Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
Hari baru


__ADS_3

Seberkas cahaya kebiruan terlihat dari gorden putih kamar mereka. Pagi telah tiba, seperti merasa cepat sekali padahal Arum rasa baru tidur beberapa menit saja. Namun kenapa tahu-tahu langit di luar sudah terang.


Ya, sejak acara semalam di rumah Denna. Arum pun memutuskan untuk ikut suaminya pulang. Tentu hal itu di respon baik oleh Ibunda Denna yang merasa senang ketika hubungan Arum dan suaminya membaik.


Kalian perlu tahu, sepanjang perjalanan pulang Arga terus menggenggam tangan Istrinya. Seolah khawatir Arum akan tiba-tiba lompat dari mobil yang sedang berjalan itu lalu kabur.


Pikiran yang tak masuk akal, memang. Namun seperti itulah cara Arga mencintai wanitanya.


Tak hanya itu, Arga bahkan terus memeluk Arum, menciumnya berkali-kali dan lain sebagainya tanpa peduli Sekretaris Tomi di depan.


Anggap saja Dia patung yang tidak akan mendengar atau melihat apapun yang kita lakukan.


Begitulah kira-kira jawaban Arga dengan entengnya. Arum sendiri masih tak habis pikir, kenapa sekretaris itu bisa sangat bebal dengan tingkah laku Tuannya yang semaunya sendiri. Bahkan pria itu masih bisa bertingkah tanpa ekspresi mengemudi tanpa memperdulikan situasi apa yang terjadi di belakang.


Ya, benar-benar layaknya robot yang di desain khusus untuk menjadi sekretaris pribadi Arga Sanjaya. Ia bahkan bertahan selama sepuluh tahun bekerja untuk Andara Group. Tanpa satupun hal-hal pribadi Arga yang bisa di sebut memalukan itu bocor ke luar. Benar-benar karyawan setia.


Dan setelah tiba di rumah tetunya mereka langsung menghabiskan hampir semalaman untuk melepaskan kerinduan di atas ranjang.


Arum menyipitkan mata menoleh ke-sisi samping. Senyum manis terbit di bibir Arum saat mendapati suaminya masih dalam posisi memeluk tubuhnya tanpa menggunakan atasan.


Punggung yang putih dan bersih ini benar-benar sempurna. Ia tidak hanya memiliki kesempurnaan wajah namun tubuhnya pun luar biasa. Pantas saja jika banyak gadis yang mengidolakannya. Justru ia sendiri tidak pernah bermimpi, jodohnya adalah pria hebat yang kini masih terlelap di sisinya.


Arumi menyingkirkan lengan Arga yang masih melingkar di perut dengan sedikit upaya.


"Uuugh... kuat sekali, sih." Masih terus mencoba menyingkirkan tangan itu. Namun sepertinya ada yang aneh. Ia yakin suaminya pasti sudah bangun sekarang, karena tangan kanannya begitu kuat mengunci tubuhnya. Arum pun menggeser pandangannya pada kedua mata yang tertutup rambut di bagian depan. "Sudah bangun, kan?"


Setelah pertanyaan itu, Arga tersenyum. Menggerakkan wajahnya yang menimbulkan efek geli di area leher sang istri. Arumi tertawa lirih.


"Mau kemana?" Tanya Arga serak, wajahnya masih sedikit terbenam diceruk leher Arum.


"Aku mau ke balkon, menghirup udara segar."


"Masih terlalu pagi untuk melakukan itu." Tangan Arga mulai menyusup masuk ke dalam pakaian tipis Arumi.


"Terlalu pagi bagaimana? Justru udara pagi bagus untuk wanita hamil."


Arga tak mendengarkan ia justru semakin asik dengan kegiatannya mencium sana-sini. Menyentuh apapun yang ia suka.


"Sayang–"


"Jangan banyak bicara. Tugasmu hanya diam dan menerima surgaku." Arga membuang selimut yang menutupi tubuh seksi istrinya, terbalut dress tipis se-atas lutut dengan tali di kedua bahu.


Sudah ku duga pria ini belum kenyang setelah semalaman memakan ku.


"Tapi aku pengen jalan-jalan keluar." Berusaha melepaskan diri walau teramat sulit.


"Akan ku ajak jalan-jalan keluar setelah selesai dengan satu sesi ini."


"A–apa? Kyaaaaaa..." Arum hanya bisa pasrah ketika pakaiannya kembali di buka demi memenuhi hasrat suaminya hingga beberapa menit ke depan.


🌸🌸🌸


Menjelang sore, selepas Arga bekerja. Arum dan suaminya mendatangi seorang Dokter SpOG untuk melakukan pemeriksaan kandungan.

__ADS_1


Dokter juga memberitahukan jika janin dalam keadaan sehat. Sang ibu pun sama, tekanan darah dan lain sebagainya terlihat normal.


Arum dan Arga bisa mendengar detak jantung anak mereka sekarang dengan perasaan bahagia. Hingga sebuah hadiah kecupan di kening di terima Arum beberapa kali. Selepas memeriksa kandungan Arum dan Arga berjalan ke taman kota.


––


"Dari sekian banyaknya tempat, kenapa memilih ini?" Arga terlihat tidak suka dengan tempat ramai ini.


"Tapi di sinilah tempat favoritku." Arum menghentikan langkahnya melihat penjual es krim keliling yang usianya tidak begitu muda. "Sayang, aku mau itu." Menunjuk gerobag merah.


"Itu apa?"


"Es krim, aku mau itu. Mau makan itu."


