
"Mama senang jalan-jalan setiap kali habis meeting. Dan ada salah satu toko yang menarik Mama untuk mampir. Yaitu toko perlengkapan bayi."
Arum tak menjawab apapun. Sorot matanya masih menjurus pada pakaian bayi yang menurutnya sangat bagus berada dalam genggamannya.
"Mungkin ini berlebihan. Tapi melihat semua yang ada di sana sangatlah lucu? Mama jadi ambil saja beberapa pasang. Berharap dengan adanya pakaian bayi. Mahluk mungil dan menggemaskan itu segera hadir meramaikan rumah ini..." terkekeh senang.
Arum tersenyum kecut. Tangannya meremas pakaian kecil itu pelan.
Bagaimana aku bisa menjelaskannya. Jika kami melakukan suntik penunda kehamilan selama ini. Dan lagi, Tuan Arga sudah mempertegas, bahwa tidak akan pernah ada bayi dalam pernikahan kami. Putra Anda sendiri yang tidak mau punya anak dariku, Ma.
"Tapi... jangan salah. Mama selama ini tahu, kalau kalian agak sering mendatangi dokter kandungan, benar begitu?"
"Emmm?" Arum membisu. Mama tahu jika kami di setiap tiga bulan sekali mendatangi dokter kandungan? Jangan-jangan?
"Kalian sedang program, 'kan? Iya, 'kan?" Tebaknya antusias.
"Ti... maksudnya, iya, Ma." Terpaksa Arumi menjawab itu.
"Kyaaaaaa..." Mama Nessie girang bukan kepalang. "Program apa yang kalian jalani? Dan kenapa sampai sekarang belum juga dikaruniai. Apa perlu kalian keluar Negeri saja?"
"Emmm, soal itu?"
"Baiklah, tidak usah di jawab. Akan mama tanyakan sendiri saja pada Ice Man, mama itu. Sekarang pergilah, pakai waktumu untuk memanjakan diri. Mama mau istirahat dulu, karena dua jam lagi mama harus pergi, menghadiri acara arisan dengan Nyonya-Nyonya kolega."
"Iya, Ma."
"Daaaa, Arumi. Have fun–"
"Daaa, Mama. Selamat beristirahat."
Mama Nessie beranjak dan melenggang pergi dengan dua pelayan yang sejak tadi menemani mereka.
Kini ruangan itu kembali sepi, Arum menghela nafas. Menjuruskan pandangannya pada semua oleh-oleh yang ada di depannya.
"Anak..." gumamnya lirih. Arum tersenyum tipis. Jika mengingat sikap manis suaminya tadi pagi, sepertinya Arga tidak akan menolak lagi. Lebih-lebih Mama Nessie akan membantunya bicara. Ya, semoga saja. Laki-laki bermata elang itu akan memberikan keputusan sesuai harapannya. Karena jika sudah seperti itu, maka perjanjian dalam kontrak itu akan terhapus sudah. Mereka akan benar-benar membina keluarga yang sesungguhnya.
🍂
🍂
🍂
__ADS_1
Langit sudah semakin menggelap, Arga dan Sekretarisnya kini dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi beberapa tempat.
Rasa letih yang teramat, terlihat jelas di wajahnya. Sembari memejamkan mata, pria itu menyandarkan kepala.
Memang, tidak ada pekerjaan yang nikmat jika di lakukan secara monoton. Ada kalanya dia bosan dan ingin berhenti saja. Namun, jika ia mengikuti egonya, apakah Andara Group akan baik-baik saja?
Belum lagi Kakek sudah sangat renta untuk kembali meng-hendle semua. Ya, pikiran bodoh yang sering kali melintas, bukan untuk ia tunaikan walau jiwa mudanya terkadang meronta-ronta, menginginkan kebebasan.
Pria itu mencoba untuk tidur sebentar dalam perjalanan pulangnya. Menikmati musik rileksasi yang di putar Sekretarisnya atas permintaan Beliau sendiri.
...
Dalam beberapa menit, selama Arga menikmati halusnya musik yang mengalun. Ia seperti merasakan tubuhnya melayang cukup jauh. Hingga kembali membuka mata di tengah-tengah sebuah ladang yang luas namun suasananya indah.
Netra emerald-nya menatap keseluruh penjuru. Sepanjang ia memandang, ada banyak bunga krisan berwarna putih. Yang terdapat pula ribuan jenis kupu-kupu berterbangan di sekitarnya dan beberapa hinggap dari satu bunga ke bunga lain.
Dalam mimpinya ia sendiri sedang bertanya-tanya, tempat apa ini. Langkahnya terus maju, mengikuti jalur jalan setapak dengan tangannya yang menyentuh satu persatu bunga di sampingnya.
Sejurus kemudian berhenti ketika mendapati seorang gadis berbusana putih di hadapannya dengan posisi membelakangi. Arga memandangi postur tubuhnya yang tinggi dan ramping, sempurna.
ia seperti mengenal sosoknya, gadis dengan rambut tergerai itu lantas memutar pelan tubuhnya ke belakang. Sembari tersenyum ceria bersama datangnya angin yang seketika berhembus di sekitar mereka, menyibak rambut yang berwarna pirang.
"Sayang, kau baru datang...? Aku sudah menantikan-mu," katanya dengan ekspresi wajah ceria sebagaimana Alicia yang sesungguhnya.
