
Denna mematung di depan pintu apartemen. Sementara laki-laki itu tengah menekan satu persatu angka dari key passwordnya.
"Sungguh, apa Anda akan benar-benar menyuruhku untuk mencuci pakaian?" tanyanya ragu.
"Ya, Anda pikir saya bercanda, Nona?" Cklaaak... pintu terbuka. Tangan sekretaris Tomi terulur. "Silahkan masuk."
Denna tak sedikitpun menggeser kakinya. Tatapan penuh selidik pula terus terarah pada Sekretaris Tomi seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Apa yang Anda pikirkan?"
"Siapa yang menjamin saat keluar dari sini aku akan tetap baik-baik saja? Aku tidak mau! begini-begini aku masih punya harga diri."
Tomi menghela nafas. "Apa isi pikiran Anda seperti ini?"
"Kalau dalam cerita novel, tentu tragedi one night stand itu akan terjadi. Ketika wanita dan pria berada dalam satu ruangan. Walau tanpa didasari cinta sekalipun." Berpaling muka.
Ya Tuhan, gadis ini benar-benar ya. Mulutnya terlalu polos. Ia bisa dengan santainya mengatakan itu di depan laki-laki dewasa? (Tomi)
"Anda pikir saya bernafsu melihat mu yang seperti ini?" Menujuk penampilan Denna yang hanya menggunakan celana training hitam dan jaket merah milik club sepak bola ternama.
"Memang apa yang salah dari penampilan ku?"
"Aku justru tidak yakin Anda itu benar-benar wanita tulen."
"Hei... jaga mulut Anda, ya!"
Menarik separuh bibirnya. "Anda itu hanya perlu masuk, dan cuci pakaian yang sudah Anda kotori itu lalu pulang. Itu saja... kenapa harus berpikiran jauh sekali."
Denna merasa tertohok dan malu sendiri. Ya pria di hadapanku ini pasti seleranya tinggi. Kau ini berpikir apa sih Denna?
"Cepat masuk!"
"Kenapa tidak Anda keluarkan pakaian itu lalu ku bawa ke laundry saja, sih!"
"Nona Denna, Anda itu mengotorinya pakai tanganmu sendiri, 'kan? Jadi cucilah dengan tanganmu juga." Mendorong tubuh Denna untuk masuk. Gadis itu pun hanya pasrah terlebih saat mendengar pintu itu kembali tertutup lantas terkunci otomatis.
"Jangan khawatir, Anda sudah melihat angka passwordnya. Jadi bisa kapan saja pergi dari sini jika aku berbuat hal yang aneh-aneh." Pria itu pun melewati Denna dan masuk ke dalam meninggalkan gadis yang kini tengah dirundung kebingungan.
"Aku tidak secerdas itu mampu menghafal sesuatu. Bahkan nomor telepon ku saja membutuhkan waktu dua tahun sampai aku bisa hafal di luar kepala." Menggerutu. Denna kini tengah mengedarkan pandangannya ke segala sudut.
Bagaimana ini aku ada di apartemen pria? Haruskah aku menelpon Arumi? Denna merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. Mencoba untuk menghubungi Arumi.
Drrrrrrttt... Drrrrrrttt... Suaranya tersambung namun tak kunjung di angkat. Sekali lagi dia menghubungi Arum, lalu ketiga kalinya, ke empat dan bahkan sampai berkali-kali.
"Iiiiisssshhhh...! Kau ini meninggalkan ponselmu dimana sih, Arum."
__ADS_1
"Nona Arumi terlalu sibuk untuk menerima panggilan telepon." Tomi yang sudah muncul dengan jas dan kemeja putih itu langsung mengulurkannya pada gadis itu.
"Anda benar-benar, ya. Dasar laki-laki pendendam!" Bersungut.
"Jika Anda terus berbicara maka pekerjaan tak akan bisa di selesaikan dengan cepat! Apa Anda sengaja berlama-lama disini karena sudah terlanjur betah?"
Dih...! Dengan tatapan sinis, Denna langsung merebut pakaian yang terulur itu dari tangan sekretaris Tomi.
"Dimana aku harus mencucinya...?!" Tanyanya sebal, Tomi pula langsung menunjuk salah satu pintu.
"Itu bilik kamar mandi luar. Cuci saja di sana pakai tangan. Ambil embernya juga dengan baik. Jangan sampai berantakan. Sabun cair ada di lemari gantung di ruang sebelahnya silahkan ambil seperlunya."
"Yeeeaaaap!" Sembari mengerucutkan bibir, ia menghentakkan satu kakinya kesal. Berjalan mendekati pintu bilik kamar mandi yang di tunjuk tadi.
Di dalam, kedua tangan gadis itu memegangi kemeja putih yang kotor. Terangkat hingga sebatas wajahnya.
"Kotorannya tebal juga, ya. Panjang sekali sampai ke bahu." Memutar-mutar. "Tunggu, bagian dada juga kotor? Perasaan yang ku kenai lumpur itu area tengkuk."
Denna mengendusnya pelan-pelan. Tercium aroma wangi di pakaian itu.
"Eh, ini sih wangi parfum laundry." Mengendus-endus lagi. "Iiissshhh, sumpah. Sekretaris itu benar-benar menyebalkan. Aku yakin pakaian ini sebenarnya sudah bersih, dan dia hanya mengerjai ku. Kenapa bisa Pria itu melakukan ini pada sahabat dari istri Tuannya. Harusnya aku mengadu dari awal pada Arumi." Melempar pakaian itu ke dalam ember warna hijau, kembali dia berkacak pinggang terlihat ogah-ogahan menekuri cucian di bawahnya. Ia bahkan lebih banyak diamnya di dalam kamar mandi itu dari pada bekerja.
