
Di sisi lain...
Dalam kamar yang nyaman, Arumi baru saja membersihkan tubuhnya. Dan mengganti busana dengan pakaian yang nyaman ia kenakan untuk tidur.
Drrrrrrttt... Drrrrrrttt...
Sebuah getar ponsel ketika ada panggilan telfon membuat wajah Arumi yang sedang fokus pada bayangannya di depan cermin menoleh.
"Denna. Ya, Tuhan. Sepertinya sejak siang tadi dia menelepon ku. Aku lupa ingin menghubungi dia balik." Arum menoleh kearah sudut menuju pintu keluar. "Sepertinya suamiku akan lama dengan Kakeknya."
pik...
π"ARUUUUUUUUMMMMIIIIIIII....!!" Pekik Denna dari sebrang. Yang kontan membuat Arumi menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Bisakah kau tidak menjerit. Kau ingin membuat gendang telinga ku pecah, ya?"
π"Hahaha, maaf, Tuan Putri."
"Iiissshhh..." Mengusap telinga yang masih berdengung.
π"Kenapa kau tadi mengabaikan panggilan telepon ku?" Denna mengerucutkan bibirnya di sebrang.
"Aku punya alasan. Suamiku. Kau tahu 'kan aturan yang dia buat saat aku sedang bersamanya?"
π"Emmm, ya ya... ku maklumi jika alasan itu berkaitan dengan aturan yang mulia raja."
"Begitulah. Tapi, kau terlihat semangat sekali. Ada apa?"
π"Tentu aku sedang bersemangat, itu alasannya aku menghubungimu malam ini."
"Okay..." belum juga tahu situasi di sana. Arum sudah merasakan euforia kebahagiaannya.
π"Aku punya kabar gembira. Kau mau dengar?"
"Apa?" Semakin penasaran. Arum membawa ponselnya keatas ranjang lalu tidur dalam posisi tengkurap.
π"Emmmm...."
"Hei, cepat katakan!"
π"Hahahaha. Sumpah aku benar-benar di buat gila hari ini."
"Kenapa, sih. Sungguh Kau membuatku penasaran."
π"Begini..." Diam beberapa saat sembari tersenyum. "Novelku akan naik cetak!"
"Wow..." Arum tertegun tak percaya.
π"Responmu terdengar biasa saja."
"Bukan begitu aku hanya merasa tidak percaya, tahu!"
π"Arum. Apa kau sampai tergugu? Tapi aku yakin kau akan semakin membuka lebar-lebar mulutmu saat dengar ini..."
"Cepat lanjutkan jangan setengah-setengah."
π"Hahaha..." Denna malah tertawa terbahak-bahak saking tidak bisa menahan kebahagiaannya.
__ADS_1
"Denna!"
π"Seorang penggemar misterius langsung mengambil kontrak dengan PF ku dan juga penerbit Lavender untuk mengangkat cerita online ku menjadi novel cetak! Dan kau harus tahu berapa buku yang ia mau. Seribu, Arumi.... Seribu!!!"
"seβseribu..."
π"Benar. Dan Aku sudah bisa merasakan berendam dengan uang hasil pena ku. Hahaha..."
"Aku benar-benar tidak percaya."
π"Jangankan kau, aku saja tidak. Padahal aku sudah mau menyerah dengan karya sampah ini."
"Hei, jangan bilang sampah itu emas tahu."
π"Emas yang di abaikan banyak orang." Denna dan Arum tertawa lepas. Jika saja tidak via telfon mungkin mereka sudah melompat-lompat bersama. Saking girangnya.
"Sungguh, aku turut bahagia mendengar ceritamu. Akhirnya, Novelmu mendapatkan perhatian."
π"Hehehe, kalau seperti ini. Aku jadi ingat ketika aku selalu kalah kompetisi. Kalah dengan novel-novel yang jarang update namun selalu menang."
"Ya, aku tahu betapa depresinya dirimu."
π"Dan kaulah satu-satunya orang yang selalu menguatkanku untuk tetap menulis."
"Aaa... kau membuatku meleleh Denna." Tersipu.
π"Tapi sungguh. Hanya kau yang paham sakitnya diriku kala itu. Terimakasih, Arumi... tanpa motivasi mu mungkin aku sudah berhenti menulis."
Arum tersenyum tipis merasa senang ketika sahabatnya bisa menemukan titik terang dari segala usahanya sebagai seorang penulis.
π"Oh, Arum. Omong-omong... kau kan sedang hamil, tuh. Apa kau tidak ngidam sesuatu?"
π"Ya, ngidam. Seperti karakter perempuan di novel yang ngidam aneh-aneh dan tak masuk akal? Seperti ngidam ingin makan sesuatu di Negara yang berbeda-beda dan lain sebagainya?"
