
Di hari yang baru, Arum menapaki langkahnya ke sebuah area pemakaman. Ia sengaja bangun lebih awal lagi demi bisa menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin.
Ia harus mengunjungi makam Ayah dan Ibu. Karena tepat di tanggal inilah mereka menikah, dan di tanggal ini pula sang Ibu berpulang. Entah seperti apa cerita detailnya dulu, yang jelas saat itu usianya masih sangat belia.
Ia hanya mengingat sekilas, ketika orang-orang banyak berkerumun di depan rumah yang penuh dengan kobaran api. Seorang pengasuh yang menjemputnya ke PAUD menangis sembari memeluk tubuh kecil Arum yang nampak kebingungan.
Ya, setelah tumbuh dewasa ia paham. Rupanya sang ibu turut menjadi korban tewas ketika tak sempat menyelamatkan diri bersama satu orang asisten rumah tangga yang lain.
–––
Gadis itu berjongkok sembari meletakkan satu tangkai bunga di atas pusara Ayah lalu ibu setelahnya. Tak lupa kedua tangannya menengadah, berdoa untuk mereka yang mungkin sedang berbahagia karena bisa berkumpul.
Ayah, Ibu... kalian pasti senang karena bisa bertemu. Jangan khawatirkan aku yang di sini, ya ... karena Arum baik-baik saja.
Tatapannya sendu, namun senyum manisnya menebar. Tak lama sebuah buket bunga lain di letakkan oleh seseorang. Arum menoleh, sontak terkejut sampai menghempaskan bokongnya ketanah. Saat mendapati pria berbusana resmi berdiri di sisinya.
"An– Anda?" Menujuk kearahnya. Ingatannya yang tajam langsung menjurus pada sosok laki-laki yang turut berada dalam ruangan yang sama dengannya semalam.
"Selamat pagi, Nona. Kita bertemu lagi..."
Buru-buru Arum bangkit. Membawa tubuh mungilnya kembali berdiri. "A–pa yang sedang Anda lakukan? Dan, darimana Anda tahu saya ada di sini?"
Sekretaris Tomi menyunggingkan senyumnya. "Tidak sulit bagi saya untuk mencari Nona Arumi, karena setiap jengkal langkah Anda itu dalam pengawasan orang-orang suruhan saya."
Ya Tuhan, apa katanya tadi? Setiap jengkal langkahku?– Arum menatap ngeri pria yang sedang melirik ke arah jam tangannya.
"Hari ini adalah jadwal Anda untuk ikut saya ke suatu tempat. Demi membicarakan perihal profil Nona Alicia. Sebelum tiba masa pernikahan Anda dengan Tuan Arga," ujar Pria yang usianya sudah masuk angka tiga puluh tiga tahunan itu.
"Profil? Pernikahan?" Arum meremas kepalanya, –apa mereka sebenarnya orang tidak waras atau apa sih?
"Iya, ada banyak hal yang harus Anda pelajari. Termasuk perubahan yang ada pada tubuh Anda."
Greeep...! Arum menutupi bagian dadanya dengan kedua tangan menyilang.
"Perubahan tubuh? Ma–maksudnya apa?"
"Hanya sedikit, bagian rambut, juga penampilan. Kami perlu merubah Anda agar lebih terlihat seperti Nona Alicia."
Arum merasa konyol. Menggaruk kasar kepalanya yang tak gatal sembari mengedarkan pandangan ke segala penjuru mencari-cari orang berpakaian rapi seperti pria dihadapannya.
Sepertinya tidak ada ajudan yang lain, apakah sebaiknya aku melarikan diri saja? Karena bisa jadi mereka ini semuanya termasuk sindikat jual beli organ. Yang pura-pura menikahi seorang gadis padahal niatnya untuk di bunuh.
__ADS_1
"Sebaiknya Anda tidak perlu berpikir untuk melarikan diri, karena hal itu akan membuang-buang tenaga Anda sendiri, Nona."
Eh... Dia tahu aku punya pikiran untuk melarikan diri? Sepertinya mereka termasuk dalam sekte sesat yang bisa membaca pikiran orang lain. Aku harus hati-hati.
Berdeham sejenak, mencoba membusungkan dada sembari berkacak pinggang. Seolah-olah menunjukkan bahwa ia tidaklah takut dengan orang di depannya.
"Kalau saya menolak?"
"Anda tidak bisa menolak begitu saja. Tentunya Kita harus membicarakan ini dulu dari hati ke hati. Agar Anda bisa memikirkan ulang sebelum menolaknya dan tidak menyesal di kemudian hari."
"Menyesal?" Arum tertawa... Sekretaris Tomi melirik kearah kakinya yang gemetar, lalu mengulum bibirnya sendiri menahan tawa. "Maaf Tuan Sepertinya saya tidak akan menyesal. Lagipula saya tidak mungkin ikut Anda hari ini, saya sedang sibuk."
"Untuk hari ini Anda tidak perlu membuka toko. Saya yang akan mengganti uang hasil penjualan hari ini."
"Ahaaahaha... Maaf, Tuan. penghasilan harian toserba itu cukup tinggi. Jadi sangat rugi jika Anda mengeluarkan uang hanya untuk berbicara empat mata dengan saya. Permisi..." Buru-buru Arum meninggal Sekretaris Tomi. Saat itu pula satu orang mendekatinya.
