Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
Harapan yang masih tertolak.


__ADS_3

Sebelumnya...


Saat ini sedang di adakan sebuah pertemuan penting yang bisa dibilang dadakan dengan beberapa petinggi perusahaan. Hadirnya Arga di tengah-tengah mereka sudah menunjukkan jika meeting yang di gelar ini bukanlah sebuah pertemuan biasa. Belum lagi dengan ekspresi masam yang ditunjukkan Arga, juga tatapan tajam dari Sekretaris Tomi. Membuat tak adanya satupun dari mereka yang berani bersuara selain menjawab saja.


Banyaknya laporan tidak baik yang masuk ke meja sekretaris Tomi. Sebagian besar menyangkut tentang banyaknya kritik dari para Customer. Hingga Presdir berusia tiga puluh empat tahun itu banyak memaki mereka sekarang.


Memang, setiap pekerjaan pasti tidaklah luput dari adanya kesalahan teknis. Entah di sebabkan oleh tangan manusia atau dari alam langsung. Namun bukan berarti dengan mudahnya Arga mentolerir semua. Ia tetap menegur, agar mereka tidak dengan mudah menjadikan hal itu sebagai bahan untuk lari dari tanggung jawabnya masing-masing.


Selama kurang lebih satu jam, rapat yang di hadiri oleh para CEO itu selesai. Membuat mereka pada akhirnya mampu bernafas lega, walau ujung-ujungnya sedikit menggerutu akibat target yang di naikan oleh Presdir Arga Sanjaya.


Bisik-bisik pula terdengar dari bibir mereka sembari berhamburan keluar ruangan meeting, beberapa saat setelah Arga dan Sekretarisnya keluar lebih dulu.


"Jujur aku lebih suka di pimpin Presdir sebelumnya. Atau bahkan Pak Komisaris..." keluh si A.


"Benar, peraturan dari Presiden Direktur yang sekarang terlalu mencekik." Si B nampak setuju dengan ucapan Si A.


"Tapi terlepas dari semua peraturan menyebalkan yang Beliau buat. Banyak pegawai curang yang sekarang sudah di berhentikan. Bahkan profit pun naik drastis. Tim-tim Devisi yang baru juga banyak yang memenangkan tender. Sekarang Andara Group sedang menjadi Macan Asia. Kita tidak boleh meremehkan Presdir kita itu," pungkas Si C terdengar lebih bijak.


"Kau benar, aku bisa menjadi CEO juga karena Tuan Arga," timpal Si D.


"Benar kan kataku? Tak bisa di pungkiri, semenjak kepemimpinan Beliau, kita dan para Karyawan lain jadi lebih sejahtera. Sering mendapatkan bonus besar juga."


"Benar-benar... yang penting bonus, hahaha." Semuanya tertawa santai setelah selesai mengghibahi Presdir mereka.


–––


Di samping Itu, Arga mengusap telinganya yang mendadak panas.


Saat ini ia tengah berjalan di depan, dengan di ikuti Sekretaris Tomi di belakangnya. Walaupun habis memarahi para karyawan, raut wajahnya tak terlihat stress sama sekali. Justru ia mudah melupakan. Karena baginya, apapun yang terjadi di ruangan meeting tidak akan ia bawa keluar.

__ADS_1


"Tomi, sepertinya tadi aku tak melihat CEO bagian fresh food di ruangan itu..." tanya Arga tanpa menghentikan langkahnya.


"Pagi ini Beliau tiba-tiba izin, Tuan. Istrinya meninggal dunia saat melahirkan anak pertamanya di rumah sakit."


Sraaakkk... mendadak Arga mengerem laju kakinya.


"Meninggal, karena melahirkan?" Arga menoleh kearahnya. Sekretaris Tomi mengangguk pelan.


"Iya Tuan, terjadi masalah pada si ibu... sebenarnya, istri CEO Ricard itu melahirkan kemarin malam. Namun karena tekanan darahnya tinggi. Mendadak si ibu mengalami kejang-kejang, lalu koma selama beberapa jam," jelas Sekretaris Tomi memaparkan sesuai apa yang ia dengar.


