
Sebuah janji yang benar-benar di manfaatkan. Pria itu kini bertingkah lebih manja dari biasanya. Apapun yang ia ingin lakukan, harus Arumi yang mengerjakan.
Seperti mengganti pakaian, makan, minum, membaca buku dan lain sebagainya. Sudah pasti semua itu di sengaja. Dan itu disadari oleh Arumi sendiri, selama satu Minggu ini.
"Tiup..." titahnya pada Arumi yang sedang memegangi semangkuk bubur kacang merah. Wanita itu pun menuruti, ia meniupnya pelan-pelan sebelum mendekatkan sesendok bubur itu ke dekat bibir suaminya.
"Yakin itu sudah dingin?" tanyanya melirik dari sisi atas kacamata yang Beliau pakai.
"Sudah Suamiku..."
"Jangan sampai bibirku pula ikut melepuh setelah tangan ini, ya?"
"Iya... sudah ku pastikan ini tidak panas," jawabnya yang sudah letih meladeni sang suami. Arga membuka mulutnya. Memasukkan suapan yang terarah padanya kedalam mulut.
"Tolong buka halaman berikutnya."
"Kenapa tidak Anda saja, Sayang? Tanganku kan sedang memegangi mangkuk bubur."
"Kau berani menyuruhku balik. Kau tidak lihat, tangan kananku sakit, sementara tangan kiri ku menahan lembaran yang lain. Gara-gara siapa coba, tanganku sampai melepuh seperti ini?"
Heeeeh..!!! tanganmu hanya melepuh sedikit, ya, Tuan? bukannya buntung! Lagian, siapa suruh bertingkah. Kau ingin adu kekebalan dengan panasnya tungku pemanggang? Ingin menunjukkan pada siapa memangnya!! Arum berkoar dalam hati.
"Ya, tentu semuanya gara-gara aku sayang," ucapnya lembut diluar.
"Itu kau sadar!"
Arum tersenyum sementara tangannya menggenggam kuat sendok bubur itu sebelum melepaskannya dan membuka lembar berikutnya.
Ia hanya tidak menyangka semakin kesini Arga justu semakin bertingkah menyebalkan. Walaupun ia sempat bersyukur, kini sudah tidak pernah lagi memanggilnya dengan sebutan sayangnya kepada Alicia. Tapi, tingkah menyebalkannya itu membuat dia lebih menguras energi lagi.
"Aaa..." pintanya tanpa menoleh. Arum pun menghela nafas lirih bahkan amat lirih dan belum sampai ke ujung. Sepasang mata Arga sudah menoleh tajam.
"Apa itu, kau menghela nafas? berani sekali kau melakukan itu saat sedang merawat ku?"
"Maaf sayang... aku tidak bermaksud seperti itu." Tentu saja aku perlu menghela nafas, karena aku mahluk hidup... kecuali jika aku sesosok mayat!
Batinnya kemudian menahan geram, dengan tangan kembali mengangkat sendok berisi bubur kacang merah.
__ADS_1
"Tiup!"
"Iya sayang..."
"Jangan kau ludahi...!"
"Aku tidak meludah... mana mungkin aku berani melakukan itu." Ingin sekali Arum berteriak. Efek menahan emosi membuat kepalanya mendadak migrain.
Arga membuka mulut. Namun belum sempat melahapnya ia sudah berdecak.
"Terlalu dingin, celupkan lagi ke mangkuk," perintahnya, Arum sendiri menuruti kembali mencelupkan sendoknya. "Hei, jangan lama-lama. Nanti panas lagi. Angkat!!"
Boleh tidak sih ku jambak rambutmu itu. Iiissshhh!!! Arum tersenyum manis mengarahkan sendok itu ke suaminya.
"Ku pastikan ini tidak panas dan tidak dingin, Sayang," tuturnya. Pria itu pun melirik dengan senyum tipis penuh kemenangan.
Disini letak serunya. Ku yakin kau kesal kan saat ini? Rasakan itu...
Arga menarik separuh bibirnya menyeringai sinis. Setelah satu suapan itu masuk kedalam mulutnya.
