
Beberapa bulan berlalu...
Sudah waktunya untuk menjalani pemeriksaan kehamilan di salah satu rumah sakit. Seorang dokter bergelar SpOG tengah menjelaskan apa-apa saja yang ia lihat saat di USG.
"Jenis kelaminnya sudah terlihat." Sang Dokter berbicara dengan garis senyum di bibirnya.
"Apa jenis kelaminnya?" Tanya Arga antusias. Mimik wajahnya menujukkan dia sudah tidak sabaran ingin tahu.
"Perempuan, Tuan," jawab Dokter tersebut.
Arga bergeming, seringai di bibirnya meredup. Mendadak ekspresinya berubah. Selama beberapa menit berlalu, hingga keduanya sekarang sudah dalam perjalanan pulang.
Ada yang aneh. Batin Arum mendesis. Wanita itu beberapa kali melihat aura tak biasa di wajah suaminya semenjak tahu jenis kelamin anak mereka adalah perempuan.
Apa suamiku tidak menyukai anak perempuan? Batinnya sembari mengusap perut yang mulai membesar. Ya, tentu saja. Yang dia harapkan pasgi adalah anak laki-laki.
Sesampainya di rumah, Arga memastikan sang istri langsung beristirahat. Seorang pelayan yang di dampingi Pak Ragil pun menyiapkan obat dan beberapa vitamin yang di butuhkan untuk ibu hamil.
"Sudah semua?" Tanya Arga pada pelayan tersebut.
"Sudah, Tuan."
"Kalau begitu kalian boleh keluar," titahnya. Pelayan tersebut mengangguk.
"Kami permisi, Tuan." Pak Ragil membungkuk sopan sebelum keluar lebih dulu.
Kini di kamar itu hanya ada Arum dan Arga. Keheningan mendadak tercipta antara keduanya. Entah mengapa perasaan Arum mendadak tidak enak.
"Sayang..." Arum meraih lengan kekar yang sedang membenahi selimut istrinya. Sorot mata Arga pun bergeser. "Kau kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Kau terlihat tidak senang, sejak tahu jenis kelamin anak kita adalah perempuan." Arum langsung bicara ke-intinya. Khawatir suaminya akan kecewa, karena seorang penerus memang harusnya laki-laki apalagi ini anak pertama mereka.
"Aku bukanya tidak senang saat tahu anak kita perempuan, Arum."
"Lalu?" Sudah pasti kau kecewa. Wanita itu menundukkan kepalanya.
"Aku hanya bingung. Haruskah aku berhenti kerja saja?"
__ADS_1
"Eh, kau bicara apa?" Menaikkan lagi wajahnya.
"Bukankah memiliki anak perempuan adalah tugas berat? Kau harus tahu betapa kerasnya dunia ini. Belum lahir saja aku sudah khawatir tentang kehidupannya. Sungguh aku tidak akan mempercayai laki-laki manapun untuk putri ku."
Eh, rupanya sindrom bapak-bapak posesif sudah mulai menyerang kepalanya toh.
"Aku tetap harus mengikuti dia kemana-mana. Memastikan siapa saja laki-laki yang akan mendekati dia. Dan?"
"Sayang, kau ini berlebihan. Anak kita saja baru jalan enam bulan dalam kandungan. Kau sudah berpikir sejauh itu?"
"Arum! tentu sebagai Daddy aku harus lebih protektif terhadap putriku. Dunia yang kita huni sekarang ini bahaya. Bagaimana kalau ada yang menculiknya, lalu di paksa menikah?"
Seperti dirimu menculik ku dan memaksaku untuk menikah, begitu? Kau memandang semua laki-laki di luaran sana dengan gambaran dirimu sendiri, ya? Hadeeeh...
"Tidak... tidak... Putriku harus dalam pengawasan ku 24 jam. Aaaaarrrghhh, aku pasti akan sulit tidur memikirkan bagaimana cara menjaganya setiap hari."
"Pffftt..." Arum menutup mulutnya menahan tawa.
"Kenapa kau tertawa?"
"Sungguh, jadi diamnya dirimu sejak di rumah sakit hanya karena memikirkan dia?" Menunjuk perutnya sendiri.
"Hahaha, Ya Tuhan. Suamiku..." Arum tak bisa berhenti tertawa.
"Hei, berhentilah tertawa."
"Tapi kau benar-benar lucu sayang. Padahal tadi aku sempat sedih. Khawatir kau tidak suka saat tahu bayi yang ku kandung berjenis kelamin perempuan. Karena yang ku tahu, kau pasti akan seperti kakek mengharapkan bayi laki-laki di keluarga ini."
"Mana mungkin aku tidak suka. Mau laki-laki atau perempuan dia tetap darah daging ku."
