Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
kedatangan Veronica


__ADS_3

Langit masih terang, walau mentari mulai berubah jingga. Arumi baru saja tiba di rumah itu, dengan tubuh sedikit lelah namun suasana hati yang lebih baik.


Bertemu dengan sahabat, memang pengobat hati yang tengah kosong. Kini seolah kehidupannya kembali menyala. Semangat untuk menjalani semuanya kembali membara. Ya, berkat aura positif Denna, itu yang ia rasakan.


Di sela-sela langkahnya, Pak Ragil memberitahu jika ada Veronica di dalam. Arum pun mengangguk, ia meminta Pak Ragil kembali melanjutkan pekerjaannya. Sementara Dia lah yang akan menemui gadis itu sendirian, berjalan menuju taman.


Tak terlalu jauh, Si pemilik mata hazel itu sudah sampai di Taman, ia pun melihat sosok anggun Veronica tengah berdiri di tepi kolam ikan. Membelakangi Arum.


Kalau ingat sikapnya padaku, sebenarnya aku agak segan. Namun, sudahlah... mungkin saja hari ini Ia datang dengan cara baik-baik.


Arum mengulas senyum terbaiknya pada adik kandung dari gadis yang tengah ia perankan sosoknya itu.


"Hai, Kau sudah lama?" sapanya ramah pada gadis yang tak menoleh sedikitpun. "Pak Ragil bilang, Kau menungguku?" tanyanya lagi, saat yang di depan sama sekali tak menjawab pertanyaan sebelumnya.


"Kenapa, ya? aku sangat tidak menyukai cara bicaramu itu!" kata Veronica tiba-tiba.


"Ya?" Arum tidak mengerti, hingga gadis didepan memutar tubuhnya. Menghadap Arumi dengan tangan menyilang di depan dada, berjalan beberapa langkah lebih mendekat. Tentunya ia menatap Arum amat dingin, terkesan merendahkan.


"Bicaralah dengan biasa, jangan di buat-buat seperti Kakakku!!" gaungnya kemudian, membuat Arum tersentak.


"Maaf, tapi suaraku memang seperti ini dari dulu," jawab Arumi apa adanya.


"Aku tidak peduli dengan itu! Sekarang ku tanya, sejak kapan Kau mengincar Kakak iparku itu?"


"Mengincar?" Arum mengerutkan keningnya.


"Berapa uang yang kau terima dari Kak Arga?" Cecarnya tanpa memberi kesempatan Arum untuk menjawab pertanyaan sebelumnya. Arum pun terdiam, sementara gadis di depannya sudah mengeluarkan ponselnya. "Aku akan menelfon pihak Bank untuk mentransfer uang padamu, bahkan lebih tinggi dari nominal yang di berikan oleh Kak Arga. Asalkan, Kau keluar dari kehidupan Kakak!"


"Nona, sadarkah tentang apa yang Anda katakan? Anda terlalu merendahkanku..."


"Kau memang pantas direndahkan, Putri Arumi! Karena kau hidup dengan menggunakan case Kakakku, demi menggaet laki-laki kaya yang belum bisa move on dari kekasihnya. Sungguh menjijikan!"

__ADS_1


Arum geleng-geleng kepala. "Maaf, Nona. Sebaiknya pembicaraan ini kita akhiri saja. Anda bisa pulang sekarang–"


"Kau mengusirku? Kau pikir kau ini siapa?! Dasar penggoda!!"


"Aku tidak pernah menggoda siapapun. Suamiku mau denganku, itupun karena kehendaknya sendiri."


"Oh, jadi kau sedang menyombongkan dirimu sendiri hanya karena memiliki kemiripan wajah dengan Kak Alicia, sehingga Kak Arga memilihmu? Percayalah, Dia itu tidak mencintaimu!"


"Terserah apa katamu, Nona. Pada kenyataannya Suamiku memperlakukanku dengan baik," Arum terus membalikkan kata demi kata tajam yang di lontarkan Veronica kepadanya.


