Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
Nasib tiga orang itu.


__ADS_3

Pertanyaan demi pertanyaan tentang keberadaan Ibu tirinya itu terus memenuhi isi kepala Arum, bahkan hingga mobil menjauh dari kompleks tersebut.


Sementara yang di pikirkan memang sudah hampir gila di dalam ruangan ber-AC yang bak penjara itu.


Ia juga sudah kehabisan akal untuk membujuk mereka. Bahkan sampai mengorbankan Maura agar menggodanya. Para penjaga itu tetap tidak tergiur dengan itu.


"Tuan, tolong katakan padaku! kapan Tuan Arga datang kemari atau mungkin Sekretarisnya?" tanya Mama Linda dengan penampilan amat berantakan. Memohon dengan posisi bersimpuh, kedua tangan tertelungkup di depan dada. Berharap agar pria bertubuh kekar itu mau memberitahu, kapan waktu jelasnya Sang Presdir datang menemui mereka.


"Saya tidak tahu!" jawabnya datar seperti biasa, sebelum mengeluarkan permen karet dari bungkusnya dan memasukkannya ke dalam mulut.


"Tolonglah, Tuan. Hubungi Beliau, katakan padanya kalau kami teramat jera. Kami tidak akan melakukannya lagi. Menjebak Nona muda tercintanya itu," bujuk Mama Linda dengan tampang memelas. Namun yang dimintai tolong malah justru semakin tidak peduli. Jari kelingkingnya asik mengorek lubang hidung sembari mengunyah permen karet.


Hiiiisssshhh, bapak ini benar-benar, ya?


Mama Linda menghela nafas, memutuskan untuk menoleh kearah pria satunya. Berjalan dengan lututnya menghampiri pria tersebut.


"Tuan, kau yang baik hati. Tolonglah saya... bukankah Anda juga sudah lelah berjaga disini? lebih baik Anda hubungi Sekretaris Tomi, agar mau membebaskan kami. Lantas pekerjaan Anda selesai."


"Saya justru senang jika Anda lama disini, Bu. Bagaimana tidak? Kami hanya duduk-duduk namun di bayar dengan nominal tinggi. Hahaha..." jawab Pria itu sembari mengorek telinganya dengan cotton bud. Memecah tawa pria di sebelahnya.


Mama Linda mendengus dalam hati. Merasa sangat geram dengan mereka berdua. Wanita paruh baya itupun memutuskan untuk menjauh dan masuk ke bagian kamarnya.


"Bagaimana, Ma?" Tanya Soni.


"Kau sudah tahu jawabannya..." Mama duduk dengan lemas di atas ranjang. Membuat Soni nampak gusar.


"Hiks, terus kapan dong kita keluar? Aku bahkan tidak tahu, sudah berapa pekan kita ada disini... aku rindu Boni, Ma. Aku juga rindu jalan-jalan ke mall."


"Hei, Maura! bisakah Kau berhenti memikirkan cecunguk itu! Nasib kita saja belum jelas..." protes Soni.


"Justru aku harus memikirkan Dia! karena aku tidak tahu bagaimana nasibnya. Dia yang saat itu berada di kamar hotel dengan Arumi. Kalau Dia di hajar sampai mati bagaimana? Hiiiisss! Andai aku tahu suami Arumi segila ini, tidak akan aku mengikuti ide konyolmu itu!"

__ADS_1


"Terus saja kau menyalahkan aku!"


"Memang Kau yang salah. Kita merana disini juga karena, Kau!" cetusnya tak mau kalah.


Hingga Mama Linda bangkit dari posisi duduknya membuat Maura dan Soni sigap melindungi kepala mereka masing-masing, khawatir di hajar oleh wanita paruh baya itu seperti biasa. Namun, setelah bersiap menerima pukulan. Mama Linda justru berjalan melewati mereka berdua dan berdiri di depan dinding kaca.


BRAAAAAAAAAAAKKKK!


Kedua telapak tangannya menempel di dinding kaca dengan sedikit menggebrak, hingga kedua anaknya itu terperanjat kaget.


"Huuuwaaaaaaaaaa...." Mama Linda menangis dengan wajah menempel di kaca. "Seandainya ini adalah balkon. Lebih baik aku terjun dan mati saja, daripada aku harus terkurung disini!"


"Mamaaaaaa!" Maura menghambur pada ibunya. "Jangan bicara seperti itu, huhuhu..."


"Aku tidak tahan lagi, sungguh tidak tahan!" Isaknya, bersamaan dengan Maura.


"Aiiiih, kalian ini...." gumam Soni semakin frustasi, sementara tangannya menggaruk kepalanya yang tak gatal memandangi ibu dan adiknya itu.


