
Denna sama sekali tak mengeluarkan suara, dan memilih untuk buru-buru membereskan semua barang miliknya kedalam tas.
"Denna–" Yayan menahan lengan Denna. Gadis itu kontan menoleh sembari menatap tajam pria di sisinya.
"Lepas!" pintanya datar namun cukup menekan.
"Aku tau kau pasti membenciku karena masalah dana investasi itu, kan?"
Kau pikir lukaku hanya sebatas uang investasi saja? Denna membatin, sembari menatap bengis.
"Ayo kita bicarakan ini dengan kepala dingin, izinkan aku menjelaskannya."
Seolah tak ingin lagi berurusan dengan pria yang sudah membuatnya menangis selama berminggu-minggu ia bahkan sampai memasang earphone bluetooth di telinganya demi menghilangkan suara laki-laki itu yang terus saja berbicara, sebelum melenggang pergi.
Namun, sepertinya pria itu tak menyerah. Ia terus saja mengejar Denna dan berusaha untuk berbicara.
"Denna–" kembali menahan dengan memegangi lengannya setelah keduanya keluar dari kafe tersebut.
"Apa, sih?" Menarik kasar tangannya sendiri walaupun sia-sia karena kuatnya pegangan pria di hadapannya.
"Aku ingin bicara."
"Bicara apa? Masalah sudah selesai, aku juga sudah mengikhlaskan uangku, dan Kau!"
"Ayolah jangan jadi sekolot ini. Bukankah kita masih bisa berhubungan baik?"
"Berhubung baik?"
"Ya, kita bisa tetap dekat, 'kan?" Ayolah, aku tahu kau sebucin apa pada ku, Denna. Laki-laki itu terlihat sedikit tebar pesona.
"Cih! Dasar laki-laki tidak tahu diri..." Mencibir.
"Aku tahu, aku salah. Aku telah menghilang begitu saja setelah bisnisku hancur. Hutangku banyak, aku pun malu padamu. Ya, aku memang pecundang..."
Sejenak mata Denna melebar, saat lengan pria itu merangkulnya. Walaupun Yayan sedang bicara dengan nada yang menyedihkan, tapi percayalah tidak ada sedikitpun perasaan iba yang terbesit di hatinya.
__ADS_1
"Aku ingat Kau pernah punya satu harapan. Mungkin kau bisa tunaikan... aku akan menuruti apapun yang kau mau. Asalkan, aku bisa menebus kesalahanku."
Bibir gadis itu tersungging sinis. "Kau benar, aku memang punya harapan. Dan harapan itu sudah sangat mendesak-desak minta di tunaikan saat ini juga."
Yayan tersenyum. Ia merasa umpannya kali ini kembali di sambar oleh mantan kekasihnya.
"Bolehkah aku melakukannya? Dan, sungguh kau akan melakukan apapun yang ku mau?"
"Euuummm... of course. Demi orang yang masih bersemayam di hati. Apa sih yang tidak untukmu?" Hehehe ATM berjalan ku.
Gadis itu tersenyum manis. "Tutup matamu..."
"Tutup mata?"
"Ya." Masih dalam posisi tersenyum.
"Mau apa, kok aku deg-degan jadinya? Sepertinya lebih enak melakukan di mobil ku." Yayan meraih pergelangan tangan Denna, yang sigap menjauh sebelum berhasil di sentuh.
"Tidak perlu di mobil. Hal ini bukanlah sesuatu yang intim kok. Kita masih bisa melakukannya di depan umum."
Sedikit gerakan kedua tangannya, gadis itu sejatinya hendak mengangkat tas miliknya. Berniat untuk memukul kepala pria di depan.
Namun, setelah ingat ada iPad mahal di dalamnya ia langsung mengurungkan niat.
Tidak, tidak... terlalu sayang kalau aku harus memukul kepala pria keparat ini dengan benda mahal.
Denna berpikir sejenak. Batu? Ah tidak... kalau dia mati aku bisa masuk penjara.
