
Di tempat lain...
Rayyan termenung dalam kegalauannya di sebuah taman sendirian.
Pria itu masih menyayangkan kebaikan Ibunya Denna yang telah memberikan alamat tempat Arumi berada.
Hal itu tentu saja membuatnya semakin jauh dari harapan untuk mendekati Arumi lagi. Di sisi lain, Arum bahkan sedang dalam keadaan kecewa akibat ungkap perasaannya beberapa waktu yang lalu.
Namun ia yakin wanita bermata hazel itu tak akan pernah menunjukkan kesan kebencian pada pria berpostur tinggi seratus depan puluh tiga centimeter tersebut.
Putri Arumi, memang satu-satunya nama yang tersemat rapi di dadanya sejak masa SMP. Cinta pertama Rayyan bahkan ia berharap itu di jadikan yang terakhir juga. Sehingga membuatnya berusaha keras untuk menunjukkan rasa pedulinya pada Arumi terlebih ketika tahu wanita itu di depak dari rumah besar keluarga Sanjaya.
# flasback on...
Ke-duanya berbicara di taman belakang rumah keluarga Denna. Malamnya sebelum Denna dan Arum pergi ke Banjarnegara.
"Arumi, aku ingin meminta maaf atas perkataan ku waktu itu. Mungkin ini menjadi penyebab awal, tudingan itu diarahkan kepadamu."
Arum mengangkat wajahnya. Mengulas senyum samar.
"Tidak perlu merasa bersalah. Aku sudah melupakannya. Justru aku yang ingin meminta maaf padamu. Karena aku, kau jadi terkena masalah. Kau bahkan harus menanggung imbas dari semua ini. Sampai-sampai kehilangan pekerjaanmu."
Rayyan tersenyum. "Pekerjaan itu tidaklah berarti apapun. Aku nganggur saja, ayahku sudah senang sekali. Karena dengan itu, aku jadi bisa memegang salah satu cabang bisnis kecilnya."
Arum menunduk. Ke-dua tangannya saling memainkan kuku ibu jari.
"Rum, sungguh! Kau tidak perlu kepikiran masalah ini. Aku tidak apa-apa." Terdiam, dengan ragu menggeser posisi duduknya lebih mendekat di sisi Arum.
Ia pun meraih tangan wanita itu. Kontan, Arum menariknya kembali walau ujung-ujungnya menyerah karena kuatnya pegangan tangan Rayyan.
"Ray, jangan seperti ini." Lirihnya minta di lepaskan. Sorot matanya pun mengarah gugup pada Pria yang terlihat tulus menatapnya dengan sendu.
"Rum, aku ingin bertanya padamu. Apa setelah ini, kau akan kembali padanya?"
__ADS_1
Arumi membisu. Pikirannya bahkan belum sampai pada pertanyaan itu.
"Ku sarankan, sebaiknya tidak, Rum! Kau jauh lebih paham seberapa sewenang-wenangnya laki-laki itu memperlakukanmu. Jangan lagi, sungguh aku tidak rela kau direndahankan seperti ini."
"Aku tahu, tapi?"
"Tapi apa. Jangan bilang kau punya pikiran untuk kembali? Sebenarnya apa yang kau lihat dari laki-laki tirani itu? Wajah tampannya? Kekayaan?"
Arum menatap tidak suka. Dengan kalimat terakhirnya. Rayyan menghela nafas, kembali merendahkan intonasi suaranya yang sempat meninggi tadi.
"Tidak ada perbuatan terpuji yang bisa kau kagumi dari laki-laki itu, Arumi. Selain kesakitan yang akan semakin menjadi ketika kau tetap mau menerimanya setelah hal ini."
"Kau salah, Rayyan." Lirihnya dengan suara yang lemah lembut.
"Aku tidak salah, aku bicara fakta. Dia bukan laki-laki yang pantas menyandang gelar Ayah bagi anakmu. Tidakkah kau membuka matamu?"
Arumi menitikkan air matanya. "Hentikan Rayyan. Jangan kau jelek-jelekan calon ayah dari janin yang ku kandung ini."
"Kenapa? Faktanya laki-laki itu memang demikian. Dia bahkan tidak mengakui anaknya sendiri. Hanya lki-laki pecundang dan berotak dangkal yang tidak pernah mau mengakui kehamilan pasangannya."
