Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
memainkan alat musik


__ADS_3

Hari terus berlalu, kehidupan pula terus berjalan sebagaimana adanya.


Seperti biasa, ini adalah jadwalnya mengikuti les biola. Nampak wanita itu tengah di uji oleh sang guru musik demi melihat kemampuan Arumi setelah mengikuti les pribadi selama beberapa bulan belakangan ini. Senyum sang guru wanita melebar, ketika satu musik favoritnya di mainkan.


Arum benar-benar belajar dengan baik, walaupun belum lama ia mempelajarinya. Namun, seperti mudah saja bagi wanita itu untuk menguasai.


Di luar, seorang pemuda menghentikan langkahnya. Menoleh kearah pintu yang menjadi tempatnya betah untuk berlama-lama berdiri di sana. Mendengarkan bunyi alat musik yang dimainkan cantik oleh wanita yang hingga saat ini menjadi pujaannya.


Laki-laki yang tak lain adalah Rayyan itu bergeming di tempatnya. Tanpa melakukan apapun selain berdiri seraya mendengarkan lantunan musik yang menurutnya terdengar menyedihkan.


Arum, jujur aku senang walau hanya melihatmu dari jauh setiap seminggu sekali. Karena jadwal kita yang hanya mempertemukan satu hari dalam satu pekan di gedung ini. Setidaknya itu membuatku bersyukur sebab masih bisa melihatmu. –Rayyan membatin.


Musik terus mengalun merdu, membawakan bait demi bait lagu yang menggambarkan kesan kekuatan dalam hidup yang tidak baik-baik saja.


Gesekan senar berhenti, bersama dengan usainya satu lagu yang dibawakan wanita itu.


Terdengar tepuk tangan dari seorang guru musik di dalam. Senyum Rayyan mengembang, ia pula turut bertepuk tangan tanpa suara. Matanya nampak berkaca-kaca, sebelum bergeser, melirik ke arah jam tangannya. Kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Bagaimana, Kak?" tanya Arumi antusias.


"Menakjubkan! Permainan Anda sudah bagus, Nona. Luar biasa–" tak henti-hentinya wanita berusia tiga puluh lima tahun itu bertepuk tangan.


"Sungguh?"


"Sungguh. Bisa ku akui, Anda lumayan berbakat. Karena cepat sekali menguasai setiap apa yang ku ajarkan."


"Hehehe..." Arum terkekeh. Padahal sejatinya ia tak begitu suka, namun semakin mengikuti permainan musiknya. Arum justru menikmati. Nada pada biola yang ia mainkan, membuatnya mampu menyalurkan suasana hatinya.


"Kalau boleh tahu, itu lagu apa? Nadanya terdengar sangat dalam."


"Emmm, itu salah satu sountrack drama kesukaanku."


"Wah, apa Anda mempelajari semuanya di rumah?"


Malu-malu Arum mengangguk. "Lagu itu sering ku bawa, saat sedang sendirian. Dan aku senang, ketika bisa membawakan lagu ini depan Kakak."


Guru musik wanita itu kembali bertepuk tangan. "Aku sampai tersanjung mendengarnya, Nona." Pujinya lagi.


"Terima kasih, Kak." Arum tersenyum senang.


Sejurus kemudian matanya menoleh kearah pintu, saat melihat dua orang pria memasuki ruangan musik tersebut.


Dia kesini?


Arum heran, karena baru kali ini suaminya mendatangi Dia di tempat les. Guru wanita itu mengangguk sopan satu kali, demi memberikan rasa hormat pada Arga dan Sekretarisnya.


"Selamat datang, Tuan."

__ADS_1


"Emmm..." jawabnya dengan tatapan mata tertuju pada Arumi.


"Kau datang, Suamiku?" tanya Arum.


"Aku datang karena ingin melihat kemampuan istriku selama beberapa bulan belajar disini," jawabnya. Sang guru wanita pun tersenyum.


Tumben sekali, biasanya kan Kau tidak peduli... (Arum)


"Bagaimana kemampuannya?" tanya Arga pada sang guru les, walau dengan tatapan tak terlepas pada istrinya.


"Nona adalah wanita yang berbakat. Dia mudah menguasai apapun yang saya ajarkan, Tuan."


"Oh, ya?" Bibirnya mengulas senyum samar.


"Benar, Tuan."