"Oh, ya? Mungkin itu benar. Namun Kau harus ingat ketika Dia memperlakukanmu dengan baik, semua karena yang Kak Arga lihat adalah Kakakku, bukan Kau!" Salaknya menatap tajam kearah wanita di depannya.


Ya, itu memang benar... (Arum membisu)


Kemudian jari telunjuk Vero terhunus ke dada Arum. "Ku peringatan padamu! Berhentilah untuk menjadi Kak Alicia gadungan, karena aku tidak akan pernah ikhlas ketika dirimu berpenampilan seperti Kakakku!"


Arum menggeleng pelan. "Nona, aku tahu perasaanmu. Mungkin aku telah lancang berpenampilan seperti mendiang Kakakmu. Namun, ini juga bukan atas keinginanku... aaaaahhh!"


"Nona, kau tak harus seperti ini. Baiklah, aku tak menyalahkanmu yang mungkin geram karena aku meniru Nona Alicia–"


"Jangan sebut nama Kakak ku dengan mulut kotormu itu, dasar Jal*ng!"


"Kyaaaaa–" Arum kembali di dorong olehnya lebih keras hingga benar-benar terjatuh. lutut dan telapak tangannya terasa sakit akibat benturan keras di batu pavingnya. Bersamaan dengan itu Tangan Vero sudah terangkat hendak menampar Arumi, namun ia tahan saat melihat bayangan seseorang yang datang. Ia pun berdiri dengan normal.


"Nona? Apa yang terjadi?" Pak Ragil tergopoh-gopoh mendekatinya. Menoleh sejenak kearah Veronica yang seketika itu memalingkan wajahnya sembari mengusap air matanya.


"Tidak apa-apa pak, aku tersandung sedikit."


"Cih!" Veronica langsung melenggang pergi meninggalkan Arum dan Pak Ragil di sana.


Tentunya pria paruh baya itu langsung geleng-geleng kepala. Sebelum membatu Nona Mudanya untuk berdiri.

__ADS_1


"Maafkan saya lengah, Nona."


"Anda tidak salah Pak. Lagipula apa yang saya katakan itu benar, aku hanya tak sengaja terjatuh."


"Tidak perlu berbohong, Nona. Saya paham seperti apa karakter Nona Veronica itu. Sekarang lebih baik Anda masuk dan beristirahat saja di kamar."


"Terima kasih, Pak." Arum melangkahkan kakinya namun sejurus kemudian berhenti dan menoleh kebelakang. "Anu, Pak Ragil bisa bantu saya?"


"Apa yang bisa saya bantu, Nona?"


"Tolong jangan sampai hal seperti ini terdengar sekretaris Tomi apalagi Suamiku."


"Emmm, itu?"


"Anggap saja pak Ragil tak melihat apapun."


"Tapi?"


"Tolonglah, Pak. Aku tidak mau ada keributan lagi..."


Sudah cukup aku mematahkan hati Veronica karena meniru Kakaknya. Aku juga tidak mau merusak hubungan baik Dia dengan Tuan Arga.


Nampak Pak Ragil tengah berpikir, namun sejurus kemudian tersenyum. Beliau mengangguk. "Untuk kali ini saja, Nona."


"Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya ke masuk duluan."


"Iya, Nona. Silahkan..." jawabnya sebelum Arumi melangkah lagi masuk ke dalam rumah besar tersebut. Pak Ragil yang tengah menggendong kedua tangannya di belakang terus memandangi sosok wanita itu. Bibirnya tersungging tipis, sembari geleng-geleng kepala.


Padahal Pak Ragil melihatnya sendiri dari kejauhan, se-kasar apa Veronica pada Arumi tadi. Tentunya ia sangat ingin mengabarkan semuanya pada Arga. Namun jika Arumi meminta untuk di sembunyikan, Beliau bisa apa?


Ketulusan Arumi sudah membuatnya memaafkan juga perbuatan Veronica.

__ADS_1


"Hanya untuk kali ini saja aku mentolerirnya, Nona. Semua ku lakukan demi menghargai kebaikan Anda," gumam Pak Ragil kemudian ketika Arumi sudah tak nampak lagi dari pandangannya.


__ADS_2