Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
Sebab tanggal spesial


__ADS_3

Suasana malam selepas hujan sering kali membuat hawa menjadi lebih sejuk. Walaupun jalan masih dipadati kendaraan roda empat, namun tidak begitu sesak seperti biasanya. Motor-motor yang menyelip mencari celah pun tak begitu banyak.


Akibat jalanan yang lengang itu pulalah yang membuat Arga nampak menikmati perjalanan pulangnya ini.


Sesaat ia mendengar suara alarm schedule di ponselnya. Sebuah tanggal yang tertera di sana. Menujukkan jika akan ada moment spesial di hari itu yang wajib sekali ia ingat.


Besok hari spesial kita –Arga membatin. Bibirnya pula mengulas senyum, sembari menggenggam ponsel di dadanya. Sejurus kemudian menggeser pandangannya ke depan.


"Tomi, apa Flower house di jam segini sudah tutup?" tanyanya memecah keheningan. Sejenak pria di depan melirik kearah jam yang masih menunjukkan pukul 20:11.


"Sepertinya belum, Tuan."


"Kalau begitu kita mampir ke sana sekarang."


"Ya, Tuan," jawab Tomi mengiyakan. Mobil pun berbelok arah ke salah satu toko bunga.


Setiba di sana, sorang wanita paruh baya menyambutnya dengan gembira. Bibirnya mengulas senyum ceria, seperti seorang ibu yang kedatangan anak kandung setelah merantau berbulan-bulan.


"Tuan Presdir–" sapanya amat senang.


"Apa Kabar, Bu?"


"Kabar saya amat baik tentunya, Tuan," jawabnya kemudian. Ibu itu pun menyuruh sang tamu VVIPnya untuk masuk. "Sudah lama sekali, Anda tidak kesini, Tuan," tuturnya sembari melangkahkan kakinya.


Pria itu menatap sekeliling sejenak, sebelum kembali menoleh kearah si ibu dengan senyum datarnya.


"Semuanya tak berubah," gumamnya kemudian. Tanpa menjawab pertanyaan di awal. Sepertinya Arga menghindari, jawaban yang akan membuatnya sedih. Karena terakhir kesini, ia bersama Alicia. Saat peresmian toko ini, dua tahun yang lalu.


"Memang tidak ada yang berubah, Tuan. Hanya saja, saya menambahkan pegawai saya lebih banyak. Sebab pesanan yang membeludak setiap harinya, membuat saya tidak bisa meng-handle pekerjaan ini. Semua berkat bantuan Tuan Muda, dan juga dedikasi tinggi dari mendiang Nona Alicia," jawabnya.


"Emmmm..." Arga hanya manggut-manggut. Ia ingat betul betapa semangatnya gadis itu membangun toko bunga milik seorang wanita paruh baya, yang dulunya pernah menolong dia saat tak sengaja hilang dari pengasuhnya di tengah kota.


Jika di ingat-ingat kejadian itu sudah lama sekali. Namun Alicia tetap mengingat wanita itu hingga akhir hidupnya.


Aura sedih terpancar di wajah tampan Arga. Yang selalu mengagumi sosok dermawanya gadis itu sejak usia belia. Bahkan ia suka heran, dari mana letak bahagianya? keuntungan pun tidak ada, saat dekat-dekat dengan orang-orang malang yang berada di bawah garis kemiskinan. Pikirnya hanya membuang-buang waktu, melakukan perjalanan ke berbagai belahan dunia, terutama bagian negara yang mengalami krisis makanan.

__ADS_1


Kau tidak akan pernah tahu, Kak. Rasanya melihat mereka yang kelaparan, dapat tersenyum senang sembari menerima paket makanan dari tangan kita langsung. Karena dari mana lagi mereka bahagia jika bukan dari orang-orang seperti kita yang peduli. Di situlah letaknya, dimana aku bisa mensyukuri hidupku... –Kata-kata Alicia dulu, saat Arga melarangnya ke Afrika sekitar tiga bulan sebelum kematiannya.


Ya, sejauh itu Alicia peduli dengan mereka-mereka yang tak beruntung. Makanya banyak pedagang kecil yang menjadi lebih berkembang saat bertemu dengannya.


Ia melanjutkan langkahnya. Menyusuri keranjang berisi beberapa jenis bunga yang di tata rapi. Sesaat kaki Arga menendang sesuatu yang yang berada di lantai. Hingga kenangan Alicia tercerai-berai dalam pikirannya.


"Maaf toko memang sedang berantakan, Tuan. Karena sejatinya kami hendak tutup," tuturnya sopan, karena merasa tidak enak hati.


Arga menoleh kebelakang. "Iyakah? Apa kedatangan kami cukup menganggu?"


"Tidak sama sekali. Justru saya sangat senang saat Tuan Datang. Dan tidak menyangka, Anda akan datang disaat Nona muda sudah tidak ada...." Ibu paruh baya itu menoleh kearah Tomi yang nampak menggeleng kepadanya. "Maaf, Tuan..."


