
Di dapur...
Awalnya Pak Ragil bingung, saat tahu Arga kembali turun ke lantai dasar bahkan sekarang sudah berada di dapur luas di rumah utama tersebut. Dengan beberapa pelayan di dekatnya.
Ya... Tuan muda itu tiba-tiba masuk ke area dapur lalu meminta pelayan membuka lemari pendingin side by side mewah khusus yang hanya berisikan buah-buahan segar dan juga sayur.
Tentu saja dua pelayan sigap mengiyakan. Memegangi satu-satu pintu dan membuka lebar dihadapannya. Arga berpikir sejenak sembari berkacak pinggang. Lalu mulai menunjuk.
"Apel, kiwi, jeruk. Masing-masing dua." Pintanya sebelum bergeser ke meja marmer di dekatnya. Pelayan lain menyiapkan talenan dan pisau, lalu di letakkan di hadapan Tuan Muda Arga Sanjaya.
"Tuan, sebenarnya tanpa perlu Anda ke mari. Saya pasti akan memotong dan mengantarkan langsung ke kamar Anda."
"Tidak perlu, aku melakukannya karena mau." Pria itu mengambil salah satu buah apelnya. Nampak terdiam sejenak sembari mengamati buah yang ada di tangan. Sepertinya ia bingung, antar memotong atau di kupas dulu.
"Biar saya yang kupas, Tuan."
"Ku bilang tidak usah!" Arga langsung berinisiatif mengupasnya. Karena Pak Ragil yang hendak membantu seolah memberikan jawaban galaunya. Berati di kupas dulu, itu urutan yang benar. Begitulah kira-kira isi hatinya.
"Biar saya saja yang melakukannya." Tak henti-hentinya pria paruh baya itu membujuk Arga yang sedang mengupas kulit apel dengan ketebalannya yang tak kira-kira.
"Sudah ku bilang aku saja. Istriku ingin makan buah hasil dari kupasan tanganku sendiri," menjawab tanpa menoleh. Tatapannya terlihat fokus mengikuti gerakan pisau pada buah di tangannya.
Tapi ini terlalu tebal Tuan. Anda bahkan banyak membuang daging buahnya. Pak Ragil yang merasa sayang hanya membatin.
"Kalau begitu saya bantu biar cepat, ya?" Hendaknya meraih kiwi namun lirikan tajam Arga mengurungkan niatnya.
"Jangan sentuh buah itu. Sudah ku bilang biar aku saja!"
"Baiklah, Tuan." Pak Ragil mengalah. Walau tatapan mata yang mengisyaratkan rasa sayang pada kulit buah yang masih banyak dagingnya itu kini menjadi sampah.
"Aaaarhh..." Tanpa sengaja laki-laki itu menggores jarinya sendiri. Tentu hal itu membuat beberapa orang termasuk Pak Ragil panik.
"Anda tergores pisau, Tuan."
"Biarkan saja. Tidak apa-apa..." Meringis kecil sembari meletakkan pisau di tangannya, sementara tangan yang terluka nampak di kibaskan.
Seorang pelayan yang sigap mengambil kotak obat berlari mendekati Arga lagi untuk mengobatinya.
Ternyata tidak mudah, baru saja mengupas satu buah sudah melukai tangan. Arga diam saja saat tangannya di obati oleh Pak Ragil, sebelum selembar plester membalut jarinya yang tergores.
"Biar saya yang teruskan."
__ADS_1
"Bapak tidak dengar jika saya ingin melakukan ini demi Istri saya?!" Arga sedikit meninggikan suaranya hingga membuat Pak Ragil kembali mengalah ia pun membiarkan tuan muda mengupas buah-buahan tersebut walau beberapa kali bagian tangannya harus tergores pisau yang tajam. Entah pada saat mengupas atau mungkin saat memotong.
Kini semua buah sudah di kupas. Tentunya dengan bentuk yang sudah tak beraturan. Kebanyakan dari buah yang di kupas Arga menjadi lebih kecil dari ukurannya karena banyak yang terbuang bersama kulitnya.
Arga mengangkat tangan kirinya. Ada sekitar tiga plester luka yang membalut bagian jari-jari dan sisi samping telapak tangannya.
Walau tangan kirinya terasa perih, Arga tetap puas. Karena berhasil melakukan tugasnya. Semua terlihat jelas dari senyumnya yang melebar penuh semangat.
"Sudah terekam?" Tanyanya pada pelayan yang sedang memegangi handycam.
"Iya, Tuan."
"Bagus. Sinikan kameranya." Menengadahkan satu tangannya. Setelah handycam berada di tangan, Arga langsung meranggai piring berisi potongan buah yang amatlah jelek bentuknya lalu membawa itu ke luar dari dapur.
