Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
Di jemput Tuan Arga 2


__ADS_3

Dua mobil mewah di depan rumah Denna sudah pergi. Tertinggal tiga orang yang tersisa. Salah satunya bergeming tanpa ekspresi jelas, memandangi mobil yang semakin menjauh bahkan sampai menghilang dari pandangan. Sementara dua orang lainnya masih terpana.


Denna dan Bu Ratih memang masih merasa tidak percaya jika gadis yang memiliki takdir malang, kini telah menjadi wanita berstatus isteri seorang konglomerat tersohor. Keberuntungan yang tak pernah ia duga akan di raih oleh wanita bermata hazel itu.


"Sungguh bahagia dan beruntungnya, Arumi..." Gumam Denna lirih. Kedua telapak tangannya saling mengatup dan menempel di pipi kanan.


"Dia memang pantas mendapatkan kebaikan itu. Ibu jadi terharu." Bu Ratih mengusap ujung matanya yang berair.


"Ibu mau aku seperti Arumi, tidak?"


"Apa maksudmu?" Menoleh kemudian.


"Aku juga bisa menggoda laki-laki kaya raya, loh."


Bu Ratih mendengus. Tampangnya menujukkan bahwa wanita paruh baya itu sedang meremehkan putrinya sendiri.


"Kenapa ekspresi ibu seperti itu? Apa ibu tidak percaya dengan gadis cantik ibu ini?!"


"Kenapa kau terlalu percaya diri sekali. Lagipula, kaki-laki tajir mana yang mau dengan gadis pemalas sepertimu?"


"Ibu ini meremehkan sekali. Ibu harus tahu, aku bisa mendapatkan bos kaya juga seperti Arumi?"


"Berhentilah bermimpi, dan masuk saja sana. Di dalam ada banyak pekerjaan rumah yang perlu kau kerjakan. Dari pada kau terus berkhayal tidak jelas."


"Aaiiiih... bagaimana hidupku akan maju, jika sehari-hari hanya berkutat dengan sapu dan alat pel."


Bu Ratih melebarkan senyumnya, sembari berkacak pinggang. "Kau sangat ingin, tidak melakukan pekerjaan apapun disini?"


"Itu yang seharusnya ku dapatkan sebagai calon penulis hebat. Ibu kan tahu aku tidak bisa terus menunda ide hebat di kepalaku, hanya karena harus membantu pekerjaan ibu di rumah."


"Aaaah... begitu, ya?" Bu Ratih mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk. Seolah tengah berpikir sesuatu. Denna pun nyengir.


"Sudah saatnya ibu mendukung ku. Dengan cara tidak banyak mengomel dan suruh ini-itu."


"Ah... iya... iya. Kau boleh kok tidak mengerjakan apapun seumur hidupmu. Lakukanlah yang kau suka."


"Hehehe, itu baru ibu yang memahami anaknya."


"Asal kau keluar dari rumah ini dan jadi gelandangan saja sana!" Sergahnya, sembari mengangkat kepalan tangannya mengarah ke gadis yang sudah sigap duluan menutupi kepala dengan kedua telapak tangan. "Benar-benar gadis tidak tahu di untung. Kau ingin cari mati atau bagaimana?"


Mendengar itu Rayyan menutup mulutnya menahan tawa. Kecuali Denna yang lantas mendengus. Drama ibu dan anak paling seru untuk dia tonton, memang ketika berada di rumah bibinya. Wanita paruh baya itu menghela nafas. Tangannya mengusap lembut dadanya, sebelum menoleh kearah Rayyan.


"Ray, kau sudah serapan?" Tanya Bu Ratih. Intonasi suaranya berubah lembut. Buru-buru Rayyan menghentikan gelak tawanya.


"Aku sudah sarapan, kok, Bi."


"Kalau begitu ayo masuklah. Pamanmu dan Senna tadi bilang hendak menyiapkan alat pancing. Mungkin mereka berdua mau ke danau."


"Terima kasih, Bi. Aku mau pulang saja."


"Kok, pulang?"

__ADS_1


"Ya, karena ada pekerjaan hari ini."


"Oh... Ya sudah kalau begitu. Bibi masuk dulu. Hati-hati di jalan, ya."


"Iya..." jawabnya. Kini tersisa dua orang. Denna memandangi Rayyan penuh tanda tanya. Pria itu tengah memutar kuncinya hingga mesin pun mulai On, siap untuk di nyalakan.


"Kau baik-baik saja?" tanya Denna hingga kepala Rayyan terangkat.


"Siapa? Aku baik-baik saja, kok."


"Semalam, ada kejadian apa?"


"Kejadian apa? Tidak ada kejadian apapun, kok."


"Aku lihat loh, semalam Arum seperti marah sekali padamu," cecarnya. Pria itu pun menghela nafas. "Kau jangan macam-macam, ya. Dia itu wanita bersuami."


"Siapa yang macam-macam?! Aku tahu batasannya, kok," jawab Rayyan. Yang masih menerima tatapan penuh selidik dari Denna. "Haaah! Baiklah... aku hanya mempertanyakan perasaan dia setelah menikah. Sembari menujukkan perasaan ku kembali."


"Hei! Kau gila? Menunjukkan perasaanmu lagi pada wanita yang sudah berstatus istri orang?" salaknya bernada lirih.


