
Setelah selesai makan keduanya keluar bersama. Arga berjalan dengan Aska di depan, sementara Akirra bersama Arum bicara santai di belakang.
Keduanya nampak asyik bercengkrama kesana-kemari. Membicarakan berbagai hal dari A sampai Z. Hingga tanpa sadar mereka sudah tiba di pelataran lobby restoran.
"Terima kasih sekali lagi untuk bingkisannya. Aku jadi malu karena tidak membawa apa-apa," ucap Arum sambil memeluk tubuh Akirra.
"Nyonya, aku tidak berharap timbal balik apapun saat memberikan ini. Anda menyukai karya ku saja, itu sudah sangat luar biasa senangnya."
"Huhu, tapi tetap saja aku tidak enak hati."
"Tenang saja, aku akan mengirimkan hadiah untuknya." Arga memotong.
"Tidak, terima kasih, Tuan. Kami sudah cukup senang untuk hidangan makan malam ini. Jadi tidak perlu mengirimkan apapun lagi untuk kami." Aska melingkari pinggang istrinya sembari tersenyum.
Arga terdiam sejenak lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sebuah kartu akses yang ia keluarkan dari dompetnya.
"Terima ini..." Arga menyodorkan kartu tersebut pada Akirra. Wanita itu belum menerima dan memilih untuk menoleh sejenak pada suaminya yang lantas mengangguk. Barulah ia menerima dengan sopan menggunakan kedua tangannya.
Akirra membaca sedikit. Hungary galery, Grand Indonesia.
"I–ini, apa? Tuan?" Tanyanya pelan-pelan.
"Akhir pekan nanti ada pagelaran seni terbesar yang menggabungkan karya dari seniman Asia dan Eropa di Grand Indonesia. Datanglah ke sana menggunakan itu..."
"Emmm?" Akirra masih bingung.
"Intinya datang saja. Dan lihat nantinya, mungkin Dua hari ini akan ada yang menghubungimu."
Akirra tersenyum. "Terima kasih, Tuan."
"Sama-sama. Kalau begitu kami permisi, terima kasih untuk waktu kalian. Dokter Aska! bersiaplah karena istrimu akan menjadi orang yang hebat!" Menepuk-nepuk bahunya.
Laki-laki itu bergeming. Memandangi pria yang tengah berjalan bersama istrinya menuju mobil mewah di hadapan mereka.
"Orang hebat? Apa maksudnya?" Akirra bergumam, namun terkesiap saat kartu akses itu berpindah tangan.
"Aku ingin kau tetap menjadi istriku, yang seperti ini." Ia mengantongi kartu itu lalu mengecup kening istrinya yang masih belum mengerti. "Ayo pulang..." ajaknya kemudian.
🌸🌸🌸
Dalam perjalanan, Arum banyak tersenyum. Tangannya mengusap perutnya yang masih kempes itu.
"Apa kau merasakan begah?"
"Tidak Sayang. Kau tahu aku bahkan tidak makan banyak."
"Benar." Arga mengusap lembut pipi sang istri. "Kenapa akhir-akhir ini kau tidak mau makan, dan lebih suka ngemil?"
Arum tersenyum tipis. "Kau bisa menebaknya, kenapa?"
"Emmm, apa makanannya kurang enak?" Arum menggeleng. "Kau tidak menyukai makanan restoran?"
"Bukan itu!"
"Lalu apa?" Tanyanya penasaran.
"Nanti juga Kau akan mengetahuinya." Arum mencium bibir suaminya secepat kilat. Hingga menimbulkan garis senyum di bibir Arga.
"Aku tidak suka teka-teki, dan ciuman yang hanya menempel singkat seperti tadi."
"Hehehe... sayang." Arum menjauhi wajah suaminya yang sudah mendekat.
"Berani menolak suami?"
"Bukan, tapi kan ada pak supir di depan." Arum berbisik sembari menahan bibir suaminya.
"Dia tidak akan peduli apa yang kita lakukan di belakang." Arga melekatkan bibirnya cepat. Sementara Arum tak bisa mengelak lagi. Biarlah ia menerima ciuman mesra sang calon ayah dari janin yang sedang ia kandung saat ini.
