Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
Antara bertahan atau melepaskan


__ADS_3

Sebenarnya, Arumi belum mau pulang. Namun bujuk rayu Denna akhirnya membuat Arumi luluh. Sekertaris Tomi menghela nafas lega karena akhirnya dia bisa kembali. Sementara Arga paling bersemangat sekarang.


Uti terlihat sedih melepas kepergian cucuk-nya. Karena mereka baru tiba kemarin. Namun hari ini harus sudah balik ke Jakarta.


"Uti yang sehat, ya. Kalau ada kesempatan, Denna ke sini lagi." Memeluk tubuh kurus Neneknya.


"Bener, ya? Uti sudah tua, tidak tahu akan bisa ketemu kamu lagi atau tidak?"


"Uuuhhh... jangan bilang begitu. Uti harus panjang umur." Denna mencium pipi yang kurus bahkan terlihat bentuk tulang pipi dan rahangnya.


Setelah berpamitan cukup lama. Mobil pun berjalan keluar dari desa Batur itu. Ya, walaupun beberapa rencana jalan-jalan harus batal setidaknya Arum sudah merasakan hatinya lebih baik.


Sesuai perjanjian. Arum mau ke Jakarta, namun ia belum ingin untuk kembali ke rumah utama. Sempat terjadi debat kecil antara Arum dan Arga untuk kesekian kalinya. Hingga pria itu mengalah dan membiarkan Arumi untuk tinggal sementara waktu di rumah Denna.


.


.


.


Perjalanan kurang lebih dua jam dari Batur ke Purbalingga menggunakan jalur darat. Dan tak sampai satu jam dari Purbalingga ke Jakarta menggunakan kendaraan udara. Mereka sudah tiba sekitar beberapa menit yang lalu di kediaman Denna.


"Arum, yakinkah kau tidak ingin pulang bersamaku?" Arga bertanya dengan tampang memelas. Berbicara berdua di dalam kamar Denna.


"Seperti pada perjanjiannya. Aku belum ingin kembali."


Arga menghela nafas, terdiam beberapa saat. "Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Tapi nanti malam aku akan datang lagi."


"Untuk apa? Sebaiknya Anda istirahat di rumah."


"Aku tidak mau istirahat tanpa kau di sisiku."


Berlebihan! Arum mendengus.


"Rum." Arga mengecup kening Arumi lembut hingga membuat wanita itu tertegun. Kecupan berpindah ke pipi sebelah kanan, terakhir berhenti di bibir sebab Arum memalingkan wajahnya. "Aku rindu..." bisik Arga terdengar lembut dan menggetarkan hati.


Sementara ibu jarinya mengusap-usap bibir merah jambu milik sang istri. Arum pun mendorong dada bidang itu pelan.


"Hentikan, kita harus keluar dari kamar ini. Kalau kelamaan tidak enak juga, kan?" tukasnya gugup.

__ADS_1


"Makanya aku bilang apa? Ayo pulang, supaya lebih leluasa lagi."


Idih, apa sih... Batin Arumi, masih berusaha menjauhkan dirinya dari Arga yang terus saja menempel.


Greeeepp... Arga meraih lingkar pinggang sang istri, dengan sedikit tarikan agar lebih mendekat hingga tubuh mereka menempel.


"Tuan?"


Cup.. Arga mencium bibirnya sekilas.


"Kyaaaaaa. Tu..."


Cup. Sekali lagi Arga mencium kilat bibir Arumi.


"Terus! panggil saja aku Tuan. Maka habislah kau. Aku akan menguncimu sampai langit berubah gelap. Lantas mencium-mu tanpa ampun," ancam Arga. Sementara yang di peluk tengah berusaha keras untuk melepaskan diri.


"Ya sudah..."


"Ya sudah apa?"


"Aku tidak akan memanggil Tuan lagi."


"Iya, suamiku." Lirihnya malu-malu. Arga pun tertawa. "Sudah puas? Lepaskan aku..."


"Tidak mau." Memeluk semakin erat. Dengan kepala menyandar di bahu Arumi. Dusel-dusel... endus-endus... cium sana sini.


"Suamiku sudah." Mendorong pelan, namun malah justru semakin erat Arga memeluk lingkar pinggangnya.


Kau jadi terlihat seperti anak kucing yang sedang manja kepada majikannya. –Arumi tersenyum tipis. Walaupun sepersekian detik kemudian menariknya.