Tentu Pak Ragil sendiri langsung mengikuti, sementara yang lainnya buru-buru membereskan sisa dari pekerjaan Arga yang menghembohkan seisi dapur.
"Kau dengar tadi? Tuan melakukan ini untuk Nona Arumi, bukankah itu idaman sekali. Waaah, seperti apa perasaan istrinya, ya?" Seorang pelayan berbisik pada yang satunya.
"Aku tidak menyangka, terlepas dari sikap arogansinya. Tuan Muda rupanya semanis itu. Kyaaaa... aku iri. Kau lihat senyumnya, tadi 'kan? Aku baru pertama kali melihatnya tersenyum seperti itu."
"Kyaaaaa..."
"Ehheemmm!" Dehaman Pak Ragil yang tiba-tiba kembali membuat mereka kontan menunduk dan melanjutkan pekerjaannya.
Cklaaakkk...
Arum meletakkan buku tentang kehamilan yang ia baca sejak tadi saat mendengar Arga masuk ke dalam kamar mereka.
"Ini buahmu." Arga meletakkan piring berisi potongan buah di hadapan Arumi dengan sedikit menyembunyikan tangan satunya yang terluka. Tentu Arum amat antusias walau bibirnya mengatup rapat-rapat sebab ingin menertawai wujud buahnya yang benar-benar buruk.
"Ini benar-benar kamu yang memotong?"
"kau pikir?"
Tentunya aku percaya sayang. Karena potongan buah Pak Ragil itu rapi dan bagus tidak seperti ini. kekekekek... (Arumi)
"Ini bukti aku benar-benar mengupas dan memotong buahnya sendiri untukmu." Menyerahkan handycam-nya.
Arum menonton sekilas namun di buat terharu sekaligus lucu.
Aku bisa membayangkan seperti apa kacaunya di dapur tadi.
__ADS_1
"Sayang, terima kasih." Arum meraih lengan kiri Arga dan menarik pria itu untuk duduk di sisinya. Namun, seperti ada yang aneh. Sejak tadi ia seperti menyembunyikan tangannya di belakang punggung.
"Makanlah, kenapa malah di lihat saja?" Arga sudah duduk di dekatnya.
"Aku akan makan. Tapi suapi aku..."
"Haaah! Ku pikir tugasku sudah selesai." Menggerutu tapi tetap meraih garpunya sebelum memasukan potongan buah itu ke dalam mulut sang istri. "Bagaimana rasanya?"
"Tentu rasanya tetap buah pada umumnya. Hanya lebih spesial."
"Benarkah?"
"Tentu sayang."
"Mintalah lagi kapapun, kau mau." Meletakkan garpu sebelum mengusap kepala sang istri dengan gemas.
"Serius, kau akan memotong buah ini lagi untukku."
"Tentu saja Pak Ragil yang akan melakukannya. Kau pikir aku mau repot-repot seperti ini terus?" Niatnya untuk bercanda saja. Namun, karena wajah Arga tidak ada tampang lawak jadilah terlihat serius. Lihat saja, Arum yang langsung memajukan bibirnya. Hingga seringai tipis terbit di bibir Arga memudarkan tatapan angkuh tadi. Kembali mata Arum berfokus pada tangan yang di sembunyikan di belakang.
"Kenapa tangan kirimu ada di belakang? Apa kau menyembunyikan sesuatu?"
"Menyembunyikan apa? Tidak ada."
"Jangan bohong." Arum menarik tangan kiri Arga dan menemukan beberapa plester luka menempel di tangannya. "Ya ampun..."
"Hanya luka kecil. Ya, sebegitu payahnya suamimu ini. Tapi tenanglah, pasti cepat sembuh kok."
"Bukan itu sayang. Aku kan jadi merasa bersalah, padahal kau bisa menolak keras keinginan ku loh."
"Mana mungkin aku menolak permintaan wanita yang tengah membesarkan benihku dalam rahimnya? Aku melakukan ini karena aku ingin melakukan apapun untukmu."
Kedua mata Arum berkaca-kaca. Mendadak ia merasa bersalah karena berniat mengerjai suaminya.
"Maaf, sayang. Aku tidak akan memintamu untuk memotong buah lagi untukku."
"Kenapa seperti itu? Mintalah setiap hari, karena aku akan melakukannya."
Arumi menggigit bawah bibirnya. "Aku mencintaimu..."
Arga tersenyum tipis, ia bisa melihat pendar ketulusan itu dari mata istrinya.
__ADS_1
"Aku juga, Arumi."
Mendengar jawaban itu, Arum langsung mencium bibir Suaminya singkat. Mereka tertawa sebelum akhirnya Arga meraih wajah sang kekasih dan kembali menempelkan bibir mereka cukup lama.