Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
Menjemput Arumi 4


__ADS_3

Entah bagaimana, Arga dan Sekretarisnya sekarang sudah berada di jalan setapak perkebunan kentang yang luasnya sampai berhektar-hektar.


Kebun itu tidak hanya milik paman, namun milik petani lain juga. Sementara di bagian atas terdapat daun-daun tembakau yang lebar-lebar.


Satu kaki Tuan muda itu terangkat. Sementara matanya tertuju pada Tomi. Sepatuku menginjak kubangan air! Begitulah kira-kira isi hati Arga menggaung pada Tomi yang paham.


"Mau pakai sepatu boot, Tuan?" Tomi menyarankan. Sementara pria itu langsung mengusap rambutnya kebelakang.


"Lupakan saja. Aku benci kebun, aku benci desa!" Runtuknya menyusul Arum yang sedang foto-foto dengan Denna.


"Arum kita pulang saja, ya." Pintanya pada wanita yang kini memutar tubuhnya membelakangi. "Rum–"


"Denna ke sana, yuk!" Arum menarik tangan sahabatnya pergi lagi menjauhi Arga. Pria itu pun mengepalkan tangannya.


"Huuuufff... tahan-tahan, demi Arumi bisa di bawa pulang."


Laki-laki itu mendekat lagi, yang berkali-kali di hindari oleh Arumi. Mengikuti ke kanan Arum pindah ke kiri. Arga jalan lagi ke kiri wanita itu ke kanan. Terus seperti itu hingga matahari semakin bergeser ketengah.


"Iiissshhh..." Berkacak pinggang, pria itu semakin gusar saja. Kau kira aku tidak bisa bertahan? Demi cinta walaupun kau mengabaikan ku. Aku akan tetap di sini... –melonggarkan syal di lehernya kemudian.


"Denna, bagaimana?" Tanya Arum setelahnya


"Kau cantik, Rum."


"Oh, ya? Ayo foto lagi... kyaaaaaa!" Niatan untuk menghindari Arga lagi gagal. Karena pria itu sekarang memanggulnya. "Apa yang kau lakukan, turunkan aku."


"Kau sudah banyak mengambil foto dengan temanmu. Sekarang ayo ambil foto denganku di tempat lain."


"Hei–" Arum memukul bahu suaminya. Sementara kakinya terus meronta.


Paman yang melihat itu hanya tertawa dari kejauhan lalu melanjutkan mengeruk tanah demi mengeluarkan kentang yang berada di dalam gundukan tanah tersebut.


Denna melirik sedikit saat langkah sekretaris Tomi berhenti di sebelahnya.


"Mau taruhan?" Tanyanya datar secara tiba-tiba.


"Ta–taruhan? Taruhan apa?"


"Kemeja dan jas ku yang kotor masih utuh di rumah. Aku sengaja tidak melaundry-nya."


Cih, lalu hubungannya apa? Lagi pula jorok sekali. Kenapa dia tidak mencucinya? –batin Denna. Mencoba memotret angle lain sebagai caranya memunggungi Sekretaris Tomi.


"Aku berharap Tuan Muda dan Nona Arumi kembali. Dan jika itu terjadi, maka kau harus mencucinya."

__ADS_1


"Eh?" Denna menoleh cepat. "Anda bilang apa? Cuci?"


"Ya!"


"Hei– Anda benar-benar, ya? Mana mungkin aku berdoa agar temanku tidak kembali lagi dengan suaminya!"


"Bukankah kau memang mengharapkan itu, Nona? Ku anggap ini deal, jika Tuan dan Nona Sanjaya kembali bersama. Maka kau wajib mencuci pakaian yang sudah kau kotori itu." Sekertaris Tomi melenggang pergi, menyusul Arga dan Arumi yang sudah tak terlihat lagi.


"Hei... hei... HEI!! Anda bercanda, 'kan?" Denna berseru pada pria cuek yang terus saja berjalan di depan "Tuan Sekretaris!! HEEEEIII!!!"


Ya, gadis itu harus mencucinya pakai tangan!


Senyum licik Tomi mengembang. Akhirnya ia bisa membalaskan kekesalannya saat di permalukan di depan karyawannya.


🍂🍂🍂


Setelah berjalan cukup jauh. Arga menurunkan tubuh istrinya. Nafasnya sedikit terengah-engah. Sementara Arumi mengedarkan pandangannya.


"Kita dimana?"


"Kebun..." jawabnya enteng.


"Kebun mana? Ini sudah bukan perkebunan kentang lagi. Pohonnya bahkan tinggi-tinggi."


"Kau takut?"


"Tenang. Kita tidak akan tersesat. Ada GPS." Arga merogoh sakunya. Berganti ke saku jaketnya. "Ponsel?" Berpikir, pria itu memang tak membawa ponselnya saat mengikuti Arum ke kebun.


"Anda cari apa?"


"Ponselku mana?" Panik.


"Hah? Jangan bercanda."


"Kau pikir aku bercanda. Kau tidak lihat wajah panikku?"


