Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
pengganti tangan kanan 2


__ADS_3

Setelah selesai, Arum membawa piring berisi potongan buah itu ke ruangan kerja sang suami.


Nampak Sekertaris Tomi masih di sana. Membahas sesuatu yang serius bersama suaminya.


"Ini buahnya, Sayang." Arum tak banyak bicara, ia hanya meletakkan piring itu di atas meja. Dekat dengan Arga. Sementara tubuhnya kembali memutar, berharap ia bisa istirahat sejenak. Leyeh-leyeh di atas kasurnya, meluruskan punggung.


"Kau mau kemana?" Arga menahannya langsung.


"Emmm, keluar," jawabnya.


"Siapa yang menyuruh pergi?"


"Bukanya Anda sedang meeting dengan Tuan Sekretaris?" ujarnya menujuk kearah Pria yang langsung mengangkat wajahnya kearah Arumi.


"Duduk sini..!" Perintahnya sembari menepuk-nepuk permukaan sofa. Bersisian dengannya.


Apa lagi, sekarang? Arum tak punya pilihan. Ia kembali dan duduk di sisi Arga.


"Buah..." perintahnya kemudian. Menunjuk piring itu dengan tangan kiri. Arum kembali mendengus diam-diam. Mengambil piring itu lalu menyuapi suaminya.


"Lanjutkan, yang tadi..." Perintahnya kemudian pada Sekretarisnya. Tomi pun kembali berbicara, membahas pekerjaan yang sama sekali tidak di pahami oleh Arumi. Sementara tugasnya hanya memandangi bibir Suaminya. Karena ia harus sigap menyuapi buah itu ke mulut suaminya sebelum di perintah. Walaupun tetap saja. Se-berusaha apapun ia untuk sempurna. Arga akan terus mencari-cari celah kesalahannya.


"Tanda tangan di sini, Tuan..." Tomi menunjuk salah satu kolom tanda tangan. Arga segera mengambil pena yang di sodorkan Sekretaris Tomi, dan menandatangani itu dengan mudah menggunakan tangan kanannya.


Itu dia bisa tanda tangan? Aku yakin, selama ini tangannya memang sudah sembuh. Dasar mengada-ada!


Arum ngedumel dalam hati. Menusuk kuat buah apel di atas piringnya. Inginnya protes, tapi ya sudahlah. Berbicara dengan orang yang memiliki IQ di atas rata-rata memang sulit. Jadi lebih baik diam saja.


🌸 🌸 🌸


Satu Minggu berlalu lagi...


Drama tangan yang melepuh masih belum juga berakhir. Sungguh demi apapun. Arumi menyesali janjinya malam itu. Karena sampai sekarang Arga masih saja menjadikannya sebagai pengganti tangan kanan.


Sekarang ia tengah berdiri di dekat bathtub dengan busa penggosok punggung di tangan. Pria itu pun sudah berada di dalamnya. Dalam keadaan polos, berendam dalam air busa.


Aku yakin, dia sekarang sudah tak memandangku sebagai Nona Alicia. Karena, sikap arogansinya kini semakin menjadi. Tapi kalau iya? kenapa Dia masih mempertahankan-ku?


Arum masih bergeming di tempatnya. Belum selangkah pun ia ambil guna mendekat dan melakukan tugasnya.


"Apa yang kau tunggu? Lakukan tugasmu..." titahnya dengan suara menggema di dinding kamar mandi.


"I–iya Suamiku." Pelan-pelan ia maju, lalu mulai membasuh punggung Arga yang putih dan bersih dengan air. Sesuatu yang membuatnya kagum adalah sosok Arga yang memvisualkan pria macho namun terawat. Tubuhnya yang kekar namun tetap halus di sentuh kulitnya. Ia bahkan berhati-hati sekali saat menggosok punggung suaminya itu. Khawatir jadi lecet.

__ADS_1


"Aku masih marah!" gumamnya terdengar lembut namun cukup membuat Arumi ingin tertawa.


Terus saja berakting...


"Entah sudah berapa kali aku berucap maaf padamu, sayang. Aku sampai tidak tahu harus bagaimana, agar Anda bisa melupakan kesalahanku itu..."


"Jangan bertemu dengannya lagi. Apapun alasannya."


Ya ... ya ... Kau sudah melontarkan kalimat larangan itu entah keberapa kalinya.


"Iya, sayang."


Arga tersediam. Tangan Arumi masih bergerak halus menggosok punggungnya. Ia pun menyentuh pergelangan tangan Arum, hingga gerakan menggosoknya terhenti.


"Depan sekalian."


"Hah?" Arum terkejut. Perjanjian hanya di belakang loh... belakang! Kenapa depan juga sekarang?


"Kau tidak mendengarkannya?"


"Bu–bukannya, bagian depan bisa Anda lakukan sendiri, Sayang?" Arum cemas. Ia masih ingat perlakuan kasar suaminya kala mabuk waktu itu. Membuatnya takut untuk melakukan lagi dengan sang suami.


