Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
Munculnya rasa bersalah


__ADS_3

Pukul 07:20


Arga terjaga dari tidurnya. Kepalanya terasa berat, perutnya pun tidak nyaman. Ia membutuhkan sesuatu yang hangat dan sedikit pedas sebagai pereda mabuk.


Sepertinya, semalam aku mabuk berat. Kepalaku pusing sekali.


Arga membatin. Ia belum menyadari, apa saja yang terjadi semalam. Keributan apa saja yang ia lakukan saat dari club hingga terbaring di ranjang itu.


"Alieee?" gumamnya lirih dengan tatapan kosong mengarah kedepan. Arga menyayangkan, ketika bangun dari tidurnya kali ini. Sebab, semalam ia bermimpi tidur dengan gadisnya. Menghabiskan malam sembari bercinta di bawah balutan selimut. Amat menyenangkan, ketika mampu melampiaskan rasa rindu yang terbendung lama sekali.


Kenapa harus mimpi? Kenapa pula aku harus terjaga? Andai saja, dunia mimpi bisa di balik. Aku ingin bersama Alicia sepanjang waktuku.


Pria itu memijat keningnya, menunduk lesu sebelum menyadari sesuatu. Tubuh yang tanpa atasan itu, membuatnya membuka sedikit selimut yang menutupi separuh dari bagian tubuh atletisnya. Mengintip.


Sedikit tercengang, rupanya semalam ia tidur dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun. Padahal, walau sehabis berhubungan dengan wanita itu, ia pasti langsung memakai bajunya kembali.


"Apa-apaan ini?" Arga bingung. Kembali menutup seluruh bagian bawahnya dengan selimut itu. Mencoba keras untuk mengingat kembali. Karena Ia benar-benar tidak tahu, apa yang terjadi tadi malam.


Di sela-sela usahanya yang sedang mengingat apa yang ia lakukan semalam. Terdengar pula suara pintu yang terbuka, Ia pun menoleh kearah sumber suara. Menunggu sesaat hingga Arumi muncul.


Terlihat wajah yang lelah dengan mata sembab seperti habis menangis itu mematung sesaat, sebab melihat suaminya telah terjaga.


Ingatan tentang perbuatan brutal Arga semalam membuat Arum kembali takut. Padahal sebelumnya ia tak pernah se-takut ini. Reflek ke-dua tangannya menyilang di depan dada. Mendekap dirinya sendiri. Rasa pedih dan sakit masih ia rasakan. Sungguh demi apapun, ia tidak ingin tidur di sisi pria itu lagi nanti malam.


"Dari mana, Kau?" tanyanya serak, dengan tangan masih memijat keningnya sendiri.


"Da–dari luar," jawab Arum lirih. Sorot matanya terus saja menghindari tatapan mata milik Arga.

__ADS_1


"Kemarilah..." titahnya.


Walau saat ini isi kepalanya penuh sesak dengan hal ganas yang ia terima. Namun ia tahu kewajibannya. Arum harus mendekat, lalu menawarkan apapun untuk pria itu.


"S–sa–sayang. Kau sudah bangun?" telat ia bertanya itu. Kakinya melangkah pelan akibat rasa pedih yang masih ia rasa akibat gerakan kasar berulang yang di lakukan Arga tadi malam. "Mau, minum?"


"Ya, ambilkan air..." ucapnya sembari mengacak-acak rambutnya sendiri. Efek alcohol yang ia minum benar-benar membuat suasana hatinya amburadul.


Buru-buru Arum menuangkan airnya ke dalam gelas. Sebelum menyerahkan pada Arga. Pria itu lantas menerimanya.


"Apa Sekretaris Tomi sudah di bawah?" tanyanya bernada biasa. Sebelum menengguk itu. Mengintip sang istri dari celah gelasnya. Perempuan itu sedang mengangguk.


Ada apa dengannya? Kenapa seperti ketakutan sekali?


Arga menurunkan gelas itu pelan, menyapu pandangan dari atas ke bawah. Arum lebih banyak menunduk dengan kedua tangan saling meremas di atas pangkuannya. Gelisah...


"T-tidak, Suamiku. Aku tidak apa-apa," jawabnya gugup membuat Arga kemudian melengos tidak peduli, sebab tubuh yang masih terasa berat. Ia menganggap pertanyaannya tadi itu tak perlu ia jawab lebih detail.


