Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
Syarat


__ADS_3

Beberapa jam sebelumnya...


Arga dan Sekretarisnya memasuki ruangan setelah selesai meeting. Raut wajahnya nampak tidak baik sebab beberapa masalah yang terjadi membuatnya banyak memaki.


"Apa Alieee belum sama sekali menghubungimu?" Arga mengendurkan dasinya.


"Belum, Tuan," jawab Tomi yang seketika paham siapa yang di maksud.


"Haaaahh... bagaimana caranya aku bisa meraihnya?" Arga menghempaskan tubuhnya ke kursi, berpikir sejenak. Tak lama Arga kembali bangkit dari posisinya itu. "Kita temui gadis itu sekarang."


"Baik Tuan..." Tomi mengangguk, bersamaan dengan langkah panjang Arga melewati tubuhnya yang disusul Dia kemudian.


🌸


🌸


🌸


Setelah keributan tadi, serta tarikan tangan Arga yang membuat Arum reflek menghambur ke tubuhnya. Membawa posisi mereka jadi amat dekat. Hingga Arga berdeham cukup kencang. Gadis itu pun terkesiap, melangkah mundur kemudian. Buru-buru Arum mengambil kursi untuk Pria arogan di hadapannya.


"Silahkan, T–Tuan..." ucap Arum kemudian, mempersilahkan pria yang masih berdiri dengan tatapan tegas itu untuk duduk.


Kekakuan masih tercipta antara Dia dan Arga. Sebab ia yang masih berdiri di samping kursi itu belum bergeser sedikitpun dari posisinya.


Dia mungkin menganggap kursi ini kotor... –batin Arum, tak lama ia pun berinisiatif untuk membuka suara.


"S–saya, saya ucapkan terima kasih atas bantuan Tuan. Jika tidak ada Tuan, saya tidak tahu nasib saya setelahnya akan seperti apa." Arum menunduk kembali setelah melawan rasa takutnya untuk berbicara. Arga tersenyum samar, kemudian menggeser tubuhnya untuk duduk di kursi sembari berdeham sekali lagi pada Tomi. Yang di kode pun paham.


"Semua hanya kebetulan, Nona. Namun, di samping itu bisakah kita memulai kembali obrolan yang lalu?"


"Y–ya?" Ia mengerjapkan matanya masih dalam posisi menunduk. Pasti tentang pernikahan aneh itu...?


"Maksud saya... apakah sudah ada keputusan yang di ambil setelah hampir satu bulan ini?"


Benar, kan? Sudah pasti bantuan ini mengandung umpan. Sial!

__ADS_1


"Saya?" Menelan saliva-nya. Diam-diam melirik kearah wajah Arga yang sibuk dengan tab di tangan. "Saya akan menerima tawaran itu."


Klaaap... Arga mematikan layar tab itu langsung.


"Bagus!" ucapnya, sebelum bergeser menatap Tomi. Sang sekretaris pun mengangguk, lalu mendekati Arum sembari menyerahkan sebuah map tipis.


"Silahkan Anda baca lalu tandatangani surat perjanjian ini, Nona."


"Surat perjanjian?" Tanyanya, sementara tangan itu masih belum menerima map tersebut.


"Iya... saya akan baca sedikit mengenai inti dari adanya pernikahan ini." Sekretaris Tomi membuka map tersebut, kemudian membenahi kacamatanya. "Dalam surat ini tertulis, bahwa Anda yang bertandatangan di bawah ini bersedia untuk berperan sebagai mendiang Nona Alicia. Dalam artian, jangan pernah sekalipun Anda berpikir untuk mendapatkan perlakuan spesial selayaknya istri yang sesungguhnya. Sebab, Tuan Muda menikahi Anda bukan atas dasar cinta. Melainkan semata-mata hanya karena Anda mirip dengan Mendiang Nona Muda. Dan, anda wajib berusaha untuk menyembuhkan rasa rindu yang tertahan di hati Tuan muda hingga Beliau mampu mengikhlaskan kepergian Nona Alicia."


Ya Tuhan... apakah semua orang yang punya kekuasaan bisa melakukan ini? Malangnya nasibku yang harus menjadi orang miskin. –Arum hanya bisa mendengarkan dengan pasrah.


"Disini Beliau juga berhak melakukan apapun, sementara Nona Arum wajib melayani Tuan Arga sepenuhnya."


"T–tunggu, maaf saya menyela Tuan."


"Silahkan..."


Sekretaris Tomi terdiam, melirik ke arah Arga sejenak. Pria itu hanya diam saja. Pertanda bahwa ia telah mantap dengan peraturan awal yang dibuatnya sendiri untuk Arum. Kembali Sekretaris Tomi menghadap gadis bermata indah di depannya.


"Benar Nona, melayani seluruhnya disini termasuk dalam urusan ranjang juga."


Deg!


Arum membeku. –Ini sudah bukan ranah peran atau apapun itu. Tapi benar-benar di buat selayaknya istri, yang mungkin memiliki batas waktunya.