"Lihatlah, walaupun rumah ini nampak mewah. Tapi aku ingin cepat keluar." Dengan malas ia menyeret langkahnya untuk mengambil sebotol sabun cair kemudian kembali dan menuangkannya sebanyak mungkin bahkan hampir setengah botol lebih, ya agar noda membandel bisa mudah di hilangkan, pikirnya.
"Haruskah ku tuang semua saja? Biar sekalian aku bikin gelembung busa yang banyak di kamar mandi ini. Hahaha..." Menuangkan lagi sisanya. "Okay...!"
"Duh, kerannya jauh lebih canggih dari yang ada di rumahku. Bagaimana cara menggunakannya?" Melongok sana sini. "Aku khawatir salah tekan. Haruskah aku tanya Si kanebo kering itu?"
Denna keluar sejenak mencari Sekretaris Tomi. Namun pria itu tak ia temukan batang hidungnya.
"Cih, apa dia pergi begitu saja sementara aku di suruh mencuci bajunya? Dasar tidak sopan!" Kembali melangkah ke kamar mandi. Denna terdiam cukup lama mencoba untuk menarik naik handle kerannya. Tanpa melihat adanya alat pengatur di bagian bawah.
Zraaaaaaassshhhhhh....
"Kyaaaaaaaaaa....!!!!" Semburan air mengalir cukup kencang hingga mengenai tubuhnya dari shower di atas. Denna terkejut dan tidak menyangka air akan menyembur sedemikian kuat hingga ia memutuskan untuk keluar dari sana.
"Ya ampun... bajuku, rambut, semuanya jadi basah."
"Apa yang?" Tomi yang habis keluar sebentar terkejut saat mendengar jeritan Denna. Dan menemukan jawabannya. Kontan melebarkan mata saat melihat air yang menyembur cukup kuat.
Buru-buru pria itu mematikan keran air yang secara otomatis membuat bajunya menjadi basah juga.
"Anda mau membuat kamar mandi ini jadi banjir atau bagaimana?!" Kesal.
"Maaf, Aku 'kan tidak bisa mengatur kecepatan airnya, Tuan." Denna menjawab enteng sambil cengar-cengir dengan rambut lepeknya karena basah.
__ADS_1
"Ini?" Terlihat pula busa yang mulai menggunung di ember. "Nona Denna? Apa Anda menghabiskan satu botol untuk dua pakaian ini?"
"Ku pikir noda akan cepat hilang saat ku tuang semuanya. Aku cerdik, 'kan?
"Ya Tuhan!" Tomi berkacak pinggang saat ini menatap lemas semua kekacauan yang terjadi dalam kurun waktu beberapa menit saja.
🌸🌸🌸
Sekitar satu jam kemudian Denna keluar dengan setelan setelan Hoodie berwarna abu-abu milik Sekretaris Tomi.
Taaaakk...
Dua cangkir teh hangat terhidang di atas meja. Sementara gadis itu langsung membuang muka dengan kedua tangan menyila di depan dada. Berdiri agak jauh dari meja makan yang menyatu dengan dapurnya.
"Minumlah... setidaknya Anda harus minum yang hangat."
"Aku hanya ingin pulang..." jawabnya dengan tatapan mata terus menghindari sekretaris Tomi.
Kau pikir aku nyaman duduk di depanmu dan menikmati teh ini. Sementara aku mengenakan pakaianmu sendiri?
"Lalu bajunya bagaimana? Semua masih utuh di dalam."
"Masih saja bahas pakaian?"
"Iya lah, memang itu tujuan saya memanggil Anda kemari. Cuci baju yang sudah Anda kotori."
"Aku, atau Anda sendiri..." Menujuk Sekertaris Tomi. "Jangan pikir aku tidak tahu, ya! Pakaian itu kotornya tidak wajar tahu!"
Tomi tak mendengarkan, dengan santai menikmati teh yang ia buat sendiri.
"Hei...! Apa Anda tengah mengabaikan aku?"
"Sudah waktunya, saya harus kembali bekerja." Tomi meletakkan cangkir teh tersebut, ia juga menuliskan beberapa digit angka di sebuah kertas kecil. Dan meletakkannya begitu saja di atas meja. "Keluarlah setelah selesai melakukan pekerjaan. Oh, aku juga tipe yang teliti. Jadi kalau ada sesuatu yang tak terlihat aku tahu harus mencari siapa."
"A–apa? Apa Anda pikir saya akan mencuri?!" Sergahnya kesal sementara yang di teriaki tidak peduli dan pergi begitu saja.
Blaaam...! Suara pintu yang tertutup. Laki-laki itu benar-benar meninggalkannya sendirian di apartemen ini.
"Hiks, ku pikir tugasku sudah selesai dan dia akan berbaik hati mengeluarkanku. Rupanya tidak." Bersungut-sungut. Denna kembali melangkahkan kakinya dengan lemas ke kamar mandi untuk melanjutkan tugasnya membersihkan noda pada pakaian tersebut.
bersambung....
.
.
__ADS_1
.
## maaf ya teman-teman pembacaku. Akhir-akhir ini lagi sering nyangkut babnya. Mungkin gara2 banyak kata-kata yang sebenernya nggak kotor tapi ya mungkin mengandung unsur-unsur merek barak dan lain sebagainya yang menyebabkan bab ku nyangkut di review. Terima kasih untuk teman-teman yang masih setia dengan cerita ini dari awal sampai akhir nanti. 🤗😘