
Di sebuah tempat yang luas, terdapat vila putih yang berdiri kokoh di tengah-tengah. Sementara di depannya terdapat lapangan golf, maju lebih jauh sedikit adalah danau yang luas.
Saat ini mereka tengah duduk di kursi lipat yang di sediakan khusus oleh Tomi. Tepat menghadap danau. Lokasi di mana Arga memeluk tubuh tak bernyawa milik Alicia setelah di temukan.
Pria berpawakan tinggi besar itu tak melepaskan pandangannya dari permukaan air yang tenang. Suara hewan-hewan kecil sebangsa burung dan serangga terdengar, menghiasi heningnya tempat tersebut.
Kak Arga, kemarilah... Kemari! Suara Alicia dalam ingatannya. Ia masih ingat langkah ogah-ogahannya mendekati gadis itu.
# Flashback on
"Aku lelah, pertemuan kita kan seharunya di vila itu kenapa kau menujuk tempat ini, sih?"
"Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu." Alicia menujuk ke atas. Arga pula menaikan kepalanya.
"Apa itu?"
"Rumah pohon!"
"Aku tahu, maksudnya apa kau menunjukkan itu padaku?"
"Aku menyembunyikan sesuatu di sana. Dan jika kau bisa naik, lantas menemukan sesuatu yang ada di rumah pohon itu. Berarti Kau akan mendapatkan jawabannya..."
"Apa, maksudnya aku harus naik?"
"Iya, pokoknya naik–"
"Kau bercanda, ya? Apa sulitnya menjawab pernyataan cinta ku ini dengan mulutmu sendiri tanpa harus menyuruhku untuk naik keatas."
Alicia terkekeh, "justru ini seru... Kita ini sudah kenal sejak kecil. Dan aku sudah menuliskan sesuatu di sana sejak lama. Makanya saat kau menyatakan perasaanmu padaku, aku mengajakmu kemari."
"Ck!"
"Jangan seperti itu, apa kau tidak mau berjuang sedikit saja?"
Arga menoleh kearah sekertaris Tomi dan orang-orang yang berdiri tak jauh dari posisi mereka. Nampak sekretaris Tomi menggeleng pelan padanya, melarang Tuannya untuk melakukan itu.
"Jangan ada pikiran untuk menyuruh salah satu dari mereka. Aku mau, Kau!" Pintanya sembari menekan dada bidang Arga dengan jari telunjuknya.
Sekretaris Tomi pun menoleh kearah pria yang menjadi bodyguard Alicia. Sepertinya sekretaris Tomi menginginkannya untuk melarang Nona Alicia yang sedang meminta Tuannya untuk memanjat rumah pohon tersebut sehingga nampak perdebatan kecil antara keduanya dengan suara lirih mereka.
Kembali pada Arga yang tengah menatap ke atas. Pria itu menghela nafas. "Baiklah, aku akan memanjat demi dirimu."
__ADS_1
"Kyaaaa..." Alicia bertepuk tangan senang. "Semangat Tuan Muda."
"Cih!"
"Anu– Tuan, biar saya saja yang memanjat..." pinta Sekretaris Tomi langsung.
"Sekretaris Tomi, stop di sana! Semua ini ku lakukan untuk melihat keseriusan Kakak terhadapku."
Arga menoleh ke arah Alicia. "Apa semuanya belum nampak oleh mu?"
Tentunya Alicia menggeleng. "Bukan karena aku tidak percaya padamu, Kak. Hanya saja?" Alicia mengusap dada bidang di hadapannya lalu menarik dasi Arga hingga tubuhnya sedikit condong kearahnya. "Aku ingin melihat kau sedikit berjuang. Agar aku percaya jika kau sungguh ingin menikahi ku karena cinta, bukan karena perusahaan. Aku tidak mau melakukan pernikahan Bisnis. Aku ingin hidup dengan pasangan yang benar-benar menganggap ku kekasihnya."
Arga tertegun, tatapan mata Alicia benar-benar membuatnya jatuh cinta saat itu. Ia pun berdeham, meraih lingkar pinggangnya lalu menariknya hingga tubuh Alicia menempel padanya.
"Kalau itu bisa menjadikan mu menerima perjodohan ini, maka akan ku lakukan!"
Alicia tersenyum manis. Ia memberikan kecupan pertama di pipinya.
"Untuk modal semangatmu," ucapnya lirih. Perbuatan singkat Alicia cukup membuat Arga tercengang. Ia melepaskan tubuh langsing itu. Lalu mendekati tangga yang menempel di bagian batang pohonnya.
"Tuan, tolong urungkan ini. Saya mohon!" Tomi maju satu langkah lantas berhenti saat tangan Arga terangkat sebelum melepaskan jas yang ia kenakan lalu mengulurkan itu pada Alicia. Pria itu pun mulai memanjat.
