya sempat menanyakan perempuan paruh baya itu, dimana? namun katanya dia sudah berhenti. Tepat ketika Dokter Kasih di nyatakan meninggal dunia."


"Aneh..." gumamnya.


"Satu lagi–" pria itu menunjuk lembar yang lain. "Ada yang janggal di sini Tuan."


Kembali Tomi memicingkan matanya.


"Terdapat kebocoran minyak rem pada mobil yang di kendarai Dokter Kasih, itulah faktor utama penyebab rem mobil Beliau tidak berfungsi karena kehabisa pelumasnya. Dan, saya rasa ada yang sengaja melakukan pemotongan selang tersebut. Ini masuk ranah pembunuhan, Tuan."


Sekretaris Tomi bergeming. Ia pun mengingat truk makanan yang menabrak Alicia dulu. Penyebabnya sama persis, yaitu faktor rem yang mendadak tidak berfungsi.


"Kita hanya harus mencari petugas kebersihan itu. Karena saya yakin, dia tahu semuanya tentang kebenaran ini."


"Emmm, Kau harus mencarinya sampai ketemu. Kerahkan semua orang-orang."


"Baik Tuan..." Tomi meremas sisi samping lembaran-lembaran kertas yang di jilid itu.

__ADS_1


Baiklah, aku ku usut sampai ke akar. Termasuk kasus Nona Alicia yang ku kira hanya kecelakaan biasa.


***


Pagi kembali menyapa...


Dari aura wajahnya, Arumi terlihat tidak sehat. Ia bahkan tidak berhenti muntah-muntah di dalam toiletnya. Pelan-pelan mengusap bagian perut sembari menutup mulutnya yang terasa pahit.


Wanita itu menyandarkan punggung ke dinding. Arum sangat merasakan kondisi fisiknya yang tidak nyaman. Mata yang terasa pedih akibat semalaman menangis sendirian di dalam kamar, membuat dirinya semakin lemah...


Dan, di masa ngidamnya sekarang? Ia justru harus menghadapi semuanya sendiri. Belum lagi permintaan perceraian yang di lontarkan suaminya itu. Seolah tidak ada lagi kehidupan yang membuatnya merasa lebih berarti, selain bertahan hidup karena ada janin kecil dalam rahimnya.


Andaikan saja ia di perbolehkan keluar. Arum sangat ingin mengunjungi makam ke-dua orang tuanya. Guna melepaskan rindu di sana. Menyampaikan segala kesusahan yang tengah di alaminya saat ini.


"Tenang, Nak. Ibu sanggup kok. Dan akan berusaha semangat demi dirimu tetap sehat." Arum menyeka air matanya.


Pelan-pelan menyeret kaki, kembali menjatuhkan diri ke ranjang tidur. Ya, sebenarnya Ia butuh sesuatu yang dapat meredakan rasa mual. Namun saat meminta obat pada Pak Ragil, pria itu justru tak memberikannya.


Jika boleh jujur tiga hari ini benar-benar masa terpedihnya. Walaupun ketidakadilan pernah ia rasakan di rumahnya dulu. Namun, semuanya tetap tidak sesakit sekarang.


Tok... tok...


Sebuah pintu di ketuk. Arumi benar-benar tak berdaya dengan kondisinya untuk bangun dari atas ranjang.


Tok.. tok.. tok...


"Ya, masuk saja!" Wanita itu berseru dari dalam kamar. Pintu pun di buka pelan. Pak Ragil masuk dengan nampan di tangannya. Tergopoh menghampiri Arum.


"Nona, saya lihat sejak tadi Anda tidak keluar kamar? Jadi saya bawakan sesuatu ke sini."


Bibir pucat Arumi mengulas senyum tipisnya. "Terima kasih, Pak. Letakan saja itu di atas meja, nanti akan saya makan."


Pak Ragil yang belum tahu kalau Arumi sedang hamil terlihat khawatir.

__ADS_1


"Nona, apakah Anda sakit lagi?"


"Aku tidak apa-apa. Hanya butuh istirahat saja."


"Benarkah?"


"Iya, Pak." Arum menggigit ujung bibirnya, mengangguk.


Laki-laki paruh baya itu mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jasnya. Sebuah obat pereda mual yang di minta Arumi subuh tadi.


"Ini obat yang Nona inginkan. Maaf, jika tadi saya tidak memberikannya langsung." Diam-diam Pak Ragil membawa itu untuk Arumi. Karena Arga melarangnya memberikan obat apapun untuk istrinya.


Perlahan Arum menerima itu dari tangan sepuh Pak Ragil.


"Terima kasih banyak, Pak."


"Sama-sama, Nona. Minumlah air putih yang banyak. Jangan lupa di makan buburnya."


Setidaknya, masih ada yang memperhatikanku sekarang. –Arum tersenyum haru. Ia pun mengangguk.


Sementara itu, di samping pintu kamar yang terbuka. Seorang pria berdiri dan mengintip sedikit dengan perasaan tak tega. Sebab, melihat Arum yang tengah hamil harus merasakan hukuman seperti ini dari suaminya sendiri.


Pria yang tak lain adalah Sekertaris Tomi pun memilih untuk menjauh. Ia harus buru-buru bersiap sebelum Arga keluar kamarnya.


–––


Hal biasa yang di kerjakan sekretaris Tomi di rumah utama, selain menunggu dan mempelajari file milik perusahaan. Ia pasti akan berkeliling memeriksa kondisi di sekitar rumah tersebut.


Tak jauh dari posisi Tomi. Seorang pelayan wanita berdiri di dekat tanaman hias yang cukup tinggi. Terdengar bisik-bisik saat berbicara dengan seseorang di sebrang.


"Iya, Nona. Kondisi hubungan keduanya sepertinya memburuk. Nona Arum bahkan berpisah kamar dengan Tuan Muda..." Terdiam sejenak karena sedang mendengarkan yang di sana berbicara. "Baik, Nona. Saya akan?"


Seseorang merebut ponselnya dari belakang. Wanita berpakaian pelayan itu pun menoleh pelan.

__ADS_1


Sontak, wajahnya langsung berubah pias saat mendapati sosok laki-laki yang wajib di segani, kini berdiri di hadapannya sambil mematikan sambungan telepon tadi.


__ADS_2