"Tolong jubah mandi ku," pintanya kemudian. Wanita itu lantas berjalan menuju ruang ganti untuk mengambil sesuatu yang di minta Arga. Dan kembali lagi setelah menemukannya.


"Ini, sayang–" Arum mengulurkan itu. Sesaat Arga beralih fokus pada bekas cakaran yang terlihat sedikit di bagian atas buah dadanya. Kedua netranya memicing.


"Itu kenapa?" tanya Arga penuh selidik, menujuk yang ia lihat. Arumi sendiri buru-buru menaikkan bajunya. Walaupun secepat itu pula Arga menahan tangan Arumi, sebelum mengangkat dagunya. "Bibirmu terluka sampai seperti ini? Apa yang terjadi?"


"Eemmm..." Arum tak bisa menjawab, matanya berkaca-kaca. Membiarkan laki-laki itu mulai memeriksa sendiri tubuhnya. Bahkan sampai membuka sebagian pakaian Arumi.


Sontak matanya melebar melihat banyaknya bekas cakaran, juga gigitan yang bahkan sampai meninggalkan jejak tak manusiawi.

__ADS_1


"Astaga, apa yang terjadi padamu?" tanya Arga tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Apa Anda, tidak mengingatnya?" Tanya Arum parau, sudah tak mampu lagi membendung air mata.


"Maksudmu?"


"Waktu dinihari tadi, Anda pulang dalam keadaan mabuk berat. Lalu tiba-tiba Anda memaksaku, untuk melayanimu di atas ranjang semalaman suntuk. Dari situlah luka-luka ini ku dapatkan," Arum tak memaparkan jelas sejauh mana rasa sakit yang ia terima. Ia harap, Arga sudah menangkap itu.


"Tidak mungkin," gumamnya, mencoba untuk mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi. –Semalam aku yakin itu hanya mimpi.


Arga menggelengkan kepalanya pelan. Menolak fakta yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


Arum sendiri tak menjawab selain memalingkan wajah. Sibuk menutup kembali sebagian tubuh yang terbuka itu, sebelum bangkit dari posisi duduknya. Toh mau menjelaskan seperti apapun, tidak ada gunanya. Dia hanya budak nafsunya di sini. Dan apapun yang di lakukan Arga, itu pasti sah-sah saja bagi laki-laki di hadapannya.


"Saya siapkan dulu air untuk mandi, ya..." hendaknya Arum menjauh. Namun segera ditahan Arga, dengan meraih pergelangan tangan Arumi.


"Sungguh! semalam, bukan atas kehendak-ku." Arga mencoba menjelaskan dengan kaku. Ia tidak ingin terlihat lemah dengan mengakui kesalahan. Namun melihat Arumi yang sampai seperti itu, hati nuraninya seolah menampar keras. Memaksa jika ia harus memiliki rasa bersalah.


Arum mencoba tersenyum, walau hatinya masih porak poranda akibat kata-kata yang tanpa tersaring sedikitpun, terlontar begitu saja dari bibir Arga sepanjang malam penuh penyiksaan itu berlangsung.


"Ya, Anda mabuk berat karena merindukannya? Dan aku melakukan tugasku sebagaimana semestinya." Sampai di sana Arum terdiam sejenak, menahan getir memecut hatinya. "Saya mengerti itu..." sambungnya lirih.


Buru-buru Arum meninggalkan Arga yang terus-menerus menatap kearahnya. Wanita itu masuk kedalam ruangan ganti, berjalan lagi hingga sampai di dalam bilik kamar mandi. Pelan-pelan menutup pintu, sebelum berjongkok di balik pintu tersebut menangisi nasibnya yang semakin menyedihkan disini.


Hal bodoh sebenarnya jika aku berusaha keras untuk mencintaimu, apalagi sampai memiliki anak. Aku tidak tahu isi hatinya selama ini, yang sangat membenciku.


Tapi, apa salahku? Dia yang datang sendiri padaku, dia juga yang memintaku masuk dalam kehidupannya... aku tidak salah apa-apa! Aku tidak tahu apa-apa!

__ADS_1


"Hiks, Ayah... Ibu..." Arum semakin sesenggukan di dalam kamar mandi yang kedap suara itu, memanggil ayah dan ibunya berkali-kali.


__ADS_2