Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
keputusan sepihak


__ADS_3

Beberapa jam kemudian...


Arumi sedang duduk di ruang tengah. Ia berniat untuk menunggu suaminya. Walaupun kantuk sudah datang menyerang.


Dilihat waktu sudah memasuki pukul 00:18.


"Nona, Tuan Muda sudah kembali..." Seorang pelayan wanita memberi tahu. Bibir manis Arum seketika merekah, buru-buru ia beranjak dan berjalan cepat keluar.


Sementara itu, di depan. Arumi melihat Arga membawa seorang wanita dengan penampilan yang seksi namun tetap berkelas.


"Su–suamiku?" gumamnya, yang seketika mematung di balik pintu yang terbuka.


Hatinya yang semula ingin memintanya berdamai, seketika merasa seperti di remas-remas. Melihat sang suami merangkul wanita seksi itu dengan santainya berjalan melewati Arumi.


Ia bahkan tak sama sekali menegur atau bahkan hanya sekedar melirik saja.


Kenapa dia seperti ini?


Arum tak habis pikir, ia pun menoleh kebelakang lalu mengejarnya.


"Sayang! Kita harus bicara?"


"Enyalah, jangan ganggu kami." Arga menepis tangan Arum yang tengah berusaha meraih pergelangan tangannya itu.


"Suamiku! Aku benar-benar ingin mengakui sesuatu. Ayo kita bicarakan ini di dalam kamar, setelah itu terserah. Kau mau melakukan apapun terhadapku."


Arga masih belum melepaskan tangan yang sejak tadi merangkul mesra wanita di sisinya. Mata emerald itu pula terarah tajam pada Arumi, penuh intimidasi. Bibirnya tersungging separuh.


Mungkinkah kau ingin mengakui perselingkuhanmu itu?


"Baiklah!" Pria itu seketika melepaskan wanita seksi tadi, dan meraih pergelangan tangan Arumi menarik kasar dengan langkah panjangnya itu masuk ke dalam rumah.


Tomi yang masih di sana pun geleng-geleng kepala. Belum lagi tatapan Pak Ragil dan dua orang pelayan lainnya yang sedang curi-curi pandang walau dalam kondisi membungkuk.


"Apa yang kalian lakukan, pergilah dan selesaikan pekerjaan kalian!" Halau Tomi pada dua pelayan wanita tadi. Mereka pun buru-buru mengangguk sebelum pergi.


Langkah panjang sekretaris Tomi kini terdengar. Ia memberikan amplop berisi uang kepada wanita seksi tadi.


"Ini bayaranmu. Sekarang pergilah, sopir akan mengantarkan hingga ke tempatmu."


Cih! Sayang sekali, ku pikir malam ini akan menjadi hal paling bersejarah ketika kulitku bersentuhan dengan kulit pria itu.


Wanita dengan senyum genit di depan Tomi mengangguk. Walaupun sejatinya amat kecewa ketika tubuhnya tidak jadi di pakai oleh Presdir tampan yang menjadi idaman banyak wanita, setidaknya bayaran yang di terima berkali-kali lipat dari pemasukannya selama satu bulan.


Padahal, kalaupun tidak di bayar, mungkin ia akan dengan sukarela memberikan satu malamnya pada laki-laki yang memiliki aroma khas, dan benar-benar membuat dia betah ada di dekatnya seperti tadi.


"Kau bisa tutup mulut untuk semua hal yang kau lihat ini, 'kan?" Sambung sekretaris Tomi.

__ADS_1


"Iya, Tuan." Wanita itu menyayangkan namun jika tidak menuruti maka habislah dia.


"Sekarang pergilah!" Pintanya lagi, wanita itu pun melenggang pergi. Masuk kedalam mobil lain yang sudah di siapkan.


"Haaaaah... benar-benar mengesalkan!" gerutunya lirih. Pak Ragil pun mendekat.


"Anda mau saya siapkan sesuatu, Sekretaris Tomi?"


"Boleh, buatkan saya sesuatu yang hangat. Saya belum makan sejak siang tadi."


"Baik akan saya siapkan."


Tomi mengangguk, bersamaan dengan Pak Ragil yang buru-buru melangkah masuk ke dalam.


aku ingin menunggu sebentar. Memantau situasinya, mudah-mudahan saja Tuan Muda tidak bertindak bodoh selama berbicara dengan Nona Arumi.


Drrrrrrttt... drrrrrrttt...


Tomi mengeluarkan ponsel yang bergetar dari dalam kantong jas-nya. Sebuah panggilan telepon dari seseorang.


Nampak bergeming sejenak setelah menyapa di awal, dan lebih banyak mendengarkan. Setelahnya tanpa menunggu apapun, ia langsung pergi dari rumah utama ke suatu tempat.


***


Arumi dan Arga duduk di kursi panjang, wanita itu terdiam untuk sesaat. Bingung ingin memulai dari mana.


Wanita yang masih berusaha menekan air mata agar tak keluar itu mengangkat wajahnya.


