
Di tempat lain...
Meeting tahunan di kantor pusat memang sering menjadi momok menakutkan bagi para petinggi di perusahaan manapun.
Para petinggi dan jajarannya telah duduk di kursinya masing-masing. Menyampaikan laporan target mereka di hadapan Presiden Direktur dan sekertarisnya.
Ada beberapa yang belum memenuhi target sehingga membuatnya menjadi tegang bak terjerat rantai kuat di lehernya.
Teguran keras mendarat pada mereka-mereka yang tak berkompeten. Walaupun Arga tak banyak bicara, namun cukup Sekretaris Tomi saja yang membuka mulut sudah membuat mereka paham situasinya.
Ada yang mendapatkan skorsing, ada pula yang mendapatkan bonus. Namun terlepas dari itu semuanya, Arga tetap menghargai ginerja mereka semua, yang sudah berusaha dalam memenuhi target yang di minta Andara Group.
***
Selesai rapat. Arga dan Tomi masuk ke dalam ruangannya, pria di belakang belum memberikan kabar pingsannya Arum.
Dalam keterlambatan ini mungkin akan membuatnya terkena hantaman, tapi lebih baik telat dari pada tidak sama sekali.
Ia pikir akan bicara nanti di dalam, toh Nona Arum sudah baik-baik saja begitu pikirnya sembari membuka pintu ruangan Presdir.
Ketika pintu di buka, Arga langsung masuk dan berjalan lebih dulu menghampiri kursinya.
"Aku sedikit kecewa dengan tiga CEO tadi. Tapi, sudahlah. Toh, siapa yang bisa menentang alam. Akhir-akhir ini memang sedang musim hujan. Bencana alam tidaklah bisa di hindari," gumamnya sembari merebahkan tubuh di atas kursinya.
"Tuan, maaf ada yang ingin saya sampaikan. Dan ini di luar pekerjaan." Laki-laki itu berdiri dengan posisi tangan bersidakap di bawah.
"Apa?" Arga meraih gelas berisi air putih.
"Soal, Nona Arumi."
"Emmm–" pria itu menengguk airnya sejenak. "Kenapa? Ada masalah? Apa Dia kabur lagi dari bodyguardnya?" Arga tertawa sembari meletakkan gelasnya.
"Bukan itu. Namun, pagi tadi Nona Arumi jatuh pingsan."
Deg!
Arga yang sedang menyandarkan bahunya itu langsung bangkit dan meredupkan senyumnya dengan segera.
"Apa katamu? Arum pingsan sejak pagi? Dan kau baru mengabarkan itu sekarang?"
BRAAAAAAAAAAAKKKK!! Pria itu beranjak dan menggebrak mejanya hingga beberapa yang ada di atasnya sedikit berjatuhan.
"Maaf, tadi itu benar-benar?"
__ADS_1
"Apa?!" Arga langsung mendekati Sekertaris Tomi dan mendorong kedua bahu pria itu. "Apa aku menggaji-mu hanya untuk menunda kabar penting seperti ini?"
"Sungguh maafkan saya, Tuan. Pak Ragil juga bilang, kondisi Nona Arumi baik-baik saja. Kata dokter yang memeriksa, Nona hanya mengalami anemia akibat kelelahan."
Tak ingin banyak bicara, Arga langsung melenggang pergi dari sana. Meninggalkan sekretaris Tomi yang lantas mengejarnya, turut melangkah di belakang.
Namun baru saja keluar dari pintu itu, ia sudah berhadapan dengan Veronica. Tentunya hal itu membuat Tomi mendadak kesal, karena kehadiran Vero di situasi yang tengah tidak baik ini mungkin akan membuat Arga lebih berang daripada ini.
"Hallo, Kak Arga–" sapanya ceria seperti biasa.
"Ck!" Arga tak menanggapi dan langsung melewatinya. Vero pun tersenyum lantas mengejar pria itu.
"Kak, tunggu. Ada yang ingin ku sampaikan."
"Bisakah Anda untuk tidak mengganggu Tuan muda?" Sarkas Sekertaris Tomi yang sudah memasang badan lebih dulu.
"Menyingkir dari hadapanku." Wanita itu menabrak bahu sekretaris Tomi dan kembali menyusul Arga yang saat ini sedang menekan tombol lift di depannya.
"Kak, tunggulah. Aku ingin bicara..." Vero masih berusaha untuk menahannya walaupun Arga tetap tidak ingin mendengarkan. Yang ia pikirkan saat ini adalah pulang dan melihat kondisi sang istri.
Lift terbuka, Arga yang hendak masuk langsung di hadang Veronica. Gadis itu buru-buru berdiri menghalangi pintu.
"Minggir!" Sergah Arga pada gadis di depannya.
"Ck!!" Arga meraih tangan Vero, menariknya kasar lalu menyingkirkannya.
"Kyaaaaaa..." Gadis itu menjerit kecil, dan buru-buru kembali demi menahan pintu itu dengan kakinya agar tidak tertutup.
"Kakak harus dengarkan aku karena Ini soal kekakuan istrimu yang berselingkuh, hingga hamil...!!!"