"Eeemmmmp..." Arum mendorong pelan dadanya. "Sayang, aku ingin bertanya."
__ADS_1
"Apa?" Bisiknya serak. Arum pun mendekati telinga Arga.
"Bagaimana dengan suntikan penunda kehamilan itu? Minggu depan adalah jadwalnya. Apa kali ini kita bisa berhenti?"
Arga terdiam. Lalu menarik tubuhnya sendiri. Sedikit menjauh dari Arum.
"Sayang?"
"Aku? Aku tidak bisa menghentikannya."
"Apa?!"
"Kau harus tahu aku terlalu takut," jawabnya sembari melengos ke kaca samping.
"Takut? Takut apa?" Arum meraih wajah suaminya, membawa kembali menghadapnya.
"Aku tidak bisa menjelaskan perasaan takut itu. Intinya, aku tak mau kamu sampai mengandung. Kita akan bahagia walau hanya berdua saja."
Deg!
Kedua tangannya mengendur. Arumi terpekur memandangi wajah tegas suaminya.
"Kau bilang sudah mencintaiku, 'kan?"
"Ya, aku sangat mencintaimu."
"Lalu kenapa masih tidak mau mendapatkan anak dariku?" Kedua netranya berkaca-kaca. Sementara aku sudah hamil sekarang.
"Mengertilah, Sayang. Semuanya tidak mudah untukku. Aku takut kau akan celaka karena melahirkan seorang bayi. Aku tidak mau!"
"Apa? Apa hanya itu alasanmu menolak benih yang kau tanam ini, tumbuh?" Tanya Arum. Arga pun mengangguk pelan. "Ya Tuhan, aku akan baik-baik saja. Jadi, ayo kita hentikan suntikan itu. Kita datangi Dokter Kasih, kalau perlu besok."
Arga menggeleng. "Tidak!"
"Sayang–" rengek Arumi sembari mengguncangkan tangan Arga.
"Keputusanku sudah bulat. Aku tidak mau punya anak! Dan kau jangan memaksaku untuk menuruti semua itu," sarkasnya tegas. Hingga membuat Arum terhenyak.
"Aku hanya ingin bahagia berdua denganmu. Sudah paham, kan?" Pria itu melonggarkan dasinya kasar sebelum berpaling wajah.
Arum sendiri tak bisa berkata-kata lagi. Ia bahkan langsung menyandar lunglai kemudian menghadap ke sisi sampingnya menghadap kaca.
Lampu-lampu gedung itu membuatnya ingin menangis saat ini. Mereka indah, namun keindahannya hanya mampu di lihat dari kejauhan. Sekarang, bagaimana dengan nasib anak yang ada dalam kandungannya?
Kapan ia bisa bicara dengan Arga jika laki-laki itu sendiri justru masih keukeuh dengan pendirinya yang tak mau punya anak.
🥀
🥀
Siang sebelumnya...
Arum mendatangi Dokter kasih saat mendapati masalah pada dirinya.
"Saya senang, Akhirnya Nona datang. Karena sejatinya ada yang ingin saya sampaikan. Dan saat saya mencoba meminta nomor pada Denna, saya khawatir ia akan mengetahui segalanya."
Arum mengernyitkan dahi. "Sebenarnya, ada Apa, Dok?"
"Nona saya tahu, saya telah melakukan kesalahan. Tanpa berbicara lagi pada Anda."
"Maksudnya?"
Dokter itu tak menjawab, ia pun mengeluarkan sesuatu dari lacinya. Sebuah cawan urin dan alat tes kehamilan.
"Silahkan cek urin Anda sebentar, Nona. Saya harap masih belum terlambat walaupun ini sebenarnya memang sudah terlambat sekali."
"Emmmm... baiklah." Arum meraih dua benda itu lalu membawanya ke toilet. Dokter Kasih sendiri nampak gugup, terdengar dari gerakan kukunya yang mengetuk-ngetuk permukaan meja. Setelah menunggu beberapa saat, Arum keluar.
"Bagaimana, Nona?"
__ADS_1
Wanita itu terlihat senang. Walaupun masih menunggu jawaban juga dari sang Dokter dengan cara menyerahkan hasil tes kehamilannya.
