Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
menjalankan rencana


__ADS_3

Rencana sudah di susun sedemikian rupa. Walau agak sulit membujuk Arumi untuk datang sendirian tanpa sepengetahuan Sekretaris Tomi apalagi Tuan Arga. Tapi pada Akhirnya Bibir Maura bisa tersenyum senang sekarang.


Sebab, dari kejauhan gadis itu sudah melihat Arum berjalan memasuki are restoran mewah, tempatnya mengatur janji dengan Mama Linda. Tentunya reservasi atas nama Arumi, jika tidak seperti itu mereka tidak akan mendapatkan mejanya.


"Ma– target utama kita sudah datang!" Bisik Maura. Mereka pun bersiap untuk menyambutnya. Mama Linda menebar senyum kekeluargaan yang hangat.


"Sayang, kami di sini...!" Mengangkat sedikit tangannya.


Mama Linda menunjukkan posisi mereka pada Arum yang hanya datang sendirian walau Arumi sejatinya sudah melihatnya lebih dulu. Pelukan hangat di berikan oleh Mama Linda. Juga uluran tangan dengan ekspresi memaksakan untuk tersenyum dari Maura.


"Kalian sudah menunggu lama?" Tanya Arumi, sembari menarik kursinya keluar dan duduk.


"Lumayan. Tapi Mama paham, kok. Kau pasti sulit untuk keluar tanpa seorang ajudan seperti ini. Syukurlah, kau benar-benar datang sendirian."


Arum tersenyum tipis. Walau dalam hati ia terus menepis rasa curiganya. Dia hanya yakin, Mama tidak mungkin berani macam-macam. Karena mereka pasti paham, dengan siapa nantinya akan berurusan.


"Sudah pesan makanan?" tanya Arum yang melihat meja masih dalam keadaan kosong.


"Tentunya kami belum berani memesan makanan, sayang. Sebab, khawatir kau tidak jadi datang. Hahaha... Kau tahu? kondisi keuangan kami sedang sulit saat ini. Itulah salah satu alasan pastinya, khawatir kami tidak bisa membayar..." Mama Linda cengengesan. Sementara Arum hanya tersenyum singkat amat memaklumi.


Sudah pasti semuanya akan menjadi lebih kacau. Andai saja aku setega dirimu, mungkin aku sudah membeli rumah itu menggunakan kartu kredit tanpa limit yang di berikan suamiku. Dan mengeluarkan kalian dari sana. (Arumi membatin)


Ya, mau bagaimanapun juga ia sulit untuk membenci wanita yang pernah menjadi ibunya selama ini. Walaupun perlakuannya dulu sangat tidak baik, namun sudahlah. Ia berusaha melupakan. Karena Arum bukan tipe pendendam.


Berbeda dengan Mama Linda yang Asik mengobrol basa-basi. Maura justru fokus melirik dari atas ke bawah semua benda mewah yang melekat di tubuhnya.


Sial, aku iri sekali padanya!


Hati Maura menjerit tidak terima. Merasa wanita itu hidup layaknya Cinderella. Kenapa nasib baik selalu dia dapatkan. Dulu, Rayyan yang ia suka justru mencintai Arumi. Para guru pula memuji kecerdasannya. Di tambah sekarang?


Ingin rasanya ia merusak wajah cantik itu dengan garpu makannya. Merasa tidak terima saja ketika wanita itu hidup bagaikan putri sekarang.


Beberapa saat kemudian, makanan yang di pesan datang. Mama Linda merasa senang, sama halnya dengan Maura. Namun, rasa dengki tetap bergemuruh di dadanya.


"Sudah lama tidak bertemu semenjak terakhir di hari pernikahanmu. Kau nampak jauh lebih cantik, dan berkelas dengan busana yang Kau kenakan ini, Nak." Mama menutup mulutnya, tersenyum anggun.


Dari luar, apa yang digunakan Arum memang nampak simpel dan sederhana. Namun baik Mama ataupun maura paham harga yang di bandrol pasti mencapai puluhan juta. Pun jika di hitung-hitung dari keseluruhan yang di gunakan Arumi, kemungkinan bisa mencapai ratusan juta.

__ADS_1


Maura menelan ludah, rasa iri semakin meracuni jiwanya. Kenapa pula dulu Dia tidak berusaha keras untuk menggoda Arga. Sekarang, dia hanya bisa gigit jari melihat penampilannya.


Berbeda dengan Arumi yang tak begitu menanggapi. Ia hanya ingin acara makan siang ini segera berakhir. Sebab Arga sama sekali tidak mengetahui, kepergiannya siang ini. Yang ia tahu, hanya izin keluar mencari sesuatu. Ia bahkan berusaha melarikan diri dari ajudannya demi agar tidak di ikuti sampai kesini.


