Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
yang terjadi sebenarnya


__ADS_3

Ada alasan kenapa Arga jadi nampak risih dengan Veronica. Kejadiannya terjadi saat malam itu, ketika Vero masuk begitu saja ke ruang kerjanya di rumah utama.


# Flashback on


"Lalu bagaimana dengan pembebasan lahan di daerah X?"


"Semua berjalan baik. Warga setempat setuju dengan tawaran kita. Dan bersedia menjual tanah mereka. Di samping itu, mereka juga punya permintaan khusus, Tuan."


"Apa?" Arga memasukkan potongan kiwi ke dalam mulutnya.


"Mereka ingin lapangan pekerjaan lebih di dominasi warga sekitar, baru orang luar."


"Memang mayoritas pendidikan mereka apa?"


"Setara SLTP, namun tak sedikit pula yang SLTA. Semua data sudah masuk kepada saya. Lalu saya sempat berpikir bahwa kita bisa masukan mereka ke bagian yang memang tidak perlu pendidikan tinggi..."


"Hemmmm..." Arga nampak berpikir sembari mengunyah. "Pengalaman bagaimana?"


"Sebagian besar pernah bekerja di pabrik, atau tukang bersih-bersih..."


"Okay, itu bisa kita urus nanti. Yang terpenting proyek ini jalan dulu. Sembari Kita lihat kedepannya. Jika...?"


BRAAAAAAAAAAAKKKK... pintu ruang tersebut terbuka. Keduanya menoleh, ingin rasanya Arga memaki siapapun yang tiba-tiba masuk tanpa sopan-santun itu. Sama halnya dengan Sekretaris Tomi.


"Kakak, aku datang!" Veronica dengan senyum manisnya langsung saja mendekati mereka berdua. Tentunya hal itu membuat Tomi geram. Ingin rasanya ia menyeret gadis bermata sedikit abu-abu itu keluar, jika saja bukan adik dari wanita yang di cintai Tuannya.


"Kita lanjutkan besok saja. Kau bisa keluar, Tomi."


"Baik, Tuan." Tomi membereskan berkas yang berada di atas meja. Sementara sorot matanya melirik sekilas pada Vero yang kini tengah memeluk lengan kekar Arga.


Benar-benar bukan gadis yang baik... Gumamnya sembari berkutat dengan resleting koper berisi tumpukan berkas penting yang selalu ia bawa.


"Saya permisi pulang, Tuan. Selamat malam..."


"Ya!"


Setelah mendapatkan jawaban itu. Tomi pun keluar dan bertemu dengan Arumi di teras rumah.


Kembali pada Arga, yang tengah mengusap sisi samping rambutnya kebelakang.


"Kenapa tiba-tiba datang?"


"Hanya rindu Kakak ku," jawabnya ceria.


"Tapi lain kali. Sebaiknya kau jangan melakukan ini Vero."

__ADS_1


"Kenapa?" Tanyanya manja.


"Hanya tidak pantas. Kau tahu aku sudah beristri. Jangan lagi asal peluk dan sebagainya..."


"Dulu saat masih ada Kak Alicia, kakak tidak seperti itu. Aku masih boleh memeluk kakak, dan gandeng tangan Kakak. Walaupun kakak memiliki hubungan spesial dengannya."


Pada saat itu, Alicia sendiri yang memintanya. Dan sampai saat ini aku tidak tahu, apa alasan dia membiarkan aku di gandeng oleh adiknya. Bahkan memintaku untuk perhatian padamu. Arga hanya diam saja.


"Kak, keluar yuk. Kita makan diluar saja. Aku sengaja datang untuk mengajakmu."


"Aku punya peraturan. Jika sudah di rumah, maka siapapun itu? harus makan makanan rumah. Maaf aku tidak bisa, Vero."


"Iiissshhh, bisakah memberi toleransi untukku? Aku ingin dinner berdua dengan Kakak."


"Tidak bisa. Aku tidak mungkin meninggalkan istriku di rumah, sementara aku makan malam berdua denganmu di luar."


"Istri? Memang selama ini Kakak menganggapnya istri?" Cetusnya, hingga langkah Arga yang hendak keluar itu terhenti dan sejurus kemudian menoleh.


"Jangan berlebihan meratapi kepergian Kakakku. Kak Arga harus move-on. Dengan mencintai wanita yang berbeda."


"Apa katamu?"


"Kakak jangan membohongi diri kakak sendiri. Jelas-jelas dia bukanlah Kakakku. Kak Arga tidak akan bisa menuai bahagia hanya dengan merubahnya seperti Kak Alicia!"


Arga memilih untuk tidak menanggapi. Sembari geleng-geleng kepala, pria itu pula memutar tubuhnya walau langsung di tahan oleh Veronica.


"Kakak ingat aku sempat ke Paris sampai bertahun-tahun? Itu karena aku tidak menerima keputusan Daddy. Sekarang seolah takdir berkata lain... mungkin semesta mendukung kita untuk bersama. Tapi kakak malah memilih wanita kampungan itu hanya karena wajahnya yang mirip."


"Dia tidak kampungan!"


"Dia kampungan dan juga murahan!!!"


"Vero jaga mulutmu!" Arga menuding wajah cantik Veronica dengan tatapan gusar. Walaupun dengan intonasi suara yang masih ia tahan. Demi menghormatinya sebagai adik kandung Alicia.


