
Di sebuah ruangan khusus milik Dokter Aska, memang terdapat beberapa peralatan untuk melakukan pemeriksaan, salah satunya adalah ranjang pasien.
"Silahkan, Tuan..." Aska mempersilahkan pria itu untuk masuk. Sementara Tomi tetap menunggu di luar.
"Anda buka praktek di apartemen ini?" Tanya Arga merasa sedikit heran dengan apa yang ia lihat. Aska tersenyum tipis, meraih buku catatan, sebelum duduk di kursi.
"Tentunya tidak, Tuan," jawabnya kemudian.
"Lalu, ranjang ini? Tidak mungkin kau meletakkan ranjang pasien disini jika hanya untuk beristirahat saat lembur?"
"Emmm, sebenarnya. Ini memang ruangan kerja saya. Dan sengaja saya kasih ranjang pasien ketika ada tamu yang berkemungkinan datang secara personal untuk melakukan konsultasi dengan saya. Seperti Anda misalnya. Tapi itu jarang sekali. Bahkan mungkin, baru Anda yang masuk ke ruangan ini. Biasanya kami akan mengobrol di luar," jawabnya santai. Sementara Arga manggut-manggut.
Memang benar, itu hanya ruang kerja biasa. Alasan mengapa ada ranjang di sana, sebab istri Dokter Aska pun sempat mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD).
Atau dalam bahasa sederhananya, stress paska traumatik. Yang di dapatkannya karena kekerasan seksual saat remaja.
Jadi, selain untuk memeriksa kondisi sang istri, ranjang itu terkadang di gunakan dia untuk tidur, selain sofa di luar. Sebab pada Awal-awal pernikahan dokter Aska dan Akirra. Mereka tidak bisa tidur dalam satu ranjang yang sama. Trauma paska pemerkosaan yang di alami sang istri membuatnya takut dengan sosok laki-laki.
"Oh, ya? Saya akan bertanya sekali lagi. Apa Tuan yakin ingin melakukan ini? Padahal, sebelumnya saya sudah merekomendasikan Anda, untuk menjadwalkan diri pada sesi hipnoterapi dengan terapis yang memang memegang itu. Anda tahu lisensi saya hanya sebagai psikiatri?"
"Saya tidak peduli... lakukan saja, saya hanya tidak mau mengganti dokter lain. Sudah cukup kau yang mengetahui masalahku. Tidak perlu orang luar tahu, bahwa aku mengunjungi seorang psikiater."
"Baik! Silahkan berbaring, Tuan," titahnya. Arga pun menuruti. Ia mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang. "Karena saya buka spesialis hipnoterapi, jadi saya hanya melakukan yang masih dalam ranah saya. Agar tidak menyalahi aturan."
"Hemmm..." jawabnya singkat, merasa tidak sabaran. Arga bahkan sudah menutup matanya.
"Tuan, hipnoterapi itu bisa jadi tak menghasilkan dampak apapun. Namun tak menutup kemungkinan, akan menimbulkan risiko seperti menciptakan ingatan palsu yang secara tidak sengaja tertanam saat sugesti saya berikan nantinya."
"Jika itu yang terjadi, justru bagus..." jawabnya enteng.
"Emmm, benar Anda yakin?"
"Ya, aku hanya ingin menghilangkan beban di kepalaku. Mungkin dengan ini, saya bisa berpikir lebih jernih. Dan wanita itu bisa ku bebaskan."
"Ooo... jadi Anda sebenarnya sadar atas perbuatan Anda itu?"
"Aiiiiiiihhh! Kau ini mau membantu ku terapi, atau mau banyak bicara, sih!" Sergahnya gusar.
"Hahaha, baiklah-baiklah... mari kita mulai." Aska mengalah. Ia pun mulai bekerja dengan cara memasuki alam bawah sadar Arga, lalu memberikan sugesti tertentu untuk membantu proses penyembuhan.
Saat mata Arga terpejam. Aska pun mulai berbicara, tangan kanannya siap memegangi pena.
"Apa yang Anda lihat di sana?"
"Taman–" jawabnya.
"Apa taman itu Anda kenal?"
"Ya," lirihnya.
"Seperti apa situasinya?"
"Sunyi... mendung... dan?"
__ADS_1
"Dan?"
"Alicia..." gumamnya kemudian. Aska pun menoleh kearah Arga.
"Anda melihatnya?" tanyanya sembari bertopang dagu.
"Ya, Dia tersenyum manis di bawah rumah pohon. Di tepi danau," nampak bibir Arga tersenyum tipis saat mengatakan itu.
"Emmm..." Aska kembali mencatat sesuatu. "Apa Dia mengatakan sesuatu, pada Anda?"
"Tidak... Dia hanya terdiam, sembari tersenyum. Itu saja yang ku lihat."
"Baik, coba pandang sekeliling. Apa Anda menemukan seseorang yang lain."
"Tidak ada."
"Lagi, pastikan Anda benar-benar melihat sekeliling. Jangan berfokus pada satu objek saja. Di belakang gadis itu mungkin?" tanyanya, Arga sendiri terdiam cukup lama. Hingga raut wajahnya berubah.
"Wanita itu..." gumamnya, dengan kening nampak berkerut.
"Siapa, coba lihat lebih jelas?"
"Gadis berambut lurus dan hitam..."
"hmmm, Anda mengenalinya?"
"Ya."
"Sebutkan namanya..."
Aska tersenyum. "Siapa Arumi itu?"