"Selamat datang, Tuan," ucap mereka yang di dekat pintu.


"Eh–" Mama Linda menoleh cepat. Rambutnya yang awut-awutan itu terkibas mengenai wajah Maura.


"Tuan?" gumam Maura.


"Jangan-jangan?" Soni menimpali. Sementara Mama Linda langsung berjalan keluar memastikan siapa yang datang itu.


Benar saja, di luar... Presdir Arga Sanjaya baru saja menghempaskan bokongnya di sofa. Duduk sembari menyilakan satu kakinya. Di temani sekretaris Tomi yang berdiri di dekatnya.


"Oh, Tuan. Akhirnya Anda datang kemari," Mama Linda sampai terharu. Sungguh hatinya sangat gembira saat ini. Mengalahkan seseorang yang menemukan oasis di tengah gurun pasir setelah berhari-hari luntang-lantung kehausan.


Ketiganya langsung berlutut duduk di lantai menghadap kaki Tuan Arga. Pria itu mengusap sisi samping rambutnya.

__ADS_1


"Saya melihat, kalian baik-baik saja disini?" ujar Arga dengan gaya arogansinya seperti biasa. Mama Linda pun mengangkat kepalanya, pelan-pelan menggeleng. "Apa itu? Anda menggelengkan kepala?"


"Tuan..." Mama Linda menelungkupkan kedua tangannya di depan dada. "Kami mohon maaf... kami mengakui kesalahan kami terhadap istri Tuan. Kami menyesal, sangat menyesal!" Mama Linda menyikut kedua anaknya sehingga keduanya melakukan hal yang sama.


"Tolong keluarkan kami. Keluarkan Kami dari sini, sungguh kami hampir gila Tuan–" sambung Mama Linda kemudian.


Arga menarik separuh bibirnya. Setelah mendengar penuturan dari Sekretaris Tomi sebelum ini. Tentang apa saja yang di alami Arumi sebelumnya. Tentu hukuman seperti ini tidaklah cukup baginya, untuk mengganti semua perbuatannya itu.


"Tuan, kami benar-benar lelah. Fisik kami pun justru loyo karena berminggu-minggu tidak ngapai-ngapain. Kami butuh keluar, butuh beraktivitas normal. Kami perlu olahraga fisik dan lain sebagainya..." ucap Soni memberanikan diri, walaupun dengan kepala yang tertunduk.


"Olahraga?" tanya Arga. Berlagak seperti tengah berpikir. "Apa yang kau katakan ada benarnya. Manusia tidak mungkin hanya menghabiskan waktu untuk tidur-tiduran saja di sini."


Yeeeesss! Soni mengepalkan satu tangannya merasa senang. Bibir Mama Linda dan juga Maura pun tersenyum. Seolah seberkas sinar harapan mulai menyoroti tubuh mereka.


Akhirnya kami akan bebas!


"Baiklah! Mulai sekarang, aku tidak akan memanggil tukang bersih-bersih lagi."


"A–apa? Maksud, Tuan?" Mama Linda bertanya.


"Ya, seperti yang anak laki-lakimu bilang. Jika kalian perlu aktivitas fisik. Jadi kenapa tidak semuanya saja kalian yang mengerjakan. Seperti membersihkan apartemen ini setiap harinya. Juga memasak..."


"Anu?" Wajah wanita paruh baya itu kembali pias.


"Baiklah sudah ku putuskan. Kalian bisa melakukan seluruh pekerjaan rumah. Dengan di awasi dua penjaga kalian ini. Ingat? Tidak ada lagi kurir makanan yang datang, kecuali bahan mentah untuk kalian olah sendiri."


"Tuan bukan itu maksudnya!" Soni mencoba bernegosiasi lagi. Walau Arga tetap beranjak tanpa ingin mendengarkan. Ia pun memutuskan untuk keluar lebih dulu saat pintu sudah di buka.


"Tuan, tolong dengarkan kami. Tolong keluarkan kami...! Anakku harus sekolah, akupun harus meneruskan Bisnisku!!" Mama Linda berseru, berusaha untuk menyusul Arga. Yang sejurus kemudian di tahan oleh sekretaris Tomi.


"Seharusnya kalian bersyukur dengan hukuman yang masih terbilang nikmat ini. Karena walau kalian sedang di ganjar? Tapi kalian masih bisa makan enak, dan tidur dengan nyaman. Kalian masih bisa menikmati ruangan berfasilitas lengkap, tidak seburuk jeruji besi...!" gertak sang Sekretaris sebelum meninggalkan ruangan itu juga.

__ADS_1


Bersamaan dengan pintu yang tertutup. Musnah pula harapan ketiga manusia penuh dengki itu.


__ADS_2