
Arumi mengikuti suaminya hingga ke kolam ikan koi. Pria itu benar-benar nampak badmood sekarang.
"Suamiku–"
"Apa? Kau ingin menertawaiku lagi?" salaknya bernada ketus.
"Tidak, aku tidak ingin menertawai mu, kok."
"Kalau tidak, kenapa jagung hangus itu kau bawa?"
"Ini? Hanya ingin menikmati jagung hasil bakar-bakar mu di sini."
"Tidak usah di makan jika ujung-ujungnya kau ingin menghinaku."
"Aku tidak menghina." Arumi duduk di atas kursi taman yang terbuat dari besi. Bersebelahan dengan sang suami sebelum menggigit sedikit jagung bakar tersebut. "Ini rasanya enak sekali, loh."
"Tidak usah sok memuji hanya untuk menghiburku. Jika tidak enak katakan saja dengan jujur."
"Aku sudah mengatakannya dengan jujur. Ini enak sekali." Arum menggigit biji-biji jagungnya. "Hangus hanya di ujung, tapi tengahnya tidak terlalu. Masih bisa di makan kok. Mau coba?"
"Tidak kau saja..."
"Ayolah sedikit." Arumi mengulurkan jagungnya kearah sang suami. Namun pria itu tetap menolak dengan cara memalingkan wajahnya. "Sayang, coba dulu."
Arga kontan tertegun menerima julukan sayang itu lagi dari bibir istrinya.
"Kau panggil apa tadi?"
Arumi tersenyum malu-malu. "Tidak ada pengulangan kata."
__ADS_1
"Katakan lagi..."
"Apa sih, sayang?" Menggigit jagungnya sendiri hingga menyisakan serpihan di sisi samping bibirnya. Arga pun tersenyum, dan tanpa menunggu apapun langsung mencium bibir Arumi. "Eeemmmmp..." Memukul-mukul dada sang suami yang justru semakin memeluknya. Tak lama ciuman itu di lepaskan, Arga tertawa melihat wajah cemberut istrinya.
"Tadi minta aku mencoba jagung ini, 'kan? Aku sedang mengambilnya dari bibirmu."
"Tapi aku tidak suka seperti ini."
"Kenapa?"
"Entahlah hanya tidak terbiasa."
"Jadikan terbiasa. Aku mau lagi..."
"Hei– apa kau tidak merasa jijik?"
"Tidak. Kenapa aku harus jijik dengan bibir istriku sendiri." Arga merebut jagung di tangan Arumi lalu membuangnya ke sembarang.
"Aku mau kau saja. Sebagai obat rinduku." Kembali pria itu mencium bibir istrinya. Kali ini, yang di terima Arumi jauh lebih lembut. Sementara tangan kiri Arga meraih pinggang Arumi tangan kanannya mengusap tulang rahang hingga keleher. Beberapa saat berlalu, Arga melepaskannya.
Di sana wajah keduanya nampak memerah. Arga mengusap lembut bibir Arumi.
"Aku benar-benar merindukanmu. Ayo kita pulang Sayang..." pintanya dengan suara sedikit berbisik. Tangan kirinya mengangkat tangan kanan Arumi menciumi punggung telapak tangan itu berkali-kali. "Ya, kita pulang. Izinkan aku memperbaiki semuanya."
Arumi tertunduk. "Masih pantaskah aku masuk ke rumah. Yang bahkan Tuan rumahnya sendiri sudah mengusirku?"
"Sayang, kenapa kau masih saja mengingat itu?"
"Tentu aku akan terus mengingatnya. Karena otak ku masih berfungsi merekam semuanya. Se-berusaha apapun aku melupakan, tetap saja sekeping ingatan ku muncul menyusul deretan-deretan lainnya. Aku khawatir akan merasa sedih lagi saat mengingat semuanya."
__ADS_1
Arga bangkit lalu berdiri di hadapan sang istri. "Kau ingin aku melakukan apa? Kau ingin memaki ku? Lakukan saja. Kau ingin memukul? Lakukanlah. Atau kau ingin aku berlutut? Baiklah..." Arga menekuk kedua lututnya di hadapan Arumi.
"Sa–sayang." Arumi gelagapan saat Arga sudah berlutut di hadapannya.
"Maafkan aku istriku. Suamimu yang bodoh ini, sangat menyesali perbuatannya. Tolong beri aku kesempatan."
"Tidak, tidak seperti itu. Bangunlah... ayo bangun." Menyentuh kedua bahu kekar suami. Ia tengah berusaha membuat suaminya untuk berdiri. "Suamiku jangan seperti ini. Bangunlah..."
"Katakan dulu. Dengan cara apa aku harus menebusnya?"
"Aku hanya ingin hati ini merasa yakin dulu. Tidak bisakah kau memberiku kesempatan untuk meredamnya?"
"Semua akan ku buktikan saat sudah di rumah utama nanti. Kita benar-benar butuh privasi untuk memperbaiki hubungan ini."
Arum menggigit ujung bibirnya. Matanya terarah nanar pada sang suami.
"Baiklah..." Arga mencium perut sang istri beberapa saat. Lalu mengusapnya. "Daddy minta maaf karena sempat tak mengakui mu, Nak," gumam Arga. Arum sendiri justru menaikan netra hazelnya ke langit, demi menahan agar matanya tak sampai menganak sungai.
"Arumi... Kau masih mencintaiku, 'kan?" tanya Arga hingga Arumi kembali menurunkan tatapannya pada Arga.
"Suamiku..."
"Katakan. Kau masih mencintaiku? Kau masih mau hidup denganku, 'kan?"
Arumi masih tertegun. Ia tidak bisa membohongi diri, kalau sejatinya ia memang tidak ingin berpisah dengan sang suami. Wanita itu pun meraih wajah Arga lalu menurunkan wajahnya mencium bibir Suaminya beberapa detik sebelum kembali melepaskan.
"Tentu aku masih mencintaimu. Tentu aku ingin kembali padamu. Tapi dengan sangat aku meminta, kau jangan lagi patahkan hatiku. Jangan lagi membuat hidupku semakin sulit."
"Tidak akan. Tidak akan sayang." Arga bangkit ia mencium kening istrinya sebelum memeluk erat.
__ADS_1
"Hiks, aku rindu padamu. Aku sangat merindukan aroma tubuhmu..." Arumi menangis dalam pelukan Arga. Sama halnya pria itu, walaupun tak sesenggukan. Bibirnya bahkan mengulas senyum kelegaan.
Ya, masalah yang mereka hadapi telah berakhir. Hanya tinggal memohon kebaikan setelah ini. Ia akan berusaha membayar semua perbuatannya dengan janji kasih sayang yang akan ia berikan untuk anaknya ketika bayi itu terlahir nantinya. Serta perlakuan spesial lainnya untuk sang istri.