Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
kedatangan tak terduga 2


__ADS_3

Puku 05:00...


Seperti biasa Tomi membuka aplikasi baca gratis di ponselnya. Lanjutan dari kisah Ahool of love yang sudah ia nantikan sejak kemarin pagi.


"Ck! Penulis ini licik sekali. Pandai menggantungkan cerita di akhir, membuat pembaca jadi penasaran." Menggaruk kepalanya sembari meletakkan ponsel ke atas meja. "Jenuh juga menunggunya meng-upgrade cerita setiap hari. Ingin di tabung tapi penasaran..."


Sekretaris Tomi turun dari atas ranjang. Dan langsung memasuki kamar mandi untuk mencuci wajah, serta membersihkan rongga mulut seperti menyikat gigi yang di akhiri dengan berkumur menggunakan cairan Mouthwash.


Setelah selesai melakukan perawatan sederhana laki-laki itu menghabiskan waktu pagi ini dengan berolahraga singkat lalu menyiapkan sarapannya sendiri.


Triiiiiiiiing...


Sebuah panggilan telepon membuat salah satu alisnya terangkat. Ia pun langsung menekan tombol terima.


"Ya ini aku..." Tomi menempelkan ponsel di telinga dengan cara memiringkan kepala hingga menempel di bahu. Sebab kedua tangannya tengah bekerja memutar botol penggiling lada.


๐Ÿ“ž "Tuan, saya sudah menghubungi pihak dari Novel online tersebut. Mereka bilang akan langsung menghubungi penulis guna pembahasan Novel cetak."


"Begitu ya? Kira-kira berapa lama sampai prosesnya selesai di cetak."


๐Ÿ“ž "Mereka mengusahakan sebulan hingga dua bulan. Tergantung kecepatan penulisnya saat tahap revisi."


"Terlalu lamaโ€“" Tomi mengangkat teflon anti lengketnya. Menggoyang-goyangkan setelah itu menyajikannya di atas piring. Tangan kanannya mengibas sembari hidungnya menghirup aroma kentang grill sebagai menu sarapannya. "Apa kau sudah tahu siapa penulis itu?"


๐Ÿ“ž "Ya, saya sudah tahu, Tuan."


"Siapa? Laki-laki kah?" Tanyanya sembari memindahkan piring ke atas meja, ia pun kembali ke kompor untuk mengangkat telur rebus-nya.


๐Ÿ“ž "Tidak, Dia perempuan Tuan. Namanya Denna Ariestia (25 tahun)."


Deg! Tomi yang sudah memegangi alat capit terpaku. "Denna?"


๐Ÿ“ž "Benar Tuan."


"Apa di dunia ini banyak yang memiliki nama itu?" bergumam lirih. Mendadak wajah jutek gadis yang biasa menguncir rambutnya itu terlintas di kepala. "Aiiiisss! Ini pasti Denna yang lain..."


๐Ÿ“ž "Bagaimana, Tuan?" Bertanya setelah mendengar Sekertaris Tomi meruntuk.


"Tidak. Apa kau tahu sosial medianya?" Aku bahkan penasaran? Dasar naif.


๐Ÿ“ž "Iya, Tuan. Nanti akan saya kirim link akunnya via chat..."


"Baiklah... kerja bagus. Sekarang kembali ke tugasmu."


๐Ÿ“ž "Baik Tuan. Saya tutup telfonnya, selamat beraktifitas..."


"Emmmm..." Sekretaris Tomi menjauhkan ponselnya dari telinga sebelum memutus panggilan telepon. Ia pun kembali meneruskan niat untuk mengangkat dua terlur rebus-nya dari dalam panci yang masih mengepul.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian setelah Tomi selesai menyiapkan sarapan paginya diatas meja. Ponsel kembali membunyikan tanda notifikasi pesan chat. Buru-buru sekretaris Tomi membuka link yang di kirim.


"Ku harap bukan..." Menunggu loading sejenak hingga akhirnya, blaaaaar. Pria itu langsung menjatuhkan ponselnya ke atas meja makan dengan mata terbuka lebar saat melihat wajah sahabat Arumi yang terpampang di profil.


"Astaga, benarkah dia penulis novel itu? Tidak, tidak..." Mengambil kembali ponsel di atas meja. Dan benar saja, ada beberapa gambar novel favoritnya. Tomi kembali meletakkannya di atas meja kemudian menyandarkan kepala menatap langit-langit dapur.


"Jadi selama ini dia penulis novel itu. Dia, Si gadis lumpur? Sungguh dunia ini terasa sempit sekali," gumamannya tidak percaya.


***


Waktu tengah hari...


Rapat direksi telah selesai. Termasuk beberapa kunjungan ke berbagai Mega proyek termasuk salah satunya proyek reklamasi pulau yang baru separuh jadi dipantai X.


Arga yang begitu bersemangat hari ini, hingga bisa menyelesaikan semua pekerjaan dengan baik. Tanda tangan ini dan itu, datang ketempat A sampai Z tanpa mengeluh atau mungkin banyak mengomel seperti biasanya.


