
Sudah lewat dari jam sepuluh malam Arga dan Arum baru kembali ke rumah. Kakek nampak berdiri di depan pintu bersebelahan dengan Pak Ragil. Muka masamnya di jadikan sambutan oleh beliau yang sudah menunggu kedatangan mereka sejak beberapa jam yang lalu.
"Kalian dari mana?!" Tanyanya penuh selidik.
"Kami hanya habis dari suatu tempat."
"Apa kalian lebih mementingkan kesenangan kalian sendiri tanpa memperhatikan calon cucuk buyutku?"
Eh? Arum menoleh ke arah Sang suami yang terkesan biasa saja mendengarkan ocehan kakeknya hingga selesai, tanpa sedikitpun bantahan. Padahal kakek terlihat marah sekali dengan ucapannya yang menggebu-gebu bahkan sampai menunjuk-nunjuk cucuk-nya dengan tongkat di tangan.
Suamiku benar-benar pria berbakti rupanya. Dia benar-benar menghormati Kakeknya sampai seperti ini.
Tanpa sadar Arumi tersenyum bangga pada suaminya yang hanya bisa menunduk saat sedang di nasehati.
"Hei, kau!" Kakek berganti menunjuk Arumi. Wanita itu kontan membeku. "Ada hal lucu apa, hingga kau senyum-senyum seperti itu? Kau pikir Kakek ini sedang melakukan aksi stand up komedi?"
"A–anu tidak Kek. Aku hanya senyum biasa, tidak ada maksud apapun." Arumi menunduk kemudian.
Pria sepuh itu lantas menghela nafas, setelah puas berbicara.
"Suruh istri-mu ke kamar. Dan susul aku ke ruang kerja."
"Adakah yang ingin Kakek bicarakan?"
"Hemmm..." jawabnya sebelum berlalu. Arum dan Arga saling tatap untuk beberapa saat tidak mengerti.
"Kau kembalilah dulu ke kamar. Aku harus bicara Kakek."
"Ya, Sayang." Arumi mencium pipi suaminya setelah mendapat isyarat dengan jari telunjuk. Wanita itu pula langsung berlalu.
"Maaf, Tuan. Apakah Anda mau di bawakan minum?"
"Tidak usah." Melangkahkan kaki sembari menepuk-nepuk bahu dua kali.
–––
__ADS_1
Di ruangan kerja...
Kakek duduk di kursi utama. Sembari mengusap-usap pangkal tongkatnya. Pintu di buka, Arga masuk dengan santai dan duduk di hadapannya.
"Apa yang ingin Kakek bicarakan?"
"Arsene Narendra, baru saja menghubungi ku. Dia bilang ingin melanjutkan investasinya yang sempat di batalkan itu."
Bibir Arga tersungging tipis. "Iya kah, Berapa?"
"Satu triliun..."
"Wah beliau bahkan menaikkan dua kali lipat?" Bergumam. Nampak Arga semakin berbinar saat mendengarnya.
"Manusia bandit yang selalu terlihat ramah itu sejatinya tidak pernah se-royal ini untuk Andara Group. Dia bahkan sering sekali menolak kerjasama dengan kita demi ambisinya yang menginginkan G-Star group berada di level teratas dalam group company. Tapi, yah... akhirnya dia mengakui kerjamu benar-benar bagus," puji kakek sembari menyandarkan punggungnya. Arga sendiri hanya tersenyum. Mengusap sisi samping rambutnya, bangga. "Ah, tidak! Lebih tepatnya Sekretaris Tomi...!"
"Eh..." Mengendurkan otot-otot di bibirnya yang sejak tadi tengah senyum-senyum sendiri. "Kenapa jadi Tomi?"
"Kau pikir aku tidak tahu? Ketika kau lebih banyak keluar akhir-akhir ini. Meninggalkan ruang rapat secara tiba-tiba, terkadang membatalkan janji dengan investor!"
"Kau mulai seenaknya sendiri. Apa perlu jabatanmu di turunkan lalu ku ganti dengan Sekretaris Tomi?"
"Cih..." Mengusap-usap kepala.
"Cobalah untuk profesional saat bekerja. Jangan jadi gila saat berurusan dengan wanita."
"Dia istriku, Kek," gerutunya lirih.
"Istrimu? Lantas kenapa kau sempat mengusirnya dari rumah ini?"
Arga membulatkan bola matanya. Dari mana Kakek tahu? Apa Pak Ragil yang memberitahukan? Atau jangan-jangan si Tomi?
Berpikir cukup keras, namun selain itu kaki tangan kakeknya pun tidak bisa di remehkan. Ah, benar...
"Dasar pria bodoh, bisa-bisanya tidak mengakui anak sendiri. Otak mu sebenarnya terbuat dari apa. Apakah sama sekali tak memiliki lipatan? Memalukan!"
__ADS_1
Kakek sampai tahu hal ini? Jangan-jangan masalah kontrak juga. Habislah sudah...
"Aku bukan tidak mengakui anak yang di kandung Arumi. Hanya saja?"
"Apa, kau mau aku berbicara juga tentang surat kontrak kekanak-kanakan itu?!"
Kan, apa ku kata? Pria dihadapan komisaris Arman hanya menunduk pasrah saat tangan renta itu menunjuk-nunjuk wajahnya.
"Aku sudah curiga saat kau membawanya kemari dengan penampilan seperti Alicia. Aku tidak yakin jika kau menikahinya karena cinta. Rupanya kau peralatan dia selama ini?"
"Tidak seperti itu tujuanku?"
"Tidak seperti itu, lalu apa kau bisa menjelaskannya?"
Arga menggaruk kepalanya yang tak gatal. Seolah keringat dingin mulai terasa keluar di kepalanya. Sebab bingung untuk mulai bercerita dari mana?
"Sudahlah, toh aku telah mengakui kesalah itu. Tapi semua sudah berakhir, Kek. Hubunganku dan Arum pun sudah baik-baik saja. Kami sudah mengakui semuanya. Kita saling cinta sekarang."
"Saling cinta? Konyol sekali." Mencibir.
Arga menghela nafas. "Terserah saja. Intinya aku dan Arum sudah berdamai."
"Cih... untungnya, aku bukan Nessie yang sudah pasti akan mencecar dan menghujanimu dengan pukulan. Beruntungnya ibumu itu tidak tahu. Lagi pun, percuma juga membicarakan perkara yang sudah selesai ini. Sekarang, aku hanya ingin kau menebus kesalahanmu dengan memperlakukan wanita itu dan bayi yang ada dikandungnya dengan baik. Kau mengerti?!"
"Ya, Kek."
"Satu lagi. Jika aku mengetahui fakta pekerjaan mu kembali tidak baik. Maka ku turunkan jabatanmu itu."
Arga menghela nafas pasrah sebelum mengangguk.
"Keluar sana!"
"Iya, kek." Beranjak dari duduknya, memberi salam dan keluar.
Di depan pintu pria itu mendengus sebal. Untung saja kakek tidak menghukumnya. Namun, yang di katakan kakek ada benarnya. Apa yang dia lakukan sudah salah sejak awal ditambah kebodohan Dia yang tidak seharusnya menelan mentah-mentah fitnah yang di tunjukkan untuk Arumi. Tapi, mau bagaimana lagi. Yang terpenting keadaan sudah baik-baik saja.
__ADS_1
Tentunya menunaikan janji pada sang istri akan lebih mudah. Lebih-lebih istrinya bukan tipe ibu hamil yang terkesan menyebalkan seperti kebanyakan para calon ibu muda.