
Langkahnya terhenti di dekat tanaman hias. Sekretaris Tomi mendengar suara berbisik dari seorang wanita seperti tengah melakukan panggilan telepon.
Terkesan tidak peduli. Dan menganggap itu bukanlah kesalahan besar seorang pelayan yang tengah menerima telepon dari kerabat atau temanya di sebrang.
Tomi memilih untuk tidak menegur walaupun ini masih berada pada jam kerja. Ia mentolerir, asalkan memang sebatas menerima dan kasih tahu bahwa dia sedang kerja. Pria berperawakan tinggi itu kembali melanjutkan langkahnya.
"Semalam, Tuan Muda pulang dengan membawa wanita cantik..."
Mendengar kata itu, Sekertaris Tomi kontan mengurungkan niatnya untuk pergi dan memilih tetap berdiri di sisi tanaman tersebut.
"Saya tidak tahu. Namun, kemarin Tuan meminta pelayan untuk memindahkan Nona Arum ke kamar tamu."
Dia bicara pada siapa? Mungkinkah Veronica?? –Perlahan Tomi semakin mendekat.
"Iya, Nona. Kondisi hubungan keduanya seperti memburuk. Nona Arum bahkan berpisah kamar dengan Tuan Muda..." Terdiam sejenak karena sedang mendengarkan yang di sana berbicara. "Baik, Nona. Saya akan?"
Tomi merampas ponsel tersebut dari belakang. Wanita berpakaian pelayan itu terhenyak kaget, dan pelan-pelan menoleh kebelakang.
Sontak, wajah kuning langsatnya langsung berubah pias saat mendapati sosok laki-laki yang wajib di segani, kini berdiri di hadapannya sambil mematikan sambungan telepon.
"Se–sekretaris Tomi?" Kontan menunduk saat itu juga.
"Si wanita kaya?" Bertanya sembari membaca nama pada layar, lalu memutar-mutar ponsel tersebut.
Wanita itu pun menelan saliva. Sesekali melirik kearah Sekretaris Tomi yang sedang melihat-lihat ponsel yang Beliau pegang saat ini. Dan kembali menurunkan biji matanya.
Pun Tomi langsung mengangkat ponsel tersebut hingga sebatas telinga, sementara netranya kini terarah pada pelayan wanita di depan.
"Kau menabung berapa bulan untuk dapat membeli iPhone 14 pro max ini? Ku rasa, kau baru tiga bulan di sini," tanyanya penuh selidik. Pelayan tersebut semakin pias, tak berani bersuara.
Sekretaris Tomi kembali memeriksa aplikasi chat milik wanita tersebut. Tujuannya hanya satu, menyelidiki pesan chat pada nama Si wanita kaya tadi.
Seulas senyum tersungging sinis. "Kau terlalu berani untuk melakukan ini."
"Tuan, sungguh saya tidak bermaksud untuk berkhianat. Saya benar-benar terpaksa."
"Apapun alasannya. Kau harus menerima hukuman. Sekarang, kemasi barang-barangmu. Kau sudah tidak bekerja lagi disini."
__ADS_1
Sang pelayan wanita hanya bisa pasrah. Ia pun mengangguk.
"Berikan KTP-mu." Pintanya sembari mengulurkan tangan tepat saat wanita itu mengangguk. Ya, wanita itu belum pergi, ia hanya sedang menunggu ponsel di tangan Sekretaris Tomi kembali.
"Un–untuk apa, Tuan?"
"Kau memang di pecat. Namun bukan berarti bisa terlepas begitu saja dari perbuatan mu ini. Jadi ponsel dan KTP mu harus ku tahan, sampai pada batas waktu yang ku tentukan." Tomi masih menengadahkan tangan.
"KTP saya ada di kamar, Tuan." Lirihnya.
"Ambil dan berikan pada Pak Ragil. Jangan mencoba untuk kabur. Karena gerak-gerikmu sekarang akan ku pantau. Dan, satu lagi?" Pria bermata elang itu menatap wajah oval di depannya penuh ancaman. "Saat ini kau tidak bisa langsung keluar dari rumah utama. Kau hanya perlu berdiam diri tanpa melakukan apapun di rumah belakang, dan Jika kau kedapatan masih berhubungan dengannya, lebih-lebih membeberkan apapun yang terjadi di rumah ini? maka aku tidak segan-segan untuk bertindak lebih dari apa yang kau bayangkan, mengerti!!!"
"I–iya, Tuan. Saya akan menghindari Nona itu."