Beberapa hari kemudian...
Tangan Arga masih tertutup pembalut luka. Arum sendiri heran. Sudah berjalan hampir tiga Minggu namun luka Arga belum juga sembuh. Belum lagi permintaannya yang semakin seenaknya.
Dalam hati dia yakin. Sebenarnya luka bakar di tangan suaminya sudah sembuh. Hanya dia saja yang mengada-ada. Sengaja menjadikan itu alasan untuk mengerjainya.
"Perintahkan Pak Ragil untuk memotong buah segar, dan bawa ke ruangan kerja."
"Ya, Sayang." Arum menuruti, mengambil jalan yang berlawanan dengan suaminya. Menemui Pak Ragil.
Di dapur...
Arum mendekati pria yang tengah mengkoreksi rasa dari masakan para koki di rumah itu.
"Anu, Pak Ragil..."
"Ya, Nona?" Pria paruh baya itu menoleh.
__ADS_1
"Suamiku bilang, ingin makan buah segar."
"Baiklah Nona. Akan saya potongkan."
"Ya." Arum melangkah pelan. Dan duduk di kursi dekat meja tempat pak Ragil menyiapkan buahnya yang beliau ambil dari lemari pendingin.
Arum sendiri asik memandangi semua orang. Membidik satu persatu. Mereka yang bekerja tanpa ada satupun yang terlihat malas-malasan. Justru, mereka seperti bahagia dan menikmati pekerjaannya masing-masing.
Arumi beralih pandang pada Pak Ragil lagi yang sudah kembali setelah mencuci buahnya. Terdiam sejenak, dalam benaknya bertanya: Pria itu sebenarnya punya pasangan atau tidak, ya?
"Pak Ragil, sudah lama di sini?" tanyanya.
"Saya sudah lebih dari tiga puluh tahun di sini, Nona." Jawabnya fokus pada buah yang tengah beliau kupas.
"Tapi, selama aku di sini. Aku tak pernah melihat bapak cuti. Apa bapak tidak merindukan keluarga bapak?"
"Saya tidak punya keluarga. Istri saya meninggal dunia setelah melahirkan. Bersama serta anak saya juga. Dan karena Pak komisaris mengangkat saya jadi pelayan setelah pertemuan kami di panti asuhan. Saya jadi tidak punya keluarga lain selain para anak-anak asuh saya di rumah ini."
"Ooo... maaf saya jadi menyinggungnya."
Pak Ragil tersenyum hangat, melihat tatapan rasa bersalah sekaligus simpatik dari wanita di sisi kanannya, berjarak.
"Pertanyaan Nona tadi, sama sekali tidak menyinggung saya, Nona," ucap Pak Ragil. "Saya sendiri senang ketika Nona bertanya seperti itu."
Senyum tipis Arum mengambang. "Dulu saya punya Ayah. Perawakannya mirip dengan Pak Ragil. Usianya pun, mungkin sama. Jika Beliau masih hidup pasti seperti Bapak."
"Benarkah?" Pak Ragil terkekeh. Tangannya terlihat lihai memotong buah kiwi dengan sayatan seukuran, antar setiap potongannya.
"Lihat itu, tawa bapak yang renyah mirip Ayahku."
"Hahaha. Nona bisa saja."
"Serius. Jujur saya jadi merindukan Ayah, setiap kali melihat Bapak." Lirihnya sembari menjatuhkan dagu ke atas lengan yang tengah bertumpuk di atas meja. Pak Ragil sendiri hanya tersenyum tipis.
Saya juga seharusnya punya anak perempuan jika saja tidak meninggal dalam kandungan istriku. Usianya, hanya berbeda satu tahun lebih muda dari Nona.
Pak Ragil membatin. Ia merasakan kedua matanya mengembun. Namun ia tahan agar tidak semakin menutupi pandangan. Ingin mengusap sejenak, tidak bisa. Ia tidak ingin terlihat sedih di depan Nona Muda-nya. Kembali ia melanjutkan pekerjaannya dengan cepat, dan menyerahkan itu pada Arumi.
__ADS_1