Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
Hari normal


__ADS_3

Sudah berhari-hari berlalu. Pria itu pun mulai kembali pada rutinitasnya di Jakarta.


Arga melirik kearah ponsel di tangan kiri. Sementara tangan kanannya meraih cangkir kopi. Menyeruputnya sedikit.


"Wooow... seperti aku harus memberikan bonus untuk OB yang membuatkan-ku kopi ini. Rasanya lebih nikmat dari biasanya. Manis yang natural..." gumamnya sembari meletakkan cangkir itu lagi ke atas lambar.


Sebenarnya tidak ada yang spesial. Kopi itu hanya kopi hitam tanpa gula yang bahkan dia sendiri belum memasukan gulanya. Karena memakai gula terpisah.


Entahlah, mungkin karena suasana hati yang baik. Presdir Arga jadi lebih sering memberikan bonus dadakan untuk karyawannya.


Tak hanya berlaku pada mereka yang bekerja dengan baik. Pada karyawan baru yang tak sengaja memangkas bonsai kesayangannya di ruangan itu pun mendapatkan toleransi.


Padahal pria berusia dua puluh lima tahun yang baru dua hari bekerja itu sudah khawatir lehernya akan di penggal oleh bos tersebut. Walaupun yang terjadi di luar dugaan.


"Mungkin kau butuh dana untuk merefresh pikiranmu. Masalah tanaman tidak masalah, bonsai itu bukan lagi kesayanganku. Dia sudah harusnya di binasakan."


Duaaaaakk!


Arga langsung menendang pot itu hingga rubuh membuat orang-orang di sana menelan saliva-nya ketar-ketir. Walaupun sejurus kemudian merasa iri saat laki-laki itu menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah padanya. Yang sudah pasti membuat Sekretarisnya tepuk jidat.


"Pergilah beli jajan, agar semangat bekerjamu semakin On. Okay!" Sambungnya kemudian, sambil menepuk bahu pemuda berseragam Office boy dan melenggang pergi.


Tentu sang OB bingung, memandangi uang senilai satu juta di tangannya setelah melakukan kesalahan. Seulas senyum tersungging.


Pukkk... Tomi menyentuh bahunya. Pemuda itu menoleh berbarengan dengan senyum yang kembali meredup.


"Kau jangan berpikir untuk melakukan kesalahan terus agar dapat uang seperti ini. SP 1 untukmu dariku untuk bonsai ini. Dengar?!" Ancam Sekertaris Tomi sebelum menyusul Arga.


Ya...ya... Walaupun para karyawan memberikan bosnya julukan baru sekarang dari sang predator menjadi Nemo baik hati. Mereka tetap harus ingat, bahwa masih ada sang gagak hitam di sekitarnya. Yang tidak akan tinggal diam jika para pegawai memanfaatkan kebaikan Arga sekarang.


–––

__ADS_1


Kembali pada Arga yang menoleh kearah Arloji di tangan kirinya.


"Wah, waktu cepat sekali berjalan," gumamnya penuh semangat. Ia sudah tidak sabar menunggu waktu senja.


Sebab malam nanti akan ada acara makan malam dengan Dokter Aska dan istrinya. Ia ingin mempersiapkan sesuatu.


Busana yang serasi untuk ia kenakan dengan sang istri. Tentunya bagi Arga tidaklah sulit, karena segalanya akan di urus Sekretarisnya. Ya, biarkan saja Dia yang repot. Begitulah isi kepala Arga ketika memberikan perintah dengan keinginan sulit pada kaki-tangannya itu.


Tok... tok... Cklaaakkk!


Pintu ruangan pribadi Presdir Arga Sanjaya terbuka. Pria itu melirik sekilas, dengan menaikkan manik matanya. Lalu mendengus malas saat tahu Veronica ada di balik pintu itu bersama seorang staf.


"Maaf, Tuan. Saya sudah sempat melarangnya. Namun Nona ini tetap memaksa."


"Kau keluarlah–" titahnya kemudian.


"Baik, Tuan!" Pria itu mengangguk sekali, dan pergi. Sementara Vero melangkah masuk dengan tatapan mata menyisir seluruh ruangan yang luas itu.


"Aku selalu betah dan takjub sekali, setiap kali masuk ke ruangan, Kakak," katanya antusias. Pada pria yang terkesan tidak peduli dan lebih memilih sibuk dengan tab-nya.


"Singkirkan tanganmu itu!" Salaknya dingin.


"Kenapa sih? Dulu jangankan untuk seperti ini. Aku memelukmu juga, Kakak tidak pernah melarang tuh!" Gadis itu semakin berani. Melekatkan kepala di bahu Arga.


Tak ingin banyak bicara, pria itu langsung bangkit dan menjauh darinya. Ia pula melepaskan jas, lalu meraih spray antiseptik sebelum menyemprotkannya ke bagian bahu yang tadi tersentuh Veronica.


"Kakak! Apa yang kau lakukan?! Kenapa jasnya di semprot antiseptik seperti itu."


"Sekarang banyak virus gatal yang tak terlihat. Sementara aku tidak terlalu suka menggaruk badan berulangkali. Jadi sebelum virus itu mengenai kulit. Lebih baik ku singkirkan!"


"Apa?" Vero merasa terhina. Namun mau protes seperti apapun, Dia tahu itu adalah Arga. Tentu saja ia tidak akan berani.

__ADS_1


Tak lama pintu ruangan itu terbuka. Sekertaris Tomi masuk, dan langsung menunjukan tatapan tak bersahabat pada gadis yang masih berdiri di dekat meja Tuannya.


"Tuan?" Ia mengangguk sopan pada Arga.


"Kita bisa pergi sekarang?" Tanya Arga sembari melempar jas pada Tomi."


"Ya, Tuan," jawabnya setelah menerima itu dengan sedikit rasa heran.


"Bagus. Ayo pergi, dan siapkan untuk ku jas yang baru. Jangan lupa singkirkan itu, kalau perlu buang sekalian. Jas itu sudah terkontaminasi bakteri...!" Pungkasnya sebelum melenggang pergi. Melewati Tomi yang masih berdiri di sana.


Laki-laki itu pun hanya mengangguk sekali lalu kembali menatap wajah gadis berambut pirang di hadapannya.


"Apa lihat-lihat?!" Sergahnya kasar. Tomi pun menarik separuh bibirnya tersenyum sinis.


"Mata saya ada di depan, Nona. Jelas saya akan melihat Anda saat ini."


"Dasar pengganggu!! Enyah kau dari hadapanku!"


"Saya akan pergi tapi Anda bagaimana? Apa masih mau disini?"


"Bukan urusanmu!"


"Tentu ini menjadi urusan saya, karena apabila ada kehilangan di ruangan ini semuanya akan menjadi tanggungjawab saya."


"Lancang sekali! Kau pikir aku ini orang yang perlu kau waspadai seperti maling?!"


"Bisa saja, 'kan? Ada sesuatu yang sedang Anda butuhkan."


"SEKERTARIS TOMI...!!" Pekik Veronica.


"Tidak perlu meninggikan suara di depan saya. Sekarang, tidak ada yang perlu Anda kerjakan disini, kan Nona? mau menunggu apa lagi? Ruangan ini mungkin akan di sterilkan. Jadi lebih baik Anda keluar sekarang."

__ADS_1


"Iiissshhh....!" Gadis itu menghentakkan kakinya lantas melenggang pergi. Tomi menghela nafas.


"Bakteri...! Pffftt!!!" Sambung Tomi sembari menutup mulutnya dengan kepalan tangan setelah memutar badan dan melewati pintu itu.


__ADS_2