"Baiklah... pergi sana. Nanti malam, aku akan meng-introgasimu. Selalu ingat pesan saya baik-baik sebelum kau menyesali perbuatanmu jika berani-berani bermain lagi di belakang."
"I–iya." Wanita itu mengangguk sekali dan pergi dengan tubuh gemetaran.
Tomi menghela nafas kasar. "Veronica, bersiaplah. Kartu mu akan terbuka. Aku yakin kau bukan gadis manja biasa selama ini."
–––
Waktu kembali bergulir...
Arum yang tengah tertidur seketika terusik, manakala mendengar suara ketukan di luar yang semakin lama semakin keras.
Hingga membuat Arum tak memiliki pilihan selain bangun dan membukakan pintu kamar yang memang ia kunci.
Didepan pintu kamar sudah berdiri seorang Gadis dengan rambut pirang.
"Oh, hai permaisuri jahat?" Menyapanya dengan suara tawa yang terkesan mengejek.
"Nona, Veronica?" bergumam lirih.
"Maafkan saya, Nona. Saya sudah sempat melarangnya namun Nona Vero tetap memaksa. Sementara Pak Ragil saat ini sedang di rumah belakang," tutur seorang pelayan.
"Tidak apa, kau boleh pergi," jawabnya dengan suara yang lemah. Kembali Arum menoleh kearah gadis di depannya setelah sang pelayan wanita menjauh. "Ada apa Anda kemari?"
__ADS_1
"Aku hanya ingin menjenguk mu. Woooow, lihat dirimu. Hahaha..." Ia menunjuk wajah Arumi. "Jadi Ratu Angsa di rumah ini telah turun tahta?" Ejeknya sembari tertawa lepas.
"Apa Anda datang hanya ingin berbicara seperti ini? Maaf, Nona... aku tidak ada waktu luang untuk berbicara remeh dengan Anda." Arum berusaha menutup pintu.
"Hei– sombong sekali... dasar tukang selingkuh tidak tahu diri."
"Apa katamu?" Arum mengurungkan niatnya untuk menutup pintu.
"Ya, kau wanita yang tidak punya rasa malu. Sudah selingkuh lalu memiliki anak, dan kau masih bertahan di rumah ini? Kalau aku jadi kau, lebih baik aku keluar dari sini. Apalagi, sudah di cerai... hahaha, kasian sekali."
"Selingkuh? Di cerai? Darimana Anda tahu semua ini?"
"Hei, apa kau masih tidak paham juga posisiku di sisi Kak Arga? Tentu kak Arga sendiri yang bilang padaku. Kalau kau adalah wanita tidak tahu malu yang sudah menyelingkuhi dia namun tetap bertahan. Ia menganggap-mu sebagai wanita murahan yang tidak bisa hidup tanpa uangnya."
Arum mengepalkan tangannya kuat, matanya pun kini berkabut.
"Aku tidak percaya, suamiku mengatakan hal itu padamu. Kau pasti mengarang cerita kan? Aku paham dirimu, Nona. Walaupun kita belum lama kenal."
"Oh, ya? Kau menuduhku mengarang cerita? Lalu apa alasan dia membawa wanita tadi malam, kalau bukan untuk membalas perselingkuhanmu?"
"Kenapa Anda seperti tahu semua hal?"
"Bodoh! Sudah ku bilang, Kak Arga yang memberitahukan semuanya." Tersenyum licik. "Apa kau tidak sadar situasinya?"
Arum hanya diam saja. Sudut matanya sudah menampung banyak kristal bening.
"Lihat dirimu yang bahkan sampai di pindahkan di kamar bawah. Seharusnya kau paham, jika dirimu sudah tidak lagi di anggap istri oleh suamimu sendiri." Veronica mendekatkan wajahnya ke telinga Arum, lalu berbisik, "Ku beri saran, sebaiknya kau pergi dari rumah ini. Toh bertahan juga untuk apa? Kau itu sampah bagi Kak Arga sekarang, Arumi...!"
Luruhlah air matanya. Arum membeku bahkan sampai gadis itu melenggang pergi dari hadapannya.
Suamiku berpikir demikian? Dia mengira aku selingkuh dan hamil anak laki-laki lain? Tega sekali...
Setengah tidak percaya. Namun pada kenyataannya, Arga memang berubah. Ia bahkan tidak menjenguk kondisinya sama sekali.
Pelan-pelan Arum menutup pintu kamar tersebut dan menempelkan punggung di baliknya.
Apa karena yang ia tahu kami melakukan program penunda kehamilan. Jadi dia tidak percaya kalau ini anaknya? Aku harus bicara padanya...
__ADS_1