
Arumi berbaring dalam posisi miring memeluk bantal. Wanita itu terpekur cukup lama, memandang kosong ke arah dinding warna biru yang tersorot cahaya berbentuk bintang dari lampu hias berputar di atas meja.
Tok... tok...
"Arum!" Denna melongok dari balik pintu.
"Apa?" menoleh dengan rasa ogah-ogahan.
"Keluar yuk." Denna melangkah masuk menghampiri Arum yang belum sama sekali merubah posisinya.
"Emmm, aku malas dan mengantuk."
"Iiissshhh... wanita hamil itu harus aktif. Ayo bangun–" pintanya sembari menarik lengan sang sahabat.
"Aku akan aktif jika kehamilanku sudah menginjak trimester ketiga. Sekarang izinkan aku leyeh-leyeh saja..."
"Tidak bisa, pokoknya ayo sekarang keluar dan kita bersenang-senang."
"Bersenang-senang apa sih? Sungguh aku mager Denna. Aku sangat lelah, mau tidur."
"Nanti kau akan tidur sesukamu. Sekarang, Ayo bangun! Ku bilang bangun sekarang!" Denna tetap memaksanya untuk bangun lalu mengajak Arumi turun ke lantai bawah.
"Kau mau ajak aku kemana?"
"Camping di belakang rumah," jawabnya sambil terus menggandeng tangan Arumi menuju pintu sliding di belakang. "Taaaaaadaaaaa..."
Arum mematung melihat beberapa orang berkumpul di mini taman belakang rumah. Fokusnya saat ini adalah Arga, yang menggunakan celemek coklat di dada hingga ke lututnya. Tengah membakar beberapa sosis dan jagung manis.
"Apa ini?" Bisik Arum kemudian.
"Garden camp. Tuan Arga yang telah menyiapkan semuanya," menjawab dengan berbisik juga.
"Iya kah, sejak kapan mereka datang. Kok tahu-tahu sudah siap?"
"Kau tahu kisah Roro Jonggrang?" Tanyanya, Arum pun mengangguk. "Nah mungkin suamimu terinspirasi oleh Bandung Bondowoso. Bedanya kalau BB membuat candi dalam satu malam dengan bantuan jin. Sementara Suamimu membangun tenda-tenda besar ini dalam waktu beberapa menit saja dengan bantuan para ajudannya."
"Ya Tuhan..." Arum geleng-geleng kepala.
"Istriku, kemari dan lihatlah apa yang sedang ku kerjakan." Arga berseru sembari membusungkan dada. Ia ingin membanggakan dirinya di depan Arumi dan menunjukkan pekerjaan yang pernah gagal waktu itu padanya.
Satu lagi, di tempat yang sama seperti yang Rayyan lakukan. Bukankah ini reka ulang yang benar-benar real? Ku harap yang kau ingat adalah camping bersamaku malam ini. Bukan dengan cecunguk itu. Begitulah isi kepala Arga saat ini.
"Suamiku, bukankah Anda lelah?"
"Lelah? Tidak tuh..." Pria itu terus membolak-balikkan bonggol jagungnya.
__ADS_1
"Tuan jangan di bolak-balik terus!"
"Diam kau Tomi. Aku lebih paham karena aku sudah pernah latihan, tidak seperti dirimu!"
Terserah saja lah... Tomi mendengus ke samping. Ia pun menoleh ke arah Denna yang sedang membantu ibunya menyiapkan item yang lainnya setelah itu melirik paper bag berukuran sedang yang ia tenteng saat ini.
Tak berselang lama semua makanan sudah siap. Merekapun duduk di dalam tenda besar dengan meja makan ala campingnya orang-orang kaya.
"Lihat pekerjaan ini. Aku menyelesaikannya dengan baik, kan? Ya, mungkin sosisnya agak sedikit over cook tapi aku yakin ini pasti enak. Silahkan dimakan..."
Sedikit over cook katanya? Aku bahkan sempat mengira yang di atas nampan stainless ini bukanlah sosis melainkan arang yang terbawa. (Arumi)
Arga terlihat percaya diri dengan hasil bakar-bakarnya. Sementara yang lain hanya menatap tanpa nafsu pada makanan gosong yang di sebut sedikit over cook itu.
"Bang, yakin ini bisa dimakan?" Senna menyeletuk. Jari telunjuknya menunjuk seluruh makanan gosong di atas meja.
"Tentu saja. Cobalah–" jawab Arga percaya diri.
"Emmm, Aku tidak yakin." Senna meraih capit makanan dan menyentuh salah satunya. Memutar-mutar sejenak. "Seperti kotoran kucing yang tergeletak di pinggir bak sampah..." gumamnya kemudian.
Pffftt... beberapa orang yang di sana langsung menutup mulutnya. Sementara Arga sendiri kontan mematung.
"Senna! Kau ini..." Ibu Ratih langsung menyikut anak laki-lakinya.