"Kalau begitu, aku ingin mendengarnya sekarang. Namun sebelum itu, aku ingin kalian berdua keluar. Tinggalkan kami berdua di sini–"


Arum nampak terdiam saat Arga meminta guru musik dan Sekretarisnya itu keluar. Dan tanpa menunggu perintah kedua, mereka sudah menurutinya. Meninggalkan sepasangan suami-istri itu di ruangan musik yang luas dan besar ini.


Arga berjalan menjauh, menuruni dua anak tangga sebelum duduk di kursi penonton. Kakinya menyilang satu. Menyandarkan bahunya sembari menatap kearah Arumi.


"Bermainlah, selayaknya kau sedang berada dalam konser violin internasional. Sementara aku adalah penontonnya," titahnya pada Arum yang masih diam saja dengan biola dan bow menggantung di kedua tangannya.


Bermain di depannya? Arum masih belum bergerak, mendadak tubuhnya kaku saat ini.


"Anu– jujur aku gugup, Sayang," jawab Arum.


"Kenapa mesti gugup, disini hanya ada aku."


Justru karena Kau yang menonton, aku jadi tidak bisa leluasa memainkan alat musiknya. Batin Arumi dengan tangan sedikit gemetar.


"Mainkan sekarang..." titahnya lagi. Arum pun mengangguk pelan.


Fiuuuuh... padahal hanya ada Dia di ruangan musik ini, tapi aku jadi gugup begini. Seperti di tonton ribuan penikmat musik klasik dari berbagai Negara. (Arum)


Pelan-pelan mengangkat biola itu, meletakkan keatas bahunya. Sementara tangan satunya memegang Bow, bersiap untuk menggesek senarnya dengan itu.


Arum menghela nafas panjang. Memikirkan instrumen apa yang hendak ia bawakan.


Sudahlah lagu yang tadi saja... Batinnya memutuskan. Baru Arum hendak menggesek senar biolanya. Satu tangan Arga terangkat. Arum pun melirik kedepan.


"Apa judul lagu yang akan kau bawakan?"


"Emmmm, ini hanya sountrack drama, Sayang."


"Sebutkan..."

__ADS_1


"Back in time," jawabnya.


Arga langsung mengetik judul lagu tersebut. "Siapa penyanyinya?"


"LYn... el besar, ye besar, dan en kecil..." Arum mendikte tulisannya. Arga tak menjawabnya selain mengikutinya. Ia membuka lirik lagu tersebut sebelum menoleh kearah Arumi.


"Mainkan sekarang..."


"I–iya, Sayang." Arum bersiap. Fokus pada alat musiknya. Karena hanya dengan seperti itu ia bisa mengurangi rasa gugupnya.


Baiklah, aku akan memainkan ini untuknya... karena setiap kali aku membawakan lagu ini, seolah aku selalu teringat kau yang tidak bisa keluar dari masalalu.


Tangan Arumi mulai bergerak, menggesek senarnya. Musik mulai mengalun indah, membuat bibir Arga tersenyum mengagumi permainan sang istri.


Sekarang saatnya ia membaca setiap bait lirik itu. Tujuannya; agar ia paham, maksud dari lagu yang dibawakan Arumi.


~ Cahaya yang memudar dalam awan


Yang jatuh pada jendela sangatlah berisik.


Ingatan yang menyejukkan hanya seperti suara air hujan.


Menangkap hatiku, menolak untuk pergi ~


Di bait pertama Arga tak begitu merespon terlalu dalam.


~ Hal itu bertambah kuat


Terkunci di dalam kerinduan


Tak dapatkah aku melangkah kembali dalam waktu.


Kembali ke waktu ketika kau memberikanku sebuah pelukan.


Segalanya sekarang tidaklah penting ~


~ Aku mengikuti jalan berliku yang masih basah.


Melihat kembali kepada ingatan kita bersama.


Di dalam hujan yang mengaburkan pandangan, aku memikirkanmu.


Dalam airmataku, kau ada dalam ingatanku ~


Sampai disini Arga mulai tertegun, manik matanya bergeser naik. Menjurus pada Arumi. Suara violin yang di mainkan Arumi semakin membuatnya hanyut pada suatu momen.


Di pertengahan, Arumi menghentikannya. Matanya terangkat naik menatap kearah satu-satunya penonton yang ada didepannya.

__ADS_1


Ya, dari sorot mata Arumi. Seolah ia tengah menunjukkan pada dirinya, jika Arga terlalu asik berenang dalam dunia imajinasinya. Hidup dalam harapan untuk mengulang hari-harinya bersama Alicia. Hingga ia lupa, bahwa ada jiwa lain yang mengharapkan kebebasan atau mungkin setitik harapan untuk merasakan dicintai.


__ADS_2