"Aku tidak perlu menjaga ucapanku untuknya. Karena itu fakta, Kak. Buktinya ia bisa melakukan apapun tanpa cinta. Sadarlah... wanita itu tidak mencintaimu. Begitu pula sebaliknya! Namun, berbeda denganku. Aku tulus mencintai Kakak." Vero mengusap dada bidang Arga, mencoba untuk menggodanya di ruangan kerja itu.


Arga melepaskan tangan yang terus-menerus mengusap lembut bagian dadanya. Tentu respon itu membuat Veronica semakin memeluknya erat.


"Kakak harus tahu, aku menahan sakit ini selama bertahun-tahun. Dan betapa berangnya aku saat Kakak tetap menikah dengan wanita lain? Padahal ada aku yang jauh lebih layak di jadikan sebagai pengganti kak Alicia."


"Aku tak pernah menduga, kau bisa seperti ini..." Arga mendorongnya hingga pelukan itu terlepas. Dan bukannya malu, gadis itu justru kembali memeluknya lagi dari belakang.


"Kak, tolong jawablah cintaku. Karena aku jauh lebih mampu memberikan apapun yang kakak butuhkan daripada Dia."


"Memang apa yang bisa kau berikan kepadaku? Aku sudah memiliki semua. Bahkan yang tak kau miliki sekalipun." Tantang Arga merasa terhinakan. Vero pun melepaskan pelukannya dan berdiri di hadapan Arga.

__ADS_1


"Tubuhku mungkin... aku bisa memberikannya untuk Kakak. Bahkan malam ini juga. Aku akan memberikan kepuasan untukmu. Asal, Kakak bersedia meninggalkan wanita itu."


Dengan gilanya Vero sampai melepaskan cardigan yang menutupi bahunya. Menujukkan bagian dada yang nampak besar. Terlihat dari pakaiannya yang ketat itu.


Arga tersenyum sinis. "Jal*Ng!" gumamnya kemudian.


"A–apa? Kakak menyebutku jal*ng?!"


"Julukan itu sudah cukup halus untuk ku sematkan pada gadis yang menawarkan tubuhnya sendiri secara cuma-cuma, terlebih pada pria beristri!" hunusnya tajam.


Kedua netra milik Veronica bergerak-gerak. Belum lagi saat Arga menatap dengan hina kearahnya. Sebuah sorot mata yang tak pernah ia lihat terarah untuknya dari pria yang ia sukai itu.


"Pulanglah, kau tak layak lagi ku anggap sebagai adikku! Dan aku yakin sekali, kalau saja Alicia melihat ini, dia akan malu karena kelakuan adiknya. Lagipun... aku sudah cukup puas menyalurkan hasrat-ku padanya. Itu berarti, aku tidak butuh lagi darimu," timpalnya sebelum meninggalkan ruangan tersebut. Membiarkan Vero mematung sendirian.


# Flashback off


Arga memijat keningnya sendiri. Mencoba menghilangkan ingatan yang membuatnya jijik setiap kali melihat Veronica. Ia pun mengalihkan isi kepalanya saat ini, dengan hal lain. Dengan mengeluarkan ponsel yang berada di saku mantel jas. Terdiam sejenak, karena baru saja layar itu menyala. Ia langsung teringat seseorang.


Sebaiknya aku menelfonnya. Walaupun aku membebaskan Dia. Bukan berarti dia bisa seenaknya...


Arga melirik jam tangan yang menunjukan pukul 15:09 waktu setempat, menandakan jika di Indonesia masih pukul 20:09. Ia pun menekan satu digit angka prioritas, hingga langsung terhubung pada ponsel Arumi.


📞 "Hallo, Sayang? Kau sudah sampai?" sapanya dari sebrang. Yang tanpa disadari membuat senyum di bibir Arga terbit.


"Ya, aku sudah sampai sekitar empat jam yang lalu."


📞 "Aku tidak tahu, perjalanannya akan lama sekali."


"Emmm... apa yang sedang kau lakukan. Aku mendengar suara bising di sana."


📞 "Maaf sayang, aku sebenarnya tengah menginap di rumah Denna saat ini, dan? (Arum, ini jagung milikmu...)"


Mata emerald-nya sedikit melebar, karena Arga mendengar suara pria dari sebrang.


"Aku tidak salah dengar, kan? Kau bersama seorang pria?!" Hunusnya langsung.


📞 "Sayang, aku bisa menjelaskannya. Ini tak seperti apa yang kau pikirkan."


"Kau ku beri kebebasan. Namun justu bersenang-senang dengan seorang laki-laki. Bahkan makan jagung bakar bersama?"


📞 "Sayang bukan begitu. Dengarkan dulu penjelasanku..."


Arga menoleh kearah sekertaris Tomi. "Tomi, siapkan jet pribadiku. Kita pulang ke Indonesia sekarang!"


"Eh..." Pria itu belum merespon selain melirik kearah spion tengah.

__ADS_1


📞 "Sa-sayang... hallo sayang!" Pik... Arga memutus panggilan teleponnya. Tangannya pula terkepal kuat.


"Dia benar-benar cari mati, ya? Berani-beraninya bermain dengan laki-laki di belakangku," guMamnya seraya melonggarkan dasi yang seolah amat mencekik leher saat ini.


__ADS_2