Tubuh pria itu memutar, menghadap Arumi sekarang. "Aku merekam jelas dalam ingatanku. Apa yang kau ucapkan sebagai pertanggungjawabanmu. Apa semua itu omong kosong? Lalu kau mau mengingkarinya?"


"B–baiklah, akan ku lakukan." Arum mengusap dada bidang itu dengan busa melimpah yang ada di dalam bak mandi itu. Hingga sebuah tarikan kuat membuatnya menjerit.


Tubuhnya terhempas kedalam dengan pakaian lengkap masih melekat di tubuhnya. Air busa itu terciprat ke mana-mana, sebelum tercipta suasana hening di antara keduanya.


Mata mereka saling mengunci selama beberapa detik. Berusaha menyelami pikirannya masing-masing melalui tatapan mata mereka yang penuh arti. Walau diantara mereka belum mampu memahami perasaan masing-masing, akan tetapi keduanya bisa menikmati debaran jantung yang tak biasa.


"Sudah lebih dari dua Minggu aku tak menyentuhmu lagi. Kau pasti merindukannya?"


Apa? Siapa? Sungguh aku masih takut kau akan meremukkan tulang-tulang ku lagi...


Kedua netra Hazel milik Arumi bergerak gugup. Memandangi wajah yang basah di depannya. Arga yang ia lihat sekarang semakin terlihat berbeda. Pandangan mata yang dulu kosong, sekarang seperti benar-benar terarah untuknya.


"Kau sempat bilang ingin mencintaiku, kan?" Arga menempelkan telapak tangan Arumi kebibirnya. "Kau juga sudah pernah mengakuinya?" sambungnya kemudian.


Deg... deg... deg..


Apa mungkin, Suamiku sudah?


Arum terdiam dalam tanda tanya besar. Apa sekarang suaminya sudah melihat dia sebagai Arumi? Lalu kenapa Dia belum menyebut namanya hingga saat ini.

__ADS_1


Arumi... entah sejak kapan aku menyadari Kau bukanlah lagi Alieee... namun aku tetap ingin berada dekat denganmu setiap saat. Juga membiarkanmu tetap disini, sebagai isteriku.


Arga mulai mendekati wajah Arumi dan menyatukan bibir mereka dengan sangat lembut.


Pelan-pelan melepaskan kain yang melekat di tubuh ramping istrinya. Sebelum merambah lebih jauh, menyusuri setiap lekuk tubuh sang istri.


Ini kali pertamanya, merasakan kenikmatan yang penuh dengan ketenangan tanpa keterpaksaan.


Mereka menghabiskan waktu pagi di dalam kamar mandi itu berdua. Mengarungi cinta dalam benaknya masing-masing.


Mata Arumi terlihat sayu, menjurus pada sang suami yang juga sama mengarah kepadanya.


Aku tidak tahu kau memandangku sebagai siapa, Tuan? Walaupun kau terkadang menyebalkan, namun aku merasakan ketulusanmu saat ini.


Wanita itu mendesah lirih. Suara cinta yang tak pernah ia keluarkan sebelumnya, setiap kali bercinta dengan Suaminya kini terdengar lembut di telinga Arga. Pria itu tersenyum tipis. Mengecup kening Arumi, sembari terus melanjutkan gerakan konstannya di dalam bathtub tersebut selama beberapa menit.


***


Hampir dua jam Tomi menunggu di ruang kerja. Pun kopi yang di suguhi Pak Ragil sudah menjadi dingin. Tuannya belum juga muncul.


Sebuah suara pintu terbuka membuatnya menoleh. Dan kembali menghela nafas panjang, karena yang ia lihat bukanlah Tuan Arga, melainkan Pak Ragil.


"Anda ingin kopinya saya ganti dengan yang baru?" tanya Pak Ragil menawarkan.


"Tidak perlu..." Melirik kearah jam tangan. Kenapa akhir-akhir ini Tuan muda semakin seenaknya sendiri memakai waktunya, sih?


"Apa Tuan Arga masih lama?"


"Sepertinya sebentar lagi. Beliau sarapan pagi di dalam kamar dengan Nona Arumi."


"Huuuft..." Tomi semakin gelisah. Hingga pintu itu kembali terbuka. Seperti mentari paling cerah tengah menyoroti mereka dari wajah Arga.


"Kau sudah datang?" Tanya pria itu. Suara yang biasanya dingin kini seperti lebih terdengar halus. Binar matanya pun lebih terang seperti saat masih ada Alicia dalam kehidupannya.


"Iya, Tuan. S-sudah..."


"Ah, baiklah. Ayo kita kerjakan schedule hari ini dengan baik."


"Emmm, ya, Tuan." Tomi masih tersihir dengan aura cerah yang di pancarkan Bosnya. Apa tadi? Beliau tersenyum? Tumben sekali...


Tomi buru-buru beranjak dan menyusul Tuannya yang sudah lebih dulu melenggang pergi.


Sementara yang di dalam kamar nampak tersipu mengingat semua yang telah ia lakukan sepanjang pagi ini di dalam kamar mandi. Arum menutup wajahnya malu sendiri.

__ADS_1


__ADS_2