"Ya Tuhan, lalu bagaimana? Aku pun tidak membawa ponsel. Karena Denna sudah bawa kamera."


Pria di hadapannya mengusap rambutnya kebelakang.


"Tenang, kita pasti bisa pulang." Arga menggandeng tangan istrinya mencoba berjalan mencari jalan keluar dari perkebunan pinus itu.


Setelah melangkah cukup jauh mereka justru semakin masuk ke dalam hutan Pinusnya.

__ADS_1


"Ja–jalannya mana? Kenapa tak kunjung keluar?" Arum mencengkeram kuat lengan kekar Arga karena takut.


"Entahlah. Sepertinya jalan ini sudah kita lewati, tadi." Mereka berhenti sejenak. Menelan ludah karena tenggorokan yang kering. Arga menoleh kearah istrinya. "Rum, kau lelah?"


"Sedikit..." Tatapan mata Arumi masih menoleh kesana kemari. Arga pun berjongkok di hadapannya, memunggungi.


"Sini ku gendong."


"Tidak usah. Kau juga pasti lelah..."


"Aku lelah namun aku sehat. Sementara kau membawa anakku. Jadi aku harus menjaga kalian. Ayo naik ke punggungku." Pintanya lagi. Arumi pun tertegun memandangi bahu lebar suaminya. "Kenapa diam saja ayo naik."


Pelan-pelan Arum merengkuh pundak itu. Bersamaan dengan Arga yang bangkit dari posisinya jongkoknya.


"Sebaiknya kita ke sebelah kanan, di sana ada cahaya. Mudah-mudahan itu jalan besar," ucapnya kembali melangkah. Sementara yang di gendong hanya diam saja, mengirup aroma tubuh yang khas milik Arga Sanjaya.


"Anda seharusnya tidak perlu repot-repot datang kemari. Tempat ini terlalu jauh, dan terpencil," Arumi bersuara setelah beberapa menit saling diam.


"Aku tidak peduli. Yang ku inginkan hanya bertemu denganmu dan mengajakmu pulang... aku ingin kita memulai semuanya dari awal."


Arum terdiam sejenak. "Anda pernah bilang? jika selangkah saja aku keluar dari rumah itu, tandanya aku benar-benar tidak bisa kembali lagi. Bahkan saat aku mengemis di kakimu sekalipun, kau tetap tidak akan peduli. "


"Itu hanya omong kosong. Pengaruh akal tidak sehatku yang sejatinya tak sinkron dengan hati. Percayalah, Rum. Lupakan semuanya, jangan lagi di ingat-ingat." Pria itu mengatur nafas, walaupun terengah-engah ia tetap bertahan membawa istrinya keluar dari hutan Pinus itu.


"Aku sampai menghafal diluar kepala seluruh ucapanmu malam itu. Demi mengingatkan diriku jika suatu saat rasa rindu ini berdenyut. Mana mungkin aku bisa melupakannya?"


Arum masih ingat pria yang bahkan tidak mencoba untuk menahannya ketika ia pergi malam-malam dari rumah besar itu.


"Baiklah, aku benar-benar mengakui kesalahanku. Maaf–" masih terus melangkahkan kakinya.


"Mungkin di mulutku sangat mudah mengatakan; ya, aku memaafkan mu. Tapi bagaimana dengan penghinaan yang telah ku terima? hatiku tidak secepat menerimanya."


Arga menghentikan langkahnya di dekat batu besar. Perlahan-lahan menurunkan tubuh Arumi untuk duduk di batu itu. Kedua tangan Arga bertumpu pada sisi kanan dan kiri Arumi.


"katakan padaku, bagaimana caranya agar kau bisa memaafkan ku?" Arga bertanya, raut wajahnya memancarkan sebuah penyesalan. "Aku benar-benar tidak tahu, jika Dokter Kasih merubah obatnya. Sementara kau tidak pernah bicara."


"Aku hampir mengatakannya saat dimana kau marah padaku di dalam mobil, apa kau tidak ingat?"


Arga tertegun, tentu ia mengingat itu.


"Aku sempat berharap Anda akan terharu ... saking bahagianya. Tapi pada kenyataannya? jangankan terharu sebagai cara mengekspresikan kebahagiaanmu. Anda justru menuduhku hamil anak orang lain."


Arumi menunduk, kedua netranya mengembun. Arga yang berada di hadapannya hanya diam saja. Meresapi rasa bersalahnya pada Arum. Wanita itu harus menderita karena omongan Veronica.

__ADS_1


"Bukankah ini seharusnya menjadi calon anak pertama yang kau nanti-nantikan? Bukankah yang paling utama dari tujuan seorang pria menikah itu adalah anak yang terlahir dari rahim istrinya? Tapi kenapa, kau... hmmmpp."


Arga yang tak tahan langsung membungkam mulut Arumi dengan kecupan di bibir. Wanita itu mendorong dada bidang suaminya meminta untuk dilepaskan. Sementara kedua tangan Arga mengunci tubuh Arumi hingga beberapa saat.


__ADS_2