Tangan Dokter Kasih gemetar. "Po–positif..."
"Apa ini tandanya aku hamil, Dokter?" Tanya Arum terlihat senang. Wanita berambut pendek itu mengangguk pelan. "Ya Tuhan? Aku hamil?"
Greeeepp... Wanita itu menggenggam kedua tangan Arumi.
"Nona, mohon maafkan saya. Waktu saya melihat Nona menangis, hati saya jadi tergerak dan Justru mengganti cairan injeksinya dengan cairan asam folat untuk nona serta obat penyubur untuk ****** Tuan muda. Saya benar-benar bersalah karena tidak memakai akal logika saya."
"Dokter, tidak apa-apa."
Wanita itu mengangkat kepalanya.
"Tidak apa-apa Dokter. Saya yakin, suami saya tidak akan murka karena ini."
"Tapi, Nona?"
"Emmm, kami sudah berbaikan. Hubungan kami tak seperti sebelumnya. Mungkin, Beliau akan menerima kehamilanku dengan senang hati."
"Benarkah begitu?"
Arum mengangguk senang. "Nanti, aku akan bicara. Mudah-mudahan, besok Dia mau meluangkan waktunya untuk kesini."
"Anda mau mengatakan kehamilan Anda sekarang?"
"Tidak. Aku akan mengatakannya besok, karena aku juga butuh bukti kebenaran dari bibir Dokter sendiri. Tenanglah, Beliau sekarang sudah jauh lebih baik."
Dokter Kasih tersenyum tipis merasa lega. "Syukurlah kalau begitu."
"Aku ingin mengucapkan terima kasih padamu, Dokter. Karena keberanian Anda, saya bisa hamil."
"Sama-sama." Perempuan itu mengulas senyum. "Emmm... saya akan meresepkan vitaminnya untuk Anda, Nona."
"Baiklah..." Arum menunggu dengan senang hati. Ia juga berkali-kali mengusap perutnya yang masih rata.
Ku harap Daddy-mu senang mendengar kabar kehadiranmu, Nak.
🥀🥀🥀
Esok harinya...
Arum mengantarkan suaminya hingga kedepan pintu mobil. Pria itu menyadari kesedihan sang istri sejak pertengkaran kecil di dalam mobil tadi malam.
Ia pun lantas memeluknya erat. "Maafkan aku, Sayang. Aku tak bermaksud menyakitimu. Namun semua yang ku putuskan ini adalah hal terbaik untuk kita. Mengertilah–"
Arum menggigit ujung bibirnya. Air matanya kembali keluar dari netra hazelnya.
"Tuan, ada kabar duka." Sekretaris Tomi mendekat setelah menerima telepon dari seseorang.
Arga pun melepaskan pelukannya. Lalu menoleh kebelakang.
"Ada apa?"
"Dokter Kasih, meninggal dunia dalam kecelakaan tunggal tadi malam?"
Deg!!! seperti kilatan petir yang tiba-tiba menyambar ulu hatinya. Arum bahkan hampir pingsan saat mendengar itu.
"Apa? Ya Tuhan..."
"Sekarang jenazahnya sudah di semayamkan di rumah duka. Sayapun sudah memesan karangan bunga duka cita untuk di kirim langsung?"
"Baguslah..." Arga menoleh lagi kearah Arum yang terlihat lemas setelah mendengar kabar kematian itu. Kakinya gemetar hebat wajahnya pucat pasi. "Sayang, kau baik-baik saja?"
"Emmm, iya. Aku baik-baik saja."
"Baiklah, aku jalan dulu. Jangan terlalu di pikirkan. Kita akan cari Dokter SpOG yang lain."
"I–iya." Arum menjawab dengan bibir gemetar. Bahkan saat Arga sudah memasuki mobilnya dan menjauh.
__ADS_1
Ya Tuhan, bagaimana ini. Satu-satunya saksi telah tiada. Bagaimana aku bisa mengatakan kehamilan ini pada suamiku?
Wanita itu semakin lemas. Pandangan matanya seolah semakin buram dan pyaaaasss... Semuanya gelap gulita. Arumi tak sadarkan diri saat itu juga.