
Arum memandang heran dari pantulan cermin pada pria yang sedang di rapikan rambutnya oleh salah satu pelayan.
Pasalnya seperti tidak menunjukkan ekspresi apapun padahal hampir semalaman berhubungan badan dengan wanita yang berdiri di sisinya. Jangankan untuk mengucapkan terima kasih, sehabis urusannya selesai Dia hanya merebahkan tubuhnya lalu ketiduran hingga pagi.
"Jam ku." Arga mengulurkan tangan kirinya pada Arumi.
"Ya?"
"Pasangkan!"
"Ah, iya sayang..." Sedikit terhenyak, Arumi menoleh ke sisi kanan. "Kau mau pakai jam yang mana, Suamiku?"
"Pilih saja yang manapun. Jangan membuat tanganku pegal karena terulur seperti ini...!"
Kalau pegal kenapa tidak di turunkan saja tanganmu itu...! (Arum)
"Ah... iya," buru-buru Arumi berjalan sedikit hingga kemeja kaca yang berisi berbagai macam aksesoris mewah milik Arga Sanjaya.
Dia bilang yang mana saja, kan?
Asal ambil, Arumi memilih salah satunya lalu kembali ke Arga.
"Tanganmu Sayang..." pintanya bernada halus. Arga pun menyerahkan tangan kirinya. Dimana Arumi segera memasang itu. "Sudah Sayang."
Arga melirik. "Ck! Kau ini bagaimana? Aku sudah memakai jam ini lebih dari dua kali dalam bulan ini."
Mana ku tahu kalau ini sudah di pakai lebih dari dua kali dalam satu bulan, Tuan Muda! Isssshhh... (Arum)
"Ganti!" Titahnya.
"Baiklah Sayang," jawabnya sembari melepaskan jam itu. "Emmm... aku khawatir salah lagi. Sebaiknya, Kau memilih sendiri saja mau pakai jam yang mana."
__ADS_1
"Alieee... jika aku menyuruhmu untuk memilih, itu tandanya kau yang harus memilihnya."
"Tapi kalau salah lagi bagaimana, sayang?" Arum sedikit merendahkan suaranya.
"Jam ku!" potongnya langsung dengan nada menekan.
Arum menghela nafas tanpa menimbulkan suara. "Baiklah Sayang, tunggu sebentar."
Kembali ke meja kaca itu, memilih yang lain. Dimana ada puluhan jam tangan mewah yang tertata rapi di meja tersebut. Berada dalam sekatnya masing-masing tentunya dengan nyala lampu putih yang terang.
Baiklah yang ini saja...
Dengan hati-hati Arumi mengambilnya, jam yang cukup berat dan mulus itu mungkin jauh lebih mahal dari harga dirinya. Sehingga Arumi perlu berhati-hati, jangan sampai terjatuh.
"Ini bagaimana?"
"Aku bosan warna gold itu. Ganti yang lain..."
"Terserah!" Jawabnya enteng.
Arum melebarkan senyum menahan amarah. Apa dia memang seperti ini pada Kekasihnya itu? Jika iya menyedihkan sekali, ya? Mungkin Tuhan kasihan dengannya, sehingga mengambil Alicia secepat itu.
Buru-buru Arum mengambil yang lain, memilih lagi lalu menyerahkan pada Arga. Penolakan yang sama tetap ia dapatkan.
"Tidak cocok dengan jasnya, ganti!"
Hingga ke pilihan ke sembilan. Arum membawa sekitar tujuh arloji di tangannya.
"Tolong pilihlah salah satu, Sayang."
Ku harap kau tidak bertingkah lagi, Tuan! Batinnya mengawasi sang suami yang masih santai memandang angkuh pantulannya sendiri di cermin.
__ADS_1
"Yang black pertama tadi saja," jawabnya tanpa melirik sedikitpun sembari beranjak.
Sementara kepala wanita di hadapannya serasa mendidih. Bagaimana tidak, jika ia memang menginginkan yang tadi kenapa harus membuatnya mondar-mandir mengganti jam itu.
"Tadi katanya jam tersebut sudah dua kali di pakai, Sayang?"
"Memang kenapa kalau sudah dua kali di pakai?"
"Kau sempat bilang tidak mau, kan?"
"Itu tadi, sekarang aku mau pakai itu. Cepat ambil dan pasangkan...!" Mengulurkan tangan kirinya.
Arum menggigit ujung bibirnya menahan amarah yang sangat ingin meluap-luap, bahkan jika bisa mengacak-acak rambut yang tengah ia usap kebelakang itu. Dengan tampang cool yang menyebalkan.
"Kalau mau pakai yang itu seharusnya dari tadi, kan? Jadi tidak membuang-buang waktu."
Arga menoleh. "Apa maksudmu saat aku meminta kau memilihkan jam tangan untukku, itu membuang-buang waktu?"
"Ti-dak! Bukan begitu. Lebih tepatnya, mengulur waktumu, sayang. Kalau kau memang menginginkan yang ini kenapa tidak sejak awal."
"Jadi maksudmu ini salahku, Aliee?"
Arum menelan saliva-nya, saat Arga mengambil langkah maju dengan tatapan tajam seperti hendak membantainya habis.
"Tentunya tidak, Sayang. Hahaha... " Arum mengusap dada bidang yang sudah terbalut jas rapi.
"Jadi siapa di sini yang salah?"
"Tentunya Aku... aku yang belum becus menjadi istrimu. Maafkan aku sayang." Merebahkan kepalanya di dada.
Terkutuk lah Kau surat kontrak sialan! –umpatnya dalam hati saat mengingat aturan utama dalam surat kontrak tersebut. Bahwasanya apapun yang dilakukan Arga selaku pihak pertama itu selalu benar!
__ADS_1