Membuat Tomi tak sedikitpun merasakan kewalahan seperti biasa. Belum lagi aura positif Arga yang mudah menebar senyum akhir-akhir ini membuat para kolega merasakan dampak positifnya, yang berujung pada kesepakatan kerja sama tanpa banyak berdiskusi panjang.


Ya, inilah yang Tomi mau. Bos yang berubah menjadi kucing maning seperti saat ini. Sejenak Tomi meralat kata-katanya saat melihat Arga yang sedang menelfon istrinya sepanjang adanya kesempatan untuk menelfon.


"Ya, sayang. Kau bersiaplah karena pekerjaan ku sudah selesai..." diam sejenak mendengarkan Arum yang sedang berbicara di sebrang. "Tidak sayang, aku lebih suka kita berdua saja. Tenang, akan ku usir sekretaris ini. Kau jangan khawatir, aku tak akan telat menjemputmu, okay. Tunggu di sana... Love you honey..."


Tuan, aku tidak tahu Anda bisa se-lebay ini pada Nona. Ya Tuhan... (Tomi)


"Tomi," panggilnya mendadak hingga Tomi sedikit terhenyak.


"Aku mau pulang sekarang, kau tidak usah menemaniku." Beranjak sembari memunguti barang-barangnya.


"Seโ€“sekarang juga, Tuan? Tapi hari ini kita ada pertemuan penting."


"Tidak ada yang lebih penting daripada Arumi ku. Dia ngidam ingin makan daging kepiting di restoran seafood. Dan aku harus menurutinya."


"Tapi?"


Puk... puk... "Kau handle semuanya, Okay. Bye!"


Arga pergi begitu saja. Tomi pun hanya bisa menghela nafas.


"Laki-laki akan kehilangan wibawanya jika sudah berurusan dengan cinta. Begitulah quote yang ku baca. Ah, tidak akan berlaku untukku."


Tomi mengemasi berkas-berkas yang di perlukan. Hingga sebuah telfon masuk mengabarkan jika pihak client meminta penundaan pertemuan karena adanya urusan urgent lainnya. Tomi pun mengiyakan.


"Mungkinkah, kasusnya sama dengan Tuan Muda? Ckckck... heran dengan orang-orang seperti itu."


Tiiiing...


Sebuah pesan chat masuk. Isinya adalah sebuah kabar jika Denna saat ini baru saja memasuki Hexa kafe di daerah X. Tomi yang tak banyak berpikir lagi langsung keluar dari ruangan Arga menuju tempat Denna berada.

__ADS_1


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Di Hexa kafe...


"Nona Denna Ariestia! Saya menemukanmu..."


Denna terpaku cukup lama, memandangi wajah tegas Sekretaris Tomi. Ada pertanyaan yang seolah ingin ia sampaikan, tentang kedatangannya ke tempat ini.


"Anโ€“Anda kesini, mencari saya?"


"Ya, ada yang harus Anda kerjakan. Ikutlah denganku."


"Eh... apa ini? Kerja apa?"


"Lumpur..." jawabnya kaku sebab tatapan para gadis di sekitarnya tak terlepas sedari tadi.


"Lumpur?" Masih belum konek. Hingga Tomi mencondongkan tubuhnya berbisik di telinganya.


"Anda kalah taruhan dengan saya, kan? Sekarang saatnya Anda bayar kekalahanmu itu. Dan ikutlah dengan saya guna mencuci pakaianku, sekarang!" bisiknya. Denna pun melebarkan matanya.


"Apa Anda sudah gila?" Bisiknya juga.


"Saya tidak gila tapi tengah menagih hutang Anda."


"Tapi aku tak pernah menjanjikan apa-apa! Anda yang mengajukan taruhan sepihak."


"Mau terima atau tidak, intinya Saya selaku korban berhak menghukum tersangka sepertimu."


"Tuan Sekretaris, Kau benar-benar, ya!"


"Denna, dia pacarmu ya?" Cetus seseorang terlihat baper saat Sekretaris Tomi dan Denna saling berbisik saat ini.


"Buk.."


"Ya!" Potong Tomi lebih dulu.


"Heiโ€“ apa katamu?" Denna melebarkan mulutnya saat melihat Tomi mengemasi barang-barang yang ada di atas meja.


"Mana lagi punyamu. Ayo kita pergi, aku sudah menunggumu dari tadi."


Sumpah, Dia benar-benar membuatku merinding. Tidak ada angin, pun tidak ada hujan. Tiba-tiba saja memangkas jarak yang sebelumnya jauh. Apa yang dia rencanakan?


"Waaaah Denna! Kau benar-benar membuat kami iri." Semua yang di sana mulai saling bersuara tidak percaya. Tentunya tidak demikian dengan Leni yang merasa tidak suka.


Denna mengibaskan kedua tangannya. "Tidak, tidak seperti itu. Dia ini?"


Sekretaris Tomi menggantungkan tas Denna di bahunya. "Ayo pergi..."

__ADS_1


"Pergi kemana?" Masih merasa bingung sementara teman-temannya sudah bercie-cie ria ketika laki-laki gagah itu membawa Denna keluar dari tempat perkumpulan. Tentunya setelah berpamitan.


__ADS_2