"Apa salah, kalau aku ragu dengan suaminya itu? kalau Arumi ternyata tidak bahagia bagaimana?" lirihnya kemudian.


"Apa yang kau ragukan. Bukankah Arum terlihat lebih baik sekarang. Itu sudah cukup bukti bahwa suami Arumi menjaganya dengan baik."


Kau hanya tidak tahu saja. Bisa jadi, 'kan? Arumi rupanya menyimpan duka dalam hatinya. Aku hanya ingin mencari tahu itu.


Rayyan memilih tak menjawab selain menyalakan mesin motornya.


Denna sendiri menghela nafas. "Aku sebenarnya kasian padamu. Tapi mau bagaimana lagi, kalian memang tak jodoh." Gumamnya kemudian sebelum masuk ke dalam rumah.


🐺


🐺


🐺


Di posisi lain...


Perjalanan yang seharusnya tidak begitu lama entah mengapa jadi sangat lambat. Selama itu pula Arum menunduk. Kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan. Hawa negatif seakan memenuhi dalam mobil yang ia naiki.


"Kau bersenang-senang...?" tanya Arga, tiba-tiba memecah kebekuan di tubuh Arumi.


"Hemmm?" Arum mengangkat wajahnya hati-hati. Menoleh sepersekian detik, sebelum kembali menunduk karena tatapan horor Arga padanya.


"Kau merasa lepas, 'kan? setelah ku bilang ini adalah hari bebas mu?" cecarnya kemudian. Semakin mendekati wajah Arumi yang juga semakin tertunduk.


"T–tidak seperti itu, Sayang. Aku tidak bermaksud melewati batasan-ku. Sungguh!"


"Kau benar-benar membuatku susah!" potongnya. Arumi sendiri semakin tak bisa berkutik. "Apa saja?" tanyanya kemudian.


"A-apanya, Suamiku?" Arum beringsut, karena posisi wajah Arga yang amat dekat saat ia mencoba menoleh.

__ADS_1


Gleeek... Arum semakin ciut. Sepasang mata itu terus saja mengarah tajam padanya. Seolah siap untuk mengulitinya.


"Apa saja?!" Tanyanya mengulangi.


"Apa saja? Maksudnya?"


"Apa saja yang Anda lakukan, selama di rumah teman Anda itu, Nona." Tomi membantu menerjemahkan. Arga pun menunggu jawaban wanita di dekatnya.


"Aku... aku tidak melakukan apapun."


"Semalam! Kegiatan apa saja yang kau kerjakan?" Tanyanya lagi, Arga mencengkeram kuat bahu sebelah kiri Arumi.


"Aku tidak ngapa-ngapain selain turut pesta barbeque. Hanya itu..." jawabnya terbata.


"Dia siapa?"


Ya ampun, kenapa kalimat pertanyaan-mu itu selalu sepotong-sepotong, si? Membuatku bingung saja. (Arum)


"Dia yang mana, ada banyak orang di sana..."


"Dia– pria yang menawarkan Anda jagung bakar, Nona. itu siapa??" Kembali Tomi menerjemahkan. Terlihat Arga semakin kuat mencengkram bahu Arumi.


Apa itu? hanya berbicara dengan aku saja kau harus meminta Sekretaris Tomi yang menjelaskan? (Arumi?)


"Ooo... itu hanya teman masa SMA... kebetulan pria itu sepupunya Denna."


"Teman masa SMA?" Seringai sinis terbit di bibir Arga. Sembari melepaskan cengkeramannya dan berpindah ke dagu Arumi, ia mengangkatnya pelan wajah tanpa riasan itu. "Apa kau bahagia? Kau senang bertemu dengannya lagi?" Arum benar-benar tengah di interogasi saat ini.


"Eemmmm... ti–tidak suamiku..."


"Tapi, Kau bersenang-senang dengan acara semalam, kan?"


Apa, sih? Apa seperti ini cara dia marah pada Nona Alicia? sepertinya tidak. Dia melakukan ini karena merasa budaknya sudah melampaui batas. (Arum)


"Y–ya, tentunya," jawab Arumi lirih. Pria itu langsung mengeram kesal. "Tidak juga sayang... tolong maafkan aku." Buru-buru Arumi mengusap dadanya yang tengah naik-turun akibat nafas penuh emosi.


"Kau mau hal semalam terulang lagi?"


"I–itu. Aku rasa tidak, sayang. Maafkan aku, jika Kau tidak suka. Aku akan jadikan ini pelajaran..."


"Tidak! Justru aku mau, kita melakukan rekonstruksi."


Apa? Rekontruksi apa? Kau pikir aku terdakwa kasus kejahatan? –ingin rasanya ia mengelus dada.


"Ayo kita reka ulang, apa saja yang kau lakukan semalam tanpa terkecuali. Aku akan berperan sebagai pria songong itu," katanya sembari melepaskan cengkraman di dagu Arum.


"Ta–tapi Suamiku..."


"Tomi, siapkan semuanya! Buat sama persis seperti yang dilakukannya tadi malam."


"Baik Tuan," jawab Tomi tegas.

__ADS_1


Apa katanya tadi? Kita benar-benar akan melakukan reka ulang? Arum tak habis pikir, namun ia bisa apa, jika keinginannya sudah di gaungkan.


__ADS_2