Arum menelan saliva. "Selama dua hari ini, kau benar-benar membuatku bingung dengan sikapmu yang mendadak berubah."


Arga mengangkat satu alisnya. mendengarkan ucapan lirih yang di utarakan istrinya itu.


"Jujur aku sendiri benar-benar tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi padamu."


"kau yakin tidak menyadari, apa yang tengah terjadi?" tegasnya bertanya. Wanita itu pun menggeleng. "Yakinkah kau tidak tahu apa-apa?!"


"A–aku. Aku benar-benar tidak tahu, ada apa dengan dirimu. Tiba-tiba kau mendiami aku tanpa alasan. Kau bahkan tidak mau tidur satu kamar denganku lagi." Arum masih berusaha menahan air matanya walaupun sudah mulai berkaca-kaca. "Aku ingin meminta maaf, jika memang ada satu kesalahan yang membuatmu marah." Arum meraih tangan Arga menggenggam erat, lantas menciumnya.


Tentu perbuatannya itu membuat Arga berpaling muka.


"Aku ingin kau tahu satu hal, jika saat ini aku tengah mengandung..." jawabnya lirih. "aku butuh kasih sayangmu, untuk membuat suasana hatiku selalu baik, sayang."


Arum memindahkan tangan Arga ke perutnya. Yang secepat itu di tarik Arga. Arumi tersentak, ia tak menyangka dengan respon yang di terimanya.


"Anda tak terlihat bahagia? Atau sebenarnya sudah mengetahui kehamilanku, ini?" tanya Arumi hati-hati.


Menjadi berbicara formal dengan suaminya lagi, kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan.

__ADS_1


Arga tak menjawab selain bangkit dari posisi duduknya. Berjalan menuju salah satu meja panjang yang terdapat banyak laci di sisi depan, menarik salah satunya untuk mengambil map berwarna merah.


Kontan, mata Arumi melebar. Seketika kristal bening semakin tertampung di pelupuk matanya. Surat kontrak itu, masih ada?


Praaaaaakkk... Arga melemparkan itu di sisi Arumi.


"Kontrakmu selesai... mulai malam ini juga!"


"A–apa?"


"Sesuai perjanjiannya. Kau akan menerima apapun ketika hakim pengadilan negeri mengesahkan perpisahan kita."


Deg!


Bulir bening itu pun luruh juga, dan menetes. Tangan kanannya bergerak pelan, meraih map merah tersebut.


"An–Anda... Anda menceraikan ku?" Lirihnya terbata. "Ha–hanya karena aku mengandung, seorang a–anak?" serak dan hampir tak terdengar.


Arga yang geram menghela nafas kasar. Laki-laki itu tak sama sekali menatap wajah Arumi saat ini. Ia justru berdiri memunggunginya.


"Suamiku–" Arum bangkit ia meraih tangan suaminya. Tubuhnya merosot turun memeluk salah satu kakinya. "Aku minta maaf karena tidak jujur sejak awal padamu. Namun–"


"Pergi...! Keluar dari kamar ku. Aku tidak mau mendengarkan apapun darimu."


"Sayang?" Arum masih berusaha keras mempertahankan semuanya. Ia tidak ingin anaknya terlahir tanpa Ayah.


"Ku bilang keluarlah...!"


Arumi kehabisan kata-kata. Lidahnya kelu, kerongkongannya tercekat sesuatu yang membuat dia tak bisa bersuara lagi selain menangis.


hanya segitukah cintamu Tuan Muda? kau benar-benar menceraikan ku hanya karena aku hamil anakmu sendiri?


Pelan-pelan, ke-dua tangan Arum melonggar. Bangkit dengan hati-hati sembari mengusap perutnya.


Rasa kecewa yang teramat dan perasaan tidak menyangka, suaminya akan langsung menceraikannya ketika tahu dirinya tengah mengandung. Seperti seorang petani yang tak peduli dengan lahan yang sudah ia taburi benih.


Arum bergegas keluar dari kamar itu, tanpa kembali berusaha untuk membujuknya. Ia menyadari satu hal, jika Arga hanya ingin bersenang-senang saja. Tanpa mau terbebani.


Klaaap... terdengar suara pintu yang tertutup. Arga langsung menendang meja bundar di depannya hingga terbalik dan pecah bagian kacanya.


"BRNGSEEEEKKK!!!" teriaknya meluapkan emosi. Ia pun berjalan mendekati dinding kaca. BRAAAAAAAAAAAKKKK! Tangannya yang terkepal menghantam dinding kaca tersebut hingga mengeluarkan suara dentuman yang keras.


Pelan-pelan membenturkan keningnya beberapa kali. Menangis terisak-isak sendirian di kamarnya.


"Tega sekali kau Arumi...! teganya kau melakukan ini padaku yang sudah berusaha keras memberikan kebahagiaan untukmu!"


Berbeda dengan Arga di dalam, Arum sendiri masih berdiri di depan pintu sesenggukan dengan tangan membungkam kuat mulutnya dengan satu tangan. Sementara tangannya yang lain meremas kuat pakaian di bagian perut.

__ADS_1


__ADS_2