
"Ja–jadi, ini jawabnya? Kenapa Kau tidak mencatat namaku sebagai penerima hak waris seperti Alice?" Vero mengangkat kepalanya memandang bengis Tuan Arsene.
"Kau melihat catatan wasiatku?" Tanyanya dengan ekspresi wajah santai.
Gadis itu pun tertawa terbahak-bahak. Lalu menyentuh dadanya.
"Apa salahku pada keluargamu? Sehingga kau tak memperlakukanku secara adil?"
"Tidak adil?"
Vero pun beranjak dari posisinya. Dengan tubuh sedikit terhuyung, gadis itu menyeret kakinya dan berhenti di depan jendela kaca yang lebar.
"Langit di luar selalu cerah. Namun hatiku selalu dirundung kegelapan," gumamnya sembari menatap gamang keluar jendela. Sekelebat bayangan masa lalu mulai bermunculan.
Gadis itu mengingat, betapa dirinya memang tidak pernah memberikan presentasi apapun seperti Alicia. Dia yang selalu mendapatkan nilai C bersanding dengan kakak yang selalu mendapatkan nilai A.
Kegiatan yang Alicia lakukan selalu menuai pujian, berbeda dengan dirinya yang tak pernah mendapatkan apresiasi apapun selain amarah dari sang ayah yang merasa kecewa dengan hasil ujian setiap akhir semester.
Flashback on...
Praaaakk! Tuan Arsene melempar buku raport ke hadapan Vero yang tertunduk di hadapannya.
"Apa seperti ini hasilnya setelah aku keluar banyak uang untuk membiayai serangkaian les privat demi membuatmu berprestasi seperti Kakak mu?!" Sarkasnya pada gadis berseragam SMP itu menggunakan bahasa Jerman.
"Aku sudah berusaha, Dad," lirihnya.
"JIKA SUDAH BERUSAHA KENAPA NILAI MATEMATIKA MU TERUS SAJA MENDAPATKAN NILAI TERENDAH!!!"
"Huhuhuhu... Vero akan berusaha lagi, Dad. Vero akan berusaha lagi..." gadis itu memeluk kaki ayahnya, menangis tersedu-sedu.
"Untuk hukumanmu. Kau harus belajar selama libur sekolahmu. Tidak ada liburan ke LN selagi kau sedang berada dalam masa hukuman."
"Tidak! Tidak mau... Vero mau ikut Kak Alice dan Mommy ke Paris."
"Alice hanya pergi dengan Mommy. Kau di sini, aku akan mengawasi mu."
"Ta–tapi, Dad. Daddy...!" Gadis ABG itu menangis sesenggukan. Kedua tangannya terkepal kuat sebelum akhirnya berlari membanting semua buku pelajaran miliknya ke lantai.
"Dasar tidak berguna! Bodoh! Otak dangkal!!!" Veronica membalikkan tas milik dia sendiri hingga seluruh isinya berhamburan ke lantai.
Seorang wanita pun masuk kedalam setelah mengetuk pelan pintunya. Bersamaan dengan gadis ABG yang berusia satu tahun lebih tua di atas Vero.
"Honey..." suara lembut memanggil namanya. Vero yang masih mengamuk itu pun kontan menghentikan gerakan tangannya saat melihat Mommy Kate datang dengan tatapan hangatnya juga tatapan sedih dari Alicia. Keduanya masuk kedalam mendekati anak itu.
__ADS_1
"Kau gagal lagi, Vero?" Alicia menitikkan air mata. Mengusap wajah adiknya yang di tepis kasar sebelum membuang muka.
"Honey, gagal bukan berarti kau harus seperti ini. Tandanya kau harus berusaha dan menunjukkannya pada Daddy."
"Itu benar..." Alicia mengimbuhkan.
Vero sendiri masih terdiam. Menyeka kasar air mata yang terus saja keluar.
"Vero. Ayo belajar lagi, ya? Aku akan mengajarimu."
"Tidak perlu. Semua akan sia-sia karena aku tidak secerdas Kakak. Aku bodoh dalam bidang akademik. Tidak! bahkan semua bidang. Aku tidak seperti kakak yang pandai dalam segala hal. Aku dan kau, seperti terlahir dari dua keluarga yang berbeda."
"No! Jangan bicara seperti itu..." Kate menyentuh dadanya sendiri merasa sedih. Ia tidak ingin Vero berpikir seperti itu walau pada kenyataannya memang benar. "Tidak ada manusia di ciptakan sama, walau kembar identik sekalipun. Kau hanya perlu berusaha lagi, semangatlah putri cantikku. We love you!"
Kalimat motivasi yang selalu membuat Vero melunak. Ia pun memeluk ibunya, hanya pelukan Kate dan Alicia yang membuatnya mampu mengembalikan mentari yang tersembunyi di balik kumulus awan yang pekat ini.
Hingga hari dimana Nyonya Kate meninggal Dunia. Saat dua gadis itu sudah duduk di bangku SMA.