Arum tersenyum tipis. Sementara pria itu terus saja mengoceh sembari mengusap perut istrinya. Berbicara kesana-kemari dengan tingkat protektif yang di luar nalar.
Aku bisa merasakan seberapa posesifnya dirimu nanti terhadap putrimu, Sayang.
"Aku harus merekrut beberapa bodyguard khusus."
"Sayang, jangan terlalu berlebihan. Seharusnya kau tidak membedakan antara anak laki-laki dan perempuan. Kalau anak perempuan kita terlalu di kekang pasti jatuhnya tidak baik juga, kan? Kalau dia berontak bagaimana?"
"Aku bukan mengekang, tapi sebagai seorang Daddy yang memiliki anak perempuan tetap aku harus berkali-kali lipat lebih menjaga dari pada anak laki-laki. Apa kita pindah rumah saja? Cari tempat yang jauh dari kota dan keramaian? Lagipula udara kota tidak baik, polusi dimana? Belum lagi budayanya... aku juga ingin taman yang lebih luas, agar anakku bisa berlarian. Kita bikin kolam renang khusus dan ruang musik khusus. Atau ruangan ballet... bla... bla... bla..." Arga terus saja mengoceh tanpa henti. Sementara Arum hanya tertawa kecil sembari memandangi sang suami dengan rasa harunya.
__ADS_1
Aku sendiri justru berharap. Kehidupan putriku tidak seperti aku. Dia harus menjadi wanita yang cantik. Bisa melakukan apapun yang dia mau. Dan yang paling utama jauh dari orang-orang jahat yang setiap hari melukai hatinya.
Usapan lembut tanpa henti di berikan untuk bayi dalam kandungannya. Seolah paham, dan mungkin ingin protes pada Daddy-nya ketika mendengar rentetan rencana masa depan yang sudah di siapkan Arga untuk dia. Bayi dalam kandungan Arumi terus saja bergerak di dalam perutnya.
Ya, seperti inilah cara ayahmu mencintaimu, Nak. Kau jangan kaget, ya. (Arumi)
***
Beralih ke tempat lain...
Denna sedang menunggu seseorang. Seorang misterius yang telah memborong buku-bukunya dalam jumlah banyak bahkan membagikan buku tersebut ke beberapa perpustakaan besar.
Gadis itu duduk di kursi dekat jendela, dalam kafe yang cukup terkenal dengan kopi dan dissert-nya.
Sebenarnya Beliau mau datang tidak, sih. Sudah hampir dua jam batang hidungnya tak juga terlihat.
Denna mulai protes. Karena kopi kedua yang ia pesan bahkan sudah hampir habis.
Disisi lain, seorang pria duduk dikursi yang berada tepat di belakangnya. Menikmati secangkir kopi yang sama seperti yang di pesan Denna. Pria itu juga sedang menikmati dengan santai, satu potong tiramisu. Dengar tatapan mata tertuju pada ponsel yang sesekali menyala karena panggilan telepon dari Denna.
Ya, dia adalah sekretaris Tomi yang justru sudah tiba lebih dulu dari gadis di belakangnya.
"Ck! Niat datang tidak sih? Padahal aku hanya ingin mengucapkan terima kasih." Menggerutu, sementara itu di belakang hanya tersenyum samar sebelum memasukan suapan terakhir rotinya.
Anda tidak perlu berterima kasih, Nona. Novel Anda sang bagus. Dan aku puas dengan endingnya. –Pria itu pun beranjak, dan memilih untuk meninggalkan mejanya.
"Denna!" Sapa seorang Pria yang kontan membuat langkah sekretaris Tomi berhenti. "wah, aku mengamatimu dari jauh. Rupanya benar itu kau."
"Ya-Yayan?" Denna terkejut, karena setelah sekian lama ia bertemu lagi dengan laki-laki yang pernah menipunya dulu.
Tomi yang memakai masker menoleh kebelakang. Mendapati laki-laki berjaket hitam dengan topi dan tindik di telinganya berdiri menghadap Denna yang juga turut berdiri.
"Lama tidak bertemu. Aku benar-benar pangling... jujur saja, aku amat memikirkanmu selama ini. Mungkin ini yang di namakan rindu."
Rindu? Tomi bergumam dalam hati. Apa dia mantan kekasih Nona Denna?
Karena posisi wajah Denna tidak terlihat. Tomi tidak tahu, jika saat ini ekspresi muak gadis itu sedang terarah pada laki-laki di depannya.
Tomi pun memutuskan untuk melanjutkan langkahnya meninggalkan kafe itu. Lagipun percuma saja. Ia tidak bisa terang-terangan menujukkan dirinya lagi setelah terakhir ketika Denna mencuci kemejanya. Sebab selama ini, Tomi paling hanya mengamatinya dari jauh tanpa memahami perasaannya sendiri pada gadis itu.
__ADS_1
Bersambung...