
Di tempat lain, Rayyan berdiri di tengah-tengah lapangan basket. Ia sengaja mendatangi gelanggang olahraga dekat SLTAnya dulu, sendirian hanya untuk membuang suntuk.
Setelah mendapatkan izin masuk dari penjaga tempat tersebut, ia justru menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain di sana.
Sejak pertemuan terakhir, hingga saat ini. Bayang-bayang Arumi tidak bisa hilang dalam pikirannya. Belum lagi kala wanita itu kedapatan menangis di depan lobby gedung simfoni. Seolah membuatnya yakin, jika Arumi tidak bahagia dengan pernikahannya.
Nafas Rayyan terdengar naik-turun, tatapan lurus tertuju pada ring. Pria itu mengambil ancang-ancang, membidik arah bola sebelum melakukan shooting langsung dari arah yang lumayan jauh bersamaan mengambil lompatan yang cukup tinggi.
Praaaaaakkk... bola mengenai papan ring dan mental jauh dari lubangnya.
"Aaaaarrhhh....!!!" Pria itu mengerang geram. Pasalnya, sudah berjam-jam ia mencoba untuk memasukkan bola ke dalam ring, namun tak pernah berhasil. Padahal, dulu mudah saja ia melakukan itu. Kenapa sekarang begitu sulit?
Rayyan mencobanya sekali lagi, dengan jarak yang jauh lebih dekat lagi. Mengambil ancang-ancang sebelum melompat.
"Sudah hentikan!" Seru seorang pria paruh baya. Membuat Rayyan menghentikan aksinya, menoleh kearah pintu yang terbuka lebar. "Kau tidak akan bisa memasukkan bola kedalam ring, jika kau melakukan itu dengan keadaan marah!"
Rayyan menurunkan bola yang sedari tadi terangkat tinggi.
"Ambil, dan minumlah..." pria berkaos oblong dengan celana scurity itu menyodorkan sebotol Air mineral padanya.
"Terima kasih, Paman," balasnya sembari menerima itu dan membuka penutupnya. Sedari tadi bermain, ia baru merasakan kelelahan. Lantas memilih untuk langsung duduk di tengah-tengah lapangan basket tersebut.
"Aku yakin, kau kesini pasti karena ada masalah?" Tanya pria paruh baya itu, turut duduk di hadapan Rayyan.
Rayyan tersenyum, saat selesai menengguk airnya hingga tersisa separuh.
"Apa kau sedang memikirkan seorang wanita?"
"Aku ingin berbohong, lantas menjawab tidak. Tapi aku tahu, Paman tidak akan bisa di bohongi..." jawab Rayyan. Pria di depannya pun terkekeh.
"Wanita yang sama?" tebaknya lagi. Rayyan pun kembali mengangguk.
"Tidak ada wanita lain lagi yang bisa membuat ku kepikiran sampai seperti ini."
"Hahahaha... gadis manis itu sangat beruntung. Namun sebaliknya, kau yang tidak beruntung."
Rayyan tertawa tanpa suara. Membenarkan ucapan seorang bapak yang kita sebut saja Pak Yono.
"Hei, dengar, nih!" Pak Yono menepuk bahu pemuda di depannya. "Waktu muda, aku tidak sebodoh dirimu."
"Aku bodoh?"
"Tentu saja! Apa kau tidak sayang dengan wajah tampan-mu itu?" tanya Beliau. Membuat alis Rayyan terangkat separuhnya. "Aku saja yang punya tampang pas-pasan, bisa memiliki kekasih lebih dari tiga."
"Masa?" tanyanya penasaran.
__ADS_1
"Benar! Setiap akhir pekan, aku berkencan dengan wanita yang berbeda-beda. Sayangnya saat itu aku apes. Bertemu tiga kekasih ku yang lain, saat sedang kencan dengan salah satunya."
"Kok, bisa?" Rayyan nampak tertarik mendengar cerita Beliau.
"Tentu saja, karena mereka berempat berteman akrab. Jadi aku tidak tahu jika mereka tengah menjebakku. Hahaha..." tubuh tambun itu berguncang akibat tertawa. Rayyan pun geleng-geleng kepala.
"Selagi nama belum tertulis dalam catatan sipil pernikahan? Kita itu masih bukan haknya gadis manapun. Berbeda ketika kita sudah berumahtangga. Cukuplah satu wanita yang menjadi ratu dalam rumah kita..."
"Itu benar! Namun maaf, Paman... aku tidak pro dengan yang pertama."
"Makanya aku bilang kau bodoh!" Keduanya tertawa riang. Rayyan tak menanggapi serius, karena bercandanya Pak Yono memang seperti itu. Mereka pun menengguk minum di botol masing-masing hampir bersamaan.