"Aku..." Rayyan menepuk-nepuk dadanya. "Aku siap menerimamu, bahkan menganggap anak ini sebagai anakku."
Mendengar itu, Arum kontan melepaskan tangannya.
"Kau bercanda!"
"Aku serius. Tinggalkan dia, tolong..." pinta Rayyan pada Arum untuk meninggalkan Arga. Cintanya amatlah besar pada wanita di hadapannya, membuatnya benar-benar tidak rela jika Arumi di sakiti. "Aku memang tidak bisa menjanjikan banyaknya harta. Namun aku yakin, aku bisa membahagiakanmu. Percayalah, kau sudah ku anggap Dewi di hatiku. Berbeda dengan dia yang menganggapmu budaknya."
"Ray, jika kau berpikir aku bertahan karena hartanya, itu salah besar. Perlu kau ketahui, bagiku pernikahan adalah sebuah komitmen kepada Tuhan. Meninggalnya, sama saja membuat Tuhan kecewa. Walaupun pada kenyataannya perceraian tidaklah di haramkan. Namun Tuhan membenci itu."
"Tapi yang dia berikan padamu adalah neraka, Arum. Bukan pernikahan yang menganut surga di dalamnya."
Arumi menitikkan air matanya, lantas menyekanya cepat.
__ADS_1
"Ini takdirku. Pria itu hanya salah paham... aku percaya itu, dia akan kembali membawa penyesalannya."
"Kalau nyatanya tidak? Lalu takdir rupanya memihak padaku dan kau?"
"Itu hanya rahasia langit. Aku tidak ingin mendahuluinya."
"Kenapa kau sekolot ini?"
Arumi tersenyum tipis. "Hidup sudah membawaku berlayar dalam ruang kepayahan. Aku sudah terbiasa. Sementara hatiku mengatakan untuk terus berprasangka baik pada siapapun, lebih-lebih pada suamiku sendiri. Aku rasa sifat seperti ini bukan karena aku bodoh, Ray."
"Tapi aku ingin kau bahagia."
"Kenapa tidak kau mencoba untuk membahagiakan dirimu sendiri, Rayyan? Tidakkah kau sadar kau telah menyiksa dirimu sendiri? Dengan mencintai wanita bersuami."
"Sebelumnya, aku lebih dulu mengenalmu dari pada Dia." Rayyan mengutarakan fakta itu.
"Tapi pada kenyataannya. Aku sudah tidak sendiri sekarang. Ini pilihanku, Rayyan. Dan kau harus menerima ini."
Rayyan membungkuk mencengkeram kepalanya sendiri. Rasanya ia belum menerima kekalahan ini.
"Maaf Rayyan... tapi tolong. Carilah kebahagiaanmu dengan orang lain."
"Tidak akan bisa aku menemukan kebahagiaan lain karena hanya kau Arumi," gumamnya masih dalam posisi yang sama.
"Yakinlah, suatu hari nanti kau akan bertemu seorang gadis yang akan menyita hari dan pikiranmu sepanjang waktu selain aku. Membuat kenyataan lebih indah dari sebuah buaian mimpi."
Rayyan bergeming. Teguh pada keyakinannya, bahwa hatinya hanya untuk Arumi, tak akan tersisa sedikitpun untuk wanita lain. Ia pun beranjak tanpa berpamitan melenggang pergi begitu saja.
Sudah cukup berbicara dengannya. Ia hanya akan melihat kemajuannya setelah ini. Namun jangan di kira dia akan membiarkan sesuatu terjadi pada wanita yang ia cintai. Kapapun itu, Rayyan akan siap memasang badan untuk Arumi.
# Flasback off
Rayyan mengepal kaleng minuman soda di tangan sekuat tenaga. Hingga isinya menyembur keluar membasahi tangan.
__ADS_1
"Lihatlah Arumi. Aku akan stand by memantaumu. Jika laki-laki itu benar-benar melepaskanmu maka aku akan langsung menyeretmu ke kantor yang mencatat pernikahan. Tanpa menunggu mu untuk menyetujuinya, aku akan menggantikan laki-laki yang tidak mau mengakui anaknya sendiri. Demi menunjukkannya padamu kalau aku bersungguh-sunggUh."