"A... Alieeee..." Tergagap, matanya mulai berkaca-kaca akibat rindu yang teramat dalam seolah mendesak, merekam jiwa.
"Kakak, si kaktus jelek!" ledeknya sembari tertawa renyah.
Tentu hal itu langsung meluruhkan air mata di sudut mata Arga. sehingga membuatnya langsung memeluk sosok yang tengah merentangkan kedua tangannya menyambut hangat sang kekasih.
"Aliee! Alieee... Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu! Kenapa kau biarkan aku menderita seperti ini, sendirian? Kenapa kau pergi dariku!" Rancaunya dengan air mata bercucuran. Sementara yang di peluk hanya senyum saja.
"Apa kabar mu, sayang? Kau pasti sudah bahagia sekarang?" tanya Alicia dalam mimpi Arga.
Arga melepaskan pelukannya. "Aku? Tentunya tidak baik-baik saja. Dan tidak akan pernah baik-baik saja selama tidak ada dirimu di sisiku."
"Jangan terlalu, aku bahagia di sini. Kau pun harus bahagia di sana."
"Apa katamu? Kau bahagia tanpa aku?!" Arga menunjukan ekspresi cemberut.
Alicia pun kembali tersenyum. Lalu meraih tangan kiri Arga, mengangkat sedikit sembari menatap dua cincin di jarinya. Tanpa berbicara apapun gadis itu langsung melepaskan salah satunya yang persis seperti cincin miliknya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" Arga memandangi cincin yang tengah di lepas oleh gadisnya itu. "Aliee...!"
Gadis itu berhasil melepaskannya lalu mengangkat sebatas wajahnya. Mengarah pada Arga.
"Tidak baik mempertahankan yang ini."
"Maksudmu?" Mimik wajahnya menujukkan kekhawatiran, ketika Alicia mengangkatnya tinggi-tinggi sebelum akhirnya melempar jauh cincin tersebut ke sembarang.
"Alieee! Apa yang yang, kau lakukan?!" Arga berseru, geram bukan kepalang saat cincin itu di buang oleh Alicia.
"Kau tidak boleh menjeratkan dua benang merah, pada dua wanita yang berbeda, Kak," pungkasnya sembari melepaskan miliknya juga dan membuangnya lagi. Arga terpaku, memandanginya sendu. "Cintailah yang ada nyata di depanmu. Terimalah dia sepenuh hati mu sayang, dan bahagialah bersamanya," kata-kata Alicia membuat Arga menitikkan air mata.
"Tapi aku amat mencintaimu, Aliee..." lirihnya dengan suaranya yang parau. "Kau tahu, aku sangat menderita hidup tanpamu."
"Tapi kau sudah bahagia, 'kan?" Potongan, hingga kembali membuat Arga terpaku. "Jangan membohongi dirimu sendiri. Kau sudah mencintainya sekarang."
"Alicia..." rintihnya. Gadis itu pun menggeleng. Bibirnya masih nampak manis mengulas senyum pada Arga.
"Aku pun sangat mencintaimu hingga saat ini. Namun, aku tidak mau Kakak terus memikirkan ku dan mengabaikan wanita itu. Jangan biarkan dia pergi dari sisimu jika kau tak ingin merasakan sakit lebih dari ini. Aku yakin, bersamanya? Kakak bisa mendapatkan kebahagiaanmu kembali." Gadis itu melepaskan kedua tangan Arga sebelum mengambil langkah mundur.
"Tidak, Alieee... Kau mau kemana?" Arga memanggilnya, berharap gadisnya kembali. Namun Alicia hanya menebar senyum sebelum membalik badan dan terus melenggang pergi meninggalkannya dan menghilang di telan kabut pekat. "Alieee! Aliciaaaaa!"
Kembali dalam dunia nyata, sekretaris Tomi sengaja menepikan mobilnya ketika mendengar tangis Arga sembari memanggil nama Alicia terdengar sangat kencang.
"Alieee, kembalilah. Jangan pergi dariku... jangan tinggalkan aku," rintihnya. Sekretaris Tomi segera membangunkannya hati. Hingga mata Arga langsung terbuka, bengong sesaat. Ia menyadari air matanya telah membasahi pipi.
"Tuan, Anda baik-baik saja?"
"Mana Aliee?"
"Anda hanya bermimpi, Tuan. Mungkin inilah efek terlalu lelah," katanya sembari menyerahkan tissue pada Arga. Pria itu meraihnya.
"Tidak mungkin, tadi nyata sekali. Aku melihatnya..." Mengusap lembut wajahnya dengan tissue itu.
Tomi sendiri tak menjawab lagi, tangannya sibuk membuka penutup botol air mineral, lalu menyodorkan pada Arga.
"Silahkan minum dulu, Tuan. Anda butuh kapsul anti depresan, Tuan?"
"Tidak!" Pria itu menerima botol air dari tangan Tomi, dan meminumnya. Sejurus kemudian, matanya tertuju pada cincin tersebut. Cincin itu masih melingkar di jari manisnya. Ia pun mengangkatnya tinggi-tinggi.
Kenapa kau melepaskannya, dan memintaku untuk melupakanmu? Batinnya dengan tatapan sendu.
__ADS_1