Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
Kedatangan tak terduga


__ADS_3

Di tempat lain, seorang gadis tengah merenggangkan tubuhnya setelah berjam-jam berkutat dengan tab baru yang menjadi kesayangannya saat ini.


Denna membuka mulutnya lebar-lebar, menguap panjang. Sinyal tubuh sudah memintanya untuk beristirahat berkali-kali. Sementara tangan kanannya meranggai jam weker di hadapannya.


"Pukul dua belas malam... okay saatnya tidur." Melirik lagi ke arah ponsel. Ia baru ingat, sejak tadi ponselnya ramai akan bunyi notifikasi. "Sepertinya ada group yang sedang aktif..."


Membuka aplikasi chat dan benar saja. Group author keceh tengah membahas sesuatu saat ini.


"Kumpul Author keceh? Aiiiiiiihhh, sebenarnya aku malas untuk ikut karena mereka pasti akan pamer penghasilan bulan ini. Dan akulah yang akan jadi bahan ejekan Mrs. Superstar." Meletakkan lagi ponselnya lalu beranjak mendekati ranjang tidur.


🌸🌸🌸🌸🌸


Di acara kumpul-kumpul...


"Aku yakin sih, setelah di rosting habis-habisan olehmu bulan lalu, Denna tidak akan datang lagi."


"Hahaha... Kau berpikir seperti itu? Ya, kalau dia punya rasa malu seharusnya memang demikian. Bahkan keluar sekalian dari group."


"Emmm, kau terlalu keren Leni. Hahaha..."


"Itulah aku. Hahaha..."


"Hei, keren apanya? Kau jangan terlalu berlebihan dong, Leni. Bagaimanapun juga perjuangan Denna untuk tetap bertahan menulis Tema fantasi di era gempuran para penulis CEO arogan itu luar biasa," bela seseorang.


"Hei kacamata! Siapa yang kau bilang berlebihan?! Ini komunitas penulis Diamond, dan superstar dia yang masih di gold itu tidak pantas sebenarnya masuk dalam komunitas kita. Kalau bukan karena kebaikan owner grup mungkin aku yang sebagai salah satu adminnya akan kick Dia. Lihat saja karyanya, adakah yang booming? Tidak ada satupun yang bisa di kenal orang. Lagipula dia juga pernah menulis tema pasaran, 'kan? Apakah laku keras? Nyatanya tidak tuh... sudah jelas jika karya dia tidak bisa di terima. Tulisannya saja masih buruk!" meraih sedotan kemudian mengaduk minumnya.


"Belum laku, bukan berarti tidak laku. Denna hanya belum terkenal saja. Menurutku ide-ide fantasinya luar biasa loh. Hanya saja memang, lumayan banyak typo. Tapi itu masih bisa di perbaiki."


"Bagaimana tidak typo. Keyboard laptop dia kan banyak yang sudah terlepas. Heran saja laptop butut masih di pakai."


"Benar itu...!" Timpal yang lain.


"Tapi, dia mungkin punya alasan kenapa keyboard laptopnya yang sudah banyak copot itu masih dia pakai. Seharusnya kalian jangan seperti itu padanya."


"Ya, aku tahu alasan dia kenapa tidak ganti laptop usangnya itu. Bukan karena laptop dia berharga. Lebih ke, tidak punya duit, sih? Hahaha..."


Beberapa orang yang ada di depan Leni mendadak diam tidak ikut tertawa dan memilih untuk menunduk sambil menyeruput minuman mereka pura-pura tidak mendengarkan.


Semua sebab mereka melihat Denna yang sudah berdiri tak jauh dari meja berkumpul. Dan terdiam sejenak setelah mendengarkan cibiran salah satu dari lima orang penulis bergelar superstar itu.

__ADS_1


"Hai–semua!" Denna menepuk pundak Leni cukup kencang hingga gadis yang sedang menyedot minumannya langsung tersentak.


"Uhuk... Uhuk..."


"Ya ampun, Kau kenapa? jangan-jangan terjangkit virus. Seharusnya kau jangan kemana-mana dan lakukanlah isolasi mandiri di rumah." Menepuk-nepuk punggung gadis itu.


"Singkirkan tanganmu, aku batuk juga gara-gara Kau yang sudah mengagetkanku." Kesal.


"Memang kenapa? Aku kan hanya menyapa..." Denna nyengir, ia memilih untuk duduk di dekat Leni.


"Menyapa tapi tidak dengan menepuk bahu dengan keras. Dasar! Ngapain juga duduk di sini?"


"Kenapa sih, sensi sekali? Rating Novel mu turun drastis, ya? Hahahaha..."


"Hei jaga mulutmu. Siapa yang ratingnya turun. Enak saja..."