"Maafkan aku Arumi," gumam Arga, terdengar tulus. "Aku menyesal, telah bertindak bodoh padamu."


deg deg ... Arumi membisu mendengarkan ucapan suaminya dengan kepala masih menyandar di bahu.


"Aku mencintaimu, lebih dari apa yang kau kira." Mencium leher kanan Arumi, membuat wanita itu sedikit tersentak. "Itu penyebab utama kecemburuanku muncul hingga membutakan mataku. Aku menyadari bahwa diri ini bodoh, aku pun menyadari diri ini naif. Tolong maafkan aku, terimalah aku kembali Arumi, dan berikanlah aku satu kesempatan untuk memperbaiki diri ini. Karena aku tidak ingin ada perpisahan diantara kita."


"Tidak ingin ada perpisahan. Lantas surat kontrak itu?" Arumi menyela.


"Surat kontrak?" Arga pun merubah posisinya menatap Arumi sekarang.

__ADS_1


"Iya... Kau bilang kontrakku selesai karena aku hamil."


"Tidak, sayang. Aku mengatakan itu hanya untuk gertakan saja. Aku hanya takut terjadi apa-apa padamu jika kau melahirkan. Makanya aku melarangmu hamil."


Arum diam saja. Menurunkan pandangan matanya ke dada Arga.


"Percayalah, ada banyak kisah seorang ibu yang meninggal karena melahirkan anaknya. Aku takut kau menjadi salah satunya."


"Apa hanya itu alasanmu melarangku punya anak?"


"Iya hanya itu. Aku takut kehilanganmu! Memang, kau pikir siapa yang tidak mau punya anak?" Arga menyentuh perut Arumi dengan tangan kanannya. "Andai kau jujur dari awal pun, aku akan langsung menerimanya."


"Kau bohong, nyatanya saat di mobil setelah bertemu Tuan Dokter dan istrinya itu, kita sampai berdebat sebab membahas kehamilan."


"Sebenarnya, aku?"


"Kan?" Arum menunduk.


"Lain ceritanya jika kau langsung mengatakannya kondisimu yang sebenarnya, Arumi. Mana mungkin aku langsung memutuskan kontrak saat tahu kau hamil anakku. Yang membuatku geram dan percaya atas tuduhan itu adalah, kau menyembunyikannya dari ku. Belum lagi kedekatanmu dengan cecunguk itu. Karena dia juga pernah bilang padaku tentang merebut mu."


Arum terdiam mendengarkan ocehan Arga yang jika di pikir-pikir ada benarnya. Dia juga salah dalam hal ini. Diam-diam meminta Dokter Kasih menghentikan suntikan-nya. Dan ketika tahu hamil malah justru menyembunyikan. Laki-laki manapun pasti akan menudingnya selingkuh karena Arga pun turut KB.


Pria di hadapan meraih dagu Arum dan menaikkan wajah teduh sang istri.


"Bagaimana? Kau memaafkanku?"


"Aku?"


Arga tersenyum tipis. Ia sudah melihat perubahan baiknya sekarang. Sepertinya Arum akan kembali menerimanya.


"Kau bisa menentukan nanti. Saat Dinner nanti malam."


"Dinner?" Arum tak mengerti. Ia ingin bertanya banyak namun Arga sudah menyambar bibirnya lebih dulu. ********** tanpa ampun dengan gerakan kepala ke kanan dan kiri. Tidak puas mencium Arumi dalam posisi berdiri. Pria itu bahkan sampai menggendongnya di depan, lalu memindahkan Arumi di atas meja yang cukup kokoh. Sebelum kembali melanjutkan ciuman rindu mereka di tengah seberkas sinar matahari menjelang sore yang hangat.


Aku berpikir dua hal saat ini. Antara kembali atau berhenti. Banyak orang berkata, bahwa orang-orang yang mau bertahan dengan suami setelah di lukai adalah hal bodoh. Namun aku ingin melihatnya. Ketika mereka yang berkata seperti itu, dengan tegas!


Di timpa situasi yang sama. Mampukah mereka dengan mudahnya melenggang pergi begitu saja seperti kalimat-kalimat yang mereka keluarkan untuk membodohi wanita-wanita malang yang memilih bertahan.


Ya, bertahan dan senantiasa memberikan maaf pada pasangan bukan karena sebab bodoh. Namun wujud cinta yang sesungguhnya.

__ADS_1


__ADS_2