Arga hanya menanggapi dengan senyum kecutnya. "Tolong pilihkan yang terbaik..."


"Baiklah, Tuan mau yang jenis apa?"


"Apa saja. Yang penting, buket dengan isi bunga-bunga kesukaannya. Ibu pasti paham, karena sebelumnya aku langganan disini."


Ibu itu tersenyum sembari mengangguk. "Baik, akan saya siapkan."


Selama bunga di rangkai oleh sang pegawai. Wanita itu mengajak Arga dan Sekretarisnya keruangan VIP seraya menunggu. Mereka pun mengobrol banyak hal. Tak sedikit Ibu itu membahas tentang Alicia, atas permintaan Arga sendiri. Ya, walau tak semua, karena beberapa kali Tomi mencoba mengalihkan. Saat ekspresi wajah Arga berubah.


"Silahkan, Tuan." Ibu itu menyerahkannya pada Arga yang sigap menerima. Mata emerald itu nampak mengilap, wajahnya datar tanpa ekspresi. Melihat semua bunga yang di rangkai cantik, hingga membawanya pada kenangan masa lalu.


# Flashback on...


Sebuah Helikopter mendarat di atas gedung kantor milik keluarga Narendra.


Gadis itu pula tersenyum senang ketika Arga sudah berdiri di depan pintu helikopter yang terbuka.


"Kau tak ingin memelukku, yang jauh-jauh dari kantorku sendiri...?" Arga merentangkan kedua tangannya. Di sisi kanan kirinya ada dua orang yang bertugas memegang buket bunga raksasa.


Alicia pun tertawa, padahal ini masih pagi sekali. Ia saja baru tiba di kantornya. Belum lagi ucapan Arga yang bilang ia datang jauh-jauh dari kantornya sendiri? Padahal hanya berjarak enam kilometer dari gedungnya.


Sangat berlebihan, bukan? Ia datang kesini menggunakan helikopter? Gadis itu berlari kearah Arga dengan riang. Lalu memeluk tubuhnya sembari tertawa bersama. Ketika pria itu menangkapnya.

__ADS_1


"Sayang kau jahat!"


"aku jahat? Dari sisi mananya?" Arga lebih protes lagi saat menerima protes dari Alicia.


"Kenapa kau selalu mengingatnya lebih dulu dari aku. Itu curang... padahal aku ingin marah-marah seperti gadis pada umumnya, ketika pasanganku lupa tanggal jadian."


Arga tertawa angkuh. Mengusap sisi samping rambutnya. "Kau harus tahu, aku sesempurna itu sebagai pasanganmu."


"Curang!" Alicia memukul dadanya. Hingga Arga kembali tergelak. "Kau tak memberikan kesempatan untukku kecewa."


"I love you," ucap Arga menyela, hingga Alicia tersenyum haru padanya.


"I love you to, sayang..." setitik air matanya menetes. Alicia mencium pipi kekasihnya dengan rasa cinta yang amat dalam di hatinya. "Sungguh aku tidak tahu, bagaimana caranya mengucap syukur saat aku di anugerahi pria seperti dirimu, sebagai kekasihku."


"Cukup dengan tetap ada di sisiku. Sebagai istri ku..."


"Apa?" Alicia semakin banjir air mata.


"Semua setuju, ketika aku meminta pernikahan kita di adakan tiga bulan lagi."


"Kakak?"


"Aku mencintaimu, aku ingin cepat-cepat hidup bersamamu."


"Hiks..."


"Jangan menangis. Apa kau tidak senang?"


"Kakak ini bagaimana? Justu aku terharu, saking bahagianya..."


"Hahaha..." Arga tertawa, sebelum mendaratkan ciuman di bibir gadisnya selama beberapa saat. Sebelum membawanya terbang ke suatu tempat. Yang sudah ia siapkan untuk merayakan anniversary mereka yang justru menjadi anniversary terakhirnya.


# Flashback off...


Setetes air matanya mengalir ke pipi. Kembali ia merasakan dunia ini tidak adil baginya. Sebab kebahagiaan yang tiba-tiba terenggut begitu saja. Alicia kini pergi untuk selamanya, meninggalkan semuanya yang ada di sini. Termasuk dirinya.

__ADS_1


"Tuan? Anda baik-baik saja?" Tomi nampak khawatir kepadanya. Buru-buru Arga mengusap air matanya sendiri, sebelum akhirnya melenggang pergi meninggalkan dua orang itu keluar tanpa berbicara sepatah katapun.


"Sepertinya, Beliau mengingat Nona Alicia–" gumam ibu itu nampak turut merasakan kesedihan Tuan Arga. Tomi pun hanya menghela nafas, ia melakukan pembayarannya setelah itu keluar menghampiri Arga yang sudah berada di dalam mobilnya.


__ADS_2