Arga tak menjawab. Sebab dalam dunia alam bawah sadarnya ia tengah terpaku cukup lama. Melihat Arumi menggunakan gaun pengantin, dengan ekspresi penuh kesedihan. Padahal jaraknya cukup dekat, hanya saja terhalang Alicia didepannya.
Ada sesuatu yang membuatnya beralih fokus, yaitu cincin pertunangan mereka yang masih melingkar di jari manis Alicia, dan cincin pernikahan di jari manis Arumi. Seolah terdapat pula benang merah yang menjerat jari manis mereka, yang tersambung dengan dua cincin yang berbeda di tangan Arga.
Karena memang, Arga masih menggunakan cincin tunangannya dengan Alicia di jari manis. Sementara jari tengahnya menggunakan cincin pernikahannya dengan Arumi.
"Anda bisa kembali, Tuan? Bangunlah..."
Tiiiikkk! Aska menjentikkan jarinya. Karena Arga tak kunjung merespon, membuatnya langsung membawa kembali kesadaran Arga. Pria itu seketika membuka mata dengan bulir embun sedikit membasahi netra emerald-nya.
"Bagaimana perasaan Anda?"
"Entahlah... Kepalaku pening sekarang." Arga memegangi kepalanya. "Sepertinya tidak ada perubahan yang ku rasakan. Rasanya sama saja."
"Saya sudah menyarankan, hipnoterapi bukan salah satu pilihan yang tepat untuk melakukan penyembuhan. Karena semua bergantung pada diri Anda sendiri. Obat anti depresan, juga hanya memberikan efek bahagia sementara waktu. Yang justru akan membuat Anda ketergantungan."
"Lalu saya harus apa?"
"Belajar untuk berdamai dengan apa yang Anda rasakan. Sejauh ini, yang saya lihat dari Anda yaitu tidak adanya usaha untuk melepas masa lalu."
Arga terdiam sejenak, sebelum akhirnya menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Aku tidak mungkin melupakannya, karena itu sama saja seperti sebuah pengkhianatan."
"Anda tidak mau mengkhianatinya?"
"Tentu saja."
"Lantas alasan menikah itu apa?"
"Dokter Aska, saya sudah berkali-kali menjelaskan, jika wanita itu ku nikahi karena wajahnya mirip dengan kekasihku."
"Ya, tapi apa Anda tidak ingat jika Anda pernah mengirim saya pesan chat. Walaupun Anda langsung menghapusnya. Saya sudah membaca itu. Seharusnya Anda menyadari, jika Anda sudah keluar dari alur yang Anda bangun sendiri."
"Maksudnya?"
"Anda bertanya tentang jantung berdebar saat di dekatnya...?"
"Emmm?" Arga melonggarkan dasi, mencari cara untuk mengelak.
"Itu cinta, Tuan." Tandasnya langsung pada Arga. Nampak laki-laki di depannya terdiam sebelum tertawa cukup keras, dan berhenti seketika, sembari menuding Dokter Aska
"Anda menjebakku?"
Aska mendesah. "Siapa yang menjebak Anda?"
"Tidak mungkin ada cinta untuknya."
"Tapi Anda sempat bilang, khawatir ketika ia bilang ingin punya anak dan melahirkan. Benar begitu?" Tembaknya.
"Hei, wajar aku khawatir karena dia kan, ku anggap Alicia."
"Setidaknya, secara tidak langsung. Alam bawah sadar Anda sudah menunjukkan adanya perasaan takut kehilangan. Itu gerbang awal adanya hasrat untuk memiliki lebih dari sebuah peran istri pengganti."
"Hahaha, Anda terlalu banyak memakai teori..." Arga mengusap sisi samping rambutnya.
"Ingat, Tuan? Anda juga sempat bertanya pada saya. Apa semua wanita bisa meninggal saat melahirkan? Padahal saya bukan Dokter SpOG."
"Hei, sudah ku bilang itu wajar karena dia Alicia...! Alicia...!" Arga menaikkan suaranya.
"Ya, ya... Anda bisa memastikan sendiri, Tuan. Ketika wanita itu pergi. Nama siapa yang akan Anda teriaki untuk menahannya..."
Deg...!
Arga sedikit tersentak, sebelum menarik separuh bibirnya. Ia pun beranjak.
"Akan ku transfer bayaran mu hari ini..."
"Tenang, Tuan. Hari ini free, karena di luar praktek ku."
"Cih, Aku tidak suka gratisan," pungkasnya sebelum melenggang keluar sembari bersungut-sungut. Tak lama ia kembali menongolkan kepalanya. "Buka pintunya, cepat!"
"Oh, baik Tuan. Ku pikir Anda bisa menembus pintu itu," Aska beranjak mengikuti langkah Arga hingga sampai di balik pintu, kemudian membukanya. "Silahkan, semoga Anda berkenan hadir kembali, Tuan."
"Cih, tidak akan!" Tandasnya sebelum meninggalkan apartemen itu. Sekertaris Tomi pun mengangguk sekali padanya sebelum menyusul.
__ADS_1
Nampak bahu Aska berguncang, sembari mengepalkan tangannya. Menutupi mulut yang sedang tertawa. Berbicara dengan Presdir satu ini terkadang membuatnya keram perut saking konyolnya. Ia selalu bilang tidak akan datang dan menemuinya lagi. Namun hampir setiap hari menghantuinya dengan rentetan pesan Chat yang ia kirim. Kemudian datang secara tiba-tiba tanpa di undang. Seperti hari ini contohnya.