"Ya, ya... yang baru lolos ke superstar." Denna melepaskan tasnya.


"Hemmm, kau ganti tas? Apa laptop jelekmu itu rusak? Yaaaah... tidak bisa produksi Novel kalengan dong." Cibir Leni sambil tertawa. Denna pun tak menggubrisnya. Ia justru mengeluarkan sesuatu dari dalam tas tersebut lantas meletakkannya di atas meja.


"Oh, Leni ariestaaaa? Ada yang baru loooh...?" Nyengir. Kontan gadis yang tadi sedang tertawa mendadak membeku.


"Hehehe... kenapa kok bengong begitu? Mendadak gerah, ya? Panas? Atau Terbakar?" Denna bertopang dagu, rasanya senang melihat ekspresi wajah Leni saat ini.


"Hemmm... Kau mengemis pada Ayahmu?"


"Oh, tidak lah. Kau tahu aku sedang kena hukuman tidak bisa minta benda mahal dalam kurun waktu tiga tahun."


"Lalu dari mana benda mahal ini. Penghasilanmu saja lebih rendah dari gaji karyawan pabrik."


"Ssssssttt mau ku beritahu...? aku itu punya Daddy Sugar baik hati." Bisiknya pada gadis yang semakin membuka lebar-lebar mulutnya. "Kau tercengang? Hah, hah? Hahahaha... aku senang melihat mulut mengangamu itu."


"Cih! Dasar sampah."


"Sampah yang bernilai... duh lihat, jika di sandingkan dengan punyamu. Utututu... kenapa punya mu jadi jelata begitu, ya?"


"Hei...!" Menyambar Tab-nya sendiri.


"Jangan kesal dong. Aku hanya bercanda... minum saja es tehmu biar hatimu sejuk. Mau ku bayarkan, author superstar?"

__ADS_1


"Iiissshhh..." Gadis itu langsung beranjak.


"Leni, kau mau kemana?"


"TOILET!!" serunya ketus.


"Jangan lama-lama, ya. Aku belum pamerin betapa canggihnya iPadku loh. Hahaha..."


"BOMAT!" Sarkasnya seraya melenggang pergi.


"Huhuhu, kena mental sekarang..." gumamnya sembari menghela nafas panjang.


–––


Beberapa jam berlalu. Denna dan teman-temannya banyak membahas tentang kepenulisan. Seperti saling kasih solusi agar level atau mungkin retensi tidak turun dan lain sebagainya. Kini pembahasan pun beralih pada tema-tema kompetisi.


"Uuugh, tema menye-menye semua." Gerutunya.


"Cobalah untuk mengikuti salah satunya." Si gadis berkacamata bernama Febrina memberi saran.


"Aku tidak biasa bikin dialog romantis. Terlalu memuakkan. Aku suka sosok laki-laki dingin dan bermata tajam."


Saat Denna tengah membayangkan sosok laki-laki dingin dan kaku sebuah mobil mewah memasuki area parkir kafe tersebut. Pria berpostur tinggi 185 sentimeter itu Keluar dari mobil sambil membawa aura tak biasa. Hingga membuat beberapa wanita yang melihatnya seolah terpaku seketika.


"Dia yang tinggi dan berbadan kekar. Tidak pernah menebar senyum pada pemeran wanitanya. Ia juga bermulut pedas tapi mencintai PU wanitanya."


Gadis itu terus mengoceh membicarakan sosok laki-laki cool menggunakan setelan jas hitam yang rapi. Dengan rambut yang memiliki belahan poni di sisi kanannya.


"Yang pasti dia bukan manusia melainkan mahluk dari dimensi lain. Ooooh..." tiga orang di hadapannya menutup mulut saat melihat karakter yang di gambarkan Denna kini berada di hadapannya. Tengah berdiri tepat di belakang Denna.


"Ya Tuhan, sosok yang sempurna," gumam salah satunya.


"Ya, itulah. Kalian bisa menangkap penggambaranku?" Tanya Denna antusias. Mereka pun manggut-manggut dengan pandangan mata tak berkedip. "Hahaha, bravo!"


"Nona Denna Ariestia!" Suara pria yang tegas membuatnya kontan membisu.


Suara itu. Aku mengenalnya. Pelan-pelan memutar kepala kebelakang. Di lihatnya pertama kali adalah tubuh laki-laki berjas hitam yang gagah, ia pun menggeser pandangannya naik hingga sosok wajah datar yang ia kenal terlihat dengan jelas.


"Saya menemukanmu disini..."

__ADS_1


"Tu–Tuan Sekretaris?" Terkejut bukan kepalang. Ia tidak menyangka Sekretaris Tomi ada di dekatnnya sekarang.


__ADS_2