"Semangat, Kak. Temukan harta Karun itu..." Alicia berseru. Dan tinggal satu pijakan lagi Arga sampai di puncak.
"Sedikit ... lagi!" gumamnya meraih sesuatu di atas untuk membantu tubuhnya naik hingga ke lantai kayu rumah pohon tersebut.
Haaaaap... Pria itu pun berhasil sampai puncak dengan perasaan senang walaupun ngos-ngosan.
Terlihat orang-orang di bawah bertepuk tangan kagum pada seorang Presiden Direktur dari Andara Group tersebut. Sama halnya dengan Alicia di bawah.
Buru-buru Arga mencari harta Karun yang di maksud tadi. Tak susah, sebuah kotak sudah terlihat. Ia pun meraihnya lantas membuka.
Ada surat di dalamnya. Ia pun membacanya. Ya, catatan indah dari Alicia yang mengatakan ia sudah menyayangi Arga sejak kecil bahkan sekarang perasaan itu berubah menjadi cinta. Ia menerima lamaran ini. Dan bersedia menjadi istri dari Seorang Arga Sanjaya.
Flashback off
Tidak perlu di perjelas, bagaimana rasa bahagia Arga pada saat itu yang mendapatkan surat jawaban dari Alicia.
Berbeda dengan Arga yang mengingat masa lalu indahnya dengan Alicia. Gadis di samping malah justru sibuk mengamati danau tersebut. Nampak tidak asing baginya. Entahlah, seolah pernah berada di sini walaupun dengan situasi yang tak sama.
Djavu kah yang tengah ia rasakan? pasalnya jika di bilang pernah ketempat ini sepertinya mustahil.
__ADS_1
Kawasan ini bukanlah untuk umum. Melainkan hanya untuk orang-orang tertentu saja yang boleh ke sini seperti acara yang kerap kali di adakan oleh keluarga Narendra.
Hilir angin menghempas tubuhnya. Sejuk dirasakan walaupun terik matahari sedang garang-garangnya.
Arum menoleh ke arah Arga, setelah sibuk mengagumi kawasan indah di sekitarnya. Pria itu nampak menitikkan air mata.
Dia menangis? Emmm... sudah pasti ia mengingat kekasihnya.
Buru-buru Arumi meraih sesuatu dari tasnya. Sebuah sapu tangan. Sebelum Ia menoleh lagi kearah Arga. Dengan hati-hati mengarahkan sapu tangan itu ke pipinya.
Arga terkesiap, lantas menggeser pandangannya pada Arumi. Nampak senyum Arumi membuatnya tercenung.
"Maaf, aku mengejutkanmu."
"Aliee–" Arga menyentuh pipi Arumi. Wanita itu pun diam saja, sembari menurunkan tangannya. Manik hazel di netranya nampak bergerak-gerak akibat gugup.
Jelaskan padaku, kenapa begitu sakit berada jauh dari mu? Sampai aku harus membuat tiruan mu, Aliee... (Arga)
Arga masih menatap sendu gadis di depannya, dengan perasaan yang seolah ingin meronta. Menolak takdir kisah cintanya yang pilu ini. Sementara Arumi membisu, membiarkan wajahnya di sentuh Arga.
Tuan, sedalam itukah perasaan Anda pada Nona Alicia? Hingga Anda sampai seperti ini? (Arum)
Mendadak wajah arogan itu tak nampak di depan Arum. Yang terlihat malah justru tampang pria malang yang kehilangan cintanya.
Tanpa bisa menolaknya tubuh Arum sudah berada di pelukan Arga.
"Sa–sayang, kau jangan sedih. Aku akan tetap ada di sini. Un–untukmu," ucapnya dengan gugup. Karena seperti itulah aturannya yang tertulis dalam map kontrak yang ia tandatangani.
Arga memejamkan matanya, membuat bulir bening kembali mengalir. Sembari mengeratkan pelukannya ia terus mendekap tubuh Arumi.
Aktingnya sangatlah buruk. Namun aku merasakan lebih baik. Setidaknya wajah Alicia bisa ku lihat pada dirinya. (Arga)
Gadis dalam pelukan Arga tidak tau harus apa, selain menepuk-nepuk pelan punggungnya itu.
Terlihat keras dan kasar seperti kaktus. Namun aku yakin, sejatinya dia itu rapuh.
Masih menepuk pelan sembari menatap lurus kedepan. Hingga akhirnya ia tersadar akan sesuatu.
Tunggu, kaktus?
Seolah di ingatkan sesuatu yang berkaitan dengan kaktus. Tapi apa? Arumi seperti tengah berpikir keras tentang siluet-siluet dalam memori kepalanya yang nampak abstrak.
__ADS_1