Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
sogokan


__ADS_3

Di dapur, seorang gadis tengah mencuci piring sisa makan siang. Tanpa di suruh gadis itu sudah mengerjakannya, bukan karena rajin. Kalian tahu Denna bukanlah gadis rajin yang menjadi harapan para ibu-ibu mertua.


Dia sengaja mencuci piring dengan gerakan lambat demi menghindari kecanggungan karena hanya berdua dengan sekretaris Tomi di ruang tamu.


"Sejatinya aku lelah, ingin tidur siang atau hanya sebatas rebahan di kasur yang sejuk. Tapi, tidak mungkin aku tidur dikamar sementara ada si Tuan es yang terjaga saat semua orang beristirahat." Denna menghela nafas panjang. "Bagaimana nasib episode yang belum ku tulis. Hiks, aku rindu karakter Zack dalam Novelku sendiri."


Klotang... Klantiiing. Suara piring yang berbenturan dengan piring yang lain terdengar nyaring.


Denna mengusap kening dengan punggung pergelangan tangannya menyibak anak-anak rambut yang menusuk-nusuk hingga menimbulkan efek gatal. Ia pun memutar tubuhnya.


"Jabang bayi...!" Terkejut saat ada sesosok laki-laki dengan jaket abu-abu berdiri di pintu tanpa ekspresi. "A–apa yang Anda lakukan di situ?" Mengelus dada, sejenak ia mengira Sekretaris Tomi adalah penampakan.


"Saya ingin bicara," jawabnya santai.


Jika ingin bicara kenapa tidak bilang. Malah diam diri seperti setan!


"Bicara apa?" Denna meremas kain lap. Mengeringkan kedua tangannya yang basah.


"Bisakah kau membantuku, membujuk temanmu pulang?" Pintanya bernada datar.


"Membujuk?" Menyandar di meja wastafel dengan tangan menyila di depan dada. "Anda meminta bantuan untuk aku membujuknya, sama saja aku mendukung Anda menang taruhan, dong."


Oh iya. Taruhan itu... sepertinya aku telah salah meminta bantuannya. (Tomi)


"Aku banyak pekerjaan, sementara dua orang itu tidak kunjung mau pulang. Ayolah, kau juga harus pulang kan? Memang kau tidak punya pekerjaan?"


"Uuummm, bagaimana, ya?" Mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk. "Aku kan pengangguran, tuh. Jadi tidak masalah, mau seminggu, dua Minggu, atau bahkan setahu disini. Aku free..."


Setahun?! Yang benar saja!


"Hidupmu benar-benar sesuram itu, ya? Pantas saja kau amatlah bangga ketika menyebut dirimu pengangguran."


"Terserah apa kata Anda. Yang penting aku bahagia, menjadi istri dalam dunia haluku."

__ADS_1


"Istri, dunia halu?" Tomi mengerutkan kening.


"Sudahlah, Anda tidak akan paham." Menekuri punggung tangannya sendiri yang sedikit menekuk terarah kepadanya.


"Ya aku tidak akan paham. Karena aku tidak pernah menjadi pengangguran seperti dirimu. Kasian sekali orang tuamu itu. Kau pasti beban dalam kehidupan mereka."


"Hei–" Denna sedikit kesal. Lihat senyum remehnya itu. Dasar!


"Kembali ke topik awal. Aku akan kasih penawaran menarik, apakah ada barang yang kau inginkan?"


"Barang?" Denna terdiam. –sebenarnya aku sedang ingin mengganti laptop ku dengan tab supaya lebih fleksibel untuk di bawa kemana-mana. Tapi apalah daya, jajan lebih enak daripada menabung.


"iPad pro 12,9 inch. Jika kau mau membujuk Nona Arumi kembali ke Jakarta, aku akan memberikanmu itu." Seperti mampu membaca pikiran Denna. Tomi langsung kepikiran untuk menawarkan sebuah iPad.


A–apa tadi? iPad seharga lebih dari tiga puluh juta? –Denna menjatuhkan dagunya. Membuka mulut itu selebar mungkin. Tangannya menepuk-nepuk dadanya mendadak jantung di dalamnya berhenti sesaat.


"Kalau melihat ekspresimu sepertinya kau setuju."


Ehm... gadis itu mengepalkan tangannya di depan mulut, berdeham.


"Jadi?" Tanya Sekretaris Tomi.


"Apanya yang jadi? Sudah jelas aku tidak akan menukar hati sahabatku dengan benda-benda mahal? yang benar saja." Denna melangkah keluar melewati sekretaris Tomi. Pria itu masih berdiam diri di sana tanpa ekspresi.


Aku harus cari Arumi! Dia tadi pergi kemana, ya? Denna buru-buru meraih ponselnya menghubungi Arumi.


.


.


.


Beberapa saat kemudian...

__ADS_1


Denna tiba-tiba bersimpuh di hadapan Arumi dengan tampang memelas. Tentu hal itu membuat wanita yang sedang meminum air mineral di dalam dapur terkejut.


"Denna, apa yang kau lakukan?"


"Rum, kita benar-benar harus pulang. Aku rasa sudah cukup ngambeknya. Kau harus berdamai demi Si Utun." Menujuk perut Arumi.


"Kau ini kenapa? Tiba-tiba memintaku untuk turut ke Jakarta. Kita sudah janji akan seminggu di sini."


"Aku berubah pikiran. Aku punya deadline, Rum. Di sini sinyal agak susah untuk buka website." Menelungkupkan kedua tangannya di depan dada. "Ayo kita pulang saja. Lumayan irit ongkos, aku juga belum pernah naik jet pribadi." Nyengir.


Gadis ini kenapa, sih? Apa dia sakit. Tadi pagi saat Tuan Arga datang dia keukeuh memperingatkan ku untuk tidak mudah luluh. Sekarang kenapa cepat sekali berubah?


"Arumi, ayolah."


"Aku tidak bisa Denna."


"Tapi apa kau tidak kasihan pada suamimu yang sudah jauh-jauh kesini demi menebus kesalahannya? Itu pengorbanan luar biasa loh. Biasanya kalau dalam drama novel; ketika PU perempuan ngambek kelamaan, author akan di tuding memanjang-manjangkan cerita demi cuan. Padahal gajian tiap bulan aja belum tentu. Jadi sudahlah, baikan saja, ya?!" Memohon dengan sangat.


"Kau ini bicara apa?" Arumi geleng-geleng kepala tidak mengerti. Hendaknya melenggang pergi. Namun seketika ditahan Denna yang langsung memeluk kaki Arumi bahkan menghimpitnya sekalian dengan kaki dia sendiri.


"Ayolah Arumi, pulang... ayo pulang. Kita ke Jakarta."


"Ini– apaan, sih?" Arum mencoba melepaskan diri dari cengkraman Denna.


"Aku suka sakit di cuaca dingin. Jadi kita harus kembali. Ya, ya..." Demi iPad mahal yang bisa ku pamerkan pada teman-teman penulisku, Arumi. Ku mohon, ayo berdamai dengan suamimu.


"Denna, lepas!"


"Aku tidak akan melepaskannya."


"Hei...! Tapi kakiku geli." Arum terus memukul bahu sahabatnya itu.


"Aku tidak peduli sebelum kau bilang bersedia untuk kembali...!!"

__ADS_1


Di sisi lain, ada seorang pria tengah berdiri di dekat pintu tanpa dua orang itu sadari.


"Tak semurah itu katanya? Dasar tidak konsisten!" Tomi menarik separuh bibirnya tersenyum sinis. Ia pun memutar tubuhnya menjauh dari sana.


__ADS_2