Baiklah, ambil jalan kanan saja tempat ini kan luas... Hendaknya belok ke kanan ia sudah menemukan pria ber-jas yang lain. Hehehe, tidak apa masih ada jalan kiri. Arum memutar tubuhnya belok ke kiri. Cengok! Langkahnya terhenti seketika.
"Hiks... kenapa dimana-mana ada orang ber-jas hitam, sih?" Arum merengek frustasi ketika tak mendapati jalan untuknya melarikan diri.
"Sebutkan saja berapa penghasilan harian toko itu yang tertinggi. Saya akan membayarnya lima kali lipat lebih tinggi," ucapnya sembari menunjuk seorang ajudan yang sudah membuka koper berisi tumpukan uang.
Glekkk... Arum menelan saliva-nya.
"Tu– tutup saja koper itu. Saya tidak membutuhkannya."
"Anda yakin?"
Arum mengangguk mantap. Ia hanya tidak ingin terlibat masalah di kemudian hari hanya karena nominal uang yang tak seberapa.
"Maaf, saya tidak bisa menuruti keinginan Tuan Anda itu. Bagi saya itu sangat konyol. Jadi, simpanlah itu, dan lebih baik izinkan saya pergi..." Arum memohon. Sekretaris Tomi pun memahami, ia memerintahkan ajudannya untuk menutup koper uang tersebut. Hal itu pulalah yang membuat Arum menghela nafas lega.
"Baiklah, Saya memang tidak akan memaksa, Anda. Namun, akan tetap memberikan waktu untuk Anda berpikir ulang yang barangkali akan berubah pikiran."
"Saya tidak akan berubah pikiran."
"Baiklah kalau begitu. Saya permisi, Nona." Pria itu berjalan meninggalkan Arum, yang di susul orang-orang suruhannya di belakang.
Setelah pria itu sudah cukup jauh, Arum menghembuskan nafasnya pelan. Merasa semuanya akan baik-baik saja.
Tak lama, beberapa orang sembari membawa cangkul dan perlengkapan lain memasuki area pemakaman. Awalnya Arum biasa saja, namun saat orang-orang itu mendekat ke pusara sang ibu, Arum baru bereaksi.
__ADS_1
"Anu– maaf. Bapak-bapak mau apa?"
"Kami harus membongkar makam ini, Mbak."
"Loh? Kenapa? Kenapa makam ibu saya di bongkar?"
"Karena kami harus memakamkan jenazah orang lain di sini..." jawabnya, ia pun memberi instruksi yang lain untuk mulai bekerja.
"Tu–tunggu pak. Bagaimana bisa di bongkar. Mama Linda kan selalu membayar sewanya. Anda jangan seenaknya main bongkar."
"Mbak! Kami tidak asal bongkar. Ini sudah lewat dari satu Tahun Ibu Linda tidak membayar perpanjangan sewa tanah makamnya."
"Apa, tapi itu tidak mungkin. Mama Linda bilang dia selalu bayar rutin."
pria bertubuh tambun itu mengeluarkan sebuah kertas dari dalam sakunya sebelum menyerahkan itu pada Arumi. Tertegun ia membacanya. Merasa di bohongi oleh wanita paruh baya itu.
"Itu adalah surat perintahnya. Jadi sebelum kami membongkar makam ini, tentunya kami harus bicara dulu pada pihak keluarga. Dan saat berbincang, Ibu Linda bilang sudah tidak sanggup membayar sewa tanah untuk dua makam ini. Jadilah karena saat ini ada yang harus kami kuburkan makanya makam ini kami bongkar untuk di timbun dengan jenazah baru."
"Ya Tuhan, Mama kenapa tega sekali padaku." Setitik air mata terjatuh dari salah satu sudut matanya.
"Permisi, Mbak. Kami harus bekerja," ucapnya. Arum pun buru-buru menahan lengan pria itu.
"Bapak, saya mohon. Jangan bongkar makam kedua orang tua saya. Saya yang akan melunasinya."
"Wah, kalau itu Mbaknya harus berunding dengan pihak terkait. Kami hanya pekerja."
"Tolong lah Pak, saya memang akan mendatangi kantornya. Tapi makam ini jangan dulu di bongkar. Saya mohon dengan sangat, berbaik hatilah untuk saya... " Arum memohon, pria bertopi itu pun menghela nafas. Ia menoleh kebelakang.
"Juned!" Serunya pada pria kurus yang sedang duduk di tepi makam.
"Ya, Bang?"
"Ada makam lain yang selain ini, tidak?" Tanyanya, Arum yang mendengar itu seketika merasakan kelegaan.
"Ada, Bang! Blok yang sebelah kiri sana, rada di ujung," jawabnya. Pria itu pun tersenyum lalu menoleh lagi ke arah Arumi.
"Ini karena saya punya anak perempuan seusia mu. Jadi saya kasih kesempatan sampai satu bulan. Tidak akan saya sentuh kedua makam ini. Tapi janji, ya? Tak lebih dari satu bulan itu."
Arumi mengangguk-angguk sembari mengucapakan Terima kasih berkali-kali pada bapak bertubuh tambun di hadapannya.
"Semoga kebaikan bapak di balas oleh Tuhan, dengan hal baik juga."
__ADS_1
Pria itu terkekeh. "Aamiin... sudah sana. Secepatnya urus ke kelurahan."
"Iya Pak, terima kasih sekali lagi. Saya pergi dulu." Arum mengangguk sekali pada semua petugas makam yang di sana lalu berjalan cepat menjauh dari mereka.