Arum terdiam sejenak. "Aku rasa tidak ada. Kalau mual sedikit ada, sih. Cuman, tidak parah."
π"Oh, ku pikir kau akan ngidam hal konyol seperti itu. Sebab hidupmu sudah bak putri dalam dunia Novel." Terkekeh. Denna kembali mengoceh, sementara Arum sendiri tengah tercenung tanpa mendengarkan ocehan sang sahabat.
Ngidam aneh, ya? Sejenak Arum mengingat hal menyebalkan yang di lakukan suaminya sebelum-sebelumnya. Ia pun menarik seulas senyum licik. Sepertinya jika aku melakukan sebuah trik, Tuan Arga tidak akan curiga.
"Hahahaha..." Arum yang tiba-tiba tertawa.
π"Arum!"
"Ya?" Terkesiap.
π"Kau sedang tertawa, apakah ada yang lucu?kau tidak mendengarkan ku, ya?"
"Ah, maaf Denna mendadak aku tidak fokus." Tertawa lagi.
π"Ya sudahlah. Lagipula sudah malam, kita sambung lain waktu."
"Maaf Denna."
π"Ku maafkan, karena aku sedang bahagia. Hahaha... bye Arumi, aku mau lembur dulu karena banyak yang harus ku revisi."
"Semangat, Denna."
__ADS_1
π"Semangat juga untuk mu. Dan, Selamat malam."
"Selamat malam, Denna." Pik...
Arum mematikan panggilan teleponnya. Sementara pikiran liar untuk mengerjai Arga Sanjaya sudah berderet-deret di kepalanya.
"Nak, kita lakukan balasan kecil untuk ayahmu, ya. Kau setuju, 'kan?" Arum diam sejenak seolah tengah mendengarkan. "Apa, sangat setuju? Hehehe... ayo kita eksekusi mulai malam ini."
Arum mendengar suara pintu yang terbuka di luar, juga suara Pak Ragil yang mungkin habis mengantarkan beliau hingga ke pintu kamar.
"Okay... aku ingin melakukan sedikit aksi. Tapi, bisakah aku membuat semuanya seperti natural?" Bergumam lirih sembari menatap ke sudut dekat pintu masuk kamar mereka, dimana langkah kaki suaminya semakin terdengar mendekati.
"Sayang, kau belum tidur?" Arga terlihat senang saat istrinya masih terjaga.
"Akuβ aku hanya?" Arumi memegangi perutnya.
"Hanya apa? Kau merasakan sesuatu?"
"Tidak, sayang. Sepertinya aku ingin makan sesuatu."
"Oh, kau mau makan apa?"
"Aku hanya ingin makan buah yang merupakan hasil potongan tanganmu."
"Buah?" Arga berpikir sejenak.
"Ya, kau yang kupas, kau juga yang potong. Lalu bawa kesini."
"Tidakkah lebih enak jika Pak Ragil yang memotong dan membawanya kemari?"
"Sayang, apakah kau pernah dengar seorang wanita hamil suka ngidam? Mungkin ini yang di namakan ngidam." Arumi tersenyum tipis. Ayolah sayang, aku ingin mengerjai mu sedikit saja.
Arga yang tak menjawab hanya membuka cardigan tipis milik Arum. Menurunkan pelan bagian bahunya.
"Sayang, apa yang hendak kau lakukan?"
"Menciumimu. Apa lagi?"
"Tapi aku mau buah."
"Tidak usah meminta hal konyol. Aku akan menghubungi Pak Ragil." Arga terus menciumi bahu hingga ke leher tanpa henti.
Duh, kenapa jadi dia yang ngemil begini. Haruskah aku ngambek? Tapi, aku terlalu takut.
Arum mendorong suaminya. "Jangan sentuh aku jika kau tak mau menuruti. Kau janji akan memperlakukan ku dengan baik 'kan? Apa kau sebenarnya masih meragukan bahwa ini adalah anakmu?"
Arga menghela nafas. "Kau benar-benar ingin buah hasil potongan ku?" Tanyanya, Arum pun mengangguk.
"Aku mau buah yang kau kupas dan kau potong sendiri lalu membantuku makan dengan tanganmu itu."
Sebenarnya aku lelah dan mengantuk karena besok ada pekerjaan pagi. Tapi, demi kau dan calon baby ku. Akan ku turuti.
"Baiklah..."
"Oh, serius ya. Harus kau yang potong. Aku mau ada bukti rekaman videonya."
"Kau banyak maunya, ya? Tapi baiklah untuk calon anakku." Pria itu tak protes turun dari ranjangnya sebelum akhirnya keluar. Arum tersenyum jail.
__ADS_1
"Wah, mungkinkah dia akan benar-benar melakukan itu? Benar-benar the power of Bumil. Heheh... maaf sayang."