"Denna, kenapa kau diam saja? Haruskah ku buka mataku?"
"Jangan! Sebentar lagi aku akan memberikanmu sesuatu."
"Ah, baiklah... jangan lama-lama. Aku makin penasaran."
bodoh! Denna tersenyum jahat. Ia pun menggeser pandangannya ke bawah. Ahaaaa....! beralih melepas satu sepatunya kemudian mengambil ancang-ancang cukup tinggi. Sebelum.... Plaaaaaaaaaakkk!!!
__ADS_1
"Aaaaarrrghhh..." Sebuah erangan keras keluar dari bibir pria tersebut ketika sebuah sneaker shoes milik Denna mendarat cukup keras diubun-ubun pria itu.. "Kau memukulku?"
"Kenapa memangnya, kau terkejut?" Bertanya santai sebelum meniup sepatunya.
"Denna, kau!"
"Apa?! Mau bilang aku tidak waras? Inilah yang ku inginkan saat cecunguk seperti mu menghilang begitu saja. Kau pasti belum puas merasakan satu pukulan."
"A–apa?" Pria itu reflek memundurkan langkahnya. Namun telat, Denna sudah meluncurkan pukulan lagi dua kali di ke-dua pipinya dengan sebelah sepatu tadi.
Plak..! Plak!
Pria itu kontan tersungkur dalam posisi duduk. Sementara kesadarannya langsung kembali ketika ujung sepatu tersebut terarah langsung di depan matanya. Ia pun membeku dengan kedua mata melebar.
"Yang kau lihat, aku selama ini sebodoh itu kah? HAH! Dasar bedebah brengsek!"
Baaakkk, buuuukkk, baaakk....
"Aaaaarrrghhh...! Hentikan, Denna...!" Yayan mencoba untuk menangkisnya dan meminta untuk di hentikan. Tapi, bukannya berhenti Denna justru semakin brutal memukulnya.
"Dulu mungkin aku tidak tega melakukan ini, tapi untuk sekarang jangan harap aku akan berbaik hati padamu. DASAR PENIPU LAKNAT!!!" Masih terus memukuli Yayan tanpa peduli keduanya kini menjadi pusat perhatian.
"Dasar wanita gila...! Aaaaarrrghhh..." Yayan yang sudah tidak tahan pun memilih untuk merangkak menjauh sebelum akhirnya berhasil berdiri dan melarikan diri.
"HEEEIII!!! Dasar tidak punya muka. Sudah menipu dan mencampakkan aku, sekarang dengan santainya bertanya apakah masih bisa kita berhubungan baik? MASIH UNTUNG KAU TIDAK KU LAPORKAN KE POLISI. DASAR BEDEBAH TENGIK....! MEMBUSUK SAJA SANA KAU!!" Pekik Denna sekeras mungkin pada pria yang sudah menjauh darinya dan masuk ke dalam mobilnya sendiri. Nafas wanita itu naik turun memandang sendu kearah mobil jenis Pajero sport.
"Kau pikir aku tidak bisa bahagia setelah mendapatkan kerugian besar sebab berpacaran dengan mu? Hah! Dan apa Kau pikir aku tidak bisa move on darimu?" Mata Denna mengembun, dengan salah satu tangan meremas baju di bagian dadanya.
Tak lama segerombolan air tiba-tiba menerjang kawasan tersebut menyiram tubuhnya.
"Lihat! Bahkan hujan saja tidak ingin aku menunjukkan kelemahanku dengan menangis. Ku rasa semesta pun tak rela aku berhubungan baik dengan mu lagi, Yayan."
Gadis itu menunduk, menggigit ujung bibirnya. Dan bersama dengan itu, sebuah payung sudah berada di atas kepalanya. Denna pun menoleh kebelakang.
Ya, laki-laki berjas hitam dengan tatapan datar sudah berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"A–Anda?" bergumam lirih tidak percaya karena laki-laki yang ada di hadapannya saat ini adalah seorang pria dingin yang menjabat sebagai Sekretaris pribadi di keluarga Sanjaya.