"Ko–kotoran kucing?" menoleh kearah Arumi yang tengah tertawa tanpa suara. Dan bergeser kemudian kearah Sekretaris Tomi. Walaupun pria itu membalik badan tapi Arga bisa tahu bahwa Sekretarisnya juga sedang tertawa.
Tuan Muda itu hanya tersenyum tipis mengusap sisi samping rambutnya kebelakang.
"Kotoran kucing..." gumamnya lirih.
"Memang benar kok. Aku rasa jika di kasih ke pengemis pun mereka tidak akan mau memakannya. Apa ini? Dia bahkan nampak abstrak, benar-benar Abang ini tidak bisa... mpppp... mmmpp..." Bu Ratih langsung membungkam mulut Senna sembari tertawa.
"Hahaha... Kau sudah saatnya push rank dengan teman-teman gamer mu. Ayo masuk saja..."
"Mmmppp mmmmppp mpppp..."
"Apa? kau mau ibu buatkan susu? Akan ibu buatkan, ya. Hahaha... maaf Tuan kami masuk dulu." Bu Ratih langsung menyeret anak bungsunya ke dalam. Walau Senna terlihat seperti menolaknya karena ia masih ingin menikmati tenda mewah ini.
Arga menghela nafas panjang. Walaupun rasanya sudah sangat ingin meluap-luap. Andai saja ibu Ratih bukan orang baik. Mungkin ia sudah merobek mulut remaja laki-laki itu.
Kembali Arga menoleh ke arah sekretarisnya. Ia pun melempar tiga kotak tissue hingga mengenai punggung Sekertaris Tomi.
"Kau masih saja tertawa? HAH!!"
"Ampun, Tuan. Maafkan saya..."
__ADS_1
"Iiissshhh!" Arga merasa moodnya hancur ia pun memilih untuk bangkit dan pergi dari sana.
"Suamiku–" Arum turut bangkit dan tanpa berpikir langsung meraih satu tusuk jagung bakar sebelum menyusul Suaminya.
Kini hanya tinggal Denna dan Sekretaris Tomi di tenda itu dengan perasaan mendadak kikuk. Tomi yang mengingat benda tadi lantas meletakkannya di atas meja, lalu mendorong pelan hingga ke hadapan Denna.
"Apa ini?" Gadis itu bertanya.
"Hutang saya..."
"Hah, serius?" Bersemangat, Denna pun langsung membukanya. "Woaah... woaaahahaha...."
"Saya tidak berbohong, 'kan? Hutang saya lunas sekarang."
"Hahaha. Okeh lah..." Denna buru-buru membuka bungkusnya. Sebuah gadget impian kini sudah ada di tangannya. "Wuiiidiiiihh... mulus cuuiiin."
"Anda terlihat suka sekali?"
"Iya lah... ini benda yang sangat aku impikan. Hehehe." Denna sama sekali tak menoleh kearah Sekretaris Tomi yang sejak memperhatikan tingkahnya ketika membuka bungkusan gadget barunya. Senyum tipis terbit di bibir laki-laki itu walau hanya sebentar. "Terima kasih, Tuan sekretaris. Aku percaya sekarang, kalau Anda adalah laki-laki tulen."
Mendengar itu Sekretaris Tomi langsung terdiam. Denna yang merasakan perubahan ekspresi wajah dari Sekretaris itu pun langsung gelagapan.
"A–anu, Tuan Sekretaris?"
"Apa yang Anda bilang barusan?"
"Tidak, aku tidak bermaksud. Demikian..." Denna mencondongkan tubuhnya menjauh saat Tomi melangkah lebih mendekat.
"Apa selama ini saya tidak terlihat seperti laki-laki tulen?"
"Bukan. Aku hanya ingat pepatah, jika laki-laki sejati adalah yang bisa memegang teguh janjinya. Itu maksudnya..." Nyengir.
"Cih... Anda itu benar-benar membuat saya merasa terhina untuk ke dua kalinya."
"Eh, dua kali? Kapan yang pertama?"
"Kejadian lumpur itu, apa Anda lupa?"
"Wa–wajar karena saat itu aku kesal." Gadis itu memeluk erat gadgetnya, khawatir jika Sekretaris Tomi akan merampasnya kembali.
"Tidak ada kata wajar di kamus saya. Apa yang Anda lakukan pada saat itu benar-benar membuat saya merasa di permalukan. Dan Anda harus bertanggung jawab."
"Lah–" Denna melotot. "Kejadiannya kan sudah lama. Kenapa masih saja minta pertanggungjawaban, sih. Lagian Arum dan Tuan Arga juga sudah damai."
"Justru karena mereka damai berati aku menang taruhan."
__ADS_1
"Hei... hei... Tuan Sekretaris! Aku tidak pernah menyetujui adanya taruhan itu ya..."
"Terserah saja. Intinya Anda tetap harus mencuci pakaian itu!" Tegasnya mengakhiri. Sebelum akhirnya berlalu begitu saja. Meninggalkan mimik wajah penuh keheranan dari gadis tersebut.