Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
sambungan tertangkap basah


__ADS_3

Aku harus jawab apa kalau sudah begini? benar-benar membuatku ingin melarikan diri. (Tomi)


"Bisakah Anda menjelaskan ini?"


"Menjelaskan soal apa?"


"Yang di katakan Tuan Arga perihal penerbit Lavender."


"Maaf, Saya sedang menikmati hidangannya. Bukankah peraturan dalam menyantap makanan paling utama adalah diam dan menikmatinya?" Tomi tengah berusaha menghindar dari pertanyaan tersebut.


Cih.. inginnya aku mengulik banyak tentang ini. Tapi aku tidak enak hati sebab ada Suami Arumi di sini. (Denna)


Yang sedang di singgung dalam hati Denna sedang asik menyuapi isterinya.


"Kau makan banyak di sini, ya?" Arga bertingkah santai seolah-olah tak terlihat dari pandangan Tomi dan Denna.


"Aku suka masakan, Bu Ratih."


"Hohoho, kau bisa saja Arum." Bu Ratih yang di puji langsung merespon senang. Mereka tertawa kecil.


"Kalau begitu ajak saja Bu Ratih untuk ke rumah utama. Kali saja kau jadi lebih bernafsu makannya."


"Hahaha Anda bisa saja Tuan." Mereka nampak asik bersenda gurau, bertiga. Sementara yang dua didepan saling diam.


Pria kaku itu melirik ke arah Denna di saat yang lain berbincang hanya dia yang tak henti-hentinya memelototi Tomi.


Benarkah kau yang memborong novelnya? Kalau iya apa alasanmu? (Isi kepala Denna)


Berhentilah menatapku dengan tatapan mendiskriminasi (Tomi.)


.


.


.


Beberapa saat kemudian...


Suasana meja makan yang semakin hangat. Membuat Bu Ratih kembali menawarkan makanan lain.


"Sini kan mangkuknya, Arum. Biar ibu isi lagi."


"Terima kasih, Bu. Ini sudah cukup... aku benar-benar kenyang sekali." Terkekeh.


"Iya, kah? Lalu bagaimana dengan, Tuan?"


"Sudah cukup, terima kasih," jawabnya walau hanya makan satu mangkuk kecil sup kepiting tanpa lauk yang lain.


Bu Ratih pun tersenyum. Segitu saja sudah membuatnya bersyukur. Sebab orang seperti Arga masih mau mencicipi makanan buatannya. Bukankah itu luar biasa?


Triiiiiiiiing... Sebuah dering telfon di saku baju Ibunya Denna memekik.


"Silahkan di lanjutkan. Saya keluar sebentar menerima telepon." Pamit Bu Ratih sesaat sebelum melenggang pergi.


"Eheeeeemmmm... Sayang, apa kau sudah selesai?" Tanya Arga.

__ADS_1


"Sudah suamiku." menoleh kearah suaminya yang sudah berdiri lebih dulu.


"Kalau begitu ayo kita keluar." Arga berjalan lebih dulu sembari menepuk bahu Tomi sebanyak dua kali.


Ck, Anda pasti sengaja meninggalkan kami. Tomi masih dalam posisi tenang, walaupun pikirannya melayang-layang. Laki-laki itu masih sibuk memasukkan suapan demi suapan makanannya ke dalam mulut.


"Tuan Sekretaris, apa maksudnya tadi?"


"A-apa. Apa, maksudnya apa?" Tergagap. Pria itu sudah benar-benar mati kutu.


"Penerbit Lavender?"


"Ada apa dengan penerbit itu?" Menjawab dengan santai. Walau itu sangat di usahakan sekali.


Hari ini seharusnya aku ada janji dengan laki-laki yang sudah memborong bukuku. Dan dia tiba-tiba ada di kafe yang sama? –Denna mulai menganalisa.


"Tolong jelaskan, tentang memborong buku, penerbit Lavender, dan kedatangan Anda ke kafe itu."


Deg! Tomi membisu dengan sikap sempurna.


"Jangan diam saja, aku butuh penjelasan."


"Apa yang perlu di jelaskan? Bukankah yang di katakan Tuan Arga hanyalah omong kosong belaka?"


Denna bertopang dagu menatap penuh selidik kearah Tomi.


"Kau berani melotot pada saya?" Salaknya setelah merasa semakin tidak nyaman.


Denna menghela nafas. "Aku tidak yakin itu hanya omong kosong."