Arga terdiam sejenak. Matanya membulat saat mendengar itu. Langkah kaki panjangnya pun bergerak maju mendekati Veronica yang justru mundur.
"Apa katamu, barusan?"
"Arum telah mengkhianatimu, Kak," jawabnya lirih.
"Berani sekali kau memfitnahnya?"
"A–aku, aku tidak memfitnahnya. I–ini sungguh-sungguh berita fakta. Aku hanya ingin membuka matamu. Jika Arumi, bukanlah wanita lugu seperti yang Kau kira selama ini." Vero masih memundurkan langkahnya karena tatapan tajam Arga membuatnya takut saat ini.
Greeeepp...
"Aaaaarrrghhh..." Kedua tangannya menahan lengan kekar Arga yang saat ini mencengkeram kuat bagian lehernya.
__ADS_1
"Katakan itu lagi. Apa gertakan ku waktu itu tidaklah bermakna ancaman bagimu hingga kau berani mengatakan hal ini?"
"Aaaarhh... de–dengarkan, aaa...aku. aku, pu–punya buktinya. Ka–kalau istrimu telah selingkuh, dengan laki-laki bernama Rayyan dan sekarang? Dia tengah mengandung, a–anak dari se–se–selingkuhannya itu."
Tangan Arga mengendur sedikit. Sementara tatapan tajam masih terarah kepada gadis di depannya.
"Istriku tidak mungkin hamil. Jika kau ingin mengarang cerita, kau datang pada orang yang salah!"
"Aku berani bersumpah! Istrimu sedang mengandung, bahkan usia kandungannya sudah memasuki angka delapan Minggu," sambungnya kemudian saat tangan Arga sudah terlepas dari lehernya.
Aku tidak menyangka dia bisa melakukan ini. Kak Arga benar-benar mengerikan. (Vero)
"Tuan, Anda jangan dulu percaya dengan wanita ini. Dia bisa saja membohongi Anda," bisik Sekretaris Tomi hingga Arga kembali menoleh ke arah gadis di depannya.
"Ku dengar, kakak melakukan program penunda kehamilan. Benar?" Tanya Vero.
"Nona! bisakah Anda tutup mulutmu itu! Apakah Anda benar-benar ingin berhadapan dengan saya?"
"Seharusnya kau yang diam sekretaris Tomi, aku sedang bicara fakta pada pria yang seharusnya kau lindungi dari wanita rubah seperti Arumi...!"
"Hentikan! Jangan kau hina lagi istriku, sialan!!" Arga mencengkeram kuat pakaian Vero.
"Seorang wanita sangat berkemungkinan untuk gagal, apabila KBnya tidak cocok. Silahkan cerna saja sendiri, apa maksud dari perkataanku ini."
Tatapan penuh selidik tertuju pada gadis itu dari Sekretaris Tomi. Pria itu sama sekali tidak percaya pada ucapannya. Dan ia pun harus benar-benar mencari tahu setelah ini.
"Kakak bisa geledah kamar kakak dan Arum, adakah obat yang di sembunyikannya? Karena jika Dia hamil anakmu, tidak mungkin wanita itu menyembunyikan kehamilannya!" Cecar Vero penuh ketegasan. Arga pun mematung.
"Tuan, tolong tenangkan diri Tuan, jangan dulu percaya omongannya. Biar saya mencari tahu kebenarannya lebih dulu." Tomi masih berusaha mendinginkan Tuannya yang sudah mulai termakan hasutan gadis di depannya.
"Apa kakak butuh bukti yang paling sederhana?" Potong Vero sembari mengulas senyum liciknya. Arga sendiri masih bergeming, seolah menunggu lanjutan dari pertanyaan itu dari bibir gadis itu.
"Kakak bisa tanyakan pada bodyguard yang menjaganya. Berapa kali dia memergoki mereka berduaan di gedung simfoni...? Dan yang ku dengar, wanita itu pernah menginap di rumah temannya 'kan? Kita tidak pernah tahu apa yang ia lakukan bersama laki-laki itu disana."
Arga langsung mengingat wajah pemuda yang ia lihat di depan rumah Denna waktu itu. Tangannya langsung melepaskan Vero lalu melenggang pergi begitu saja.
Ia tak mau menunggu lift yang tertutup itu dan memilih tangga darurat sebagai pilihannya untuk turun.
"Nona! Anda benar-benar ingin berhadapan dengan saya!"
"Aku tidak takut padamu sekretaris Tomi. Jika kau ingin mencari tahu kebenarannya, kenapa tidak bertanya pada orang-orang terdekatnya saja? Apakah pria itu memiliki hubungan dengan istri Kak Arga selama ini? Dan jika itu benar, apa kau masih bisa menudingku sebagai bakteri?"
Sekretaris Tomi tak menanggapi dengan ekspresi yang terpampang jelas, selain menunjukkan wajah datarnya itu.
__ADS_1
"Sebaliknya, kau lah yang akan tercengang karena bakteri yang sesungguhnya itu ada di rumah utama!" Gadis itu menepuk-nepuk bahu Sekretaris Tomi sebelum melenggang pergi.