Rayyan yang selesai lebih dulu terdiam. Kedua tangannya menggenggam botol plastik tersebut.
"Paman, aku ingin bertanya?"
"Tanya apa?"
"Maaf, tapi ini agak sensitif..."
"Tidak apa, ayo katakan. Kau mau tanya apa?"
"Emmm ... apa istri paman pernah menangis sendirian, selama menikah dengan paman?"
Pak Yono tertegun sejenak. "Maksudnya bagaimana?"
Pak Yono manggut-manggut. "Ya seharusnya memang seperti itu."
"Benarkan?" Menyela.
"Hei, tunggu dulu. Kau juga harus tahu, yang namanya pernikahan itu pasti akan ada masalah. Dan jika wanita yang sudah bersuami itu menangis bisa jadi Dia sedang ada masalah dengan pasangannya. Tapi itu hal wajar..."
"Begitu, ya?" gumamnya.
"Iya begitu kurang lebihnya."
"Tapi kalau aku yang jadi suaminya, sudah pasti tak akan ku biarkan dia menangis seperti itu. Bahkan aku melihatnya seperti tertekan... ku yakin itu bukan masalah biasa, sih." Rayyan bergumam lirih dengan pandangan lurus mengarah ke ubin keramik.
"Apa yang kau maksud, Arumi?"
"Iya... eh, tidak! Bukan-bukan!" gelagapan. Pak Yono tertawa lagi menepuk-nepuk bahu Rayyan.
"Bertahun-tahun kau masih menyukai orang yang sama? Bahkan hingga wanita itu berkeluarga? Astaga ... seharusnya kau bisa ikhlas, Nak Rayyan."
"Aku sudah berusaha. Tapi dalam satu tahun ini, aku agak sering bertemu Dia lagi. Lebih-lebih tadi?"
__ADS_1
"Tadi? Kau bertemu Arumi?" tanyanya. Rayyan mengangguk. "Dimana?"
"Di hotel... sudahlah. Terlalu panjang ceritanya."
"Tunggu-tunggu. Itu?" Pak Yono menunjuk ujung bibirnya yang sedikit memar. "Ku pikir salah lihat, itu benar-benar memar?"
"Hanya sedikit. Tidak masalah, Pak."
"Tapi bukan karena suaminya, kan?"
"Tidak, Kok."
"Syukurlah, soalnya Kau bilang bertemu di hotel jadi aku pikir?"
"Saya tidak sekotor itu, sengaja bertemu istri orang di hotel. Kami hanya di pertemukan dalam situasi tak terduga. Sudah intinya seperti itu."
"Oooo..." Manggut-manggut.
"Aku bersungguh-sungguh, Paman!"
"Iya-iya, aku sangat percaya padamu..." terkekeh. Rayyan menghela nafas. "Sudahlah, lebih baik kau lupakan ini. Karena mau dipikirkan seperti apapun, wanita itu sudah ada pemiliknya yang sah. Sebaiknya Kau fokus pada skripsimu, dan lulus lah dengan baik."
"Harapanku seperti itu, setelah merasakan magang. Jadi tidak sabar untuk benar-benar menjadi karyawan..."
"Paman doakan Kau sukses, Nak Rayyan."
"Aamiin..." jawabnya sembari mengulas senyum.
***
Kembali ke rumah utama...
Arum tengah menggunakan pakaiannya. Setelah selesai melakukan kewajiban dirinya sebagai seorang istri. Arga pula sama memakai kembali jubah piyamanya.
Di ruangan itu, memang terdapat satu ranjang yang tak begitu besar. Biasanya di gunakan Arga untuk tidur ketika tubuh terlalu lelah untuk naik ke kamarnya.
"Kembalilah ke atas..." titahnya sembari mengikat tali di pinggangnya sendiri.
"Lalu, Anda?"
Arga terdiam, ia memilih untuk meninggalkan Arumi, berjalan menuju tandas lalu menutup pintunya rapat.
Braaakk...!
Arum tertegun memandangi pintu yang tertutup itu. Rupanya ia masih sama. Setiap kali habis berhubungan, Arga seperti pria yang menyesal karena melakukan itu dengannya.
__ADS_1
Tidak apa, tadi saja Dia sudah tak menyebutkan Nama Nona Alicia sepanjang waktu bercinta itu berlangsung. Dan seperti biasa, aku harus membiarkannya sendiri hingga esok pagi. Semoga di hari selanjutnya. Kau bisa mengucapkan terima kasih padaku yang sudah melayanimu di atas ranjang, Tuan.
Arum menghela nafas, menahan mata itu agar tak menjatuhkan kristal beningnya. Sebelum memutar tubuhnya berjalan menuju pintu dan keluar.