Nampak Arga tertegun saat mendengar itu. Karena ia ingat, semalam Arumi kembali membahas perihal anak. Hatinya sejenak luluh saat melihat istrinya menitikkan air mata sebab ia tetap menolak keinginannya. Bahkan tadinya ia ingin memberi kejutan untuk membatalkan jadwal suntik hari ini.


"Tuan–" panggil Sekretaris Tomi, membuat lamunannya seketika cerai-berai. "Anda baik-baik saja?"


"Emmmm, ya..." jawab Arga sembari mengusap tengkuknya. Tiba-tiba keringat dingin keluar. Sepertinya rasa takut ketika kehilangan Alicia itu kembali.


"Sekarang sudah tiba saatnya, kita harus ke rumah sakit, Tuan," ucap Sekretaris Tomi memberitahu schedule selanjutnya. Sementara Arga masih terdiam.


Arga kembali memantapkan hati, untuk tidak memenuhi keinginan istrinya itu. Sudah cukup ia kehilangan Alicia, tidak ingin Ia kehilangan wanita berati keduanya itu hanya demi seorang anak.


Ia lantas melanjutkan langkahnya lagi, menyusuri lorong berdinding kaca itu sebelum masuk ke dalam lift.


***


Di rumah sakit...


Arum langsung memegangi lengan sang suami yang baru saja tiba.


"Kau sudah datang, dari kapan?" tanya Arga pada Arum. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk pipinya meminta sebuah kecupan di sana.

__ADS_1


Muuaach... Arum mencium pipi itu sebelum menjawab pertanyaan tadi.


"Aku baru saja tiba, Kok," jawabnya berbohong, sementara Dokter Kasih hanya diam saja. Ia pun mengajak Arga untuk duduk di sofa yang berada di ruangan itu. "Sayang, aku ingin berbicara padamu."


Setelah Arum mengatakan itu, Dokter Kasih dan sekertaris Tomi memilih untuk keluar lebih dulu. Mereka hanya menghormati keduanya yang nampak ingin berbicara serius.


Kini di ruangan itu hanya tertinggal mereka berdua Arga pun menoleh.


"Apa? Apa yang ingin kau Katakan?" Tanyanya. Sembari membelai rambut pirang Arumi. "Jangan bilang ... kau ingin mengungkit yang semalam?"


Dia bisa membaca pikiranku...? (Arum)


"Tapi sayang, apa kau tidak bisa memberikanku kesempatan? Aku ingin mencintaimu lebih dari pada ini. Dengan memiliki anak, tentu aku akan lebih mencintai ayah dari anakku."


"Tidak!" tegasnya langsung.


"Sayang–" rengek Arum.


"Aku sudah memutuskannya sejak awal. Kau harus tahu aku bukan seseorang yang mudah menjilat ludahku sendiri!!" jawab Arga sembari menatap tajam kearah Sang istri. Mempertegas keputusannya itu.


"Walaupun harus memohon?" Mata Arumi mengembun. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Arga. "Aku mencintaimu, Suamiku–"


Tentunya ucapan itu membuat Arga tertegun memandang sepasang mata hazel milik Arum. Ia bahkan bisa merasakan jantungnya yang berdebar-debar.


"Aku mencintaimu. Aku hanya menginginkan kehidupan normal sebagai seorang istri..." Arum mengulangi ucapannya tadi. Namun bukan respon baik yang ia terima, justru kemarahan pria itu yang langsung menarik tangannya sendiri dengan kasar.


"Kau tahu konsekuensinya jika Kau hamil? Seharusnya semua masih tercatat di sana...!" Arga menuding kening Arumi. "Aku akan langsung mengakhiri semuanya. Kau ingat itu, kan?"


Deg!! Arum seketika membeku di tempatnya.

__ADS_1


"Kontrakmu, akan berakhir! Dan kau pasti akan menyesali semuanya..." sambung Arga kemudian. Bersamaan dengan setetes air mata yang lolos dari salah satu matanya. Arga pun langsung memalingkan wajahnya menolak tatapan sedih yang menjurus padanya itu.


Aku harus tega padanya. Karena ini yang terbaik untuk kita... kau harus tahu itu. Arga membatin di saat Arum memutuskan untuk diam saja sembari mengusap air matanya.


__ADS_2