Mereka menangis di depan peti jenazah Kate. Tatapan sendu yang di tunjukkan Vero bukan tertuju lada peti jenazah melainkan pada seorang pria paruh yang memeluk erat tubuh Alicia. Ya, hanya tubuh Alicia yang di peluk Tuan Arsene.
mengapa Daddy hanya memeluk Kak Alicia. padahal aku juga kehilangan Mommy. Apa karena tangis ku tak sekuat Kakak?
Vero sempat berpikir itu hanya kebetulan. Mungkin karena tangis Alicia yang terdengar lebih keras membuat sang ayah lebih memilih memeluk Alice. Vero menoleh kebelakang, di sana ia melihat Arga datang sembari membawa bunga bersama kakeknya.
"Kak?" Gadis itu berniat untuk menyambutnya namun pria yang ia sapa justru melewatinya begitu saja. Kontan tubuh Vero mematung, ia membalik badan menoleh kebelakang. Dan di dapatinnya, Arga telah memberikan bunga tersebut dengan tampang datar kepada Alicia...
"Aku turut berdukacita atas kepergian Tante Kate. Dia adalah wanita yang baik, walau sayang ia telah mengeluarkan putri berjiwa berandalan sepertimu."
"Tidak lucu mengatakan itu di depan peti jenazah Mommy ku." Alicia memukul dadanya pelan. Arga pun tersenyum tipis. Ia mengusap kepala Alicia.
"Jangan bersedih, di dunia ini ada banyak orang yang akan mencintaimu. Kau tidak akan kesepian..." Hiburnya pada gadis cantik di depannya.
Vero yang berdiri di tengah-tengah mereka mengepalkan tangannya. Selama ini ia sudah menahan perasaannya terhadap Arga. Ia berniat untuk meminta sang Ayah menjodohkan dirinya dengan Arga jika sudah dewasa nanti. Daddy Arsene pasti setuju.
***
Berselang beberapa tahun kemudian...
"Hari ini, ada kabar membahagiakan. Karena, Tuan Arman Sanjaya ingin menjodohkan cucu satu-satunya kepada salah satu dari kalian." Tuan Arsene tersenyum tipis, tangan kanannya memasukkan sesuap kuah sup ke dalam mulutnya.
"Cucu Kakek Arman?" Vero nampak bersemangat, berbeda dengan Alicia yang justru tidak menyukai pria itu.
"Ya, bersiaplah untuk acara makan malam nanti. Dandan yang cantik ya, putri-putri ku." Tuan Arsene beranjak mengusap kepala keduanya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Kyaaaaa, Kakak?! Kira-kira siapa ya di antara kita?"
"Aku harap kau sih." Alicia beranjak.
"Eh?"
"Sudahlah jangan di bahas. Hari ini aku akan ke lokasi bencana banjir di daerah X. Jangan katakan pada Ayah kalau aku mau minggat, ya. Dan semoga perjodohan kalian berjalan lancar. Dhaaaa adikku sayang."
"Kak Alice, tunggu!" Vero menoleh kebelakang sementara kakak perempuannya yang anggun itu sudah melambaikan tangan berlalu. Bibir Vero tersenyum tipis. "Dasar! Tapi, semoga Kakek Arman benar-benar memilihku walaupun aku tidak suka dengan mulutnya yang pedas ketika berbicara."
––
Malam pun datang, sudah lebih dari dua jam mereka bertiga menunggu Arga dan Alicia datang namun tak kunjung terlihat ke-duanya.
"Sebenarnya, pada kemana dua anak itu?" Kakek Arman menggerutu. Makanan di atas piringnya bahkan sudah habis. Tuan Arsene pun menoleh ke arah Veronica.
"Sayang, dimana Kakak mu?" bisik Tuan Arsene.
"Entahlah Dad, aku tidak tahu. Tadi bilang mau menyusul."
"Ck! Dia selalu seperti ini..."
"Aiiiiiiihhh, aku mulai lelah. Sebaiknya kita pulang saja."
"Emmmm, Maafkan putri pertama saya, Tuan."
"Tidak masalah. Karena cucu ku pun sama saja! Ckckck!" Kakek beranjak, sama halnya dengan mereka berdua. Ketiganya berpamitan, pulang ke rumah mereka masing-masing.
Berbeda dengan dua laki-laki beda generasi itu. Vero sendiri meminta izin pergi ke tempat lain. Mencoba menemui Alicia di tempat yang menjadi favoritnya.
Ya, rumah pohon di dekat vila pribadi keluarga Narendra.
Dalam taman yang di penuhi pendar cahaya dari lampu-lampu taman. Vero mengentikan laju mobilnya dari jarak yang cukup jauh, sebab melihat sebuah mobil yang ia kenal.
Itu seperti mobil Kak Arga?
Pelan-pelan melepaskan seat belt, dan membuka pintu. Gadis itu turun dari dalam mobil berjalan dengan hati-hati semakin mendekat ke tepi danau.
Sraaakkk... langkahnya kontan terhenti. Ia melihat Arga tengah mencium bibir Kakaknya tepat di bawah rumah pohon.
Gadis itu mematung, menyaksikan secara langsung adegan yang benar-benar membuat jantungnya seolah berhenti saat itu juga. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengambil langkah mundur sebelum akhirnya berbalik meninggalkan mereka berdua.
bersambung...
__ADS_1