Dalam keheningan makan siang mereka. Mama mulai memberikan kode pada Maura. Gadis itu pun terkesiap setelah dari tadi memandangi tas yang tergeletak di sebelah Arumi. Sesaat ia lupa dengan perannya. Ia pun bangkit, meranggai sesuatu yang lebih dekat ke Arumi.


"Maaf aku mau itu–" sedikit dorongan. Maura sengaja menjatuhkan piring berisi hidangan kepiting dengan saus pekat. Hingga isinya tumpah mengenai pakaian wanita itu.


"Kyaaaa..." Arumi menjerit kecil. Rasa panas sekaligus terkejut ketika makanan itu tumpah seluruhnya ke bagian pahanya.


Praaaaaang... Piring itu pecah saat Arum reflek berdiri.


"Ya ampun, Arum! Aku minta maaf, sungguh aku tidak sengaja menyenggolnya." Maura pura-pura panik setelahnya.


"Iiissshhh, kau ini bagaimana sih? Lihat baju Arum jadi basah dan kotor, kan!!" Mama Linda juga pura-pura memaki anak gadis di sebelahnya.


"Maaf, Ma. Aku bilang kan tidak sengaja!"


"Ck! Dasar tidak berguna."


"Mama sudah hentikan. Tidak apa-apa. Aku akan ke toilet. Cuma masalahnya aku tidak bawa baju ganti."


Arum dan Mama menjelaskan jika tidak terjadi apa-apa. Justru mereka lah yang kini sedang meminta maaf dan berjanji akan mengganti kerugiannya.


"Baiklah kalau begitu saya permisi. Nanti pelayan kami akan membantu kalian untuk pindah meja," ucapnya ramah.


"Terima kasih, Pak," balas Arum masih sibuk dengan roknya yang basah dan lengket.


"Ini pakaiannya." Maura mengulurkan itu pada Arum.


"Anu, tidak usah. Sebaiknya aku pulang saja."


"Sayang, jangan buru-buru. Kau harus ganti baju dulu. Ayo Mama Antar ke toilet."


"Tidak, Ma. Tidak usah..."


"Ayolah sayang. Mama akan membantumu." Merengkuh pundak Arum sembari membawanya menjauh dari meja itu.

__ADS_1


Maura yang melihat itu tersenyum, ia menoleh kearah meja lain. Dimana ada kekasih dan juga kakaknya. Sembari membulatkan jari telunjuk dan ibu jarinya. Ia menyatakan tahap awal telah sukses. Mereka pun tersenyum.


Maura kembali fokus saat dua orang pelayan memintanya untuk pindah meja. Yang satu mengantar, yang satu lainnya membenahi makanan di meja sebelumnya.


Beralih ke toilet sejenak...


Arum merasa tidak nyaman dengan pakaian minim yang sangat membentuk lekuk tubuh sekali. Ingin rasanya melepaskan dan mengganti baju yang sebelumnya. Namun saat ia menyentuh pakaian itu?


"Ck! Bau dan basah. Tidak mungkin aku memakainya lagi. Yang ada tubuhku akan bau saus seafood seluruhnya." Arum meletakkan pakaian itu kedalam paper bag. "Tapi pakaian seperti ini? Mana mungkin aku bisa keluar..."


Tok... Tok...


"Nak, sudah selesai, belum?"


"Anu– Ma! Apa ada pakaian lain? Aku tidak nyaman dengan ini. Terlalu ketat dan pendek roknya." Seru Arum dari dalam bilik toilet.


"Tidak ada, Nak. Hanya itu yang kami punya."


"Haduh... jika Tuan Arga melihat aku pakai baju seperti ini di luar? Aku pasti akan kena marah." gumamnya lirih. Namun ia juga tidak mungkin berdiam diri di dalam sini.


"Nak?"


"Iya, Ma. Ini mau keluar..." Arum menghela nafas, ia pikir hanya sebentar pasti tidak apa. Setelah makan ia akan mengunjungi toko pakaian. Toh ada cape blazer, setidaknya bisa menutupi bahu yang terbuka ini.


Cklaaakkk...


Arum keluar, Mama Linda pun tersenyum melihatnya. Ia senang karena Arum benar-benar memakai baju seksi itu.


"Sini pakaiannya biar Mama yang pegang. Mama akan mencucinya sampai bersih."


"Tidak usah, Ma. Tidak apa," ucap Arum.


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita kembali ke meja. Maura pasti sudah menunggu lama."


"Emmm, sebaiknya aku hanya membayar saja. Habis itu pulang, ya."


"Jangan begitu, Nak. Kau tidak ingin kami semakin merasa bersalah, kan? Jika iya maka ikut saja. Kita lanjutkan makannya sampai selesai."

__ADS_1


"Tapi?"


"Ayolah, Arumi..." Mama Linda menarik lengannya. Membuat Arum mengikutinya dengan pasrah.


__ADS_2