"Tapi Anda tenang saja. Selama proses pernikahan berjalan. Anda ataupun Tuan muda di wajibkan untuk melakukan suntik KB. Karena pernikahan akan berjalan sampai Tuan Muda lah yang meminta untuk menghentikan semuanya. Jadi tidak akan ada pihak yang di rugikan disini. Lagipula, apa bila Tuan Arga menceraikan Anda. Nona tidak perlu khawatir untuk kelangsungan hidup setelahnya. Sebab disini tertulis juga jika Anda akan mendapatkan tabungan berjumlah lima puluh milyar, rumah, dan juga mobil."


Haaaah... konyol, gila, sinting! Apalagi yang bisa ku sebutkan untuk menggambarkan semua ini. Bagaimana mungkin dengan entengnya sekretaris itu bilang tidak akan ada yang di rugikan. Tentunya aku tetap dirugikan!


Laki-laki itu bisa mendapatkan hal paling berharga dalam hidupku. Namun setelahnya, aku akan seperti batang tebu yang sudah di ambil sarinya? Lantas dibuang begitu saja. Lebih-lebih mendapatkan bayaran. Seolah aku wanita sampah yang menjual diriku sendiri.


Arum mengepalkan tangannya kuat. Merasa semua ini tidaklah baik untuknya.

__ADS_1


"Saya lanjutkan..." Tomi membuka lembaran selanjutnya.


"Tunggu!" Arum menyela. "Apa bila saya membatalkan itu, lantas menolak ini. Kira-kira apa yang akan Kalian lakukan?"


Arga mengangkat kepalanya, semakin menunjukkan kesan arogansinya. "Tentunya Aku akan menuntut denda ganti rugi atas waktu yang sudah di keluarkan. Termasuk dana pelunasan hutang yang telah ku keluarkan tadi. Jumlahnya senilai dua puluh lima juta. Dan kau harus membayar itu dengan Cash, sekarang juga. Sebab aku tidak menerima cicilan."


Aku sudah benar-benar terjebak, semua gara-gara Sonny dan Mama Linda! –Arum mati kutu. Tidak bisa berkutik lagi.


"Bisa saya lanjutkan, Nona?" Tanya Sekretaris Tomi ketika Arum tak bisa menjawabnya. Arum pun mengangguk pasrah.


"Baik, selama menjadi istri Tuan Arga. Anda wajib merubah total penampilan Anda seperti Nona Alicia. Anda juga harus mempelajari profil tentang Nona Alicia yang tertulis juga dalam map ini. Seperti kebiasaan yang ia kerjakan, juga cara dia bersikap sekaligus bertutur kata pada Tuan Muda."


Tomi melompat ke lembar selanjutnya. "Selama menjadi Istri pengganti, Anda harus menghindari apapun yang tidak disukai Tuan Arga. Salah satunya berdialog banyak dengan lawan jenis. Anda juga dilarang membantah apapun yang menjadi keinginan Tuan Muda Arga selaku suami. Dan yang paling utama, Anda dilarang mengendarai kendaraan sendiri, entah itu mobil, motor, lebih-lebih sepeda. Terkhusus untuk sepeda Anda pun di larang untuk menyentuhnya."


Ampun! peraturan macam apa itu? Adakah seorang suami yang mengatur pasangannya sampai seperti itu? Benar-benar perbudakan modern namanya. –Arum masih bengong mendengarkan rentetan aturan tidak wajar yang sedang di bacakan oleh sekretaris Tomi.


"Selebihnya, Anda bisa baca sendiri. Isinya mengenai profil Tuan Arga dan juga Nona Alicia." Sekretaris Tomi meletakkan map itu di atas meja lalu menunjukan kolom tanda tangan yang sudah di tempel materai. "Sekarang tanda tangan di sini."


Arum meraih pena yang di sodorkan sekretaris Tomi. Mencoba untuk berpikir ulang. Walau pilihan terbesarnya adalah menolak. Namun, bagaimana jika dirinya benar-benar di tuntut untuk mengganti semuanya?


Arum tertekan, sementara pena sudah di arahkan-nya ke tempat untuk mengguratkan pena tersebut. Tak berselang lama, sebuah pikiran tentang makam melintas ia pun menoleh ke arah Arga.


"Tuan, saya mungkin akan menandatangani ini. Jika saja Tuan Arga bersedia menuruti keinginan saya."


"Katakan saja–" jawabnya datar.


Arum menghela nafas. "Saya hanya ingin, Tuan membiayai sewa tanah makam milik kedua orang tuaku. Selamanya..."


"Makam?" Arga menaikkan satu alisnya. Gadis itu mengangguk. Sudut matanya mulai menampung air. Ia menghela nafas sejenak.


"Iya, hanya dua makam itu yang menjadi sumber kekuatanku selama ini. Jadi saya mohon, hanya itu syarat-ku. Tolong perbaharui terus sewa tanahnya agar makam ke-dua orang tua ku tetap ada. Setelahnya, saya akan mengabdi kepada Anda, Tuan muda... sepenuh hati saya." Arum menggigit ujung bibir bawahnya tanpa sepengetahuan dua orang pria itu.


Arga menarik separuh bibirnya tersenyum sinis. "Baiklah... ku ambil syaratmu itu. Dan lakukan apapun yang ku inginkan setelahnya."


Air matanya semakin menampung banyak di pelupuk matanya. Terlebih saat Arga beranjak dari posisinya memilih untuk keluar dari toserba tersebut.

__ADS_1


__ADS_2