"Di rumah banyak es krim berbagai rasa yang sudah pasti higienis. Jadi makan saja yang ada di rumah. Aku tidak mau Kau makan apapun yang ada di sini."


"Aaaaa... aku mau es krim yang di sini. Kalau di rumah akan lain rasanya." Arum meraih tangan sang suami lalu menempelkannya ke perut. "Demi Dia..."


Menghela nafas. "Ya, baiklah..."


"Yeaaayy." Arum langsung menarik lengan suaminya membawa pria paruh itu ke gerobag merah. Dimana sang penjual dengan pakaian dan topi warna merah itu langsung menawarkan.


"Silahkan..."


"Aku mau es krim cone rasa strawberry dua," ucap Arumi memesan.


"Baiklah, Nona." Membuka tutup termos es krimnya.


"Dua?" Arga bertanya.


"Tapi aku tidak mau makan ini."


"Sayang demi anakmu, dia yang mau Daddy-nya juga makan." Menunjuk perutnya. Arga pun mengiyakan.


"Silahkan Nona." Sang penjual menyerahkan dua es krim cone rasa strawberry pada Arum.


"Berapa harganya?" Tanya Arga bersiap untuk membayar dengan cara merogoh saku.


"Dua es krim, sepuluh juta saja, Tuan." Bapak paruh baya itu menyebutkan ribu dengan juta.


"Sepuluh juta, aku tidak ada cash sebanyak itu. Apa bisa pakai Debit?" Bertanya dengan polosnya.


"Anu, tidak mungkin saya bawa mesin gesek kartu Tuan. Saya kan hanya bercanda hahaha... sepuluh ribu saja."


"Sepuluh ribu itu pecahan yang mana?" Arga bergumam sembari mengeluarkan dompet dari saku celana bahannya. Lalu membukanya lebar-lebar.


Di dalam dompet sudah ada beberapa lembar uang ratusan ribu yang sudah di siapkan Sekretarisnya saat Arga bilang hendak membawa Arumi jalan-jalan sendirian tanpa di temani olehnya.


Arga mengeluarkan salah satunya dan membaca angka yang tertera. "Seratus ribu rupiah..." kemudian menyerahkan pada pedagang es krim tersebut.


"Terima kasih, Tuan." Si pedagang langsung membuka tas pinggangnya sementara Arga langsung menggandeng istrinya untuk pergi. "Eh, Tuan tunggu sebentar."


"Apa? Apa masih kurang?"

__ADS_1


"Tidak bukan begitu. Justru kembaliannya masih di saya."


"Kembalian?" Arga mengerutkan keningnya.


"Sebentar..." Si bapak sedang mengumpulkan recehan di dalam tasnya. Beberapa uang lusuh pun terkumpul bercampur dengan koin-koin juga. "Maaf Tuan receh sekali. Saya baru beberapa menit di sini soalnya."


"Ini apa?" Arga tak mengambil tumpukan receh yang terulur padanya.


"Kembalian," jawab bapak itu polos.


"Tidak-tidak. Saya tidak mau menerima itu..."


"Lah, ini masih banyak Tuan. Ambilah."


"Tidak pak. Saya tidak mau menerima uang Anda." Dia pikir saya miskin apa harus di kasih receh. Arga belum paham maksud dari uang kembalian, ya receh.


"Ini bukan uang saya, tapi uang Anda."


"Jelas itu dari kantong tas Bapak, mana mungkin jadi uang saya! bagaimana sih?" mulai tersulut emosi.


"Eh...?" Lah kok saya jadi di bentak?


"Sayang..." Arum menyentuh dada suaminya sembari terkekeh menghadap bapak penjual es krim. "Maaf pak, maksud suami saya. Bapak ambil saja kembaliannya, ya."


"Benarkah, Nona?"


"Iya."


"Duh, Gusti... aturnuhun, Mas dan Mbaknya." Laki-laki itu terlihat senang setelah beberapa saat yang lalu merasa kebingungan.


"Sama-sama. Mari pak semoga dagangannya laris." Mengangguk sekali Arum pun langsung menarik tangan suaminya menjauh.


"saya tidak butuh uang receh Anda!" Arga masih nyolot sementara Arum terus berusaha tersenyum sembari menyeret suaminya untuk menjauh. Karena saat ini mereka sedang jadi pusat perhatian beberapa orang.


"Heran, maksa sekali sih orang itu mau kasih uang recehannya? Apa dia pikir aku pengemis?" menggerutu dari kejauhan.


"Bukan begitu sayang, kalau kau membayar barang apapun seharga di bawah seratus ribu sudah pasti akan mendapatkan kembaliannya."


"Aku tidak tahu sistem pertukaran seperti itu."


"Bukan pertukaran!" Arum menghela nafas panjang. Susah ngomong sama orang yang cuma bisa nyuruh ajudannya untuk beli ini dan itu. Dia mana tahu wujud uang-uang receh.


"Lalu apa kalau bukan pertukaran? Dari uang lembaran yang baru jadi receh begitu?"


"Sudah ya sayang aku khawatir es krim ini akan meleleh karena mendengarkanmu bicara perihal uang. Waktu kita akan habis untuk membicarakan ini."


"Tapi aku penasaran dengan sistem kalian..."


sistem kami? Arum sedikit tersinggung.


Arga yang masih terlihat polos terus saja berpikir keras sembari mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya.


"Aku akan menghubunginya dan bertanya..."

__ADS_1


terserah lah... Arum sudah tidak peduli ia lebih memilih membuka bungkusan kertas es krim miliknya.


__ADS_2