"Faktanya seperti itu."


"Bukankah itu tempat umum? Siapa saja berhak datang. Begitu pula Saya."


Pintar sekali menjawabnya! Tapi, kalau di pikir-pikir memang iya. Namun, timingnya sangat pas sekali. Sementara Aku tidak percaya dunia ini sempit.


Tomi bisa menangkap tatapan mata tak percaya yang di tunjukkan Denna padanya.


"Baiklah... tentang penerbit? Andara Group memang sedang bekerja sama dengan beberapa penerbit. Yang ke dua, tidak ada siapapun yang memborong novel online untuk di cetak. Apalagi saya. Tentu saya tidak akan membuang waktu untuk itu. Tuan Arga mengatakan itu hanya iseng saja."


"Iseng? Tidak ada tuh tanda-tanda Beliau iseng."


"Saya dan kamu, siapa yang lebih mengenal Tuan Arga?"


Iya... iya Anda duluan. Tidak mungkin aku (Denna)


"Cih!"


"Masih ragu?"


"Jelas lah...! Karena tidak mungkin bisa kebetulan seperti itu. Ada Anda di kafe tersebut. Sementara aku sedang mengatur janji dengan seseorang."


"Terserah saja." Tomi mengusap mulutnya dengan tissue. "Saya sudah selesai makan... dan karena ini sudah malam jadi saya harus kembali setelah berpamitan dengan Tuan Arga. Sampaikan salam saya pada ibumu. Terima kasih untuk makan malamnya."


Tomi mengangguk sekali memberikan salam sebelum keluar dari area makan itu.

__ADS_1


"Dasar, laki-laki. Kenapa susah sekali menjawab iya. Padahal jika benar kau yang melakukan itu aku kan tidak masalah."


Malam ini aku aman. Tapi ku harap setelahnya pun akan aman. –isi hati Tomi seraya melenggang pergi.


🍂🍂🍂


Pukul 23:00


Suasana rumah sudah sepi. Ibu dan adiknya mungkin sudah terlelap dalam tidur mereka. Denna sendiri masih terjaga, memandang langit dari jendela kamarnya yang berada di dekat meja kerja.


Ctaaak... Ctiiik... Ibu jarinya iseng menekan-nekan ujung atas bolpoin secara berulang-ulang.


"Sungguh, aku masih saja penasaran. Apa benar laki-laki itu adalah si pemborong Novelku?"


Termenung cukup lama, mengingat wajah yang kaku itu tengah memayunginya di bawah hujan yang tiba-tiba turun.


Setulus itu tatapannya memandangku.


Denna menoleh ke sisi kanan. Sebuah kantung keresek berwarna putih menjadi pusat perhatiannya saat ini. Pelan-pelan tangannya meraih keresek tersebut.


"Baru kali ini, ada seorang pria mau membelikan pembalut wanita seperti ini." Bibirnya tersenyum tipis kembali menyadari semua merek pembalut ada di dalam kantong tersebut.


.


.


.


Epilog..


Sekretaris Tomi berdiri di depan rak berisi berbagai jenis pembalut. Pria itu berdiri cukup lama. Mengambil yang pink di tangan kanan dan oranye di tangan kiri.


Mana yang dia biasa pakai, ya?


Pria itu menimbang-nimbang. Hingga akhirnya memutuskan untuk mengambil semua mereknya.


Taaaakk... Dengan datar sekretaris Tomi meletakkan keranjang belanjanya di atas meja kasir setelah itu membuang muka. Belum lagi di belakangnya terdapat dua gadis SMA yang turut mengantri.


Waaass... Weeeesss... Wooosss... Terdengar sedikit bisik-bisik yang tak jelas mengganggu telinganya.


"A–ada lagi, Tuan?" Tanya seorang kasir perempuan.


"Apa ada merek lain selain yang di situ."


"Emmm, semuanya sudah ada di sini."


"Kalau begitu, sudah cukup!"


"Baiklah, Tuan."


Piiiip, piiip, piiip...


"Totalnya sekian..."


Tomi membayarnya. "Ambil saja kembaliannya."

__ADS_1


"Tapi ini terlalu banyak ... Tuan, struknyaaa!!"


Setelah membayar laki-laki itu langsung kabur karena ada banyak wanita yang memperhatikannya membeli banyak pembalut membuatnya tidak nyaman.


__ADS_2